(Indonesian Version) One Last Shot – Part 13

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

Keduanya menjadi tidak terpisahkan sejak acara liburan ke pantai itu, baik Kyuhyun maupun Eungi kini selalu menghabiskan waktu mereka layaknya sepasang remaja yang baru belajar pacaran, sebisa mungkin mereka menghabiskan sepanjang hari bersama dan Eungi harus tetap menahan diri untuk tidak menginap—atau membiarkan Kyuhyun menginap—untuk melewati  malam, ia masih belum siap jika hubungan ini berjalan terlalu jauh dalam waktu yang kelewat singkat.

Bagi Kyuhyun, sekarang merupakan liburan musim panas yang panjang dan pria itu benar-benar menikmati waktu luangnya, sementara Eungi yang memang masih belum tahu mau melakukan apa dengan hidupnya juga memiliki sangat banyak waktu kosong, membuat waktu ini menjadi saat yang tepat bagi mereka untuk menghabiskan quality time bersama. Pria itu senang karena belum harus khawatir tentang performa akademiknya, sedangkan Eungi mulai senewen karena belum menerima surat balasan dari satu pun universitas tempatnya mendaftar.

Layaknya pagi hari yang biasa ia lewati, Kyuhyun datang menghampiri Eungi ke rumahnya untuk menghabiskan waktu bersama. Sesungguhnya pria itu cukup heran dengan aktifitasnya yang jauh dari kata variatif—dan lebih heran lagi karena ia menikmatinya. Kyuhyun dulu memang menikmati tantangan mengejar wanita yang lebih tua–hanya sebagai prestasi pengukuhan jiwa playboy-nya saja, tapi tidak pernah disangkanya bahwa ia akan merasa sangat nyaman ketika terlibat dalam hubungan serius dengan wanita yang empat tahun lebih tua darinya. Kalau ia menilik ke belakang, waktu yang dihabiskan bersama Eungi mungkin masa terlama seorang Cho Kyuhyun terlibat dalam sebuah komitmen sepanjang hidupnya—sejauh ini—dan ia justru senang. Ia menyukai fakta bahwa mereka bisa menikmati hari di luar rumah sekedar untuk bejalan-jalan, mencoba tempat makan baru,  mengebut di dalam mobilnya, tapi juga bisa sekedar menghabiskan waktu di depan televisi untuk tertawa menonton variety show bersama. Jika Kyuhyun tahu bahwa menjalani komitmen akan semenyenagkan ini, mungkin ia akan lebih menjaga hubungan dengan mantan-mantannya terdahulu—tapi mungkin juga, baru sekarang ia menemukan wanita yang tepat.

Kyuhyun sudah tiba di depan pintu rumah Eungi, ia membunyikan bel beberapa kali tapi wanita itu belum menyahut juga. Ia heran, karena Eungi-lah yang mengundangnya untuk brunch bersama dan Kyuhyun semakin bingung karena Eungi juga tidak menjawab teleponnya.  Tidak kehabisan akal, pria itu memasukkan password rumah Eungi yang sering diintip dan sudah dihafalnya diam-diam untuk segera masuk ke dalam.

Saat menginjakkan kaki ke dalam rumahnya, Kyuhyun langsung paham kenapa Eungi tidak mendengar dering bel serta teleponnya. Wanita itu memasang sound system-nya pada kapasitas maksimum sementara ponselnya tergeletak begitu saja di meja tamu. Pria itu terkekeh pada pilihan lagu The Beatles Eungi yang terhitung jadul—dan tidak cocok dengan pembawaan wanita itu sama sekali. Ia tetap melangkah ke dalam rumah Eungi untuk mencari di mana kekasihnya berada sekarang, setiap ruangan dihampirinya, namun wanita itu masih tetap tidak nampak.

Kyuhyun menolak untuk panik, ia memutuskan untuk mengelilingi rumahnya sekali lagi, mencoba mencari petunjuk keberadaan wanita itu. Jantungnya terasa ingin lepas dari rongganya saat ia melihat sepasang kaki menyembul keluar dari kolong meja kerja Eungi. Dengan sigap pria itu langsung berlari ke arah Eungi dan berjongkok untuk mengecek keadaan kekasihnya. Ia boleh bernapas lega, karena ternyata Eungi hanya bersembunyi di kolong mejanya, wanita itu menutup mata sambil melantunkan lirik dari lagu yang berkumandang, lengkap dengan sebotol soju di dampingnya.

“Noona?”

Ia tidak merespon.

“Cha Eungi!!” Kyuhyun menggoyangkan bahu Eungi.

Eungi otomatis langsung membuka matanya untuk melihat ke arah sumber suara. “Kyu, kau di sini?”

“Kau yang mengundangku, ingat?”

Bukannya menjawab, wanita itu justru melamun. “Jam berapa sekarang?”

“Pukul sepuluh pagi dan kau sudah bermabukan?” Ia menunjuk pada botol soju yang terbuka di samping Eungi dengan sinis.

Wanita itu hanya tersenyum bodoh, “Aku sedang mencoba untuk mabuk tepatnya.”

“Apa kau baik-baik saja?” Ia ikut duduk di samping Eungi, menyelipkan tubuh tingginya ke kolong meja dan ikut bersandar di samping kekasihnya. “Dari semua tempat, mengapa kau bersembunyi di sini?

Eungi segera melingkarkan lengannya di sekitar Kyuhyun sambil menyandarkan kepala pada dada pria itu. “Aku gelisah semalaman dan aku tidak bisa tidur.”

“Pasti karena kau merindukanku. Sudah kubilang, seharusnya kau membiarkanku menginap semalam.” Ia menundukkan kepanya untuk mengecup bibir Eungi singkat.

