(Indonesian Version) One Last Shot – Part 11

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

Kyuhyun mengambil dua buah bir dingin dari kulkasnya dan memberikan satu botol pada Eungi yang sekarang sudah terduduk lemah di sofa dalam apartemennya, mereka sudah puas menangis malam ini dan kini waktu untuk menenangkan diri. Wanita itu mangambil botol dari tangan Kyuhyun tanpa ragu dan langsung menegak habis isi botol dalam hitungan menit dan membuat Kyuhyun harus memberikan botol di tangannya untuk Eungi, bagaimanapun juga wanita itu terlihat lebih membutuhkan bir ini daripada Kyuhyun.

Malam ini, didasari dengan rasa penasaran yang kuat serta didukung oleh kemampuan meretas data virtual Kyuhyun yang di atas rata-rata, pria itu mendapatkan akses illegal ke dalam website terorisme dan justru harus menyaksikan detik-detik tragedi mengerikan yang Eungi lewati bersama Siwon pada November lalu. Di dalam rekaman itu terlihat jelas runutan kejadian mulai dari saat Eungi dan Siwon sedang menikamati makan malam romantis mereka yang langsung berubah drastis menjadi pembantaian berdarah.

Di rekaman itu terlihat jelas, aksi Siwon yang langsung melemparkan tubuhnya sendiri ke atas tubuh Eungi untuk menjadi tameng dari puluhan timah panas yang ditembakkan membabi-buata ke arah mereka. Hati Kyuhyun terasa sangat sakit saat menyaksikan usaha kerasa Eungi untuk tatap menjaga pria itu tetap dengan memberikan CPR berkali-kali, dan tangis Kyuhyun pecah ketika rekaman menunjukkan Eungi yang mengangis histeris di samping jasad Siwon yang sudah tidak bernyawa—terlebih saat jasad pria itu dimasukkan ke dalam kantung mayat oleh tim paramedis yang datang ke lokasi.

Malam ini Kyuhyun benar-benar menyesali kelancangannya untuk menggali masa lalu Eungi dan Siwon, ia mengutuk rasa penasaran yang didasari pernyataan Eungi bahwa ia telah membunuh tunangannya sendiri. Kyuhyun menggali informasi terlalu dalam dan saat ini ia berharap bisa menghapus ingatannya akan rekaman mengerikan itu.

Namun jika bagi Kyuhyun menyaksikan pemandangan itu melalui rekaman video dari apartemennya yang aman saja sudah membuat dirinya terguncang, pastilah kejadian ini membekas sangat dalam pada Eungi, dan pria itu kini mulai paham dengan tingkah aneh Eungi yang pernah bersembunyi di kolong meja coffee shop ketika mereka mendengar ledakan petasan. Kyuhyun juga mulai mengerti dasar dari alasan wanita itu lebih senang bergadang dan meneguk kopi banyak-banyak agar tetap terjaga semalaman, pastilah kenangan itu menghantui mimpi buruknya. Wanita di hadapannya telah berusaha semampunya untuk menghapus kengerian yang masih menghantuinya, dan Kyuhyun yakin, jika ia yang ada di posisi Eungi, kondisi mentalnya pasti lebih buruk dari wanita itu.

“Noona, kau mau bir lagi? Aku masih punya stok di kulkas.” Tawar Kyuhyun setelah melihat Eungi sudah menghabiskan botol keduanya dengan cepat.

Eungi mengangguk, ia benar-benar butuh menenangkan diri malam ini—sebelum ia menuntaskan seluruh kesalah-pahaman di antara mereka.

Kyuhyun kembali ke dapurnya, mengambil seluruh persediaan bir yang ia miliki untuk diletakkan di atas coffee table di hadapan Eungi, pria itu segera membuka dua botol, memberikan satu kepada wanita itu dan ia segera mengangkat botol untuk bersulang dengannya.

“Untuk apa kita bersulang?” Tanya Eungi bingung.

Farewell-mu.” Ia menyeringai kecil lalu meneguk cairan pahit itu.

“Apa kau baik-baik saja, Kyu? Kau terlihat terguncang.” Meskipun wanita itu masih kalut, ia lebih khawatir dengan kondisi Kyuhyun ketimbang dirinya.

“Noona, khawatirkanlah dirimu sendiri.” Ia mengambil botol dari tangan Eungi dan meletakkannya di atas coffee table. “Apakah kita akan membahas tentang hal ini, atau kita akan berpura-pura drama barusan tidak pernah terjadi?”

“Boleh aku minta time-out?” Ia mengangkat kedua tangannya untuk membentuk huruf T dengan telapak tangannya yang ditumpukan satu sama lain. “Aku akan menjelaskan segalanya padamu malam ini—sudah waktunya aku membicarakan itu—tapi kumohon biarkan aku bernapas sebentar, karena sangat sulit bagiku untuk bicara tentang hal itu.”

Kyuhyun tersenyum lemah, “Baiklah, aku akan menunggu. Sementara, bagaimana jika kau membicarakan tentang pesta farewell-mu?” Ia mengangkat topik pertama yang melintas di kepalanya untuk mengalihkan obrolan berat mereka.

Eungi menyedot hidungnya yang berair sambil terkekeh. “Acaranya basi.”

“Benarkah?”

Wanita itu mengangguk cepat. “Aku tidak paham kenapa aku harus menjebak diriku di tengah orang sebanyak itu, berpura-pura untuk menikmati waktuku dengan mereka, padahal aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengan santai bersama—” Ia berhenti bicara, hanya karena ia merasa nyaman dengan situasi mereka sekarang, bukan berarti ia harus membeberkan seluruh isi kepalanya pada Kyuhyun.

“Bersama?” Pancing Kyuhyun.

“Bersama buku-buku yang ada di rumahku.” Balasnya lega karena berhasil menyelamatkan harga dirinya.

Kyuhyun mengangguk. “Aku sudah menduga acara itu akan membosankan, mereka terlalu muda dan kekanakan, aku tidak suka bergaul—”

“Kau sudah ‘bermain’ dengan sebagian banyak dari gadis di kelas itu, makanya kau tidak nyaman hang-out bersama mereka.” Potong Eungi santai.

