(Indonesian Version) One Last Shot – Part 12

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

 

Ia tidak bisa mempercayai kutukan sekaligus keberuntungan hidupnya muncul dalam wujud wanita yang kini terbaring lelap dalam pelukannya. Cha Eungi berbaring di atas ranjangnya, menyandarkan kepala pada dadanya sambil lengan mungil wanita itu memeluk Kyuhyun di sekitar pinggangnya. Aneh sekali bagi Kyuhyun karena seorang wanita sekarang sedang bermanjaan bersamanya. Cho Kyuhyun bukan pria yang suka dengan intimasi tingkat ini—atau intimasi yang melibatkan emosi—ia pemegang teguh prinsip ‘veni-vidi-vici’ ketika berurusan dengan wanita, dan keberadaan Eungi dalam pelukannya sekarang menjadi sebuah pencapaian baru baginya.

Pria itu mengangkat lengannya untuk menyibakkan rambut Eungi yang menutupi wajahnya, tangan satunya mengusap lembut punggung wanita itu. Eungi menguap pelan dari tidunya, kemudian menanamkan kepalanya lebih dalam pada dada Kyuhyun.

“Apa kau sudah bangun?” Bisiknya, takut kalau-kalau wanita itu ternyata masih lelap.

“Ng.”

“Bagaimana perasaanmu?”

Eungi bergeser dari dada Kyuhyun kepada bantal yang ada di sampingnya, wajahnya langsung dibenamkan di dalam bantal sambil mengguman pelan, “Aku malu.”

Kyuhyun terkekeh geli, ia merubah posisinya ke samping untuk memandang Eungi, menahan kepala dengan sikunya sendiri. “Mengapa kau malu? Kita tidak melakukan apa-apa semalam, kita masih berpakaian utuh, mengapa kau malah tersipu seperti ini, ng?” jemarinya mengusap wajah merona Eungi lembut.

“Ng.” Balas Eungi ragu sambil mengintip dari balik bantalnya—sekaligus menikmati pemandangan tampan yang terhidang di hadapannya. “Aku menyatakan perasaanku padamu semalam, itu kan memalukan.”

“Jadi kau ingat?” Sindir Kyuhyun.

“Aku ingat semuanya.” Eungi mencari posisi nyaman di bantalnya agar bisa memandang wajah tampan Kyuhyun dengan lebih leluasa. “Maafkan aku.”

“Untuk?”

“Drama yang kubuat semalam.” Wanita itu berbaring terlentang sembari memandang kosong pada langit-langit kamar Kyuhyun. “Aku pun tidak bisa berjanji kalau drama itu akan menjadi yang terakhir.”

Pria itu tersenyum simpul, “Aku akan lebih mempersiapkan diri lain kali.”

Eungi menggeser posisinya lebih dekat pada Kyuhyun dan pria itu otomatis membuka lengannya agar Eungi bisa berbaring di atas bahunya dengan nyaman. “Tapi Kyu, terbangun untuk kedua kalinya di tempat ini membuatku berpikir, sekotor apa ranjangmu ini sebenarnya.”

“Ng? aku bersih-bersih setiap minggu. Aku tidak sejorok yang kau kira, noona.”

“Bukan masalah joroknya, maksudku sudah berapa banyak gadi-gadis yang membaringkan tubuh mereka di atas ranjang ini.” Ujarnya setengah merajuk.

Kyuhyun tertawa, benar-benar menikmati cara Eungi mengekspresikan rasa cemburunya. “Apa kau akan percaya padaku jika kubilang kau satu-satunya wanita yang pernah berbaring di sini.”

“Cih, yang benar saja.” Eungi memutar bola matanya.

“Tapi aku serius. Memang dulu aku seorang playboy, tapi aku tidak pernah membawa gadis-gadis itu ke apartemenku. Enak saja! Aku memperlakukan tempat ini seperti kuil, ini tempat personalku dan aku tidak suka wilayah pribadiku diinvasi gadis asing.”

“Tapi kau membiarkanku masuk.”

“Kau kasus spesial, aku menyukaimu.” Ia mengecup dahi Eungi.

Wanita itu mengeratkan pelukannya di sekitar tubuh Kyuhyun sambil tersenyum geli, “Aku tahu kau sedang menggombaliku sekarang, tapi kumaafkan karena perasaanku sedang bahagia.”

Kyuhyun mencubit hidung Eungi gemas, “Aku serius, noona. Tidak ada gadis lain yang kuijinkan masuk ke sini selain kau. Waktu dulu kubilang tetang ‘memiliki tamu’ di sini itu semata-mata hanya untuk membuatmu cemburu.” Akunya polos.

Eungi terkikik geli, “Baiklah, anggap saja kau memang jujur sekarang. Lantas di mana biasanya kau.. ng.. kau tahu kan.. kau melakukan itu?”

“Kujawab pertanyaanmu, tapi janji untuk tidak tertawa.” Ancam Kyuhyun.

Eungi mengangguk setuju.

“Mobilku.”

“EEEWWWWWW!!!” Wanita itu gagal menahan tawanya. “YA TUHAN! DAN AKU MENERIMA TUMPANGANMU SERING SEKALI DI MOBIL ITU!”

“Kursi belakang.” Tambah Kyuhyun sekalian. “Kadang aku melakukannya di tempat gadis yang kutiduri, kadang di kamar hotel, kadang..”

Eungi langsung menutup kedua telinganya dengan tangan, ia tidak mau mendengar lebih banyak detil tentang kelakuan bejat kekasih barunya. Ia tidak pernah nyaman dengan fakta bahwa Kyuhyun adalah seorang playboy cap kakap, tapi membayangkan pria itu melakukan hal-hal intim dengan gadis lain juga membuatnya kesal. “Baiklah, cukup, cukup! Aku menyesal telah bertanya. Lebih baik aku tidak tahu apa yang kau lakukan.”

“Apa kau cemburu?”

“Apa aku boleh cemburu?” Tanya Eungi ragu.

“Tentu saja.” Kyuhyun memeluk Eungi lebih erat. “Tidak ada kata mundur dari obrolan serius kita semalam. Kau menginginkanku seperti aku menginginkanmu, jadi lebih baik kita berhenti memperjuangkan gengsi bodoh masing-masing dan menikmati hubungan kita.”

“Kau tidak keberatan memiliki hubungan denganku?” Tanya Eungi masih tidak percaya dengan rangkaian kejadian malam sebelumnya.