“Bukan karena itu.” Sahut Eungi pendek, “Karena aku masih belum mendengar kabar apa pun dari semua universitas tempatku melamar.” Rengeknya. “Aish!! Oettokhe??!! Aku tidak tahu harus apa dengan hidupku kalau aku tidak keterima.” Ia menggerakkan kakinya seperti anak kecil sedang merajuk.

Pria itu tersenyum geli. Image Eungi yang ada di kepala Kyuhyun sebelum ia benar-benar mengenalnya tidak jauh dari kata-kata: dewasa, dingin, tertib dan kaku. Tapi kini setelah mereka menghabiskan banyak waktu bersama, ia melihat sisi lain dari kekasihnya yang tidak pernah ditunjukkan pada orang lain. Cha Eungi ternyata juga wanita yang punya rasa insecurity, ia juga manja—sangat manja bahkan—dan Eungi ternyata tidak sedewasa yang Kyuhyun duga sebelumnya. Bukannya kecewa, pria itu justru senang karena ia memiliki kesempatan untuk memperlakukan wanita yang dicintainya dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang selama ini tidak pernah diberikan pada gadis mana pun.

“Mengapa kau malah tersenyum?” Tanya Eungi heran. “Kyu, bagaimana kalau aku tidak bisa melanjutkan sekolah post-doktoral? Aish, aku memandangi layar laptopku semalaman untuk menunggu e-mail yang tak kunjung datang—padahal kampus yang di Inggris seharusnya sudah membuat pengumuman.” Ia menggapai soju di dekat Kyuhyun dan segera meminum beberapa teguk cairan bening yang manis itu.

“Apa yang kau khawatirkan, noona? Pemasukan bulananmu atau kredibilitasmu?” Pria itu mengusap punggung Eungi pelan.

“Kredibilitas.” Ujarnya sambil menghela napas. “Aku memegang paten green panel, Kyu. Yang harus kulakukan hanya bernapas dan uang royaltiku akan masuk ke rekeningku setiap kali panel itu diproduksi—aku tidak pernah khawatir masalah uang.”

“Enak sekali jadi dirimu.” Ejek Kyuhyun.

“Tapi kredibilitasku—” Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Aku harus berebut posisi di program post-doktoral ini dengan ribuan professor dari seluruh dunia! Dan aku yakin mereka semua memandangku dengan sebelah mata.”

Sisi lain dari Eungi yang Kyuhyun catat—ternyata wanita ini kurang percaya diri.

“Noona, kau ini kan salah satu orang terpintar di negara ini, bagaimana mungkin kau meragukan dirimu sendiri seperti ini?” Hiburnya, meskipun ia tahu usahanya sia-sia.

“Tapi aku terlalu muda dan kurang pengalaman dibandingkan dengan kandidat lainnya, aku satu-satunya aplikan yang tidak beruban dan tidak keriput, Kyu. Akuilah, kau juga menganggapku tidak tahu apa-apa saat kita bertemu pertama kali.” Rengeknya.

Kyuhyun mengangguk, sekarang ia paham kekhawatiran Eungi. “Kau benar tentang satu hal. Ketika aku tahu akan diajar seorang profesor, aku tidak menduga kalau aku akan mengencaninya. Aku membayangkan seorang paruh baya dengan tiga cucu yang sudah berjalan bungkuk.”

Eungi terkekeh mendengar pernyataan Kyuhyun yang sedang mencoba menghiburnya. “Sainganku menghabiskan waktu hidupnya untuk mengajar dan meneliti, pasti seluruh pengalaman itu membuat CV mereka keren sekali sedangkan yang bisa kutulis di CV-ku hanya tentang waktu yang kuhabiskan untuk belajar—dan kadang-kadang mengajar dan meneliti.” Ia meneguk sojunya kembali.

“Ya! Cha Eungi!” Kyuhyun merebut botol hijau itu dari tangan Eungi dan ikut meminumnya sedikit. “Sudah cukup waktumu habis untuk mengasihani diri sendiri. Aku tidak suka melihatmu terpuruk seperti ini. Ayo keluar dari kolong meja ini, kakiku mulai kesemutan. Sempit sekali di sini.” Ia menggeser duduknya keluar sebelum menarik tangan Eungi bersamanya.

“Tapi aku suka sembunyi di sini.” Wanita itu memanyunkan mulutnya, “di bawah sini lebih redup dan lebih aman rasanya.”

“Apa ini tempat persembunyianmu?”

Eungi mengangguk. “Kebiasaan lama sulit dihilangkan. Sejak kecil aku selalu bersembunyi di kolong meja jika aku merasa terancam.”

Kyuhyun menarik Eungi lebih keras lagi untuk mengajaknya keluar dari kolong meja, wanita itu menurut. “Noona, kau bisa berlindung padaku mulai sekarang, oke? Daripada kau bersembunyi di kolong meja, lebih baik kau memelukku.” Ia menuntun langkah mereka keluar dari ruang kerja Eungi menuju ke ruang tamunya.

“Tapi Kyu, bagaimana kau bisa masuk? Aku kan mengunci pintuku dengan baik.” Ia baru sadar bahwa kekasihnya itu tiba-tiba muncul tanpa ada konfirmasi sama sekali.

“Aku memasukkan password yang benar.” Jawabnya cuek sambil mengecilkan volume musik Eungi yang masih terlalu keras.

Wanita itu hanya menggeleng tidak percaya sambil tertawa, “Aku akan segera mengganti password-ku kalau begitu.”

“Usahamu akan sia-sia, aku akan menemukan kombinasi angka yang tepat kurang dari satu hari.” Ia sekarang ikut duduk di samping Eungi. “Kau mengundangku untuk brunch, apa yang akan kita makan?”