Ia sudah mendengar segala jenis rumor yang beredar tentang Kyuhyun sejak hari pertama menginjakkan kaki di kampus itu, tapi saat makan malam tadi, setelah beberapa shot soju diedarkan, mahasiswanya mulai banyak yang meracau dan mereka mulai membeberkan aib satu sama lain—termasuk aib Kyuhyun. Sepanjang acara makan malam itu Eungi hanya bisa berlagak tuli dan pura-pura tidak terpengaruh dengan berita yang diam-diam meresahkannya.

Kyuhyun meringis canggung karena pernyataan Eungi, sebagian karena ia malu dengan fakta yang Eungi ketahui, tapi sebagian lagi terhibur dengan ekspresi jengkel yang muncul di wajah wanita ini. “Apa masa laluku mengganggumu?”

Eungi menghela napas panjang, “Sedikit.”

“Mengapa itu mengganggumu?”

“Karena membuatku berpikir bahwa sesuatu yang kita miliki memang spesial atau aku hanya salah satu dari targetmu untuk kau taklukan.” Jawabnya jujur.

“Jadi kita memang memiliki sesuatu yang spesial, begitu menurutmu?” Pancing Kyuhyun.

“Jangan mengalihkan topik pembicaraan.” Eungi mengalihkan wajahnya yang merona ke arah lain.

Kyuhyun terkekeh geli, “Aku tidak mengalihkan pembicaraan, noona. Justru sekarang kau yang menghindari tatapanku.”

Eungi mengangkat botol bir ke arah mulutnya dan segera meminum beberapa teguk cairan pahit itu, jika memang ia harus membicarakan perasaannya secara blak-blakan, Eungi benar-benar perlu merasa sedikit santai, dan bir di tangannya membantu sedikit.

“Jadi, apakah benar?” Cecar Eungi.

“Apa yang benar?”

“Kalau aku targetmu?” Ia menggigit bibirnya dengan gugup, takut kalau jawaban yang diberikan Kyuhyun akan membuatnya kecewa.

“Sejujurnya?” Kyuhyun sekrang menegak birnya dengan cepat sebelum ia menjawab. “Ya, kau targetku.”

Hati Eungi mencelos mendengar pernyataan jujur pria itu. Memang ia tahu semua rencana busuk Kyuhyun, tapi ia berharap setidaknya seiring dengan berjalannya waktu, Kyuhyun bisa berubah.

“Kau kan sudah tahu sendiri bahwa aku memang menargetkanmu dulu. Bahkan kau sendiri yang bilang blak-blakan padaku bahwa kau mengetahui masalah taruhan bodoh itu, kita bahkan mendiskusikannya di pagi hari kau terbangun di tempat ini—demi tuhan noona, apa kau benar-benar sepikun itu.” Bela Kyuhyun.

“Aku benar-benar bilang padamu kalau aku tahu?” Ia mengerutkan keningnya bingung. “Maksudku, aku memang tahu, tapi kapan aku pernah bilang padamu bahwa aku tahu? Aish, aku banyak pikiran Kyuhyun-a, maafkan kepikunanku ini.”

Kyuhyun menarik bir di tangan Eungi dan langsung menaruh botol itu di atas meja. “Itu akan menjadi botol terakhirmu malam ini. Aku mau besok kau terbangun dalam keadaan masih ingat semua yang terjadi malam ini, kau melupakan semua hal penting ketika kau mabuk.” Pria itu memanyunkan bibirnya kesal. “Dan kau menjadi super bawel ketika mabuk, hingga aku bingung bagaimana menanggapi setiap kata yang kau lontarkan dari mulutmu itu.”

Eungi tertawa kecil, “Apa aku sebawel itu ketika kita pergi ke pantai?”

“SANGAT!” Kyuhyun menekankan penyataannya sambil terkekeh. “Kau meracau tentang masa kecilmu, tentang taruhanku, tentang hal-hal yang mengganggumu, dan masih banyak lagi yang tidak bisa kuingat satu per satu—aku benci Eungi si pemabuk, ia melupakan banyak hal penting.”

“Hal penting seperti?” Tanyanya polos.

Wajah Kyuhyun terasa panas ketika ia teringat ciuman pertama mereka di pantai beberapa minggu yang lalu. “Never mind, tidak sepenting itu lagipula.”

“Jadi sampai sekarang, apakah aku masih menjadi targetmu?” Ada sedikit perasaan kecewa dan terkhianati yang kini mulai merasuki hatinya. “Jika memang aku masih menjadi targetmu, aku akan meminum seluruh alkohol yang kau miliki di apartemenmu supaya aku lupa tentang pembicaraan ini. Karena sejujurnya aku lebih menyukai Kyuhyun dalam versiku ketimbang Kyuhyun yang dideskripsikan orang-orang itu. Menurut versiku, kau adalah seorang gentleman manis yang terjebak dengan krisis identitas—aku tahu bahwa Kyuhyun versiku ini benar-benar pria yang baik.”

Kyuhyun tertawa, ia jelas merasa tersanjung dengan cara Eungi memandangnya—wanita itu bisa membuat Kyuhyun merasa lebih baik tentang dirinya sendiri melalui pernyataan polosnya. “Tapi memang itu kenyataannya, noona. Kau pernah menjadi targetku—dan masih menjadi targetku.”

“Ne?”

“Biar kujelaskan. Awalnya aku benar-benar dongkol denganmu. Dosen baru, masih sangat muda, pantas menjadi kawan sekelasku dan kau berani menantangku di hari pertamamu—jelas aku punya keinginan untuk menunjukkan siapa yang berkuasa diantara kita. Kawan-kawanku menyarankan cara terbejat untuk menjatuhkanmu, aku tidak bangga dengan kejadian itu dan sampai detik ini aku menyesalinya.” Kyuhyun bergidik sedikit membayangkan rencana jahatnya bagi Eungi. “Aku hanya benar-benar kesal hari itu, noona. Aku pun tidak berpikir panjang dan hanya mengikuti emosiku hari itu, maafkan aku.”