Nega wae? Ini seperti impianku menjadi nyata!” Kyuhyun mensejajarkan wajahnya pada Eungi untuk memberi kecupan selamat pagi padanya.

“Bagaimana mungkin impianmu itu mengencaniku.” Sahut Eungi sinis sambil membalas kecupan Kyuhyun.

“Bayangkan saja noona, ini keren sekali. Kemarin kau masih mengajarku di depan kelas dan sekarang kau berbaring di ranjangku, dalam dekapanku. Aku bisa memelukmu selama yang aku mau, aku bisa membajirimu dengan ciuman sebanyak yang kumau, aku bahkan bisa..” kata-katanya terhenti sebelum pikiran bejatnya mengambil alih.

“Kau bisa apa, Kyuhyun-a?” Tantang Eungi sambil mencubit pipi Kyuhyun keras. “Simpan saja pikiran kotormu, aku bukan gadis-gadis yang bisa kau tiduri sesuka hati di kursi belakang mobilmu.” Ancamnya kesal.

Kyuhyun tersenyum lembut, “Aku tahu. Aku tidak akan memperlakukanmu seperti itu, karena kau sangat terhormat di mataku. Kau spesial, ingat itu.”

Eungi menarik napas dalam dan mengacak rambut Kyuhyun pelan. “Apa aku boleh membuatkan sarapan untuk kita?”

Pria itu menyengir lebar, “Tentu saja, mudah-mudahan kau bisa menemukan bahan yang cukup berguna untuk dimasak.”

“Kuterima tantanganmu.” Eungi mengecup pipi Kyuhyun sebelum ia menyibakkan selimut untuk bangkit dari ranjang pria itu.

 

a51fdc44e215d76907cfcd08aeccfa28

gambar milik Park Seul

Kyuhyun hanya bisa memandangi Eungi yang sedikit menggoda imannya sekarang, wajahnya sontak memerah ketika ia mengamati kekasihnya yang kini melenggang santai ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ia menggigit bibirnya sendiri sambil menyeringai konyol saat melihat wujud Eungi pagi ini, wanita itu hanya mengenakan kaos Mickey Mouse Kyuhyun yang kebesaran di tubuhnya. Ia semalam memutuskan untuk menginap di tempat Kyuhyun, karena ia tidak mau pulang ke rumahnya dan merasa kesepian setelah sesi berkabung mereka kemarin. Wanita itu meminjam kaosnya, ia berbaring disampingnya, dan ia membiarkan Kyuhyun mendekap tubuhnya semalaman.

Pria itu diam-diam menepuk bahunya sendiri sebagai tanda penghargaan untuk prestasi barunya, tidur di samping wanita yang sangat dikaguminya tanpa ada pikiran bejat melintas di kepalanya—sulit sekali rasanya menjaga kewarasan ketika wanita itu terlihat begitu rapuh namun juga menggairahkan pada saat yang bersamaan.

 

*

 

Meskipun mereka sudah resmi berkencan, pekerjaan Eungi sebagai dosen di kampus itu belum sepenuhnya tuntas. Ia masih harus hadir untuk ujian akhir serta memasukkan nilai sebelum dirinya benar-benar bisa melepas tanggung jawab. Harus diakui, masa-masa ini adalah waktu yang paling ‘menguji’ mereka, karena keduanya harus terlihat kasual dan profesional seolah tidak ada hubungan khusus di ataranya.

Bagi Kyuhyun, pengalaman baru ini jelas membuat adrenalinnya terpacu. Ia harus bersusah payah untuk berkonsetrasi pada soal-soal ujiannya meskipun kadang Eungi yang berdiri di depan kelas untuk mengawas.

Kyosu-nim.” Sapa Kyuhyun sok santai selepas ujian selesai. “Apa kau perlu bantuan untuk membawa semua bluepirnt itu?”

Eungi memandang tumpukan gambar mahasiswanya yang berjumlah empat puluh orang itu dalam wujud kertas A2, memang ia akan benar-benar butuh bantuan untuk membawa tumpukan berat ini.

Tanpa menunggu persetujuan Eungi, Kyuhyun langsung mengambil seluruh blueprint yang ada di atas meja, mengapitnya di bawah ketiak sambil mengisyaratkan Eungi untuk mengikutinya. Wanita itu hanya menyengir dan segera membawa tumpukan kertas soal lain yang harus ia periksa.

“Kau mau memeriksa ini di mana?” Tanya Kyuhyun sambil menahan pintu untuk Eungi.

“Di rumah. Aku punya gaya tersendiri dalam memeriksa blueprint dan ruangan sempit di kantorku tidak akan muat.”

“Kau juga sudah tidak nyaman di situ.” Lanjut Kyuhyun.

Eungi mengangguk setuju. “Apa kau perlu kubantu? Kita bisa membagi dua kertas itu.”

Alih-alih setuju, pria itu justu tersenyum jail dan segera menarik lengan Eungi ke sudut dekat tangga darurat di lantai itu. Eungi yang tidak siap hanya bisa mengikuti langkah Kyuhyun yang cepat dan pasrah saja ketika pria itu menyudutkannya ke tembok untuk menempelkan bibir mereka singkat.

Sontak wajah Eungi memerah dan matanya melotot, bukan karena ia belum terbiasa dengan ciuman Kyuhyun, tapi karena lokasi yang bisa dibilang cukup vulgar. “Ya Kyu! Kau benar-benar mau aku dipecat secara tidak terhomat ya?”

Kyuhyun terkekeh dan mengecup Eungi sekali lagi sebelum ia menarik tubuh dari dosennya. “Aku sudah ingin melakukan itu dari tadi ketika kau berdiri di depan. Aish! Tidak kusangka mengencani dosenku sendiri bisa memompa adrenalinku seperti ini.”

Eungi memutar matanya, “Kau baru saja menuntaskan fantasi anehmu, bukan?”

Kyuhyun mendengus geli, “Bisa dibilang begitu. Tapi aku tidak punya fantasi aneh-aneh untuk dosenku sebelumnya noona. Kau lihat sendiri seperti apa wujud dosen-dosen lain di sini. Kekasihku ini benar-benar menaikkan standart di antara mereka.” Ia mengungkapkan dengan nada mengejek sambil mengacak rambut Eungi pelan.

Wanita itu menjewer Kyuhyun, “Sekarang lebih baik kau jangan mencari perkara, sudah kubilang berkali-kali kampus ini memiliki mata dan telinga di setiap sudutnya. Aku tidak mau kau terlibat masalah.”