Eungi hanya tersenyum lebar, “Ramyeon.”

“Lagi?” Kyuhyun menggelengkan kepalanya setengah tidak percaya kalau otak brilian Eungi itu disponsori dengan kuantitas MSG yang lumayan banyak. Kyuhyun mencoba mencari alternatif lain, ia membuka kulkas Eungi sambil memeriksa bahan-bahan yang berpotensi menjadi makanan yang lebih sehat. “Noona, kulkas macam apa ini? Kau bahkan tidak punya banchan, minimal kita bisa memakan banchan dengan nasi, ketimbang makan ramyeon.”

Eungi menyusul Kyuhyun ke dapur dan mengambil segelas air untuk dirinya sendiri. “Tidak ada yang mengajariku membuat banchan, jadi aku pun tidak pernah memiliki stok makanan pendamping itu di kulkasku.” Ia meminum air banyak-banyak untuk menyeimbangi kadar alkohol dari soju yang diminum sebelumnya.

Kyuhyun hanya memanyunkan bibirnya kesal, bagaimana mungkin seorang wanita bisa secuek ini dengan nutrisi dan kesehatannya sendiri.

“Kyu, seharusnya kau meminta ibumu untuk membuat banchan, lalu kau bisa memberikan sebagian untuk mengisi kulkasku.” Usulnya sambil mengangkat alis dengan jail pada Kyuhyun.

“Ha! Itu bisa jadi keajaiban dunia kalau sampai terjadi.” Pria itu menyeringai sinis. Ia menutup pintu kulkas kemudian duduk di atas meja makan.

Eungi menyadari ada yang aneh dari nada sinis Kyuhyun barusan, maka ia mencoba menggali masalah lebih dalam. “Kenapa kau terdengar sinis sekali?”

Kyuhyun menghela napas dengan ekspresi mencemooh, “Kau tahu? Sepertinya aku memang belum pernah bilang ini padamu. Tapi kau bukan satu-satu orang yang tumbuh dalam sebuah keluarga yang retak.”

“Apa kau keberatan untuk cerita?” Tanyanya penasaran.

Kyuhyun menggeleng. “Aku akan berbagi apapun denganmu.” Ia mengambil gelas di tangan Eungi untuk meminum isinya sebelum lanjut bicara. “Jadi, wanita yang memegang titel sebagai Nyonya komisaris sekaligus Nyonya Cho yang kau lihat pada gala lunch waktu itu bukanlah ibu kandungku.”

Eungi memandang Kyuhyun dengan tatapan penuh tanya, ia menyandarkan pingganya pada kabinet dapur di sebrang Kyuhyun. “Aku tidak mengerti.”

“Ibu kandungku diusir dari rumah saat aku duduk di bangku kelas menengah.” Ia mencoba menatap Eungi dengan pandangan sok santai, meskipun dalam hati fakta ini masih tetap mengganggunya.

“Diusir?”

“Wanita itu selingkuh dan ia cukup bodoh untuk membawa selingkuhannya masuk ke rumah kami—dan tertangkap basah. Surat cerai langsung dilayangkan ayahku saat itu, ia benar-benar secara harafiah diusir dari rumah dan aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi.”

Rahang Eungi terbuka sedikit, ia memang tahu ada yang janggal dari kedekatan Kyuhyun dengan keluarganya, tapi tidak menyangka kalau ia harus menghadapai pengkhiatan dari ibunya sendiri saat kecil.

“Ayahku mendapat hak asuh, tentu saja. Dan wanita itu tidak mendapat sepeser pun harta ayahku—tapi kurasa ia pantas mendapatkannya, karena ia telah mencampakkan keluarganya dengan cara busuk.” Ujarnya lebih berapi-api

Eungi melangkah mendekati Kyuhyun, “Maafkan aku, aku tidak tahu tentang itu.” Ujarnya sambil mengelus tangan Kyuhyun.

“Tidak apa-apa, noona. Itu sudah terjadi lama sekali dan aku juga tidak pernah merasakan koneksi ibu-anak yang kuat dengannya. Memang dia yang melahirkanku, tapi kalau aku boleh jujur, pengasuhku sejak kecil justru lebih cocok menggantikan posisinya.” Jawabnya sambil tersenyum pahit.

“Apa kau benar-benar tidak ingin tahu tentang ibumu?” Tanya Eungi heran.

Ia tersenyum sinis, “Biar kubalik pertanyaanmu, apa kau ingin mencari tahu tentang ibu kandungmu yang memilih untuk bersikap egois dan meninggalkanmu?”

Eungi menggeleng dan segera paham dengan perasaan Kyuhyun terhadap ibu kandungnya. Ternyata mereka memang tidak berbeda jauh.

“Kau tahu? Dulu aku pun kesal, saat aku duduk di bangku taman kanak-kanak ada satu hari di mana semua anak disuruh membawa barang berharga yang kami gunakan saat tidur. Aku memang masih kecil sekali saat itu, tapi aku ingat jelas bertapa aku merasa berbeda dari kawan-kawanku.” Lanjut Kyuhyun.

“Karena?”

“Menurutmu benda apa yang umumnya dibawa anak berusia lima tahun saat tidur?” Tanya Kyuhyun balik.

“Hmm.. boneka, bantal kesayangan, selimut rajutan atau quilt–?”

“Tepat sekali.” Balasnya. “Kau tahu apa yang kubawa? Foto ibuku!”

Wanita itu mengerutkan keningnya heran.

