(Indonesian Version) One Last Shot – Part 10

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Setiap inchi tubuhnya sekarang tergelitik seiring dengan sensasi ribuan kupu-kupu yang sedang berterbangan di dalam perutnya. Eungi tidak bisa mengingat kapan terakhir seseorang mendekapnya dengan penuh gairah seperti yang Kyuhyun lakukan padanya sekarang dan ia pun harus mengakui bahwa ia benar-benar menikmati setiap sentuhan kecil yang Kyuhyun lakukan pada dirinya saat ini; cara pria itu menekan lembut tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka, cara pria itu menyibakkan rambut Eungi yang menghalangi aktivitasnya, serta sensasi lembut bibir Kyuhyun yang mengunci bibirnya, setruman ringan yang Eungi rasakan pada titik-titik dimana tangan Kyuhyun menyentuh kulitnya—Eungi saat ini benar-benar terbuai dengan cara Kyuhyun memperlakukannya. Jantungnya serasa siap melompat keluar dari rongga dadanya kapan saja dan ia yakin wajahnya sekarang ini pasti sudah sangat memerah. Tapi wanita itu tidak mengelak atau menghentikan ciuman pria ini, bahkan jika boleh jujur, ia tidak ingin berhenti.

Jika boleh semua terjadi sesuai dengan kehendaknya, kalau Eungi boleh bertindak sesuka hati tanpa mempertimbangkan konsekuensi perbuatannya, andai saja wanita itu tidak perlu berperang dengan batinnya sendiri yang masih dirundungi rasa bersalah dan seandainya ia bisa memberhentikan waktu, maka saat itu adalah sekarang—waktu ketika ia merasa telah diangkat ke dalam sebuah tempat aman dalam pelukan Kyuhyun. Tapi Eungi tahu bahwa ia harus menghentikan semua ini—ia tidak bisa menyerah pada godaan yang baru saja mereka ciptakan.

Ia memberanikan diri untuk menurunkan lengannya yang masih berada di kedua pipi Kyuhyun ke arah bahu lebar pria itu, dengan sopan dan lembut ia mendorong Kyuhyun lemah, tidak ingin Kyuhyun tersinggung dengan tindakannya tapi ia juga harus menghentikan kegiatan mereka sebelum semakin menjadi runyam.

Kyuhyun perlahan menarik bibirnya dari tautan bibir Eungi, ia mengecup ringan bibir wanita itu beberapa kali lagi sebelum benar-benar mengangkat wajahnya. Hidung mancungnya digesekkan pelan pada hidung Eungi seiring ia membawa kecupan hangatnya pada dahi wanita itu. Pria ini pun paham kalau ia harus berhenti menuruti gairahnya sekarang—tidak peduli seberapa panas ciuman mereka barusan, Kyuhyun sadar bahwa ia menggunakan cara yang salah jika ia memanfaatkan kondisi Eungi yang sedang bereduka sebagai jalan pintas untuk merebut hatinya.

Keduanya sibuk mengatur detak jantung masing-masing, napas mereka menderu dan jelas sulit sekali bagi Eungi maupun Kyuhyun untuk menahan keinginan mereka untuk kembali menyatukan bibir mereka. Kyuhyun menempelkan dahinya pada dahi Eungi, bibirnya yang lembab masih menelusuri kulit halus pada pipi wanita itu, sambil ia meninggalkan beberapa kecupan kecil di setiap permukaan kulitnya. Eungi sendiri hanya bisa menutup matanya, menikmati cara lembut pria ini dalam mengungkapkan perasaannya.

Eungi tidak bodoh, ia bisa membedakan yang namanya ‘mahasiswa mengaguminya’, dengan ‘mahasiswa yang memang memiliki perasaan khusus padanya’. Kyuhyun adalah satu-satunya orang yang berani memperlakukannnya seperti ini, Eungi bisa gila kalau ia harus terus menahan gairahnya sendiri—karena wanita itu benar-benar menikmati setiap belaian pria yang masih mendekapnya. Ia paham sekarang mengapa gadis-gadis yang depermainkan Kyuhyun masih rela mengantri untuk terus disakiti olehnya, karena Kyuhyun benar-benar tahu cara menyentuh dan memperlakukan wanita.

Belum pernah dalam hidupnya, Eungi mendapatkan ciuman dengan sensasi yang ia peroleh dari Kyuhyun. Ada kesan menuntut dalam ciuman pria itu, ada kelembutan juga di dalamnya, dan entahlah, pria itu seperti mampu mengungkapkan isi hatinya melaui setiap sentuhannya di kulit Eungi.

“Kyu..” Bisik Eungi masih terengah.

Mianhae noona.” Ujarnya cepat.

Eungi menggigit bibirnya sambil menarik wajahnya dari Kyuhyun, ia masih bisa merasakan jejak yang ditinggalkan bibir pria itu di bibirnya dan ia ingin lebih—ia ingin lebih tapi ia tidak boleh menginginkannya.

“Aku.. tidak menduga ci—ciuman itu.” Balasnya terbata-bata sambil masih mencoba bersikap tenang.