“Ng, baiklah. Tapi aku akan mengantarmu pulang, oke? Tidak mungkin kubiarkan kau naik taxi dengan bawaan sebanyak ini.” Kyuhyun mengikuti langkah Eungi menuju lorong yang ramai dengan mahasiswa. “Aku juga penasaran dengan caramu menilai karya-karya ini.”

“Cih, kau pasti hanya penasaran berapa nilai yang kuberikan untukmu.” Sergahnya santai.

“Aku tidak penasaran dengan hal itu, kau pasti memberiku A.” Balasnya yakin.

Wanita itu hanya tersenyum sinis sebelum menjawab. “Kau ingat total hari bolosmu tidak?”

“Kan aku membolos bersamamu.”

“Tetap saja kau terhitung bolos.” Jawab Eungi dengan wajah puas. “Biar kuingatkan, aku ini bisa bersikap sangat profesional dalam menilai tugas mahasiswaku—tidak peduli jika salah satu dari mereka itu kekasihku.”

Pria itu hanya senyum-senyum salah tingkah mendengar Eungi mengucapkan status mereka dengan lantang. Persetan dengan nilai akhirnya, selama ia bisa menghabiskan waktu dengan wanita ini, Kyuhyun rela jika harus dapat nilai yang pas-pas-an.

Karena ujian Kyuhyun di hari ini hanya mata kuliah Eungi, maka pria itu langsung mengantar Eungi beserta jawaban ujian mereka langsung ke rumahnya. Memang Kyuhyun belum pernah terlibat dalam sebuah hubungan yang serius sebelumnya, tapi nampaknya menghabiskan kesehariannya dengan wanita yang sama, membuang waktu mulai dari melakukan hal tidak berguna hingga mendiskusikan permasalahan dunia, mendekap orang yang sama setiap kali mereka memiliki kesempatan bertemu menjadi sebuah rutinitas yang dinikmatinya.

Setelah tiba di rumahnya, Eungi mempersilakan Kyuhyun masuk dan meminta pria itu untuk menaruh ujian mahasiswanya di meja dekat ruang tengahnya. Wanita itu mempersilakan Kyuhyun untuk mengambil makanan apapun yang ia mau sebelum ia menggeser perabot-perabotnya ke samping hingga tercipta ruang kosong di ruangan persegi itu.

“Ini cara anehmu?” Tanya Kyuhyun sambil membawa dua gelas kopi yang baru dibuatnya di dapur Eungi.

Wanita itu mengangguk. “Kau mau tahu metodeku?”

“Ng.”

“Aku menyuruh kalian mencantumkan nama di balik kertas bukan? Hal itu kulakukan demi objektifitas. Jadi pertama aku menseleksi eksekusi blueprint—yang kunilai dari kerapihan garis, kebersihan kertas, dan ketepatan rana.” Jelas Eungi.

Kyuhyun memandang bingung ke arah tumpukan blueprint mahasiswa yang masih ditumpuk Eungi.

“Kemudian, aku akan membaca essay tentang konsep kalian, dan kucocokkan apakah eksekusi akhir sesuai dengan konsep dan sketsa awal. Lalu kubagi lagi gambar-gambar kalian dengan sistemku—aku langsung menetapkan gambar terbaik dan gambar terburuk. Gambar terbaik kuletakkan paling kiri, gambar terburuk kuletakkan paling kanan, dan gambar-gambar berikutnya tinggal mengikuti di tengah, biasanya kuturunkan nilai dalam skala 5.”

“Aku tidak paham.” Jawab Kyuhyun cepat.

Eungi tertawa, “Kalau begitu kau duduk manis saja di sudut sofa itu, aku akan memulai memisahkan gambar-gambar ini.”

Pria itu menurut sambil menyaksikan kekasihnya menyortir gambar kawan-kawannya mulai dari yang paling bagus hingga yang paling berantakan. Wanita itu menghabiskan waktu sekitar dua jam hanya untuk membaca essay konsep yang juga dikumpulkan, kemudian Kyuhyun mulai paham mengapa Eungi membutuhkan ruangan sebesar ini untuk menilai.

Eungi meletakkan masing-masing karya di permukaan lantainya, wanita itu menaruh post-it untuk mengkategorikan nilai dari angka 90, 85, 80 dan seterusnya, hingga 40 pada lantainya. Baru kemudian ia mendistribusikan gambar yang menurutnya sesuai dengan nilai yang pantas didapat bedasarkan poin penilaian.

“Noona, mengapa nilai paling tinggi hanya 90?” Tanya Kyuhyun sambil menunjuk gambar yang diletakkan di atas kategori 90.

“Karena kalian tidak akan termotivasi menjadi lebih baik kalau kuberi nilai sempurna.” Balasnya singkat.

“Ya! mengapa gambarku kautaruh di kategori 85?” Tuntutnya sambil menunjuk gambarnya sendiri.

“Kurang rapi, kau pasti menyadari garis-garis di bagian gambar isometri ini tidak sejajar dan berada pada sudut yang janggal bukan?” Jawabnya santai.

“Aku mengerjakannya hanya semalam, noona.” Sergah Kyuhyun. “Aku kehabisan waktu.”

“Siapa suruh kau tidak mencicil tugasmu?” Ledek Eungi.

“Aku sibuk berkencan akhir-akhir ini.” Balasnya lagi dengan cengiran iseng. “Pacar baruku membuatku betah menghabiskan waktu lama dengannya, jadi harap maklum.”

Eungi tertawa dengan rayuan basi Kyuhyun. “Kalau begitu harap maklum juga kalau aku tidak mentoleransi kesalahan garis di gambarmu, bagaimana mungkin karyamu seperti ini kalau pacar barumulah yang menilainya.”

Pria itu bangkit dari duduknya, lengannya segera melingkari pinggang Eungi dari belakang dan ia segera melabuhkan puluhan kecupan pada seluruh permukaan wajah Eungi. “Apa usahaku ini bisa menambah 5 point?” Bujuk Kyuhyun.

Eungi menggeleng, berjinjit sedikit untuk mengecup pipi pria itu. “Kuharap kecupan itu bisa membuatmu merelakan 5 point yang kuambil darimu. Tenanglah, nilai akhirmu masih bagus.”

Pria itu mengangguk pasrah.