Eungi tertawa sinis, “Kau bayangkan saja, Kyu: kau telat lebih dari tiga puluh menit, kau mengganggu kuliahku, kau tidak minta maaf dan hanya memerintahku untuk mengabsenmu, kelakuanmu sombong sekali dan kau memandangku dengan tatapan meremehkan. Dosen mana yang akan menyambutmu dengan senyum di wajah mereka, ng?” Ia lanjut tertawa mengenang pertemuan pertemuan pertamanya dengan pria itu. “Dan yang paling epic dari semua itu adalah ketika kau mengeluarkan ancaman mautmu ‘kau tidak tahu siapa aku’, benar-benar kekanakan.” Eungi tertawa puas sambil meledek Kyuhyun sesuka hatinya.

Pria itu ikut tertawa dengan Eungi, harus ia akui, memang kelakuannya itu sangat memalukan dan memang pantas untuk dijadikan bahan tertawaan.

“Ng, aku tahu.” Ia bergerak gugup di atas sofa, “Tapi kau satu-satunya orang yang memberikanku kesempatan kedua.”

Eungi tersenyum tulus padanya, “Kau pantas mendapatkan kesempatan kedua, karena kau juga tidak pernah mengecewakanku, serta selalu membuatku kagum denganmu.”

Pria itu tersipu, “Kurasa keputusanmu merubah segalanya. Sejak hari kau memberiku kesempatan kedua, aku benar-benar tersihir olehmu. Memang aku masih tetap menargetkanmu, tapi bukan dalam artian jahat—aku ingin selalu ada di sampingmu. Aku tidak akan mengkhianati seseorang yang telah mendukung dan membimbingku sepertimu, noona.”

“Aku merasa terhormat.” Eungi membelai tangan Kyuhyun lembut, “Dan terima kasih untuk semuanya.” Ia menatap mata pria itu dalam, “Kau tidak akan pernah paham apa yang telah kau lakukan untukku, dan aku benar-benar berhutang seluruh kebahagiaan dan kewarasanku beberapa bulan terakhir ini padamu.”

“Bagaimana mungkin?”

Eungi menarik napas dalam dan menggeser duduknya agar lebih mudah menatap Kyuhyun. “Kau membuatku nyaman, memberiku kekuatan dan membuatku merasa bisa menaklukan kepedihanku hanya dengan kehadiranmu. Aneh memang, tapi itulah yang kurasakan.” Eungi mulai merasa wajahnya memanas dan ia mulai menghindari tatapan Kyuhyun. “Kurasa aku terlalu banyak menggunakan hak prerogatifku sebagai dosen untuk tetap melibatkanmu dalam banyak hal, hal-hal yang tidak ada urusannya dengan kepentingan akademis—aku hanya mencari alasan agar kita bisa menghabiskan waktu bersama.”

Apakah Eungi baru saja menyatakan perasaannya pada Kyuhyun? Pria itu kurang yakin. Yang ia tahu hanyalah detak jantungnya yang berdetak lebih cepat karena ia melihat rona kemerahan yang muncul di wajah polos Eungi. Saat ini wanita itu terlihat tidak seperti dosennya yang memiliki otoritas, namun lebih seperti gadis polos yang sedang malu-malu berbicara pada lawan jenisnya.

“Noona, aku akan tetap berada di sisimu jika memang itu membuatmu nyaman.” Ia mengangkat lengannya untuk mengacak rambut Eungi. “Aku benar-benar sayang padamu, Cha Eungi. Kalau kau memintaku untuk mendampingimu, maka aku akan melakukan apa yang kau minta—selama kau menginginkan kehadiranku.”

Sensasi ribuan kupu-kupu kembali berterbangan di dalam perutnya, Kyuhyun bukan orang pertama yang menyatakan perasaannya pada Eungi, tapi pria ini melakukannya dengan cara paling manis yang pernah Eungi dengar—dengan seluruh keangkuhan yang telah ditanggalkan. “Kau sayang padaku?” Tanyanya dengan wajah tersipu.

“Kurasa niat burukku justru kini berbalik menamparku, kau wanita pertama yang membuatku jungkir balik hanya untuk sekedar menghabiskan waktu bersamamu.” Ia tersenyum lemah kemudian menyesap birnya kembali.

Eungi kehilangan kata-katanya, pria yang dulu sangat congkak ini sekarang justru mengakui bahwa karma memang nyata telah berbalik menyerangnya—dan ia mengutarakannya dengan wajah polos yang kelewat menggemaskan di mata Eungi. Padahal jika menilai dari tatapan lembutnya, caranya memperlakukan Eungi, sikapnya yang selalu hangat kepada wanita itu, Eungi tidak perlu mendengar penyataan apapun dari Kyuhyun. Ia bisa menerka perasaan tulus yang dimiliki pria itu untuknya.

“Indah sekali, Kyu.”

“Apa yang indah?”

“Apa yang barusan kau utarakan.” Eungi menarik napasnya dalam. “Aku benar-benar berharap bisa—”

“Kumohon, jangan lukai harga diriku lagi. Tidak perlu menolakku, aku sudah tahu diri noona.”

Eungi meletakkan kedua tangannya di atas dadanya sendiri, “Kumohon, kali ini biarkan aku menuntaskan kata-kataku. Percayalah, apa yang akan kukatakan justru akan melukai harga diriku ketimbang gengsimu.”

Pria itu menggigit bibirnya ragu sambil mempertimbangkan. “Baiklah, silakan bicara.”

“Aku berharap kalau aku bisa hidup hanya dengan cara mengikuti perasaanku, karena dengan demikian aku tidak perlu berpikir terlalu keras dan bisa mengikuti intuisiku saja sekarang.” Eungi berhenti untuk meneguk birnya lagi sebelum ia melanjutkan omongannya.

“Noona, jangan banyak-banyak.” Kyuhyun mengingatkan sambil menarik botol dari tangan Eungi dengan jengkel.