“Wanita itu jarang sekali di rumah, ia selalu mencari alasan untuk menjadi Public Relation bagi bisnis ayahku, tentu saja saat itu ayahku memberinya kepercayaan itu–yang ternyata digunakannya sebagai ajang selingkuh.” Terangnya dengan nada yang mulai meninggi, “Jadi dengan lugunya aku memeluk foto wanita itu setiap malam, berharap dia akan mendendangkan nina-bobo untukku atau membacakan buku cerita sewajarnya perlakukan seorang ibu pada anak balitanya.”

Eungi menarik napasnya dalam, entah  mengapa mendengarkan kisah Kyuhyun terasa menyakitkan baginya. Jika ia harus membandingkan masa kecilnya dengan pria ini, sebenarnya mereka sama-sama tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu–bahkan lebih buruk dalam kasus Kyuhyun karena ayahnya juga terhitung cuek.

“Jadi setelah mereka bercerai, aku benar-benar tidak merasa kehilangan, toh aku memang tidak pernah merasa dekat dengannya.” Pria itu menunduk menatap lantai kayu di dapur Eungi. “Beberapa tahun kemudian ayahku menikah lagi dengan nyonya Cho yang kau tahu sekarang. Mereka saling mencintai, tapi sayangnya wanita itu tidak bisa memberinya anak—dan itu membuatku menjadi pewaris tunggal tahta kampus.”

“Kau baik-baik saja dengan kedua orangtuamu kan?” Tanya  Eungi penasaran.

Kyuhyun mengangguk mantap. “Tidak ada masalah dengan mereka, ibu tiriku juga tidak memperlakukanku dengan buruk. Hanya saja wanita itu juga tidak pernah memposisikan dirinya sebagai ibuku—bukan tipe yang menyiapkan bekal atau memasakkan banchan untuk mengisi kulkasku.”

“Apakah itu alasan kau memilih tinggal sendiri di apartemenmu?”

Kyuhyun mengangguk, “Nyaman untukku, nyaman pula untuk mereka.”

Eungi masih menatapnya sambil mengerutkan kening, terlihat sekali wanita itu sedang berpikir.

Kyuhyun mengangkat tangannya untuk mengacak rambut Eungi, “Noona, kalau aku menceritakan kehidupanku padamu, perlakukanlah aku seperti pacarmu. Jangan mencoba menganalisa kisahku, ingat, aku bukan objek penelitianmu.”

Wanita itu memanyunkan mulutnya, namun sorot matanya menunjukkan ia menyesal karena telah mencoba menganalisa kisah hidup Kyuhyun. “Maaf, kebiasaan burukku kumat lagi.”

Kyuhyun bangkit dari meja untuk melingkarkan lengannya di sekitar Eungi. “Tidak apa-apa, masa lalu akan tetap menjadi masa lalu dan mungkin memang itu berakibat pada pembentukan pribadiku sampai sekarang, tapi aku tidak mau membiarkan hal itu terus menghantui langkahku ke depan.”

Eungi mengalungkan lengannya pada leher Kyuhyun sambil memandang dalam ke manik matanya. Wanita itu tahu bahwa Kyuhyun masih tersakiti oleh memori masa kecilnya dan detik ini pria itu sedang berusaha terlihat cool di hadapannya. Eungi menyisir rambut Kyuhyun dengan jemarinya sambil kadang membelai lembut wajah pria itu dengan punggung tangannya. Ia benar-benar kehabisan kata-kata dan takut jika ia akan mengungkapkan hal yang salah.

“Noona, terima kasih atas seluruh perhatian dan kasih sayang kau berikan untukku.” Ia mencubit pipi Eungi. “Kau membuatku percaya bahwa tidak seluruh wanita sejahat dan sedingin kedua ibuku.”

Eungi balas membelas rambut Kyuhyun, “Karena mereka tidak melihatmu dari kacamataku.”

“Mungkin kacamatamu yang rusak.” Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh wanita itu kemudian mencium puncak kepalanya. “Argh, aku benar-benar ingin melompat sekarang. Belum pernah aku merasa sebahagia ini.”

Eungi mengelus punggung Kyuhyun lembut. “Apa kau benar-benar baru pertama kali memiliki hubungan seperti yang kita miliki?”

Pria itu mengangguk mantap sebelum mengecup dahi Eungi.  “Aku mencintaimu, noona. Aku tidak percaya bahwa aku bisa merasakan emosi ini.”

Eungi menggigit bibirnya dan tersenyum. Entah sudah berapa kali Kyuhyun menyatakan perasaannya dan wanita itu tetap mendapatkan sensasi berbunga-bunga yang sama.

“Kyu, aku mau kau tahu bahwa aku tidak akan pergi kemana pun, aku tidak akan meninggalkan dan mencampakkanmu.” Ia berjinjit untuk menempelkan bibirnya pada bibir kekasihnya.

Memang Eungi belum menyetakan perasaan cintanya pada Kyuhyun, karena ia pun masih belum yakin akan perasaannya pada pria ini, tapi Eungi ingin Kyuhyun tahu bahwa pria itu memiliki peranan yang sangat signifikan dalam hidupnya—dan Eungi tidak mau melihatnya sedih.

Namun bagi Kyuhyun, ditinggalkan orang-orang terdekatnya sudah menjadi hal yang harus ia terima. Ia tidak pernah menerima bentuk kasih sayang yang wajar dari kedua orang tuanya yang mungkin berefek pada kelakuan brengseknya terhadap wanita selama ini, dan Eungi telah menjadi wanita pertama yang menyentuh pusat hatinya. Bisa mendekap wanita ini dalam pelukannya saja sudah lebih dari cukup bagi Kyuhyun, pria itu serasa terbang saat mendengar Eungi mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkannya.

