(Indonesia Version) One Last Shot – Part 9

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

Keesokan pagi, Kyuhyun terbangun oleh rasa nyeri yang masih sangat kentara di bagian lengan atasnya, pria itu tanpa sengaja menekan bagian lengannya yang terluka hingga ia  langsung terduduk awas. Seluruh kekacauan beserta efek berantakan di rumah itu telah mereka rapihkan semalam, keduanya sibuk menyapu seluruh sisa pecahan beling yang tersebar di lantai kayu rumah Eungi, mereka juga harus menyortir benda-benda apa saja yang memang sudah masuk ke dalam kategori rusak berat untuk kemudian dibuang. Kekacauan yang tercipta sebenarnya tidak terlalu fatal, perabot Eungi yang rusak juga bukan merupakan barang-barang berharga. Yang terlihat lebih katastrophik sesungguhnya adalah kondisi wanita itu—ia terlihat sangat terguncang dan nyaris tidak mampu melakukan pembicaraan apa pun setelah ibu Siwon pergi.

Kyuhyun meringis kecil saat nyeri terasa di lengan bagian atas kirinya ketika digerakkan, memang luka yang diperolehnya lumayan besar, tapi ia masih bisa cukup mentolerir rasa nyerinya—lebih baik ia menahan sakitnya semalaman ketimbang membiarkan Eungi sendirian di rumah itu dengan berbagai resikonya. Ia pun mengakui bahwa tindakan heroiknya kemarin malam itu bisa terhitung bodoh kalau ia sampai salah kalkulasi, tapi pada detik penentuan itu, naluri Kyuhyun hanya ingin melindungi wanita yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Mereka tidak banyak bicara semalam, topik tentang kejadian yang baru menimpa Eungi sepertinya menjadi tabu untuk dibicarakan, dan keduanya hanya duduk sambil sesekali mengomentari tentang acara pertandingan bola yang ada di televisi. Meskipun penasaran, Kyuhyun sadar bahwa kemarin malam bukanlah waktu dan tempat yang tepat baginya untuk menuntut jawaban dari Eungi. Setidaknya, ia berencana membiarkan wanita itu menenangkan diri terlebih dahulu sebelum ia meminta penjelasan—Kyuhyun yakin, Eungi akan mengungkapkan yang sesungguhnya jika ia sendiri sudah siap.

Setelah pertandingan bola berakhir malam tadi, Kyuhyun menawarkan diri untuk tetap tinggal di rumah itu dengan dalih untuk berjaga-jaga seandainya wanita gila itu kembali lagi. Hatinya terasa ringan dan bahagia saat tawarannya dibalas Eungi dengan sepasang bantal dan selimut serta sebuah sofa besar yang bisa digunakannya untuk tidur. Memang Eungi tidak mengatakannya dengan lantang, tapi Kyuhyun tahu bahwa wanita itu baru saja mengakui bahwa ia membutuhkan Kyuhyun.

Kyuhyun menggunakan kesempatan untuk melihat isi rumah Eungi sekilas pagi ini, sekarang gilirannyalah yang mendapatkan kesempatan istimewa untuk melihat tempat tinggal dosennya. Pria itu berkeliling bebas di dalam rumah berukuran sedang milik Eungi, kalau mendengar dari suara air yang mengalir, sepertinya Eungi sedang mandi dan Kyuhyun lebih baik menyibukkan diri untuk melihat keseharian wanita itu dari perabot-perabot yang ada di rumahnya.

Seperti dugaannya, Eungi adalah seorang wanita yang apik, seluruh perabotnya memiliki kesan kayu yang sederhana namun otentik, wanita itu tidak menyimpan banyak pernak-pernik dan nyaris seluruh perabotnya diisi dengan buku. Dinding di rumah itu polos, ia tidak menemukan adanya pigura atau foto-foto keluarga Eungi, dalam hatinya Kyuhyun berkesimpulan bahwa Eungi sama saja dengan dirinya, tidak merasa cukup dekat dengan siapapun hingga harus memamerkan foto bersama.