“Kau tahu apa yang gila?” Lanjut Eungi. “Aku berhenti memandangmu sebagai mahasiswaku sejak lama dan aku selalu dipenuhi luapan rasa bahagia kapan pun kau di dekatku. Kalau aku boleh mengikuti kata hatiku saja, aku yakin saat ini aku sudah terbaring di ranjang itu bersamamu, melakukan hal-hal yang jauh dari kata etis dalam dunia profesionalku.” Ia menunjuk ke arah ranjang Kyuhyun dengan cuek.

Pria itu jelas terkejut dengan pernyataan Eungi yang masuk ke dalam kategori blak-blakan, ia belum pernah melihat wanita ini bicara sejujur ini—bahkan ketika ia mabuk tempo hari di pantai. “Noona, jujur padaku, kau sudah mabuk?”

“Tidak, aku tidak terpengaruh dengan kadar alkohol dalam bir. Aku bertaruh kalau besok pagi aku akan terbangun dan masih mengingat semua ucapanku, kemudian aku pasti langsung membenamkan wajahku ke dalam bantal untuk menyembunyikan rasa maluku. Tapi aku ingin mengungkapkan apa kurasakan, dan kau pantas mengetahui ini semua.”

Kyuhyun mengangguk paham dan membiarkan Eungi melanjutkan omongannya.

“Aku lelah, Kyu. Aku benar-benar lelah dengan semua ini.” Kali ini tatapan sendu Eungi telah kembali dan Kyuhyun bisa menebak arah pembicaraan mereka. “Bahkan saat kita berciuman, yang bisa kupikirkan hanyalah rasa bersalahku padanya—padahal aku benar-benar menikmati sentuhan bibirmu. Dan aku merasa seperti orang yang sedang berselingkuh walaupun sebenarnya tidak! Apa yang kulakukan denganmu tidak terhitung selingkuh, kalau ia sudah.. kalau ia sudah.. meninggal.”

Raut wajah Eungi yang kembali murung, kedua mata wanita itu kini berkaca-kaca dan Kyuhyun yakin tidak lama lagi pasti Eungi akan mulai menangis.

“Aku lelah berdebat dengan diriku sendiri, memikirkan apakah pantas jika aku melanjutkan hidupku dengan bahagia setelah apa yang ia korbankan untukku. Aku muak membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupku jika tragedi itu tidak pernah ada—dan pada saat yang bersamaan aku tahu bahwa aku hanya melakukan kebodohan dan membuang-buang waktuku, karena faktanya ia memang telah tiada! Aku benar-benar lelah mencoba menjaganya hidup di dalam memoriku dan aku ingin perasaan sesak di dalam hatiku ini pergi.” Air mata mulai mengalir di kedua pipinya.

Kyuhyun menggeser duduknya untuk mendekat pada Eungi, perlahan pria itu menepuk bahu Eungi sambil masih menahan keinginannya untuk memeluk wanita itu.

“Aku ingin move-on, Kyu. Aku benar-benar ingin melupakan kejadian itu! Jika aku boleh jahat, itu kan inti dari aku masih hidup? Aku mengenalnya baik dan aku yakin ia hanya menginginkan kebahagiaanku. Tapi mengapa aku terus merasa bersalah seperti ini, Kyu?” Ia mulai memeluk dirinya sendiri, “Kenapa aku merasa seperti manusia paling kejam jika aku membiarkan kenangan bersamanya ikut mati dengan raganya.”

“Noona.. kumohon..”

“Dan kau tahu berita buruknya? Aku terpesona olehmu! Aku benar-benar terpesona olehmu hanya dalam kurun waktu beberapa bulan setelah ia pergi. Kalau itu tidak membuatku nampak seperti wanita jalang yang kejam, maka aku tidak tahu dengan apa kejahatanku ini setara.” Eungi semakin terisak. “Aku menginginkanmu! Aku benar-benar menginginkamu sampai aku tidak kuasa memandang wajahmu sejak kita berciuman! Aku ingin memiliki waktu ekstra denganmu, maka aku merevisi karyamu lebih lama agar kau tetap berdiri di sampingku! Bahkan hari ini, dengan konyolnya aku menggunakan alasan farewell party hanya sebagai media untuk bisa bertemu denganmu! Bagaimana mungkin aku terpesona oleh pria lain, padahal tanah makam pria itu belum kering?!” Eungi menutup wajah dengan kedua tangannya, wanita itu mulai menangis kencang sambil menarik-narik rambutnya sendiri. “AKU TERLALU KEJAM, BUKAN?”

Kyuhyun tidak lagi bisa tinggal diam. Cha Eungi telah menyimpan semua ini rapat-rapat dalam benaknya sendiri dan hari ini seluruh pikiran ini meledak keluar. Wanita ini juga baru mengakui bahwa ia menginginkan Kyuhyun, ia menginginkan pria itu sama seperti Kyuhyun menginginkannya.

Pria itu meletakkan lengannya di pada punggung Eungi, lengan satunya digunakan sebagai tumpuan yang diselipkan di balik lutut wanita itu. Dengan satu gerakan mulus, Kyuhyun mengangkat tubuh ringkih Eungi dan meletakkannya di atas pangkuannya. Ia mendepap Eungi dekat di dadanya, sambil lengan kokohnya terus membelai lembut punggung wanita itu dengan sayang. Ia mengizinkan Eungi untuk menumpahkan semua keresahan yang disimpannya sekarang dan wanita itu hanya bisa menangis semakin kencang kerena perlakuan manis dari pria ini.

Malam ini Kyuhyun baru benar-benar paham dengan seluruh sikap Eungi yang dinilainya plin-plan. Ia paham mengapa wanita ini bersusah payah menjaga jarak dengannya bahkan ketika ia yakin Eungi menikmati waktu yang mereka habiskan bersama. Bukan karena Eungi belum bisa melupakan Siwon, bukan karena wanita itu masih mencintai tunangannya yang sudah meninggal, tapi karena ia masih merasa berhutang secara moril pada pria itu—dan Eungi membiarkan rasa bersalah mendikte kebahagiannya.