Kyuhyun menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya kemudian ia mengalihkan pandangannya dari Eungi, ia tidak kuat jika harus melihat kegugupan serta ekspresi polos yang muncul dari wanita itu sekarang, apalagi wajahnya wang merona kini justru membuatnya ingin melumat kembali bibir wanita itu—dan Kyuhyun benar-benar harus menahan nafsunya sendiri sekarang.

“Maafkan aku, seharusnya aku tidak bertindak sejauh itu. Aku hanya—ng..” Ia membanting punggung ke sandaran sofa di belakangnya sambil menutup wajahnya yang sama panas dengan wajah Eungi dengan kedua tangannya. “Aku—aku bahkan tidak bisa menjelaskan tindakanku barusan.”

Eungi meraih bantal sofa di belakangnya utuk dipeluk, sebagai penawar dari keinginannya untuk memeluk Kyuhyun. “Itu sudah terjadi, bukan?” Jawabnya gugup. “Kurasa ciuman barusan itu penanda resmi dari rusaknya hubungan professional kita.”

Kyuhyun memandang Eungi sekilas dari ekor matanya, “Hubungan? Apa kita punya hubungan?” Tanyanya setengah berharap.

Eungi mengangguk, “Dosen dan mahasiswa.” Ia menunjuk dirinya dan Kyuhyun bergantian, “Itu hubungan professional yang kita miliki bukan?”

Pria itu menghela napas sebelum ia membalik posisi duduknya untuk kembali menatap Eungi, “Lalu, hubungan apa yang kita miliki sekarang, noona? Kau sudah tahu perasaanku padamu. Apa perlu kuungkapkan dengan lebih jelas?”

Eungi semakin tersipu, “Kurasa aku cukup menangkap maksudmu.”

Pria itu malah tersenyum konyol, aish bagaimana mungkin sekarang ia merasa gugup di depan seorang wanita. “Lalu, tentang hubungan kita?”

Eungi menahan napasnya sambil memikirkan jawaban terbaik dari pertanyaan Kyuhyun. Bagaimana caranya mendeskripsikan hubungan mereka? Mereka dekat—jelas lebih dekat dari sekedar hubungan professional dan Eungi pun sadar akan hal itu, Eungi juga tidak pernah merasa keberatan dengan keberadaan Kyuhyun di dekatnya, pria itu pun memperlakukannya dengan istimewa dan sopan. Tapi ketika ditanya apakah ada sesuatu yang khusus diantara mereka, Eungi menjadi bingung. Tidak biasanya Eungi sampai terdiam karena tidak bisa menjawab sebuah pertanyaan.

“Noona aku masih  menunggu jawabanmu, dan kumohon berhentilah menggigit bibirmu. Aku bisa gila melihatnya.” Ujarnya lembut sambil menyelipkan rambut Eungi ke belakang telinganya.

“A—aku bingung, Kyu.” Akhirnya Eungi mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya, tidak lagi mencoba terdengar pintar di depan pria ini.

“Ng?”

“Kau mahasiswaku, menurut kode etik, kita tidak seharusnya sedekat ini. Aku baru saja melanggar etika, itu bukan salahmu tentu saja, karena aku pun diam saja dan mengizinkan kau menciumku, dan aku—”

Aku menikmatinya. Tambah Eungi dalam hati.

“Jika aku bukan mahasiswamu, apakah kau akan membiarkan hubungan kita berjalan seperti yang seharusnya?” Tanya Kyuhyun tanpa basa-basi.

“Yang seharusanya? Maksudmu?”

“Menjadi sepasang kekasih.”

Eungi tersenyum sambil mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun, dalam hati ia benar-benar berharap kalau ia bisa sesantai pria itu dalam menyikapi segala sesuatu. “Tidak mudah Kyu..”

“Aku bisa menunggumu, noona. Jika kau memang tidak mau melanggar kode etik. Ujian akhir akan dilaksanakan dua minggu lagi, setelah itu kau sudah resign dan kau bukan lagi dosenku.”

“Bukan masalah itu, Kyu.” Eungi memotong ucapan Kyuhyun dengan tegas. “Aku memang peduli peraturan, tapi bukan itu yang menjadi pertimbangan utamaku.”

“Lalu?”

Pandangan wanita itu kembali meredup, dengan Bahasa tubuh yang sudah dihafal Kyuhyun, Eungi lagi-lagi memeluk dirinya sendiri. “Aku—maksudku pria itu..”

Kyuhyun tersenyum kecut, “Sudah kuduga, memang aku tidak ada apa-apanya dibanding pria sempurna itu, bukan?”

Eungi tidak mampu berkata apapun, ia hanya  menutup kedua matanya sambil mengalihkan tatapan dari Kyuhyun, mengkonfirmasi dugaan pria itu dengan bahasa tubuhnya.

“Kyu, aku tidak mau menempatkanmu dalam posisi suliit.” Jelasnya, “Aku sendiri sedang bingung dengan seluruh kekacauan ini, aku—“

“Kau sudah menempatkanku di posisi itu, noona.” Jawab Kyuhyun tajam.

“Aku tidak pernah memintamu untuk menyukaiku.”

“Aku tahu.” Lagi-lagi pria itu rasanya ingin menyobek jantungnya sendiri hanya untuk menghapus rasa sakit di hatinya.