“Bagaimana dengan ujianmu yang lain?” Eungi meletakkan tumpukkan kertas di tangannya sebelum ia memeluk Kyuhyun dengan manja. “Kumohon bilang padaku kalau nilai-nilaimu semuanya sebagus di kelasku.”

Well, aku memang tidak mengencani dosen di mata kuliah lain, tapi kurasa aku akan lulus seluruh mata kuliah yang kuambil semester ini.” Jelas Kyuhyun.

“Kau masih punya hutang berapa SKS lagi Kyu, untuk lulus tahun depan sesuai janjimu?” Cecar Eungi.

“26 lagi.” Jawabnya dengan sedikit malu, tidak seharusnya mahasiswa tingkat akhir sepertinya masih memiliki puluhan hutang SKS. “Tapi aku akan mengambil 20 SKS semester ganjil depan, dan 6 SKS Tugas Akhir di semester berikutnya. Aku janji, kau akan melihatku di podium kelulusan musim panas tahun depan, noona.”

Eungi tersenyum senang, ia menyapukan jemarinya diantara rambut Kyuhyun. “Aku bangga padamu, Kyu. Kau benar-benar berubah menjadi mahasiswa yang jauuuh lebih baik.”

 

*

 

Ketika semester benar-benar telah berakhir, Kyuhyun berinisiatif mengajak Eungi untuk berlibur. Sudah waktunya bagi mereka untuk kabur dari rutinitas di Seoul dan sudah saatnya juga mereka bisa berkencan bebas tanpa perlu takut bertemu dengan orang-orang yang mereka kenal. Wanita itu setuju dengan ide Kyuhyun, dengan waktu luangnya yang baru selepas ia resign, Eungi sudah mulai merasa bosan dengan status penganggurannya dan memang ia membutuhkan kegiatan yang menyenangkan.

Sebenarnya Eungi tidak bisa dikatakan sebagai pengangguran, karena ia justru sekarang sedang sibuk mengirimkan aplikasi untuk kuliah post-doktoral sambil mencari kegiatan yang bermanfaat bagi hidupnya sekalian ia juga sambil melanjutkan penelitiannya. Kyuhyun sendiri paham bahwa jika Eungi benar-benar melanjutkan studinya, maka waktu yang akan mereka miliki untuk bersama akan sangat sedikit—karena jelas Eungi tidak melanjutkan sekolahnya di Korea Selatan. Eungi merasa lega karena pengertian yang Kyuhyun berikan padanya. Awalnya ia sempat takut ketika membicarakan rencanya untuk sekolah lagi, tapi pria itu justru mendukungnya meskipun konsekuensi pertemuan mereka akan menjadi lebih sedikit.

Pada acara liburan ini, awalnya mereka bingung akan pergi ke mana. Keduanya kehabisan ide dan sesungguhnya hanya ingin menghabiskan waktu bersama, jadi ketika Kyuhyun mengusulkan untuk pergi ke pantai Sokcho—tempat cintanya untuk Eungi pertama kali tumbuh—wanita itu langsung mengangguk setuju.

Kyuhyun menyewa villa satu kamar lengkap dengan seluruh fasilitas standart yang menghadap ke pantai. Wanita itu tidak keberatan dengan fakta bahwa hanya ada satu ranjang di villa itu, selama Kyuhyun tidak melakukan hal-hal yang melebihi batas bermanja-manjaan. Eungi tidak munafik, jelas ia tahu bahwa acara couple gatewaway ini bisa menjadi ajang yang tepat untuk mereka melangkah ke tingkat selanjutnya dalam hubungan mereka—tapi ia belum cukup nyaman untuk melewati batas itu, dan untungnya Kyuhyun sudah cukup mengerti tanpa perlu Eungi mengungkapkan kekhawatirannya.

“Ayo kita berenang!” Ajak Eungi setelah ia mengganti pakaiannya dengan sepasang bikini—yang sukses membuat pikiran Kyuhyun konslet.

“Kau tidak bisa berenang, noona. Kau sendiri yang bilang padaku.” Ia segera mengalihkan wajahnya sambil berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah. Bagaimana mungkin playboy sekaliber Kyuhyun bisa tersipu seperti anak ingusan kapan pun kekasihnya melakukan hal-hal kecil yang mengejutkan, segala ketegangan, antisipasi serta luapan kebahagian yang ia rasakan ketika bersama Eungi benar-benar bisa membuatnya gila.

“Aku tahu, tapi kan aku masih bisa bermain-main di bibir pantai.” Wanita itu mendekat kemudian melingkarkan lengannya di seputar pinggang Kyuhyun. “Ayo ke pantai, kau mengajakku ke sini bukan hanya untuk bermalas-malasan di villa, bukan?”

Kyuhyun mengangguk salah tingkah, “Ng, aku ganti celana renangku dulu kalau begitu.”

Pagi itu mereka habiskan hanya untuk bermain pasir di pantai, layaknya dua orang dewasa yang lupa umur, Eungi dan Kyuhyun berlomba-lomba membangun istana pasir untuk bersenang-senang. Eungi sendiri terlalu menikmati paparan mahatahi yang menyentuh kulitnya, hingga ia benar-benar tidak peduli ketika ia membaringkan tubuhnya dengan santai di atas pasir untuk berjemur, sedangkah Kyuhyun harus terus-menerus menarik napas dalam untuk menjaga pikirannya agar tetap lurus. Pria itu tidak mau menjadikan Eungi sebagai objek fantasi dan nafsunya, ia benar-benar mencitai Eungi sebagai satu konsep yang utuh, bukan hanya untuk tubuhnya, parasnya, atau kecerdasannya saja. Tapi wanita itu benar-benar menguji batas kewarasan Kyuhyun tanpa sadar—lengkap dengan ekspresi polos yang membuat Kyuhyun semakin gemas.

Saat matahari mulai semakin panas, keduanya memutuskan untuk mencari makan di sekitar lokasi itu, Eungi akhirnya mengenakan sundressnya sehingga Kyuhyun dapat bernapas lega. Mereka berbincang ringan di waktu makan siang dan sisa waktunya dihabiskan untuk melihat-lihat toko di sekitar tempat itu. Jika dilihat sekilas, pastilah Eungi dan Kyuhyun terlihat seperti pasangan muda yang sedang berbulan madu, karena keduanya benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum sambil saling menggenggam tangan satu sama lain.