“Kyu, aku juga jahat sekali padamu sekarang, aku membiarkanmu mendekapku seperti ini sementara aku menangis untuk pria lain.” Ujar Eungi diantara isakannya, “Ya Tuhan, manusia macam apa aku ini? Maafkan aku Kyu, aku benar-benar tidak bermaksud untuk menjadi—”

Kyuhyun menanamkan kecupan pada dahi wanita itu untuk menghentikan racauannya. “Tidak apa-apa, noona. Kau bisa berbagi bebanmu padaku hari ini, tumpahkan semuanya dan kita bisa memulai lembaran baru mulai besok, ne?” pria itu menguatkan pelukannya di sekitar tubuh Eungi.

Eungi benar-benar menyerah sekarang. Ia mengerutkan tubuhnya untuk mencari posisi yang lebih nyaman, menyatukan setiap lekuk tubuhnya dengan lekuk tubuh Kyuhyun sembari mencari kenyamanan yang ia butuhkan dari pria itu. Ia menyembunyikan wajahnya pada bahu lebar Kyuhyun dan membiarkan tangisnya pecah di dalam pelukan kokoh pria yang telah mencuri hatinya.

Bagi Eungi, apa yang terjadi saat ini terasa sangat natural. Rasanya memang pelukan pria ini yang ia butuhkan dan ia telah memantapkan keputusannya. Ia telah menyusun seluruh kata-kata yang ingin diucapkan pada Kyuhyun sejak ia berada di taxi malam ini—ia siap memohon pada Kyuhyun untuk mendampinginya melalui kesulitannya, ia siap menyatakan perasaannya dan melupakan gengsinya, ia siap meminta Kyuhyun untuk membantunya memulai kembali lembaran hidupnya. Ia bersyukur karena ia belum terlambat untuk meminta ini semua.

Hanya satu jam kemudian Eungi benar-benar bisa menenangkan dirinya dan bicara dengan normal lagi. Wanita itu masih tetap berlindung di dalam pelukannya, masih menyadarkan kepalanya pada bahu hangat Kyuhyun sambil menghirup aroma maskulin pria itu yang diam-diam sangat dinikmatinya—meskipun dulu ia pernah meledek Kyuhyun habis-habisan karena masalah ini—wanita itu tetap mencari sensasi nyaman dari pria yang masih mendekapnya.

“Kyu, bajumu basah karena air mataku.” Ia mengusap tangannya ke atas jejak air matanya yang masih ketara.

Kyuhyun tidak menjawab, ia hanya mengusap lembut punggung Eungi sambil menciumi puncak kepala wanita itu.

“Apakah kau akan marah jika aku memintamu memelukku lebih lama?” Tanyanya polos.

Pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada sekeliling tubuh Eungi. “Aku bisa melakukan ini sepanjang malam.”

Eungi mengangkat kepalanya dari bahu Kyuhyun dan menjauhkan posisi tubuhnya sedikit agar bisa memandang pria itu dengan leluasa. Hatinya terasa nyeri saat ia mempelajari setiap detil kecil di wajah Kyuhyun, bayangan hitam di bawah matanya menunjukkan kelelahan pria itu yang tidak diungkapkannya. Wajahnya pun masih sama sembabnya dengan Eungi, karena ia telah ikut menangis bersama sebelumnya. Ini adalah perang batin dan moril yang harus Eungi hadapi seorang diri, mengapa pria ini justru ikut menderita bersamanya?

“Aku tidak mau melihatmu seperti ini karenaku.” Ujar Eungi sambil menyapukan jemarinya di bawah mata Kyuhyun. “Jangan sakiti dirimu karena masalahku, Kyu.”

Kyuhyun memaksakan senyuman di wajahnya. “Aku juga tidak mau melihatmu seperti ini, tapi sepertinya kita tidak punya pilihan. Pasti ini merupakan waktu yang sulit untukmu—dan aku siap mendampingimu melalui ini semua. Tapi noona, hanya itu yang bisa kulakukan. Kau harus memaafkan dirimu terlebih dahulu sebelum kau memulai lembaran baru.”

Eungi mengangguk setuju, ajaib sekali pria ini. Dulu ia terlihat seperti bocah manja yang sombong, namun sekarang ia bisa mengungkapkan kata-kata yang terdengar sangat dewasa dan masuk akal.

“Kau bisa melanjutkan hidupmu tanpa harus melupakannya, noona. Aku juga tidak akan menuntutmu untuk membuang seluruh memorimu bersamanya—sangat tidak manusiawi sekali kalau aku seperti itu.” Lanjut Kyuhyun bijak.

“Aku tahu dan aku benar-benar ingin lepas dari kondisiku sekarang.” Ia kembali menyandarkan tubuhnya pada Kyuhyun. “Aku egois sekali, bukannya menuntaskan ini sendiri aku malah membuatmu terlibat.”

“Aku rela.” Balasnya cepat, “Tapi kalau boleh jujur, aku benar-benar merasa seperti sampah kalau dibandingkan dengan pria itu—aku benar-benar merasa tidak berharga di matamu, noona.”

Kali ini Eungi memutar tubuhnya yang masih di atas pangkuan Kyuhyun untuk benar-benar menatap pria itu, sementara tangan Kyuhyun masih tetap menyangga punggung Eungi dengan sigap. “Bagaimana mungkin kau merasa demikian? Apa aku memperlakukanmu seburuk itu?”

Pria itu menggeleng, “Bukan karena perlakuanmu padaku, noona. Tapi karena apa yang telah ia lakukan untukmu. Aku tidak akan pernah bisa menyeimbangi apa yang telah ia lakukan untukmu.” Pria itu menunduk demi menghindari tatapan mata Eungi.

Eungi menangkupkan kedua tangannya pada wajah Kyuhyun, mengangkat wajah pria itu dengan perlahan sambil meminta Kyuhyun untuk memandang tepat pada manik matanya. “Kyu, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri jika kau berani melakukan apa yang ia lakukan.” Emosi lagi-lagi merasuki dirinya dan air mata wanita itu sekali lagi tumpah tanpa bisa ditahannya.