“Kyu..” Eungi mengulurkan tangannya.

“Jangan-sentuh-aku.” Pinta Kyuhyun, ia memandang Eungi dengan tatapan menusuk yang sinis.

Wanita itu langsung tertunduk, merasa serba salah dengan situasi mereka sekang. “Maafkan aku.”

Kyuhyun bangkit dari duduknya lengkap dengan ekspresi marah yang gagal disembunyikan. “Ya, aku juga minta maaf noona. Seharusnya aku lebih tahu diri.”

Pria itu tidak memberi Eungi kesempatan untuk membalasnya, dengan cepat Kyuhyun langsung meraih kunci mobilnya dan pergi keluar dari rumah Eungi. Ia tahu bahwa hatinya akan semakin terluka jika ia berdiam diri lebih lama lagi. Kyuhyun tidak bisa egois dan menuntut Eungi untuk membalas perasaannya sedangkan wanita itu sekarang masih berduka cita dengan kepergian tunangannya—Cha Eungi butuh waktu untuk menata kembali hidupnya, dan Kyuhyun akan memberikan waktu sebanyak yang wanita itu mau.

Kyuhyun benar, memang Cha Eungi butuh waktu untuk memahami isi hatinya sendiri yang selama ini terus menerus disangkalnya.

 

*

 

Tiga kelas terakhir yang harus dituntaskan Eungi sebelum semester genap berakhir bisa dikatakan sebagai kelas paling canggung yang pernah diajarnya. Sepanjang perkuliahan Eungi berusaha keras untuk fokus pada konten bahan ajarnya, ia mencoba untuk mengabaikan tatapan tajam Kyuhyun yang terasa sangat menusuk dari bagian belakang kelas, dan ia harus berpura-pura sibuk untuk menghindari segala jenis pembincangan dengan pria itu. Sungguh aneh baginya, karena sebelumnya kehadiran Kyuhyun tidak memberikan dampak besar pada dirinya, sebelumnya ia mampu menatap pria itu tepat pada manik matanya, sebelumnya Eungi bisa bersikap professional di hadapan mahasiswanya—namun sejak ciuman pagi itu, Eungi selalu merasa wajahnya memanas saat teringat Kyuhyun, setiap kali sosok pria itu masuk ke dalam kelasnya pasti langsung berefek pada degupan jantungnya yang menggila, dan ia tidak bisa melupakan sensasi ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya setiap matanya tak sengaja bertatapan dengan sepasang mata elang  milik pria itu, apalagi jika Eungi harus menurunkan tatapannya pada bibir Kyuhyun—ia harus mengatur deru napasnya sendiri untuk tidak berpikir yang aneh-aneh.

Eungi harus menahan dirinya, karena apapun yang dipikirkannya sekrang terdengar salah dari segala aspek.

Jelas Eungi tertarik pada Kyuhyun, wanita itu tidak buta dan ia bisa melihat sendiri setampan apa pria itu—meskipun bukan itu faktor yang benar-benar membuatnya nyaris gila karena harus mempertimbangkan etika. Eungi melihat karisma Kyuhyun muncul dari kecerdasan pria itu, dari caranya menyikapi permasalahan dan dari cara Kyuhyun yang tidak hentinya membuat Eungi kagum melalui aspek-aspek kecil dalam kesehariannya. Eungi juga merasa nyaman dengan keberadaan pria itu di dekatnya, ia menyukai segala usaha Kyuhyun untuk membuatnya terkesan, ia bangga karena keputusannya untuk mempercayai potensi pria itu tidak salah, apalagi Kyuhyun kadang juga membuatnya merasa bisa menjadi kekanakan—serta mengembalikan senyum ke wajah Eungi.

Ketika bersama Kyuhyun, Eungi merasa lebih santai. Seumur hidupnya ia sibuk ditempa menjadi pribadi yang dewasa, ia dituntut untuk menyikapi hidupnya yang keras, tapi ketika ia bersama Kyuhyun, tiba-tiba Eungi merasa bagai seorang remaja yang bisa bersenang-senang. Hal ini merupakan sebuah kasus istimewa karena kalau ia harus menilik ke belakang, dalam hidupnya belum pernah ia bandel atau melanggar peraturan sedikit pun.

Ia baru berani mencoba alkohol di usia 25, tidak seperti remaja kebanyakan yang sudah mencuri-curi simpanan alkohol orang tua mereka sejak usia lima belas tahun, ia tidak pernah pergi clubbing, ia tidak pernah mencoba membolos, bahkan Eungi tidak pernah berani membohongi guru-gurunya—hidup wanita itu terlalu lurus hingga tiba pada tahap membosankan. Eungi lelah menjadi miss sok tahu yang penurut dan kadang ia ingin membongkar pola hidupnya sendiri.

Baru ketika ia menghabiskan waktu dengan Kyuhyun lah, Eungi mulai berani membangkang—dan bagi wanita yang tidak pernah melanggar peraturan, membangkang ternyata bisa menjadi satu hal yang menyenangkan. Bagi Eungi, menghabiskan waktu dengan Kyuhyun adalah salah satu caranya untuk kabur dari karakternya yang kaku dan membosankan.

Kyuhyun, Lagi-lagi pria itu mengusik pikiran Eungi.