Saat sore hari tiba, mereka kembali ke pantai dengan membawa sebotol wine yang dibeli Kyuhyun dari salah satu toko di dekat pantai. Sebelumnya Kyuhyun mengajak Eungi untuk masuk ke club anak muda yang ada di situ, tapi kurang dari satu jam saja ia sudah bisa melihat bertapa tidak nyamannya Eungi dikelilingi oleh orang-orang asing di tempat yang hingar-bingar, maka ia langsung menarik wanita itu keluar untuk melanjutkan kencan mereka di pantai saja.

“Jadi apakah sudah ada berita dari salah satu universitas tempat kau mendaftar?” Tanya Kyuhyun sambil memberikan segelas wine pada Eungi—menggunakan gelas plastik seadanya.

Eungi menggeleng sambil menyesap minumannya, “Tapi kurasa aku punya gagasan baru untuk menghabiskan masa pengangguranku.” Cengiran lebar muncul di wajahnya. “Kurasa aku mau menulis buku.”

“Wow, itu sebuah ambisi yang besar. Memang sudah waktunya kau menerbitkan sebuah karya yang sesuai dengan bidang keahlianmu.” Pria itu mengangkat jempolnya dengan semangat.

“Aku tahu, tapi aku pasti masih akan tetap berusaha mencari posisi post-doktoral di luar negeri.” Ia menyenderkan kepalanya pada bahu Kyuhyun. “Kuharap kau tidak kebertan dengan keputusanku.”

“Kenapa aku harus keberatan? Apa menurutmu aku tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh? Ayolah noona, teknologi sudah maju sekarang dan pesawat terbang diproduksi setiap hari! Aku bisa menyusulmu ke mana pun dalam waktu kurang dari satu hari.”

“Karena kau sendiri yang pernah bilang, kau tidak bisa mempertahankan komitmen secara umum.” Ia terkekeh, “Bahkan sesungguhnya aku lumayan terkejut karena kau masih tetap di sisiku sampai detik ini, dan belum bosan.”

Kyuhyun memanyunkan mulutnya dongkol karena pernyataan Eungi barusan. “Lalu apa artiku dalam hidupmu, noona? Kukira waktu itu kau memintaku untuk tetap di sisimu, tapi sekarang kau justru meragukan kesetianku.”

Eungi mengangkat bahunya, “Aku belajar lewat kejadian yang sangat menyakitkan, bahwa ketika suatu hal berjalan sangat indah dan mulus, pasti ada saja yang siap merenggutnya dariku.” Ia menyesap minumannya lagi. “Apa yang kita miliki sekarang merupakan salah satu hal terbaik yang bisa kusimpan dalam memoriku, aku takut akan kehilangan keindahan ini, dan aku sangat takut kehilanganmu.”

“Jadi alih-alih kau menlindungi dirimu dengan meragukan ketulusanku?” Cecarnya sinis.

Eungi mengangkat kepalanya dari bahu Kyuhyun untuk memandang pria itu, “Aku kejam sekali padamu, bukan?”

Pria itu mengangguk. “Sangat. Kau kekasih seriusku yang pertama, tapi kau justru meperlakukan aku seperti yoyo.” Ia menyisir rambutnya sendiri dengan jemarinya. “Kadang aku merasa seperti berondong simpananmu saja.”

Eungi menggigit bibirnya, kata-katanya hilang dan ia tidak bisa membalas pernyataan Kyuhyun. Ia tidak pernah memandang pria itu dengan cara rendah seperti yang dikiranya, namun Eungi juga paham mengapa Kyuhyun bisa merasa demikian. Pria itu memiliki komitmen lebih kuat pada Eungi ketimbang sebaliknya dan wanita itu bisa menyaksikan transformasi Kyuhyun yang menjadi pria hebat bagi dirinya—tapi justru ia sendirilah yang masih kelewat berhati-hati dengan Kyuhyun.

“Kau bukan berondong simpananku, Kyu.” Ungkap Eungi. “Aku bersumpah, aku tidak memandangmu seperti itu.”

Pria itu hanya terenyum pahit sambil menyesap wine-nya.

“Dan aku tidak akan membela diriku sendiri, aku sadar bahwa aku terlalu berhati-hati dalam menjalani hubungan ini dan pastilah itu menyakitimu—terutama setelah kau bersusah payah membuktikan dirimu padaku. Percayalah, aku menghargai seluruh usahamu dan aku menaruh seluruh kepercayaanku padamu.” Eungi memandang butiran pasir di bawahnya, “Aku justru tidak percaya pada diriku sendiri.”

“Mengapa?”

Ia mengangkat bahunya acuh, “Aku rasa aku tidak akan bisa memberikan apa yang telah kau berikan untukku.”

“Aku tidak pernah memintamu untuk itu.” Balasnya cepat.

“Aku tahu, itulah yang justru membuat posisiku semakin sulit—kasih sayang tulus yang tidak hentinya kau berikan untukku.”

Kyuhyun menuangkan wine lagi ke dalam gelasnya dan segera menghabiskan isinya dan Eungi melakukan hal yang sama. Keduanya kehabisan kata-kata dan sekarang memilih untuk memandang lautan gelap di hadapan mereka dengan tatapan kosong.

“Aku akan berusaha lebih keras, Kyu. Aku janji.” Ujar wanita itu, memecah keheningan di antara mereka.

“Aku juga akan melakukan hal yang sama.” Sahutnya. “Aku akan menuntaskan kuliah dan segera membuat diriku benar-benar pantas bersanding bersama orang sehebat dirimu.”

“Ya! Kapan aku pernah bilang kalau kau tidak pantas untukku.” Eungi memanyunkan mulutnya, ia selalu benci pernyataan Kyuhyun yang selalu memandang rendah dirinya sendiri.

“Aku tahu, kau memandangku dengan binar bangga dan aku merasa senang dengan hal itu.” Kyuhyun mengacak rambut Eungi, “Tapi aku yang merasa butuh menjadi lebih. Tunggulah aku noona. Dalam setahun, aku akan menuntaskan kekacauan hidupku dan aku akan mengejarmu ke unjung dunia sekali pun.”

“Aish, apa kau tidak punya rencana untuk hidupmu sendiri selain membututiku?”

“Ada, aku berencana untuk tetap di sisimu.” Balasnya dengan wajah lugu.

Eungi tertawa kecil melihat ekspresi di wajah pria itu. “Aigo, itu terdengar romantis dan gombal di waktu bersamaan, Kyu—lebih berat ke arah gombal sejujurnya.”