“Noona..”

“Dengarkan aku!” Pinta Eungi dengan memaksa. “Apa yang membuatmu berpikir kalau aku butuh tameng lain untuk memperpanjang nyawaku? Apa yang membuatmu berpikir bahwa pria yang tepat untukku adalah pria yang rela mati untukku?! Apa kau pikir aku bisa hidup tenang kalau aku harus terus-menerus merasa bersalah seperti ini? Merasa berhutang nyawa pada orang yang telah membuat keputusan cepat untuk melindungiku?!”

Pria itu menatap mata Eungi nanar, jelas sekali kemarahan yang selama ini disimpan wanita itu kembali meluap seiring dengan episode lain dari kepedihannya.

“Aku tidak mau memiliki umur panjang, tapi harus melaluinya sendirian.” Ia mulai terisak, “Aku tidak sanggup menahan pedihnya, Kyu. Maka kumohon jangan pernah berpikir kau tidak bisa menyainginya, karena aku tidak mau kau melakukan itu—bukan itu yang kubutuhkan.”

Kyuhyun menyapu air mata di wajah Eungi sambil mencoba menahan air matanya sendiri, “Lalu apa yang kau butuhkan?”

“Tepat apa yang telah kau berikan untukku.” Perlahan wanita itu menurunkan telapak tangannya untuk diletakkan di belakang tengkuk Kyuhyun, ia menarik pria itu untuk mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajahnya, “Tetaplah berada di sisiku, dan tetap hidup serta  bernapas bersamaku.” Eungi akhirnya memberanikan diri untuk melakukan hal yang sejak tadi ingin dilakukannya saat ia menarik Kyuhyun semakin dekat sambil menyapukan bibir mereka dengan malu-malu.

*

Mendekap wanita ini di dalam pelukannya malam ini mungkin anugrah terbaik yang diperoleh Kyuhyun dalam hidupnya—sejauh ini. Eungi baru saja membuang jauh-jauh rasa gengsinya dan dengan lantang ia menyatakan bahwa ia menginginkan Kyuhyun di sisinya, pria itu sekarang bagai sedang terbang ke langit ke-tujuh rasanya.

Mereka masih duduk di sofa, Eungi sudah mengganti bajunya yang basah oleh airmatanya—dan juga kotor karena seluruh bau rokok yang diperolehnya dari club malam sebelumnya—dengan kaos Kyuhyun yang kebesaran di tubuhnya. Wanita itu duduk manis di samping Kyuhyun sambil terus menyadarkan kepalanya di atas bahu pria itu, lengannya melingkar erat di pinggang Kyuhyun. Kyuhyun sendiri hanya berani mengelus lembut punggung Eungi sambil terus-menerus mengecup puncak kepala wanita itu, mengungkapkan rasa bersyukur dan sayangnya atas kehadiran wanita itu di sampingnya.

“Noona, bagaimana perasaanmu sekarang?” Ia berbisik pelan, takut membuyarkan Eungi dari lamunannya.

“Jauh lebih baik.” Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh pria itu sambil menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher Kyuhyun. “Aku tidak percaya, aku benar-benar terpesona padamu.”

Pria itu terkekeh.

“Pasti itu bukan pernyataan pertama yang pernah kau dengar.” Lanjut Eungi sinis, dalam hati ia benar-benar membenci tingkahnya sekarang yang terkesan lembek di depan Kyuhyun.

“Bukan yang pertama memang,” Akunya bangga. “Tapi satu-satunya pernyataan yang bermakna bagiku.”

Ia mengangkat sedikit kepalanya untuk mengintip ekspresi Kyuhyun. Eungi berekspektasi bahwa pria itu akan menunjukkan wajah tengilnya, atau senyum kemenangan yang terkesan sombong—tapi yang terlihat di wajahnya hanya senyuman tulus yang tercermin pada sorot mata lembutnya.

“Ada apa? Mengapa kau memandangiku seperti itu?” Kyuhyun mencubit ujung hidung Eungi, “Apa ini pertama kalinya kau melihatku selembut ini?”

Wanita itu mengangguk sambil tersenyum, “Karena dari rumor yang kudengar, kau ini rajanya dalam bersikap dingin dan sinis.”

“Ha! Jadi kau memang mencari gosip tentangku?” Ia terkikik geli dengan kekonyolan tingkah wanita itu.

Eungi kembali menyembunyikan wajahnya pada bahu Kyuhyun. “Kan sudah kubilang, gosip buruk itu beredar lebih cepat daripada berita baik.”

“Terima kasih noona.”

“Ne?”

“Terima kasih, karena kau memilih untuk melihat lebih dalam pada pribadiku sambil mengabaikan seluruh reputasi burukku.” Ia kembali memberikan kecupan pada kening Eungi. “Aku tidak pernah merasa bersyukur seperti ini karena telah menemukan seseorang sepertimu dalam hidupku. Belum pernah aku dipandang secara terhormat seperti kau memandangku—kau telah mengangkatku dari keterpurukanku dan aku sangat berterima kasih untuk itu.”

“Apa kau ingin tahu mengapa aku memilih untuk percaya padamu?” Gumam Eungi.

“Beri tahu aku, kita punya waktu semalaman untuk membicarakan tentang ‘kita’.” Ia menyengir lebar, mood-nya semakin membaik dengan konsep ‘kita’ yang baru disadarinya.

Eungi menggeser tubuhnya untuk duduk tegak di samping pria itu, tangannya membelai lembut rambut berantakan Kyuhyun. “Aku melihat diriku di dalam dirimu.”

“Apa itu hal yang baik?”