Kyuhyun melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air, ia langsung berdecak kesal saat matanya menatap pajangan di permukaan kulkas Eungi. Sepertinya usaha Kyuhyun untuk menggali informasi tentang Siwon terbayar, karena Siwon yang dijadikan targetnya adalah orang yang tepat. Tapi mengetahui fakta ini sekarang ternyata lebih menyesakkan untuk pria itu.

seul_p-dragondae

gambar milik park Seul & DragonDae

Hatinya bagai diremas kencang saat ia mempelajari foto-foto lama Eungi dan Siwon yang terpajang di kulkas. Di foto itu, terlihat jelas kebahagiaan Eungi yang terpancar dari senyum lebar serta sorot matanya—belum pernah Kyuhyun melihat wanita itu tersenyum bahagia layaknya gambar yang ia lihat sekarang. Beberapa bulan ini Kyuhyun hanya mengenal Eungi sebagai sosok wanita yang dingin, sosok yang selalu tahu cara mengontrol ekspresi dan emosinya, sosok yang sangat dewasa dan jarang bisa bercanda. Jika ia harus membandingkan antara Eungi yang dikenalnya dengan Eungi yang ada di foto bersama Siwon, Kyuhyun merasa seperti Eungi memiliki saudari kembar yang lebih bahagia di belahan dunia lain.

Lagi-lagi pernyataan wanita itu mengusiknya. Ia sekarang terjebak dalam perdebatan mental yang lumayan alot. Semalam Eungi sempat mengatakan bahwa ia telah hidup dalam penyangkalan cukup lama, karena ia belum siap menerima kenyataan bahwa tunangannya sudah tiada. Jika memang Siwon sudah pergi dari hidup Eungi, artinya Kyuhyun memiliki kesempatan. Namun jika memang kesempatannya itu muncul dari sebuah kenyataan pahit dalam hidup wanita itu, apakah Kyuhyun mampu menempatkan diri sebagai pengganti Siwon dalam hidup Eungi? Pria itu langsung menghapus pikiran lancangnya jauh-jauh. Ia teringat kembali tentang profil Siwon beserta seluruh pencapaian yang dimiliki pria itu. Ia bahkan malu kalau harus membandingkan dirinya dengan pria hebat itu, bagaimana mungkin Kyuhyun bisa menyeimbangi—atau paling tidak mendekati—arti kehadiran Siwon dalam hidup Eungi.

Jelas jalan yang harus ditempuhnya masih sangat panjang jika ia benar-benar ingin menjadi pria yang pantas berada di sisi wanita hebat itu.

Kyuhyun mengalihkan perhatian dari kulkas untuk kembali berkeliling di dalam rumah Eungi. Ia sejak tadi tertarik dengan rak buku besar yang ditaruh Eungi di tengah ruangan. Rak buku ini menjulang dari lantai hingga langit-langit rumahnya, berisikan seluruh buku yang dimiliki wanita itu. Dalam hati Kyuhyun bertanya apa mungkin Eungi sudah melahap seluruh isi buku yang ada di rumah ini? Bagaimana mungkin hidup wanita itu hanya dihabiskan dengan membaca. Ia melangkah mendekati rak buku dan senyum kecil muncul di wajahnya saat ia melihat tumpukan buku anak-anak di bagian kiri bawah. Ia ingat Eungi pernah bilang bahwa saat kecil hidupnya keras dan buku merupakan pelariannya—dan Kyuhyun merasa terhibur sekarang karena ia bisa menyaksikan sendiri tumpukan buku yang dimiliki wanita itu sejak kecil. Tangannya memilih salah satu buku yang terlihat paling lapuk dan ia segera membalik halaman dari buku ‘Kisah Tiga Babi Kecil’.