Pria itu telah menambah warna dalam hidupnya yang kelabu, ia telah meringankan beban hatinya, bahkan Kyuhyun telah berhasil membuat Eungi terbuka padanya hanya dalam kurun waktu yang terhitung sebentar. Wanita itu sadar bahwa ia tidak pernah peduli dengan peraturan dan etika ketika ia mempertimbangkan kehadiran Kyuhyun di hidupnya. Seperti pembelaan Kyuhyun di pagi itu, sebentar lagi Eungi toh akan keluar dari kampusnya, ia bukan lagi dosen Kyuhyun dan ia tidak lagi terikat dengan kode etik itu, jadi Eungi seharusnya mengikuti kata hatinya untuk memberi pria muda itu kesempatan untuk berada di sisinya.

Nyatanya, bukan etika yang menjadi dasar pertimbangan Eungi, tapi Siwon.

Ya, pria itu telah tiada, tapi pria itu menginginkannya bahagia. Pria itu mengorbankan hidupnya sendiri agar Eungi bisa tetap bernapas, tapi mengapa Eungi selalu merasa bahwa ia sedang mengkhianati tunangannya itu setiap kali ia menghabiskan waktu dengan Kyuhyun?

Eungi merasa bersalah, tidak seharusnya pria itu tewas sia-sia hanya karena sekelompok orang gila memutuskan untuk melakukan pembunuhan masal atas nama agama. Tidak seharusnya pria itu melemparkan tubuhnya ke atas tubuh Eungi untuk menghadang timah-timah panas yang menyerbu mereka, tidak seharusnya seorang Choi Siwon pergi dengan seluruh kehebatan dan pencapaian yang nyaris sempurna di mata Eungi.

Tidak seharusnya Eungi mendebatkan masalah ini dalam pikirannya.

Sampai detik ini, wanita itu tetap bersikeras untuk menjaga apa yang tersisa dari hubungannya dengan Siwon. Jika hanya memorinya yang menjadi benang merah dari sisa-sisa hidup Siwon, maka Eungi akan terus mengenangnya. Jika rasa bersalahnya ini menuntut dirinya untuk hidup sendiri selamanya, maka Eungi siap melakukannya. Karena sangat tidak pantas jika Eungi merasa nyaman dengan pria lain hanya beberapa saat sepeninggal tunangan sempurnanya. Namun ia hanya manusia yang juga memiliki kapasitas, dan semakin lama Eungi mencoba bertahan dengan kenangannya, semakin yakin juga Eungi bahwa ia hanya membodohi dirinya sendiri.

Hari ini, adalah hari terakhir dari seluruh rangkaian pertemuan Eungi dan kelasnya. Jika memang ia ingin memperbaiki mood Kyuhyun, maka hari ini adalah kesempatan terakhirnya, jika ia ingin menjelaskan keraguannya, maka Eungi harus menelan bulat-bulat sisa gengsi yang melekat di dalam dirinya. Tapi Eungi takut. Ia takut pria itu berubah pikiran, ia takut Kyuhyun justru perlahan akan mundur teratur setelah pria itu tahu seberapa berantakan hidupnya. Eungi sangat memahami reputasi Kyuhyun ditengah kaum hawa dan ia cukup minder jika harus membandingkan dirinya dengan wanita-wanita sexy dan cantik lain yang pernah dipermainkan Kyuhyun—satu lagi, Eungi takut kalau pria itu hanya mempermainkannya. Bagaimana pun juga, Cho Kyuhyun memang mengakui bahwa dulu ia pernah punya niat bejat pada Eungi.

Wanita itu menunduk murung sembari memperhatikan para mahasiswa di kelasnya. Fakta bahwa ini adalah kelasnya yang terakhir di kampus ini memberikan kontribusi nyata pada suasana hatinya yang tidak menentu, tapi kenyataan bahwa ia mungkin tidak akan pernah bertemu Kyuhyun lagi ternyata lebih mengganggunya.

Kyosu-nim.” Kangin si ketua kelas membuyarkan lamunan Eungi. Anak itu mendekati meja dosen dengan kedua tangan disembunyikan di balik punggungnya.

“Ne?”

Perlahan anak itu menarik tangannya dari belakang, dengan senyuman lebar ia mempersembahkan karangan bunga lily dan baby breath pada Eungi. “Ini dari kami sekelas, anggaplah ini hadiah perpisahan dari kami semua—karena ini kelas terakhir kita dan kau juga resign untuk semester depan.” Kangin menghadap ke arah kawan-kawannya dan memberi tanda untuk mengucapkan salam pada Eungi.

Kamsahamnida Kyosu-nim!!” Seru mahasiswa Eungi kompak.

Eungi tersentuh dengan gestur sederhana nan manis ini, senyum lebar muncul di wajahnya, ia segera bangkit untuk membalas salam mereka kemudian mengambil buket bunga itu dari Kangin.

“Terima kasih semuanya, aku belum pernah mendapatkan sebuket bunga pada kelas terakhirku.” Ia menghirup buketnya sekilas dengan haru. “Ah, aku benar-benar terharu. Kukira kalian semua membenci kelasku.” Tambahnya sambil menyengir lebar.