Ia mengangkat kedua bahunya acuh, “Aku belum tahu, kita lihat saja nanti. Yang aku sadari adalah kita berdua tidak terlalu berbeda. Kita sama-sama berperang dengan diri kita sendiri, kita sama-sama memiliki insecurity dengan peran kita di hadapan banyak orang, kita benci dipandang rendah dan kita sama-sama berusaha membuktikan diri. Kebetulan saja aku menjalaninya di jalur yang benar, karena aku tidak pernah berani memberontak, dan jalanmu agak sedikit berbelok. Tapi aku memilih percaya instingku untuk percaya padamu, dan membantumu untuk bersinar.”

Pria itu sekarang hanya bisa tersenyum gugup sambil menggigit bibirnya.

“Mengapa kau diam saja? Apa aku mengatakan hal yang salah?”

Kyuhyun menggeleng mantap. “Aku selalu menikmati pujianmu untukku, membuatku merasa lebih berharga.”

Eungi menarik napasnya dalam sebelum ia menyapukan ciuman ringan pada pipi Kyuhyun. “You worth everything, Kyu. Jangan pernah merendahkan dirimu lagi, ng? aku benci sekali ketika kau terus-terusan membenci dirimu seperti ini.”

“Karena setiap orang yang kukenal memang memandang rendah diriku.”

“Dan itu terjadi karena kau memberi mereka alasan yang cukup kuat.” Balasnya cepat.

Kyuhyun menggeser duduknya lebih dekat pada Eungi, memandangi setiap inci detail di wajah wanita itu. Wanita di genggamannya ini selalu bisa membuatnya merasa kecil namun berharga, ia selalu tahu kata yang tepat untuk memotivasi Kyuhyun menjadi lebih baik, dan ia selalu merasa aman hanya dengan kehadiran wanita ini di dekatnya.

“Noona, jika suatu hari nanti aku melenceng dari jalan yang sedang kutiti sekarang, kumohon, jangan berbalik dan meninggalkanku. Bersabarlah dan jangan bosan untuk menuntunku.” Kyuhyun sendiri tidak memahami mengapa sekarang ia membicarakan hal ini tiba-tiba.

Eungi mengangguk, “Aku janji, Kyu. Aku janji untuk percaya padamu.”

“Dan aku berjanji untuk memberikan yang terbaik noona. Aku akan menjadi pria yang pantas berdiri di sisimu.” Ia menundukkan kepalanya sejajar dengan wajah Eungi untuk menyapukan bibir mereka kembali.

Eungi menutup kelopak matanya sambil menikmati ketulusan yang Kyuhyun sampaikan melalui sentuhannya. Wanita itu sangat bahagia detik ini, meskipun pertemuan mereka malam ini diawali dengan acara berkabung, Kyuhyun lagi-lagi telah membuatnya merasa nyaman. Pelukan pria itu menyampaikan lebih banyak makna ketimbang kata-katanya, dan kebahagian yang dirasakannya kini justru lagi-lagi membuat matanya panas.

Eungi membalas kecupan Kyuhyun sebelum ia menarik wajahnya menjauh, ia memilih untuk menyatukan kening mereka. “Kyu, aku takut.” Akunya.

“Apa yang kau takutkan?”

“Aku terlalu bahagia sekarang, aku takut ini akan direnggut lagi dariku.” Bisiknya pelan bersamaan dengan air mata yang jatuh mengalir di pipinya.

Kyuhyun menghapus jejak air mata di wajah Eungi dengan sabar sambil memberikan senyum tulusnya. “Apa kau takut yang kita miliki ini hanya sementara? Kau takut akan pergi darimu?”

Eungi mengangguk. “Dua minggu terakhir ini bisa dikatakan waktu-waktu di saat aku merasa sangat kesepian. Aku benci mengakui bahwa aku merindukan kata-kata sinismu dalam keseharianku, aku merindukan kehadiranmu, aku rindu wajah ini yang selalu meledekku tapi juga memandangku dengan tatapan yang hangat. Kyu, sebelum segala sesuatu menjadi runyam, jika memang kau tidak siap dengan kekacauan hidupku, lebih baik kau mundur sekarang, karena aku tidak tahu sehancur apa hatiku nanti jika kau pergi di saat aku sudah benar-benar tergantung padamu.”

“Hey, itulah yang kuharapkan.” Balasnya, “Bukan aku berharap menghancurkan hatimu, tapi aku berharap kau mau bergantung padaku, biarkan aku menjadi sandaranmu, noona. Aku ingin kau hanya memandangku saja. Jalanku untuk membuktikan diri memang masih panjang, tapi aku janji akan melakukan yang terbaik untukmu. Ingat pesan yang kukirimkan padamu malam ini? Aku serius dengan perasaanku.”

Eungi terkekeh pelan. “Kau tahu apa yang lucu? Pesan yang kau kirim tadi itu benar-benar membuatku merasa seperti baru dicampakkan.”

“Bagaimana mungkin aku mencampakkan seseorang yang bahkan tidak pernah menjadi kekasihku.” Balas Kyuhyun dengan sarkasme yang kental.

“Aku tahu, makanya aku bilang itu lucu.” Eungi kembali bersandar pada Kyuhyun sambil melingkarkan kembali lengannya diseputar pinggangnya. “Kurasa aku terlalu nyaman dengan keberadaanmu di sekitarku, hingga aku melupakan hubungan kita.”

Pria itu membalas pelukan Eungi, “Jadi hubungan kita memang ada?”

“Jangan konyol, Kyu.” Guman Eungi malu-malu, “Hubungan ini sudah ada jauh sebelum malam ini. Maafkan aku yang terlalu lamban dalam menyadarinya.”

Pria itu sudah tidak bisa menahan cengiran lebar pada wajahnya, “Noona, apa kau bisa mendengar detak jantungku sekarang?”

Eungi memindahkan posisi kepalanya pada bagian dada kiri Kyuhyun, menikmati degupan cepat yang muncul dari dalam rongga dada pria itu. “Sejujurnya, detak jantung kita saat ini tidak jauh berbeda.”

“Biar kuperjelas untukmu.” Kyuhyun menepuk punggung Eungi pelan dengan satu tangan sementara tangan lainnya membelai rambut panjang wanita itu. “Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini pada seorang wanita yang benar-benar kukagumi. Jadi kumohon, jagalah hatiku, ne? kau sedang menggenggamnya sekarang dan semua yang akan terjadi padaku tergantung padamu.”