 

*

 

Cha Eungi semakin uring-uringan setelah ia menerima e-mail yang dinantikannya, ia baru saja menerima surat penolakan dari kampus impiannya yang berlokasi di Inggris. Buruknya lagi, ia baru mengetahui ini tiga hari setelah pengumuman resminya disebar—dalam tiga hari itu pula mood wanita itu naik-turun tidak menentu dan berefek pada Kyuhyun yang sedikit kewalahan karena harus mengatasi ulah merajuk Eungi yang tidak tertebak.

Eungi sesungguhnya tidak mau terlihat seperti remaja labil yang tidak punya keteguhan hati atau sikap, tapi kadang sikap Kyuhyun yang benar-benar memanjakannya suka membuat Eungi terlena dan ia pun mengizinkan dirinya terlihat lemah di hadapan pria itu—kadang Kyuhyun benar-benar membuat Eungi mempertanyakan kewarasannya.

Ia bukan tipe dosen yang pernah mempertimbangkan untuk mengencani mahasiswa—meskipun sekarang memang ia sudah bukan dosen Kyuhyun lagi. Eungi juga bukan tipe wanita yang mau menggantungkan diri pada siapa pun, ia belajar sejak kecil bahwa kemandiriannyalah yang membantunya bertahan menghadapi kekejaman lingkungan. Wanita itu juga tidak pernah bersikap layaknya ia bersikap di depan Kyuhyun sekarang, ia benar-benar menjadi gadis manja, tukang merengek yang selalu memeluk Kyuhyun ketika mereka memiliki kesempatan.

Hubungannya dengan Siwon dulu sangat jauh dari kelakuan kekanakan ini. Ia memposisikan diri sebagai partner Siwon, selain itu karena ia menjalin hubungan dengan pria yang lebih tua, Eungi juga menjaga sikapnya agar tetap dewasa. Relasi mereka di Eropa pun rata-rata sudah berusia empat puluh tahun ke atas, sehingga sikap kekanakan sangat tidak mungkin ditolerir, dan keduanya bisa menempatkan diri dengan baik diantara kolega mereka yang lebih berumur.

Bukan Eungi tidak bahagia dengan hubungannya yang terdahulu, tentu saja pria itu membuat dirinya merasa sangat berharga, ia juga bisa bersikap santai dan tidak pernah menuntut Eungi untuk menyeimbangi pola pikirnya. Eungi bahagia dengan Siwon, tapi entahlah jenis kebahagiaan apa yang ia rasakan bersama Kyuhyun sekarang. Ia tahu perasaan yang dimilikinya berbeda dari yang ia miliki untuk Siwon, namun seperti biasa, otaknya gagal berfungsi jika berurusan dengan hatinya.

Siang itu Eungi bersantai di ruang makan apartemen Kyuhyun, menunggu kekasihnya membeli makanan untuk mereka. Wajahnya terpaku pada layar laptop di depannya, lagi-lagi surat penolakan dari universitas lain. Dalam surat itu, disebut bahwa Eungi masih kurang pengalaman serta penelitian untuk bisa ikut serta dalam program beasiswa post-doktoral mereka—dan saat ia mempelajari nama-nama aplikan yang diterima, hatinya langsung mencelos. Tentu saja mereka masuk ke jajaran yang diterima, penelitian mereka tidak terhitung jumlahnya, jurnal mereka tersebar di berbagai belahan dunia dan pengalaman mengajar mereka rata-rata sepuluh tahun!

Ia menutup laptopnya dengan gusar sebelum menyilangkan lengan di atas meja untuk menopang kepalanya. Ia marah, marah karena ia benar-benar tidak tahu harus apa dengan waktu luangnya sekarang. Ia belum berani mengajar kembali, karena saat ini pasti profesor Hwang masih mempermasalahkan surat pengunduran dirinya yang kurang wajar. Eungi belum bisa melakukan penelitian karena tertahan oleh laporan yang harus ditunggunya dari Kopenhagen dan otaknya terlalu brilian jika ia hanya menghabiskannya dengan acara berkencan dan nonton variety show saja.

“Kau kenapa lagi, noona? Apa kau baru mendapat berita buruk?” Kyuhyun kembali dari tugas membeli makannya tepat ketika Eungi menutup laptopnya.

Eungi mengangguk sekali dan tetap diam melamun sambil memperhatikan Kyuhyun yang sedang menata makanan yang baru dibelinya.

“Berapa banyak lagi kampus yang bisa kau harapkan?” Ia melangkah ke belakang kursi Eungi, meletakkan kedua lengannya pada bahu wanita itu sambil memijitnya lembut.

“Masih ada lima lagi, tapi yang di Inggris dan Amerika merupakan kampus impianku.” Sahutnya sambil mendesah pasrah, “Aku bisa saja kembali ke Belanda atau ke Denmark, tapi aku benar-benar ingin mencoba sekolah di tempat baru.”

Kyuhyun mengecup puncak kepala Eungi, “Mungkin memang tempat itu tidak cocok untuk jenis penelitianmu, noona. Atau mungkin memang bukan sekolah post-doktoral yang harus kau lakukan untuk mengisi waktu luangmu.”

Wanita itu mendongak untuk menatap kekasihnya, “Lalu, kau ada ide lain selain aku menonton TV seperti pengangguran kelas berat sekarang ini?”

“Kau pernah bilang padaku bahwa kau mau menulis buku bukan?” Kyuhyun beranjak dari posisinya untuk duduk di seberang Eungi, menyerahkan sepasang sumpit pada wanita itu sebagai tanda agar mereka mulai makan.

Eungi mengambil sumpit dengan enggan, “Buku itu opsi terakhirku, Kyu. Bahkan aku belum yakin kalau aku mampu menulisnya.”

“Mengapa tidak? Apa kau membutuhkan sumber lebih banyak? Aku bisa membantumu meretas data-data ilegal.” Tawarnya bangga.