“Kau sudah bangun rupanya, bagaimana lenganmu?” Eungi mengagetkan Kyuhyun. Ia membawa langkahnya untuk mendekat pada pria itu dan perhatiannya langsung terpusat pada lengan Kyuhyun yang masih diperban. “Aku sudah menelepon kampus dan bilang kalau hari ini aku ambil cuti. Ayo kita ke dokter, aku hanya memberikan pertolongan pertama kemarin, biarkan seorang professional memeriksanya agar tidak infeksi.”

“Aku baik-baik saja, noona. Kau merawat lukaku dengan sangat baik semalam.” Kyuhyun tersenyum hangat kemudian menunjuk pad arak buku Eungi yang spektakuler. “Apa kau sudah membaca semua buku ini?”

Eungi mengangguk.

“Seluruhnya?” Kyuhyun membulatkan matanya tidak percaya.

“Kenapa? Apa itu membuatku semakin culun di matamu?”

Pria itu terkekeh sambil meletakkan buku yang dipegang kembali ke tempatnya, perhatiannya teralihkan pada sebuah kliping tebal yang tampak seperti tumpukan kertas-kertas yang dijilid bersamaan.

“Letakkan buku itu, Kyu.” Tangan Eungi hendak mencegah Kyuhyun untuk mengambilnya, namun ia terlambat.

Kyuhyun membuka halaman demi halaman sambil mempelajari isi dari buku itu dengan seksama. Kebanyakan dari isi buku itu adalah gambar anak kecil dengan penekanan-penekanan yang sangat kekanakan. Halaman lain menunjukkan proposi aneh dari sebuah rumah dengan dua orang-orangan kurus di depannya, bertulisakan Appa dan Eungi-ya.”

“Gambar pertamamu?” Kepala Kyuhyun menoleh pada Eungi sambil jarinya menunjuk pada gambar di tangannya. “Aku bahkan tidak pernah menyimpan gambar-gambar awalku, karena sepertinya kedua orang tuaku tidak cukup peduli dengan apa pun yang kulakukan. Ey, kau pasti salah satu dari gadis imut yang karyanya selalu dipajang orang tuamu di kulkas.”

Eungi mengigit bibirnya dengan gelisah. “Letakkan buku itu Kyu, itu adalah buku yang paling berharga untukku.”

“Lihat!” Kyuhyun justru tidak menghiraukan Eungi dan malah membalik halaman lain. “Ada banyak stiker di sini, pasti ini indikator sebaik apa gambar yang kau buat.”

Eungi menutup buku itu dengan paksa, merebutnya dari tangan Kyuhyun dan segera mengembalikan ke dalam rak buku.

“Noona, kau tidak perlu malu, setiap anak-anak pasti seperti itu. Sejujurnya melihat gambarmu waktu kecil justru membuatku merasa sangat nyaman, karena aku sadar kau juga melawati fase normal yang dilewati seluruh anak-anak. Aku pikir kau benar-benar terlahir langsung menjadi jenius.”

Eungi menarik napas dalam sambil memaksakan senyum, “Itu bukan gambarku, Kyu. Itu gambar ayahku.”

Kyuhyun mengerutkan alisnya heran, “Ne?”

“Yang kau lihat barusan itu bukan gambarku. Justru aku tidak pernah menyimpan gambar-gambarku semasa kecil, karena alasan yang sama denganmu.” Sergahnya.

Kyuhyun menunjuk pada rak buku Eungi lagi, “pernyataanmu membuatku bingung, noona.”

“Kau benar-benar ingin tahu rupanya?” Eungi menarik napas dalam sambil mempertimbangkan opsinya.

Pria itu mengangguk semangat. “Semakin aku sering menghabiskan waktu denganmu, semakin aku sadar bahwa banyak sekali hal dari dirimu yang tidak kuketahui—dan bisa dikatakan aku penasaran setengah mati.”