“Kau dosen favorit kamu Oenni!” Salah satu gadis menyahut dari belakang kelas.

“Jangan resign, kembalilah untuk mengajar semester depan!” Seru mahasiswa lain.

“Kami tidak pernah memiliki profesor yang pintar tapi juga sedap dipandang dalam waktu bersamaan.” Kangin ikut menambahkan dengan senyum lebar.

Eungi hanya bisa tertawa dengan pernyataan mereka, wanita itu sungguh bahagia dengan perlakuan mengejutkan dari mahasiswanya dan sejujurnya ia tahu akan serindu apa dirinya dengan sensasi mengajar di kelas ini—terlebih ia akan sangat merindukan satu mahasiswa yang spesifik.

Eungi meletakkan buket bunganya di atas meja dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia berencana melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan dalam sejarahnya mengajar. “Karena ini adalah kelas terakhirku di kampus ini, maka setelah kububarkan, kalian bukan lagi mahasiswaku.” Ia berdeham sebelum melanjutkan kalimatnya, “Bagaimana jika kita sekelas makan malam bersama di Hongdae? Aku akan mentraktir babak satu dan babak dua—tapi aku tidak berjanji dengan babak tiga.”

Tawarannya disambut dengan tepukan serta keriuhan dari mahasiswanya, mereka langsung menyetujui ajakan Eungi tanpa ragu—kapan lagi mereka bisa ditraktir dosennya.

“Anggaplah traktiran ini sebagai caraku mengucapkan perpisahan pada kalian.” Ia membungkuk sopan ke arah mahasiswanya, “Terima kasih karena kalian telah mengizinkanku untuk berbagi ilmu, aku belajar banyak sekali dari kalian, dan kuharap ada beberapa hal yang juga kalian pelajari dariku.”

“Kau yang terbaik Kyosu-nim!” Mahasiwanya menyahut.

“Jangan membuat perpisahan ini lebih menyedihkan.” Guman yang lainnya.

Eungi melambaikan tangannya untuk menenangkan suasana kelas yang riuh. “Aku akan sangat merindukan kalian, sekali lagi biar kuucapkan terima kasih atas kejutan manis ini.” Ia menunjuk pada buket bunganya.

Mahasiswa Eungi bertepuk tangan untuk wanita itu terakhir kalinya.

Dari sudut matanya, Eungi bisa melihat Kyuhyun hanya mengalihakn pandangannya menghadap jendela besar di samping, entah pria itu memilih untuk mengacuhkan Eungi atau memang ia sudah tidak sabar untuk keluar dari kelas. Yang jelas Eungi berharap siang ini bukanlah kali terakhir baginya untuk memandang sosok yang belakangan ini mengusik akal sehatnya.

 

*

 

Cha Eungi tidak bisa berhenti memelototi pintu masuk club anak muda di Hongdae yang menjadi lokasi lanjutan dari babak pertama makan malam ia dan mahasiswanya malam ini. Ia berusaha terlihat tenang dan bersusah payah mencoba menikmati waktu luangnya. Tapi jelas Eungi hanya membodohi dirinya sendiri, ia benci suasana bising, ia benci berada di tengah keramaian, dan ia benci dengan kelakuan anak muda di sekitarnya yang tidak berhenti berteriak sambil menjejalkan berbagai jenis minuman keras ke dalam mulut mereka. Eungi memang menikmati minum-minum, tapi tidak dalam suasanya hingar bingar, tanpa ada seorang pun yang dikenalnya seperti ini. Mahasiswanya telah menawarkan berbagai minuman pada Eungi, ia menolaknya dengan halus karena usahanya untuk tetap sadar sepanjang malam. Ia harus tetap sober, terutama karena pria itu tidak hadir di sini malam ini.

Dan Eungi kesal.

Kyuhyun tidak menujukkan batang hidungnya pada acara makan malam tadi dan ia masih juga tidak hadir ke club malam yang sudah ditentukan ini—padahal Eungi menduga paling tidak Kyuhyun akan muncul, toh Eungi mencoba menyesuaikan tema club ini untuk menyemimbangi gaya hidup Kyuhyun.

Alasan wanita itu menyarankan acara makan-makan yang lumayan diluar batasnya nyamannya ini semata-mata hanya agar ia punya kesempatan ekstra untuk bertemu Kyuhyun. Ia merasa masih ada yang perlu dituntaskan diantara mereka, ia harus menjelaskan pada Kyuhyun maksud dan alasan di balik keraguannya, ia butuh waktu lebih banyak untuk menenagkan dirinya sendiri. Namun sayangnya, waktu tidak berada di pihak Eungi, karena tiga pertemuan  kelas yang tersisa sangat singkat, ditambah dengan sikap acuh Kyuhyun yang membuat Eungi semakin ciut untuk memberanikan diri bicara padanya.

Di sisi lain Eungi tidak bisa menyalahkan Kyuhyun. Wanita itu telah melukai harga diri yang dijunjung tinggi pria itu. Kyuhyun sudah melakukan segala sesuatu dalam kapasitas terbaiknya untuk berubah, ia sudah bertransformasi menjadi pria yang gentle dan ia bahkan nekat menyatakan perasaannya dengan cara yang kurang wajar—namun spektakuler. Tapi semua itu bukan masalah bagi Eungi sekarang, yang jadi masalah adalah ia ingin berbincang empat mata dengan pria itu, dan yang ditunggu tidak muncul.