Kyuhyun ikut tertawa, “Noona, aku penasaran. Apa dia juga seromantis ini dulu?” Lagi-lagi Kyuhyun membandingkan dirinya dengan saingan terberatnya.

Napas Eungi tertahan karena pertanyaan Kyuhyun yang frontal. “Sesungguhnya aku tidak pernah tahu ia romantis atau tidak, karena aku belum punya pembanding sebelumnya.”

“Ceritakan padaku tentangnya.” Pinta Kyuhyun.

“Aku tidak mau menyakitimu.”

“Aku akan baik-baik saja, tentunya jika kau tidak keberatan untuk bercerita.”

Eungi meneguk wine-nya sebelum ia menarik napas dalam untuk mempersiapkan diri. Wanita itu tidak keberatan berbagi dengan Kyuhyun, jelas pria itu juga berhak untuk menanyakan masa lalunya. Eungi hanya takut Kyuhyun akan terluka jika ia terus membandingkan dirinya dengan Siwon.

“Apa kau yakin akan baik-baik saya? Maksudku, aku sih tidak keberatan bercerita padamu, justru mungkin ini salah satu proses penyembuhan yang harus kulakukan. Aku hanya takut kau akan..”

“Kumohon, ceritalah. Aku benar-benar penasaran seperti apa sosok pria yang berhasil mencuri hatimu.” Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Eungi untuk menyembunyikan ekspresinya.

Well, kami bertemu di sebuah konfrensi dan entahlah saat itu aku dan dia langsung cocok. Pria itu karismatik dan paham cara untuk membuatku terpesona tanpa menjadi berlebihan dan kurasa saat itu aku pun sjuga berusaha untuk mencuri perhatiannya.” Eungi mengintip ekspresi Kyuhyun dari ekor matanya.

Pria itu sekarang memandang Eungi langsung pada manik matanya, ia mengukuhkan diri untuk mendengarkan penjelasan Eungi, tanpa mempedulikan rasa tidak nyaman yang mulai hinggap di hatinya.

“Sangat nyaman sekali bagiku waktu bisa menemukan seseorang yang memahami keanehaku, mungkin itu yang membuatku benar-benar tunduk pada pesonanya. Kisah kami berjalan seperti cerita percintaan yang sangat sempurna, hingga suatu malam semua itu direnggut tanpa peringatan—kurasa tidak ada manusia yang penah siap menghadapi apa yang kujalani saat itu.” Eungi berputar menghadap Kyuhyun, meraih tangan pria itu untuk menautkan jemari mereka. “Maka karena itu, aku memiliki rasa takut kehilanganmu yang cukup irasional, Kyu. Karena aku pernah merasakan keindahan sebuah hubungan, aku pernah menjadi lemah karena mengikuti hatiku, dan ketika kebahagianku dicabut, aku benar-benar hilang arah. Aku takut ketergantungan dengan kehadiranmu.”

Pria itu menarik tangan Eungi di genggamannya, ia mengecup permukaan tangan Eungi dengan lebut. “Aku tidak akan kabur kemana-mana, noona. Percayalah.”

“Aku percaya padamu, tapi aku sudah kehiangan kepercayaanku pada semesta.” Ia menarik pandangannya dari Kyuhyun, “Kurasa kalau kejadian itu terulang lagi, aku bisa benar-benar membunuh diriku sendiri karena tidak kuat menanggung sakitnya kehilanganmu.”

“Ya! Kau ini kan orang yang selalu berpikir dengan logika!” Sahut Kyuhyun kesal dengan pernyataan konyol Eungi. “Jangan pernah ungkapkan hal bodoh itu lagi!”

Eungi menarik tangannya dari tautan jemari Kyuhyun kemudian menepuk dadanya sendiri, “Karena tidak ada obat untuk kepedihan yang kurasakan, Kyu. Aku berhasil bertahan untuk kali pertama, tapi aku tidak yakin akan kuat menanggung derita kehilangan orang yang kusayangi untuk yang kedua kalinya.”

“Siapa yang akan meninggalkanmu, noona?” Ia duduk mendekat untuk merangkul Eungi. “Dan jika kau takut kehilanganku untuk alasan yang sama kau kehilangan dia, maka aku akan meyakinkanmu sekarang—aku tidak sebodoh mantan kekasihmu itu, memang tindakannya heroic tapi juga bodoh. Bagaimana mungkin ia melindungimu tapi justru meninggalkanmu seorang diri. Jadi kalau sampai ada kejadian seperti itu, aku janji, kita berdua akan selamat.”

“Caranya?”

“Aku akan mencari ide dadakan, kau tahu sendiri otakku lebih bekerja di bawah tekanan. Inti penyataanku adalah, aku sadar sepenting apa peranmu dalam hidupku dan kuharap aku juga memiliki peran yang sama dalam hidupmu, kita berdua sama-sama takut kehilangan satu sama lain dan kita menikmati kebahagiaan yang kita miliki sekarang. Maka aku tidak akan melakukan tindakan heroik konyol yang justru akan menyakitimu di kemudian hari.”

Eungi tidak membalas kata-kata Kyuhyun yang diungkapkannya dengan berapi-api, ia hanya ingin mempercayai pria di sampingnya.

“Jadi bisakah kau menaruh keyakinanmu padaku, noona?”

Wanita itu mengangguk dan menyenderkan lagi kepalanya pada bahu Kyuhyun. “Aku benar-benar terpukau, tidak kusangka kau memiliki sisi ini dalam dirimu.”

Kyuhyun mencium puncak kepala Eungi sambil memeluknya lebih erat. “Aku juga tidak tahu, kau benar-benar mengubahku menjadi pribadi yang lebih dewasa, Eungi-ya.”

“Aku kan tidak memaksamu untuk berubah.”

“Tidak, aku lah yang mau berubah. Pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar ingin menjadi pria yang berguna bagi seseorang.”

Wanita itu mengangkat wajahnya sedikit, dengan lembut ia menarik tengkuk Kyuhyun untuk mendekat pada wajahnya sebuelum Eungi memberi kecupan hangat pada bibir pria itu. Eungi heran dengan dirinya sendiri, tidak biasanya ia seagresif ini kalau berurusan denga lawan jenis—jelas ia tidak seagresif ini ketika berkencan dengan Siwon—tapi Kyuhyun benar-benar membuat Eungi bisa merasa nyaman dan pria ini juga tidak pernah keberatan dengan perlakuan manis Eungi padanya.