Eungi tersenyum tipis, “Baiklah aku sedang bermurah hati pagi ini.” Wanita itu mengangkat kedua bahunya sekilas sebelum ia beranjak dari posisinya, menuju credenza di ruang tengahnya untuk mengambil susuatu dari dalam lemari itu. Kyuhyun mengikuti Eungi dari dekat, dan ia segera meraih pigura foto yang diberikan Eungi padanya.

“Ia adalah ayahku, namanya Cha Daewoo.” Senyum bangga muncul di wajah wanita itu. “Beliau adalah pahlawanku dan juga cinta pertamaku, tidak peduli seperti apa tampilannya.”

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari wajah Eungi ke pigura di tangannya untuk mempelajari foto itu dengan sungguh-sungguh, seorang pria muda berusia tiga puluh tahunan dengan seorang gadis kecil yang tersenyum bahagia di pangkuannya. Di foto itu nampak Eungi sebagai gadis kecil menggemaskan dengan rambut dikuncir dua sedang menggunakan sundress bermotif buah-buahan, dan ayahnya memang terlihat berbeda. Kyuhyun bisa menyinmpulkan hal itu hanya dengan sekali pandang.

“Noona, kau menggemaskan sekali ketika kecil.” Pria itu tidak kuasa menahan senyumnya. “Kau sudah terlihat seperti miss sok tahu sejak kecil rupanya.”

Eungi memutar matanya sambil mendengus, “Aish, pasti kalau waktu itu kita sekolah di tempat yang sama, aku juga akan menjadi korban bully-mu.”

“Apa aku terlihat seperti seorang anak yang suka mem-bully kawan-kawanku?” Tantang Kyuhyun.

Eungi mengangguk mantap.

“Apa kau benar-benar menghadapai bullying dengan tingkat separah itu?” Tanyanya penasaran.

Eungi menunjuk pada foto yang dipegang Kyuhyun. “Menurutmu? Apa foto itu tidak cukup untuk memberikan gambaran seperti apa sulitnya masa kecilku?”

Pria itu menghela napas panjang, memang ada kejanggalan dalam foto yang dipegangnya. Meskipun Eungi terlihat seperti gadis manis yang cerdas, pria yang memangkunya tidak terlihat sama. Senyuman pria itu janggal, tatapan matanya seperti kosong dan ekspresi yang menyertainya sangat polos—layaknya seorang anak kecil yang sedang diminta berfoto bersama.

Eungi tersenyum pahit melihat reaksi Kyuhyun yang sekarang diam, pastilah pria itu tidak berani menanyakan hal-hal yang menurutnya akan menyinggung Eungi. Tapi kerutan di dahinya, serta pertanyaan yang terlihat jelas di sorot matanya cukup sebagai indikasi rasa penasarannya.

“Kuharap kau tidak memandang ayahku seperti kawan-kawanku dulu memandangnya.” Sambung Eungi.

“Maksudmu?”

“Kau pasti bisa melihat ada kejanggalan di foto itu bukan?”

Kyuhyun mengangguk ragu, “tapi apa kau di-bully karena ini?”

“Ibuku pergi setelah ia melahirkanku dan pria ini membesarkanku sendirian, bahkan dengan seluruh keterbatasan yang ia miliki.” Mata Eungi mulai terasa panas saat membicarakan ayahnya, “Ayahku menderita developmental disability, jadi ia terlihat seperti seorang pria dewasa namun kapasitas mental dan pikirannya terjebak dalam perkembangan anak usia sembilan tahun.” Jelasnya.

Kyuhyun membeku di tempatnya, bingung harus berkata apa pada Eungi. Ia memang sering menerka latar belakang Eungi, tapi ia tidak pernah menduga bahwa wanita ini dibesarkan oleh sesorang yang memiliki kecacatan mental—karena wanita itu tumbuh menjadi seseorang yang sangat mengagumkan.