Eungi terkekeh geli pada bakat terpendam Kyuhyun yang tidak malu-malu ia utarakan. “Mungkin aku akan butuh bantuanmu tentang itu suatu hari.” Ia mengambil sepotong daging dan mengunyahnya, “ Tapi yang ingin kutulis tidak ada korelasinya dengan bidang keahlianku.”

“Kau mau menulis apa memangnya? Cerita fiksi picisan?” Sahutnya dengan nada meledek.

Wanita itu menggeleng, “Bukan, aku mau menulis tentang terorisme.” Ia berhenti sejenak untuk memperhatikan reaksi Kyuhyun.

Pria di hadapannya berhenti mengunyah dan langsung menatap manik mata Eungi tajam. “Boleh kutahu kenapa? Maksudku, mengapa kau justru mau menggali lukamu sendiri?”

Eungi mengangguk, “Karena aku rasa, kepedihanku berkurang ketika aku menghadapinya. Aku kira memendamnya akan membuat sakit di hatiku ini pergi begitu saja, tapi ternyata aku salah. Aku baru menyadarinya ketika aku berkata jujur padamu tentang semua itu—bebanku terasa lebih ringan setelah aku mengungkapkan semuanya.”

Kyuhyun mempelajari raut wajah Eungi, mencoba mencari gurat dusta atau penyangkalan dari wanita itu. Bagaimana mungkin ia ingin menggali lukanya lagi, padahal Kyuhyun saja masih terguncang setiap kali  mengingat adegan pembantaian yang ditontonnya dari rekaman CCTV. Pria itu benar-benar tidak paham cara otak kekasihnya bekerja, tapi yang pasti ia ingin membantu Eungi untuk menuntaskan kerisauannya mengenai tragedi itu.

“Dulu bulan-bulan awal sulit sekali rasanya bagiku, nyaris mustahil untuk bisa tertidur tanpa membayangkan tragedi berdarah itu.” Jelas Eungi, “Di siang hari, jika aku lengah sedikit saja dan mulai melamun, maka gambaran TKP itu langsung mengisi kepalaku dan rasanya aku bagai dibunuh secara perlahan karena semua itu.”

Kyuhyun melanjutkan kegiatan makannya sambil mendengarkan penjelasan lanjutan Eungi.

Wanita itu mengambil gelas di sampingnya untuk minum sebelum melanjutkan, “Setelah itu kita bertemu, aku pun mulai bicara padamu tentang kejadian mengerikan itu. Kurasa saat itulah aku mulai memasuki tahap ‘menerima’. Aku mulai bisa menerima absennya dia dari hidupku dan aku juga mulai bisa memahami bahwa ini adalah bagian dari takdir yang harus kujalani. Kita bicara banyak di malam kau melihat rekaman CCTV itu, dan malam itu aku benar-benar merasa seluruh bebanku diangat. Semakin dalam aku menggali lukaku, semakin cepat jiwaku sembuh, Kyu.”

Pria itu masih mendengarkan sambil mencoba memproses kata-kata yang terdengar janggal di telinganya.

“Malam itu pula aku mendapat ilham untuk menulis buku. Aku merupakan salah satu korban yang berhasil hidup dari kejadian itu, aku ingin orang-orang tahu bagaimana seluruhnya terjadi dan bagaimana kejadian yang kurang dari tiga menit itu bisa mengubah hidup seseorang dengan drastis. Aku tidak tahu apa bukuku akan berdampak hebat bagi dunia, tapi paling tidak aku tahu proses ini akan menyembuhkan jiwaku.” Jelasnya lagi, ia mengamati wajah Kyuhyun yang masih setengah terbengong menatapnya. “Aku pasti terdengar seperti orang sakit jiwa sekarang, orang waras mana yang mau menggali luka sendiri, bukan?”

Kyuhyun mengangguk, “Sejujurnya? Kau memang terdengar sedikit gila. Tapi aku bisa memahami alasanmu.”

“Benarkah?” Eungi bergerak gelisah di kursinya.

Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Eungi. “Tapi noona, jika memang menulis adalah terapi terbaik bagimu, maka aku akan mendukungmu seratus persen.”

“Kau tulus mengatakannya atau sekedar menghiburku?” Tanya Eungi sambil mengerutkan keningnya ragu.

“Aku tulus.” Jawabnya mantap. “Hanya satu kekhawatiranku, yaitu kau akan kembali pada kondisi menyedihkanmu seperti kali pertama kita bertemu.”

“Kau memperhatikanku?”

Pria itu mengangguk, “Meskipun aku dirundungi amarah hari itu, aku menyadari tatapan kosong di matamu, wajah datarmu, dan aku tidak pernah bisa melupakan tangisan histerismu saat kau bersembunyi di kolong meja waktu itu. Aku hanya takut kau akan kembali menjadi Eungi yang sedih—setelah aku berusaha menggambar senyuman cantik di wajahmu selama ini.”

Eungi tersentuh dengan kata-kata Kyuhyun, memang pria itu benar, ia telah merubah kondisi Eungi yang seperti zombie menjadi wanita yang kembali bisa tertawa seperti sekarang. Dan ide konyol Eungi untuk menulis buku bisa jadi adalah gagasan yang buruk.

“Kyu, jadi menurutmu, aku lebih baik tidak menulis buku itu?”

Kyuhyun menarik napas dalam sambil mempertimbangkan jawaban yang paling bijaksana untuk situasi mereka. Tentu saja ia akan selalu mendukung Eungi dan jika Eungi membutuhkan cara ini untuk menyembuhkan traumanya, maka dengan senang hati ia akan mendampinginya. Tapi di sisi lain, pria itu juga tidak ingin wanita yang dicintainya terluka kembali karena kenangan lamanya.