Eungi m engangguk. “Hatiku juga sedang dalam proses penyembuhan, Kyu. Kumohon jangan hilang kesabaran untuk menunggunya benar-benar sembuh.”

I’ll give you all the time in the world, noona.”


Author’s note:

Aku nyerah deh kalo pada minta panjang-panjang. Udah bersyukur banget ada yang baca dan nyemangatin, jadi aku tau diri aja. karena aku juga kan writer baru. Tapi ya maaf aja kalo aku nggak bisa memenuhi ‘kebutuhan’ reader yang mungkin pengennya sekali posting 10.000 kata karena aku pun punya kapasitas waktu garap yang super terbatas dan gaya menulis sendiri.

I vision this story as a book. Jadi kalau dalam novel, kalian juga pasti tahu kan bahwa cerita itu dipotong untuk pindah chapter setelah ada ‘event of interest’? jadi ya maafkan kalau gaya nulis aku lebih seperti ini.

i have a long-time dream to make this story into a book, but seems like it’ll be too thick if i do so in a book format  >.< if you’re not patient enough to wait for me to translate, just check my aff site then (English version, spoiler alert in the comment part of the site)

Terserahlah yang masih mau menghujat ini kurang panjang. Saya pasrah.. TToTT (suka silakan dibaca, kalau nggak berkenan yaudah)

Advertisements

120 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 11

  1. Tallantalegra Imagination says:

    Selalu baca di flying dan akhirnya nemu di blog pribadi authornya dan ternyata udah end. Akhirnyaaaa. Entah seneng banget liat eungi bisa keluar dari kesakitan yg dia ciptain sendirj dari insecurity nya dia. Huhhhhh, hari ini mau baca sampe end. Izin ubek ubek yaaaa authorrrr~ heheh

    Liked by 1 person

  2. sweetrizzu says:

    Part ini mereka pelukan terus yaa enaknyaaa anget wkwkwk
    Mereka yg biasa punya gengsi tinggi jd manis manja gitu duhh manisnya^^
    Kalo kayak gini jd pgen terus”an liat momen mrka skinship.. :s

    Liked by 1 person

  3. Afa hyerin says:

    Akhirnya… Mereka udah saling jujur… Udah saling nyatain perasaan… Harapanku semoga didepan.banyak.rintangan tp mereka tetep bersama…. Cuhuiiiiiii…… Part ini bikin aku meleleh eonnie…..

    Liked by 1 person

  4. Goldilovelocks says:

    Kyaaaaakyaaaaaa akhirnya aku nemuin chapter terakhir kali aku baca! Pokoknya yg aku inget Eungi datengin Kyu, trs Kyu nya nangis gara-gara Siwon…. dan Tadaaaaaaaaa iti ada di Chapter 10 dan akhirnyaaaaahhh aku bisa lanjut kesini. Ke sebelas. Hehehe…

    I cant kaaaaaakkk….. i caaaaaanntt dua-duaya chessy banget dan aku dibuat gakuku ganana ini hahaha XD well, sulit emang rasanya jadi orang bersalah kayak Eungi–yang ditinggal tunangan pergi selamanya tapi dia jugalah penyebabnya–untungnya Kyuhyun punya sisi dewasa yaaaahh 🙂 🙂 ksuqnaoamaoqn banget sih Cho~~ baca sumpahnya Kyu yg terakhir bikin hati cenat cenut bahagia gimanaaaa gitu wkwkwk dan… menurutku ini udah panjang lho kak! Aku menikmati setiap momen yg kk buat utk mereka makanya aku puas banget dan akhirnya acara ngambeknya Kyu gak lama-lama yaaa hihihi

    Liked by 1 person

  5. Dyana says:

    Wuah… Dari mulai mereka nangis bersama, menyatakan perasaan, hingga janji kyu… Aku meleleh…
    Moment mereka disini feel bangett ampe senyum-senyum sendiri aku…

    Liked by 1 person

  6. OngkiAnaknyaHan says:

    ini author rendah hati sekali
    bilangnya author ‘baru’ tapi tulisanya udah sedahsyat ini
    bagaimana bisa dikatakan author baru kalo ffnya aja berasa baca novel terjemahan

    Liked by 1 person

  7. melisayoonhaeharuoneday says:

    Dan akhirnyaaa…. Part ini bener2 tempat unuk eungie mencurahkan isi hatinya. Dan well untuk kyu,,bravo sudah mendapatkan hati eungie. Tidak kudah menaklukkan genggsi dlm diri sendiri,, tapi jika gengsi harus berlawanan dengan cinta…sudah pasti cinta yg harus menang. Karna kalau gengsi tetap diutamakan, klcerita selanjutnya hanya tentang kehilangan cinta.

    Liked by 1 person

  8. Lovecho says:

    Aaaaa.. akhirnya mereka berdua jujur dgn prasaan msing2.. dripda sling memendam yg ujung2nya membuat mereka tersakiti..
    Semoga mereka saling melengkapi, saling membahagiakan, saling mengingatkan, dan saling menjaga..
    Ketagihan pengen liat sweet momen mereka trs..
    Meleleh lama2 liat pasangan ini..

    Liked by 1 person

  9. Christellee says:

    Ihh sumpah eon.. Aku ikut meleleh sama kyu disini.
    Akhirnya status mereka jelas juga. Eungi beneran buat kyu jadi sandarannya disini, dan sikap kyu itu lo, uhhh melting!

    Liked by 1 person

  10. Tyascemond says:

    Akhirnyaaaaa
    Mereka terbuka satu sama lain ya ampuuuuunnnn…
    Kemaren greget bgtttt yahh sama mereka bedua 😂

    Penyampaian mereka sweet bgttt…
    Ditambah sikap kyuhyun ngadepin eungi yang lagi rapuh tuh 😗😍😍😍

    Swet pokonya ka 💕
    Next yaw 💕

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s