Kyosu-nim! Ayo minum, bagaimana mungkin kau yang mentraktir kami tapi tidak menikmati?” Seorang mahasiswa datanag dengan segelas bir di tangannya.

“Bagaimana kalau kau saja yang menghabiskan isi gelas itu untukku? Aku belum mau minum.” Tolaknya sopan, ia kemudian mengambil ponselnya untuk berpura-pura sibuk.

Eungi melihat waktu pada ponselnya, baru jam Sembilan malam! Padahal ia merasa serangkaian acara melelahkan ini setidaknya sudah membawa waktu ke tengah malam. Bagaimana mungkin waktu berjalan selambat ini saat ia tidak menikmati suasana. Ia melihat ada satu notification pada layanan pesannya dan jantungnya serasa mau lepas saat ia melihat nama peninggal pesan. Dengan cepat Eungi membuka pesan itu dan ia terpana pada apa yang dibacanya.

Itu pastilah foto dirinya yang baru diambil siang tadi di dalam kelas ketika Eungi menerima buket bunga dari mahasiswanya. Dalam pesan itu tertulis:

 

tumblr_neddw2hgul1u2p9dxo1_500

gambar milik Park Seul

“Aku akan melakukan apapun dalam batas kemampuanku untuk menggambar ekspresi ini di wajahmu, untuk melihat senyum hangatmu yang indah serta untuk berada di sisimu dan membuat hidup kita bermakna. Tapi aku terlalu congkak bukan, noona? Aku tidak akan pernah bisa menjadi pria yang pantas mendampingimu. Jadi biar kuucapkan perpisahanku dengan cara ini. Selamat tinggal, Cha Eungi, aku mendoakan yang terbaik dalam hidupmu. Sebuah kehormatan bagiku untuk pernah dibimbing oleh orang seperti dirimu—wanita paling hebat yang pernah kukenal.”

Eungi bingung apakah ia lebih merasa marah atau sedih dengan pesan Kyuhyun. Ada satu bagian dalam dirinya yang merasa pantas mendapatkan ucapan perpisahan dengan cara seperti ini, tapi bagian lain menolak untuk setuju. Dalam hatinya, Eungi berharap Kyuhyun akan memperjuangkannya lebih keras lagi, ia ingin Kyuhyun mengerahkan usahanya yang terbaik, ia berharap Kyuhyun menginginkan dirinya seperti Eungi—diam-diam—menginginkan Kyuhyun. Dengan seluruh keegoisan yang ada di dalam hatinya, Eungi berharap Kyuhyun mau membantunya untuk melupakan kesedihannya akan Siwon.

Tanpa berpikir lagi, Eungi langsung bangkit dari tempat duduknya, ia mencari satu anak yang masih cukup sober untuk diajak bicara, pamit pulang sambil membayar bill mereka dan wanita itu langsung berlari menuju jalanan utama untuk mencari taxi.

Wanita itu tidak bisa berpikir jernih sekarang dan ia telah membiarkan amarah mengambil alih tindakannya. Ia murka dengan dirinya sendiri. Karena ia telah jatuh ke dalam pesona seseorang yang tidak selayaknya ia kagumi, karena ia baru menyadari detik ini bahwa kehadiran pria itu penting baginya, ia juga marah karena rasa bersalahnya pada mantan tunangan yang masih terus menyertai setiap langkahnya, ia benar-benar kesal karena ia terjebak dalam perdebatan hatinya—perdebatan yang sebenarnya tidak perlu ada—ia merasa bahwa kelakuannya sekarang masuk ke dalam kategori mengkhianati Siwon, padahal ia tahu persis bahwa hal itu tidak terhitung karena Siwon sudah tiada.

Eungi lelah menyangkal, ia telah tiba pada ambang jenuhnya dan malam ini emosinya meledak. Ia sudah lelah menyabotase kebahagiaannya sendiri dan saat ini Eungi siap melepas rasa gengsinya untuk mengutarakan seluruh isi pikirannya pada Kyuhyun. Wanita itu sadar bahwa ia harus melanjutkan hidupnya, ia tidak bisa selamanya berkubang dalam kesedihan yang pasti tidak ada akhir indahnya hanya semata-mata untuk membuat Siwon tetap hidup dalam memorinya—dan Kyuhyun, mungkin pria itu adalah kesempatan Eungi yang terakhir untuk meraih kebahagiaannya.

Perjalanan taxi itu terasa lama, padahal jarak dari Hongdae menuju apartemen Kyuhyun tidak begitu jauh. Eungi memanfaatkan waktu yang dimilikinya untuk merancang kata-kata yang hendak dilontarkan pada pria itu, entah seperti apa tanggapan Kyuhyun nanti, ia siap menerimanya. Yang perlu dilakukannya sekarang hanya mengungkapkan kejujuran dan menyiapkan mental untuk tanggapan paling buruk dari pria yang sudah menghindarinya sejak kejadian ciuman pagi itu.