“Begini, noona. Aku yakin kau bisa melakukan itu dan kau akan melakukannya melebihi ekspektasi siapa pun—karena kau seorang wanita yang super keren. Hanya saja aku harus mempersiapkan diriku lebih keras, sehingga jika kau mengalami meltdown lagi, aku siap menjadi sandaranmu.”

“Aku tidak akan mengganggumu.” Balasnya, entah mengapa sedikit tersinggung dengan keraguan Kyuhyun tentang kekuatan mentalnya.

“Ey, kumohon, ganggulah aku. Manfaatkanlah keberadaanku.” Pria itu bangkit dari kursinya untuk menghampiri kursi Eungi kemudian berlutut di hadapan wanita itu. “Kumohon, izinkan aku menjadi bagian dari proses penyembuhanmu. Bukannya aku meragukan kekuatan mentalmu dalam menghadapi kepedihan, aku hanya berkata bahwa aku harus menjadi sosok yang lebih kuat bagimu. Karena pasti akan tiba hari saat kau membutuhkan bahuku untuk menangis atau sasak tinju untuk dipukul ketika kau benar-benar marah. Aku hanya ingin menjadi supporter nomor satu bagimu.”

Eungi menangkupkan kedua tangannya pada wajah Kyuhyun sambil tersenyum sendu, “Kau tidak harus melangkah sejauh itu, Kyu.”

“Aku mau melakukannya.” Ia meraih tangan Eungi yang di wajahnya untuk mengecup punggung tangan wanita itu, “Segila, sekonyol, sebodoh apapun idemu, aku akan tetap ada di sampingmu—untuk mendukungmu sambil menjaga jika kau kewalahan dengan perasaanmu. Aku yakin kau pasti sudah memikirkan masalah ini matang-matang, lagipula kau kan jauh lebih cerdas dariku.”

Wanita itu tersenyum lemah, “Itulah masalah pertama yang muncul, Kyu. Aku tidak tahu harus memulai dari mana.”

“Maksudmu?”

“Aku ingin menulis, tapi aku kehilangan inspirasi setiap kali mulai mengetik. Ada sesuatu yang mengganjal yang membuatku kesulitan mendeskripsikan seluruh pengalaman yang kualami—kurasa otakku secara otomatis menolak untuk memikirkan kejadian itu.” Eungi menjabarkan kesulitannya.

Kedua saling menatap dalam diam, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Kyuhyun punya ide yang tiba-tiba muncul di kepalanya, tapi ia benar-benar takut Eungi akan murka jika mendengarnya.

“Kyu, ada apa dengan raut mukamu? Katakan saja apa yang ada di kepalamu.” Eungi menyadari alis Kyuhyun yang bertaut, menandakan pria itu berpikir keras.

“Tapi kau jangan marah.” Ancam Kyuhyun, “Kita toh sedang melakukan brain storming sekang bukan?”

Eungi mengangguk, “Ada ide?”

“Aku jamin kau membenci ideku, tapi sebenarnya ini brilian.”

Try me.”

Kyuhyun menggaruk kepalanya bingung sebelum mengutarakan idenya dengan ragu-ragu. “Bagaimana jika kita ke Paris?”

Eungi menutup kelopak matanya, mencoba berdamai dengan luapan perasaan yang membuncah setiap kali ia teringat akan kota itu. Orang-orang dari berbagai dunia memandang kota itu sebagai ikon romantisme, dengan bangunan reinassans indah yang masih terjaga kelestarian jauh sebelum zaman Napoleon, kota yang memiliki segudang atraksi keindahan bagi siapa pun yang berkunjung ke sana. Eungi pernah memandang Paris dengan kacamata indah itu, sampai kota itu menunjukkan sisi tergelapnya beberapa bulan lalu.

“Paris.” Bisiknya lirih. “Kota penuh dengan penipu ulung dan skandal, kota yang terlihat cantik pada permukaannya saja, kota yang mengubah perspektifku tentang semesta.” Ia bisa merasakan matanya memanas.

“Ideku buruk, bukan?” Kyuhyun langsung merasa bersalah dan Eungi bisa mendengar nada menyesal yang tersampaikan jelas. “Aku hanya berpikir jika kau mau menghadapi traumamu, maka tempat yang menjadi sumber kepiluanmu lah yang tepat menjadi titik mula penyembuhanmu.”

Eungi menggangguk sambil memaksakan diri untuk tersenyum, “Kau tidak salah. Sejujurnya aku juga sudah memikirkan tentang hal itu selama ini. Hanya saja aku tidak punya nyali yang cukup besar untuk mengungkapkannya dengan lantang.”

Kyuhyun membulatkan matanya bingung.

“Terimaka kasih, Kyu. Kau sudah menjadi suaraku ketika aku terlalu pengecut untuk mengutarakan isi hatiku.” Ujarnya sambil membelai rambut pria di depannya. “Apa kau akan baik-baik saja jika kita benar-benar pergi ke Paris?”

“Apa kau yakin dengan keputusan ini?”

Eungi mengangkat kedua bahunya pasrah tapi ia mengangguk. “Sudah waktunya bagiku untuk menghadapi trauma ini.”

“Noona, jika ini berlebihan untukmu, kau bisa melambaikan bendera putih dan detik itu juga aku akan membawamu pulang, oke? Aku akan mendampingimu sepanjang waktu.” Janjinya.