“Aku tidak tahu yang kurasakan untukmu, Kyu.” Ia tersenyum malu-malu, “Aku tidak tahu cara mendeskripsikan perasaan yang kumiliki sekarang. Yang kutahu, jantungku berdetak kencang setiap kau di dekatku, aku selalu kegirangan sendiri kalau kita akan bertemu, kulitku serasa diestrum setiap kau menyentuhnya dan kau adalah hal terakhir yang kupikirkan sebelum terlelap. Aku belum bisa memastikan perasaan apa yang kumiliki, tapi aku tahu kau membawa impact besar dalam hidupku.”

Kyuhyun mengecup dahi Eungi dengan sayang. “Terima kasih, noona. Indah sekali yang kau rasakan untukku.”

“Jadi, aku tidak mau lagi mendengar kata-katamu yang merasa bahwa kau berondong simpananku atau hanya sekedar pengganti dari kehadiran dia. Karena kau bukan dia dan aku tidak mau kau menjadi dirinya—aku hanya membutuhkanmu sebagai pribadimu yang mengagumkan ini.”

Kyuhyun heran dengan sensasi aneh yang ia rasakan pada dirinya sekarang, jantungnya berdebar kencang dan perutnya bagai diisi ribuan kupu-kupu yang berterbangan saat mendengar deskripsi perasaan Eungi. Apa yang diutarakan wanita itu persis sama dengan apa yang dirasakannya, pria itu senang sekali karena ia bukan satu-satunya yang merasakan jutaan emosi indah itu.

“Noona, kurasa kau jatuh cinta padaku.” Ia menundukkan kepalanya untuk mencuri sebuah ciuman dari Eungi. Ciuman pria itu lembut pada awalnya, tapi saat Eungi membuka mulutnya untuk membalas ciuman Kyuhyun, ia akhirnya menyerah pada gairahnya.

Eungi memutar posisi duduknya untuk menghadap Kyuhyun, tangannya dikalungkan pada tengkuk pria itu, ia menekan tengkuk Kyuhyun pelan untuk terus memperdalam ciuman mereka sementara tangan Kyuhyun mulai membelai kulit paha Eungi yang tidak tertutup sun-dressnya. Wanita itu lagi-lagi dibuat sesak napas dengan cara Kyuhyun menyentuhnya, bagaimana mungkin pria ini bisa membuatnya ingin lebih padahal Eungi masih harus menjaga batasan mereka.

Seketika akal sehatnya kembali, Eungi mendorong bahu Kyuhyun pelan untuk menghentikan ciumannya—memang ia ingin lebih, tapi apapun yang terjadi lebih jauh dari ini akan menjadi sangat penting bagi hubungan mereka dan Eungi tidak mau tergesa-gesa.

Eungi mengatur napasnya yang menderu sambil menempelkan kening mereka. Napas Kyuhyun sama beratnya dan dari ekspresi di wajah pria itu, Eungi tahu bahwa Kyuhyun menahan gairahnya dengan usaha yang sama kerasnya seperti Eungi. Alih-alih mengikuti dorongan hatinya, Eungi memilih untuk berdiri dan segera manarik tangan Kyuhyun untuk mengikuti langkahnya ke bibir pantai.

Situasi malam itu sangat gelap dan sunyi, hanya mereka yang ada di pantai itu dan Eungi benar-benar menikmati perasaan bebas yang kini menyertainya. Eungi melangkah hingga mata kakinya terbenam di bawah permukaan air laut, menikmati sensasi dingin yang menyapa permukaan kulitnya—dan setengah berharap sejuknya air laut ini bisa menurunkan gairahnya sendiri.

Kyuhyun mengikuti Eungi dengan sabar dan ia gagal menghindari ingatannya sendiri tentang momen pertama mereka yang dilewati di tempat yang sama beberapa bulan lalu. Ia tidak sanggup melupakan momen saat ia menyadari rasa cintanya pada Eungi—dan juga momen pertama hatinya diremukkan Eungi oleh sebuah ciuman yang tidak diperuntukkan baginya.

“Noona, apakah ingatanmu kembali?” Ia menarik tangan Eungi untuk mencegah wanita itu melangkah lebih dalam ke lautan.

Eungi menggeleng dengan ekspresi lugu, lagi-lagi ia mencoba mengingat-ingat kejadian yang berhubungan dengan pantai ini.

“Dan ajaibnya, hatiku masih tetap nyeri karena kau melupakannya.” Pria itu memanyunkan bibirnya kesal.

“Apa yang kulupakan.”

Kyuhyun mendekatkan tubuhnya pada Eungi, dengan lembut tangan kanannya diletakkan pada punggung wanita itu sementara tangan kirinya menggenggam tangan kanan Eungi dengan mantap. Ia mulai mengambil langkah untuk menuntun Eungi berdansa dengannya.

“Apa kita sedang berdansa?” Tanya Eungi dengan senyum lebar. “Tidak ada musiknya, Kyu.”

“Tidak perlu musik.” Ia memindahkan tangan kanannya untuk membelai lembuh wajah Eungi dan perlahan membawanya ke dagu wanita itu. Ia menyeringai konyol sebelum mengangkat dagu Eungi dan mencumbu kekasihnya dengan lembut.

Eungi benar-benar menyerah sekarang. Susana dan debaran di jantungnya benar-benar gagal membuatnya tetap waras, ia tidak lagi bisa mempertahankan batasannya ketika ia berjinjit untuk membalas ciuman Kyuhyun dengan bergairah. Inilah waktunya, inilah saat ketika Eungi benar-benar terpesona dengan seluruh pribadi pria yang mendekapnya.

Kemudian ingatan itu tiba-tiba menyerangnya.

Dengan cepat Eungi mendorong tubuhnya menjauh dari Kyuhyun kemudia ia menutup wajahnya yang sekarang terlihat sangat kaget, membuat Kyuhyun bingung—apakah ia sudah berbuat terlalu jauh dengan ciumannya.

“Ya tuhan. Aku melupakan ciuman pertama kita, bukan?” Eungi mengintip pada wajah Kyuhyun dari balik jemarinya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Kau ingat?”

“Aku menciummu, benar kan? Aku yang memulai semuanya dan aku memaksamu untuk melakukan dansa terakhirku bersamanya.” Ia menggigit bibir untuk menahan emosinya sendiri.