Eungi mempercepat langkahnya saat ia tiba di perkarangan gedung apartemen Kyuhyun, ia memencet tombol lift dengan tidak sabar sambil mengumpat agar mesin itu membawanya lebih cepat lagi pada Kyuhyun, semua kata-kata yang tersusun barusan sudah buyar tapi ia tidak peduli—yang penting Eungi harus bertemu terlebih dahulu dengan pria itu. Ketika ia tiba di lantainya, Eungi langsung berlari cepat ke arah pintu apartmen Kyuhyun, membunyikan bel berkali-kali dengan ngotot sampai akhirnya pintu terbuka.

Dari balik pintu, Cho Kyuhyun muncul dengan ekspresi dingin dan wajah suram, bahasa tubuhnya jelas berkata bahwa ia tidak mau menerima tamu dan rambutnya berantakan—pria itu terlihat seperti sedang sibuk melakukan hal yang lain. Kyuhyun tidak bertanya kepentingan Eungi muncul di depan pintunya, ia hanya menatap tajam wanita itu sambil menuntut jawaban atas rasa penasarannya. Mata Eungi bergerak cepat di hadapannya, sibuk membaca situasi yang terjadi melalui ekspresi wajah Kyuhyun. Ia benar-benar bingung harus berkata apa, dan ia benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana untuk menjelaskan dirinya sendiri.

“Ada yang bisa kubantu, noona?” Akhirnya Kyuhyun bertanya, “Kalau tidak, aku sekarang sedang sibuk..”

“Bolehkah aku masuk?”

“Tidak.” Jawabnya sinis.

Eungi tiba-tiba paham alasan dari wujud Kyuhyun yang berantakan, “Ah, pasti kau sedang bersama seseorang sekarang.” Simpul Eungi, sambil memaksakan senyum lemah, “Maaf, seharusnya aku menelpon terlebih dahulu.”

“Mengapa kau di sini?” Bahasa tubuh Kyuhyun bagai mengusir Eungi untuk pergi, meskipun hatinya berteriak untuk mendekap wanita itu.

Eungi menatap gugup ke arah sepatunya, seolah-olah sepasang flat-shoes itu adalah hal yang paling menarik baginya. “Tidak apa-apa, aku—” ia menggigit bibirnya sambil memikirkan kata-kata yang tepat. “Aku kesini karena.. well, kau tidak datang ke—”

“Aku punya rencana lain.” Potongnya ketus.

“Ya, aku bisa melihat itu sekarang.” Ia berdeham, “Aku tetap harus mengucapkan salam perpisahan padamu, jadi..” Eungi memberanikan diri untuk menatap mata Kyuhyun, “Selamat tinggal.”

Take care.” Balas pria itu dingin sambil langsung menutup daun pintu di hadapan Eungi.

Saat ini pria itu sedang berjuang untuk terlihat kuat di hadapan Eungi. Ia berkelakuan seperti ini bukan karena ia sedang punya tamu di dalam kamarnya, namun memang karena ia benar-benar sibuk menggali informasi—yang kini sangat disesalinya. Kyuhyun baru saja menggali sisi tergelap dari internet dan ia menyaksikan footage tragedi mengenaskan yang benar-benar disesalinya. Dari video yang baru ia akses dengan skill hacking-nya yang tinggi, Kyuhyun baru menyaksikan rekaman CCTV dari restoran tempat Eungi dan Siwon makan malam saat pembunuhan masal itu terjadi.

Pria itu baru mendapatkan konfirmasi untuk dirinya sendiri, bahwa memang ia tidak ada apa-apanya dibandingkan Siwon dan ia tidak akan pernah pantas menggantikan posisi Siwon dalam hidup wanita itu.

Eungi menahan pintu yang nyaris tertutup di hadapannya, sambil berusaha bicara pada Kyuhyun. “Kyuhyun-a, apa kau benar-benar membenciku? Tidak bisakah aku mendapatkan kata perpisahan yang lebih layak darimu? Paling tidak, izinkan aku bicara denganmu!” Nada bicaranya meninggi untuk menarik perhatian Kyuhyun, ia sukses memperoleh perhatian pria itu  karena sekarang Kyuhyun kembali membuka daun pintunya.

“Apa yang mau kau bicarakan?” Tubuh pria itu masih menghalangi sedikit celah pintu masuk.

Sekarang Eungi justru terdiam, kalau ditodong seperti ini, semua kata-kata yang disiapkannya menjadi kabur. “Aku—aku.. aku tidak tahu, aku hanya ingin bertemu denganmu.” Jelasnya sambil menghela napas panjang.

“Kenapa?”

Eungi mengangkat kedua bahunya, “Entahlah, aku—” Aish, Eungi tidak bisa mengungkapkan hal yang ingin diteriakkan pada Kyuhyun. “Aku—aish, sudahlah. Aku sudah mengganggumu. Maafkan kelancanganku yang tiba-tiba muncul sekarang.”

Kyuhyun masih menatapnya dengan tajam, ia pun bingung harus menjawab pernyataan janggal Eungi dengan apa.

Well, kalau begitu aku pamit.” Eungi bisa merasakan matanya memanas, tapi ia memilih untuk menahan emosinya sekarang. Bagaimana pun ini adalah salahnya sendiri yang terlalu plin-plan.