Wanita itu kembali menangkupkan tangannya pada wajah tampan Kyuhyun, “Bagaimana jika aku sanggup menghadapinya, tapi ternyata kau yang tidak kuat melihat kondisiku nanti?” Ia mengungkapkan kekhawatirannya. “Entah mengapa, sepertinya tragedi mengerikan itu juga berpengaruh padamu. Aku juga tidak bisa menjamin bahwa aku akan seperti Eungi yang kau kenal sekarang, aku tidak yakin aku tidak akan mengalami meltdown-meltdown berikutnya.”

Kyuhyun merenungkan kekhawatiran Eungi, memikirkan jawaban yang bisa menjadi jalan tengah mereka.

“Kalau hal itu menjadi terlalu berlebihan untukku, aku juga akan melambaikan bendera putih padamu dan kita tetap akan kembali ke rumah.” Jawabnya. “Yang pasti, aku tidak akan pergi dari sisimu, kita akan selalu bersama menghadapi ini. Aku janji.”

 

 

 

 

Advertisements

90 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 13

  1. imgyu says:

    diawal aku mikirnya kyuhyun itu kaya dibiarin sama tn. Cho tp sebenernya dr jauh di perhatiin tp ternyata enggak sama sekali dan mereka sama-sama ga nyicip gimana belaian hangat seorang ibu. setelah tau cerita dr pihak kyuhyun rasanya kaya ooh pantes kyuhyun kelakuannya kaya di part 1

    Liked by 1 person

  2. Cho Sarang says:

    Satu lagi persamaan di diri mereka, yaitu sama – sama tak mendapatkan kasih sayang ibu.
    Paris…kalo aku jadi eungi,aku takkan mau lagi menginjakkan kaki di tempat yang menjadi traumatis buatku

    Like

  3. Barom yu says:

    Kyu beda disini..
    Beruntung kau eungi dapet tin kyu, begitupun kyu hihi
    Pasangan ter-sweet ^

    Kyu masalalumu menyedihkan, aigoo punya ibu tp ibu nya selingkuh! Ya ampun menyakitkan..
    Moga itu gak terulang lagi ya kyu, bisa makin kacau hidupnya kyu..

    Moga di paris gak ada kejadian aneh -.-
    Sian ya eungi di tolak sana sini

    Like

  4. dubbyblue says:

    Kyuhyun ini~ apa ya kak, terlalu romantis kali ya. Semaha dasyat itu ya cinta mengubah kepribadian orang? kyu si playboy jadi kyu si pemuja. Eungi si muka datar jadi eungi yang kekanakan. Nice kak! Lepas dari masa lalu kaya eungi sangat-sangat-sangat susah menurut pandangan ku yang juga gagal move on beda kisah (?) tapi karena sosok kyu semuanya terasa indah. aaahhh boleh minta yang kaya kyu satu kak? hihihihi

    Liked by 1 person

  5. faridha says:

    Udah lah jangan unhkit” siwon lagi bikin sakit aja kyu….itukan masalalu…biarin aja di jadiin pelajaran dan di kenang untuk sesekali ajj tapi jangan di ungkit terus meneruss dong

    Liked by 1 person

  6. Rinjani says:

    Kyu dewasa bgt seneng 😍😍
    Eungi ya ampun trauma nyaa bikin greget sendiri:(( tiap dia mau ceritain ke Kyu kosakata yg author pake sumpah aku suka banget, mudah dimengerti. Meskipun panjang lebar, berikut aku baru nemu dan baca ff yg bener2 bawa dunia pendidikan sampe ke detailnya.
    Author jjang! Fighting!!

    Liked by 1 person

  7. yuliyeon says:

    kyaaaa kyu maniss bgt 😂😂…athournya daebak bgt dah bawa2 topik teroris sgla jd kesannya luar biasa bgt biasanya kbanyakan ff romance konfliknya itu2 ajh kluarga..teman..musuh dsb…good mau lanjut baca lg tp udah ngantuk #savemyeyes #nasibfreenyakloudhmlm #tapiakubukandedemit #plakk 😭😂👻

    Liked by 1 person

  8. ndy6262 says:

    Eungi kayak anak kecil banget sembunyi di kolong meja wkwkw
    Kyuhyun dewasa banget disini dia rela “sakit hati” demi nyembuhin traumanya eungi
    Im proud of you kyu wkwkw
    Wahh mereka ke paris semoga gakada yang berubah dalam hubungan mereka nanti

    Liked by 1 person

  9. Afa hyerin says:

    Akubjuga jadi melting… Kyuhyun dewasa banget coba… Akubjuga tersipu malu eonniw bacanya… Suka banget part awalannya… Terus.gimana ntar waktu ke paris yak…. Yakin eungi maubke paris?? Emang sih cocok sarannya buat ke paris.. Tp nanti gimana???dinext aja nde eonnie chan

    Liked by 1 person

  10. Dyana says:

    Harus berapa kali aku dibikin iri sama pasangan ini… Ya ampun… Kenapa kalian so sweet bgt…
    Saling mendukung itulah arti cinta yang sbnrnya…
    Tp sedikir khawatir, bagaimana nanti saat mereka benar2 pergi ke paris? Bagaimana trauma Eungi? Dan bagaimana Kyuhyun menghadapinya?
    Ah… Ff ini nagihin, niat baca 2 part aja hari ini malah kebablasan… Haha… Author emang keren…

    Liked by 1 person

  11. OngkiAnaknyaHan says:

    mereka ini makin kesini makin lengket aja ><
    jadi takut kalo kalo mereka tiba-tiba diuji
    apalagi ini mau ke paris buat nulis bukunya eungi

    Liked by 1 person

  12. xixrxexnxe says:

    memang bener kok nulis bisa dijadiin terapi, aku aja kalo lagi dongkol sm sesuatu atau stres aku alihin nulis, keluarin semua unek² abis itu udh legal hati
    semoga noona dan kyuhyun kuat melalui proses healing time

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s