Kyuhyun mencoba tersenyum tapi gagal, di wajahnya sekarang hanya nampak garis horizontal yang terbentuk dari senyuman yang gagal dipaksakan.

“Maafkan aku, Kyuhun-a.” Air mata Eungi kini mulai menggenang karena rasa bersalah yang teramat sangat pada pria di depannya, demi Tuhan, ia tidak percaya tindakan kejamnya pada Kyuhyun. Bagaimana mungkin Eungi dengan lancangnya memaksa Kyuhyun untuk menggantikan posisi Siwon di malam itu.

Pria itu menarik Eungi mendekat untuk kembali memeluknya. “Tidak apa-apa, noona. Kurasa itu beberapa hal yang rela kulakuan untukmu. Manusia melakukan hal-hal gila ketika mereka jatuh cinta, bukan?”

Eungi mengangkat wajahnya, memandang Kyuhyun dengan ekspresi tidak percaya. “Apa kau bilang?”

“Aku mencintaimu, Cha Eungi.” Pria itu segera mendengus dan menyeringai malu sesudah mengungkapkan kata-kata yang tidak pernah ia kira akan terlontar dari mulutnya. “Aku serius, aku benar-benar jatuh cinta padamu.”

Wanita itu menangkupkan tangan pada mulutnya sendiri yang mengaga lebar sementara setetes air mata bahagia jatuh dari pelupuknya. Ia ingin melompat kegirangan sekarang tapi seluruh emosi bahagianya lolos dalam bentuk air mata.

“Aku kira kau tidak akan pernah mengatakan hal-hal seperti itu.” Ia tersenyum jahil pada Kyuhyun.

Pria itu menunduk dan tertawa untuk dirinya sendiri, “Aku tahu, aku pun tidak mengira aku bisa jadi selembek ini.”

Eungi mengalungkan tangannya pada leher Kyuhyun, berjinjit untuk mengecupnya. “Kyu, aku..”

“Kau tidak perlu mengatakan apapun sekarang, kecuali kau benar-benar tulus mengatakannya.”

“Aku akan berusaha lebih keras, Kyu. Tapi ketahuilah, aku sungguh menyayangimu.” Ia memilih mengungkapkan kata-kata yang menyampaikan kejujuran hatinya, ketimbang harus berbohong untuk sebuah emosi yang belum diyakininya.

 

 

 

Advertisements

93 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 12

  1. ona kyu says:

    sweet momen yang bikin meleleh. akhirnya mereka jadian juga. Kyu suka dan cinta beneran dengan Eungi hingga bisa jadi sosok yang sabar dan pengertian. kan dia playboy kelas kakap

    Liked by 1 person

  2. Sugaark says:

    Ahhh mereka sekarang udah mulai kencan
    Dattteeeuuu 😂
    Jadi eungi ngajak kyuhyun dansa trus nyium kyuhyun buat gantiin dansa dan ciuman terakhir siwon
    Pasti hubungan siwon sama eungi dulu manis sekali smpe eungi susah move on

    Liked by 1 person

  3. imgyu says:

    kok rasanya gantian ya kemarin kyuhyun yg nyoba nyatain perasaannya sekarang eungi, n kyuhyun tampak salah pengertian sama maksudnya eungi. Yg ada di fikiran dia malah dia ga sebanding sama siwon dia ga mikir apa yg bisa dia perjuangin lg tp malah mundur

    Liked by 1 person

  4. Cho Sarang says:

    Ternyata cinta mampu mengubah apapun ya dan orang rela melakukan apapun demi cinta seperti yang dialami kyuhyun saat ini. Cinta mengubahnya menjadi orang yang lebih baik lagi dalam akademisi, lebih baik dalam memgelola hasratnya dan egonya. Bahkan rela mendampingi eungi untuk menyembuhkan lukanya hingga eungi mampu berdamai dengan masa lalunya

    Liked by 1 person

  5. Barom yu says:

    Gak sabar nunggu kyu jadi pria dewas, pintar yg sudah lulus.. Apakah tetap seperti ini sweet nya ^
    Cayyo kyu~~ pasti km lulus hihi

    Duh mereka bikin baper dan aku senyum-senyum sendiri wkwkwk
    Kyu berani banget cium eungi di kampus*gila kalo ada yg liat gmn coba?? Ckckck
    Cinta emang bikin kita gila hihi

    Liked by 1 person

  6. Rinjani says:

    Aku paling seneng kalo dah baca ff diselipin foto ilustrasi gitu kaya eungi pake kaos mickey mouse itu, jd baper :3
    Kyu ya ampun tau ah mau komentar apaan, kalo bener ada yg ginia betaah dah.
    Fighting thor!! 😍

    Liked by 1 person

  7. Afa hyerin says:

    Ya ampun eonnie ada nggak yg lebih manis dari ini…. Saking manis nya lebih dari gula.. Aku bingu mau coment apa eonniw…
    Aku suka banget sikap dewasanya kyuhyun disini….. Haaa.. Andaikan yg kaya di cerita ini ada… Sikap dewasanya itu lo eonnie… Waaahhh pokoknya…

    Liked by 1 person

  8. Dewiastiti says:

    Oh my god, moment ini romantis bgt n ga berlebihan mnrut aq. Aq ngerasa prasaan ini nyata, prasaan antara kyu n eungi. Seperti kisah nyata yg d tranfer lwt tulisan. Kepedihan n kebahagiaan yg datang d saat yg sma, yg membuat hub. Diantara mereka smakin dekat, membuat tdk ingin kehilangan stu sama lain. 4 jempol untk author 👍👍👍👍

    Liked by 1 person

  9. Dyana says:

    Part ini adalah part terbaik setelah beberapa part yg ku baca kebelakang…
    Ya ampuuuunnn… Aku tidak bisa berhenti meleleh, perasaan mereka ini terasa nyata, aku sampai terbawa suasana… Kepedihan yg di bagi bersama, ungkapan cinta yg sangat manisss…
    Ku harap Kyuhyun tidak akan pernah melupakan janji2 yg sudah dia buat, jika dia benar2 sukses nanti dia tidak akan berubah, perasaannya harus sll untuk Eungi.

    Liked by 1 person

  10. OngkiAnaknyaHan says:

    eaaaa…. yg udah saling ngungkapin perasaan yah

    ini partnya kyuhyun ama eungi doank
    sweetnya bikin baper
    ini gak boleh dipisahin thor mereka ini

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s