Wanita itu baru saja mengambil beberapa langkah menjauh dari pintu Kyuhyun ketika ia mendengar pria itu berkata pelan—nyaris berbisik—dari tempatnya berdiri.

“Noona, apapun yang kulakukan tidak akan pernah cukukp untukmu, bukan? Aku tidak akan pernah bisa menggantikan pria itu.” Bisik Kyuhyun lirih.

Eungi menghentikan langkahnya dan segera berbalik untuk melihat Kyuhyun, ia benci dengan kondisi pria itu sekarang. Rasa percaya dirinya yang angkuh telah hilang, tatapan tajam pada mata elangnya kini terlihat sendu dan tubuh pria itu nampak bergetar—entah karena apa.

“Apa maksudmu Kyuhyun-a? Aku tidak pernah membanding—”

“Karena kami memang tidak pantas dibandingkan.” Sergah Kyuhyun cepat.

“Ne?”

“Tidak peduli apapun yang kulakukan, aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisi seorang pria yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya hingga detik-detik terakhirnya sepert dia.” Tanpa sadar, air mata Kyuhyun kini sudah mengalir di kedua pipinya, rekaman CCTV yang ia saksikan barusan benar-benar membuatnya shock dan berduka–ia tidak menyangka wanita yang dicintainya harus melalui kejadian kejam itu.

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Kyu.” Eungi menyapukan jemarinya lembut untuk menghapus air mata Kyuhyun, “Sungguh, kau harus bicara lebih jelas karena aku tidak sepintar itu untuk mengartikan maksud pernyataanmu.”

“Aku melihat..” Tubuh pria itu semakin bergetar dan tangisannya semakin menjadi, “Aku sungguh berduka untukmu, noona.. aku melihat yang terjadi.. padamu dan Siwon-ssi.. di Paris..” ia mengangkat tangannya sendiri untuk ditangkupkan pada mulutnya demi menahan tangisnya yang semakin menjadi. “Aku berduka karena.. kebahagiaanmu direnggut darimu.. dengan cara kejam itu.. noona.. maafkan aku..”

Memori menyakitkan yang ingin dilupakan Eungi sekarang justru terbuka kembali bersamaan dengan pernyataan janggal Kyuhyun. Satu detik ia sudah belajar behagia menerima hidupnya namun detik berikutnya ia lagi-lagi diingatkan tentang beban morilnya pada Siwon—yang datang dari mulut pria yang ia harapkan justru bisa membantunya untuk melupakan kepahitan itu. Eungi kembali merasakan nyeri yang hebat pada hatinya dan ia pun paham bahwa itulah yang sedang dirasakan Kyuhyun sekarang. Pria itu sedang berbagi kepedihan yang Eungi simpan rapat-rapat selama ini dan Eungi yakin, Kyuhyun pasti paham kepiluan yang selama ini menyertainya.

Eungi masih mencoba mencari jawaban di tengah kekalutan dan kebingungan ini. Kalau perkiraannya benar, maka kata-kata Kyuhyun tadi mengindikasikan bahwa pria itu baru saja mengakses footage mengerikan dari CCTV restoran tempat nyawa Siwon diambil–entah dengan cara apa, tapi pria itu berhasil mendapatkannya. Rangkaian kejadian horor itu kembali terbayang jelas seketika ia menutup kelopak matanya, layaknya film tua yang dimainkan ulang —dan untuk ratusan kalinya, bayangan pria yang sekarat berlumuran darah itu kembali datang dan segera tatapan mata Siwon yang tidak bernyawa kembali menghantui memorinya.

Eungi menyerah, ia tidak lagi bisa berpura-pura kuat.

Do you have any idea how it feels to lose what I have lost?” Suara wanita itu bergetar tapi Kyuhyun masih bisa mendengarnya dengan jelas ditengah tangisan histerisnya.

Seterkejut apapun Kyuhyun sekarang dari video yang baru ditontonnya, ia yakin bahwa wanita di hadapannya telah menanggung derita yang lebih berat darinya. Lagi-lagi Kyuhyun mencoba menjadi tameng Eungi, pria itu menarik tubuh mungil Eungi ke dalam pelukan hangatnya—mencoba untuk menjaga agar wanita itu tidak semakin hancur dalam kepedihannya sendiri. Kali ini ia gagal, Kyuhyun gagal menjadi sandaran yang dibutuhkan Eungi karena ia pun ikut menangis saat wanita itu hanya bisa meraung sambil memeluk tubuhnya dengan erat.

 


author’s note:

masih kurang panjang? gantung sajalah saia. 😦

or, wait until i finish translating the entire story before digging into it. win-win, right?

Advertisements

116 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 10

  1. Siti maryam says:

    Kepercayaan diriku hilang,padahal klo kyu terus berjuang demi membuktikan ksungguhan cintanya itu kan membuat eungi luluh dan bisa membuka hati nya meski tidak bisa melupakan siwon karna itu sebagian dr masalalunya

    Liked by 1 person

  2. Dyana says:

    Lah, koq jadi gini Kyu…
    knp kau jadi lemah… Noona-mu itu sudah mulai membuka hatinya untukmu knp kau bangkitkan kembali memori itu… Duch nangis lagikan jadinya…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s