“Ayahku adalah sahabatku sejak aku kecil dan aku tidak pernah mempermasalahkan kekurangannya. Jelas kawan-kawan sekelasku dulu sering meledek dan menghinaku, karena ayahku selalu terlihat lucu dan berbeda dari orang tua lain saat ia menjemputku di gerbang sekolah. Dulu ia selalu melompat kegirangan setiap kali aku muncul, sementara orang tua anak-anak lain tetap terlihat cool—tentu saja ini menarik perhatian banyak orang.” Eungi perlahan mulai melingkarkan kedua lengannya untuk memeluk dirinya sendiri. “Tapi beliau sadar akan ketidaknyamananku, sehingga suatu hari ia menghabiskan uang makan siangnya untuk membelikanku buku—buku Tiga Babi Kecil yang kau lihat barusan itu adalah buku pertama yang kumiliki—dan juga buku favorit ayahku—ia mencoba mencari jalan keluar agar aku tidak merasa tertekan dengan ledekan kawan-kawanku.”

Kyuhyun merasa ia harus segera mengalihkan topik pembicaraan, bukan karena ia tidak peduli dengan kisah masa lalu Eungi, tapi karena wanita di hadapannya kini terlihat sedih. Tapi ia pun paham bahwa tidak mudah bagi Eungi untuk berbagi, jadi ia memutuskan untuk diam dan tetap mendengar.

“Bagiku, ayahku adalah orang yang mencoba melewati batasan dirinya untuk bisa menyeimbangi perkembanganku. Meskipun beliau memiliki keterbatasan, tapi ialah orang yang mengajariku untuk membaca—apa jadinya diriku sekarang kalau aku tidak pernah diajari membaca olehnya.” Eungi menelan gumpalan dalam kerongkongannya, mencoba menahan tangis haru yang sudah ditahannya.

“Ayahmu terdengar hebat sekali noona, beliau membesarkanmu seorang diri dan sukses membuatmu menjadi wanita yang sangat hebat.” Kyuhyun mengusap bahu Eungi pelan.

Eungi menggangguk setuju. “Tapi ketika aku mulai bisa memegang pensil, mulai bisa menulis dan menggambar, terkadang ayahku menjadi sedih. Aku ingat ia pernah menangis sendirian, ketika kutanya mengapa ia sedih, beliau bilang ‘karena aku sudah bisa menggambar dan beliau tidak bisa ikut mengajariku’. Maka sejak itu aku mengajarinya menggambar, dan kau sudah melihat sendiri kliping karya-karyanya.”

Kyuhyun mengangguk paham. Dalam hati ia sedikit menyesal karena telah lancang membuka-buka kenangan yang disimpan Eungi tentang ayahnya. “Maafkan kelakuanku barusan, noona.”

Eungi menggeleng pelan. “Gwenchana. Kurasa menjelajah rumah seseorang memang hal yang menarik, bukan? Aku pun menikmati waktuku ketika melihat-lihat isi apartemenmu dulu.”

Kyuhyun tersenyum. “Kisahmu sungguh mengharukan, dan kenyataan bahwa kau masih menyimpan karya-karya beliau sungguh membuatku terharu.”

“Saat usiaku sepuluh tahun, petugas sosial membawaku pergi dari ayahku karena mereka khawatir beliau tidak mampu membesarkanku lagi—aku menjadi semakin pintar seiring dengan pertumbuhanku tapi kemampuan berpikir beliau tetap terjebak di batas kemampuannya. Waktu yang kami miliki untuk mengucapkan kata perpisahan sangat sedikit, dan buku-buku usang itu hanyalah sebagian kecil harta yang bisa kubawa saat mereka mengambilku.” Suara Eungi mulai bergetar.

Hati Kyuhyun terasa nyeri membayangkan perpisahan yang harus dihadapi Eungi saat usianya masih sangat kecil. Pantas saja sikap wanita ini sangat dewasa, jika Kyuhyun harus menghadapi kesulitan yang sama seperti Eungi pasti ia pun perlahan akan tertempa menjadi seseorang yang lebih tangguh dibandingkan orang kebanyakan.

“Saat itu mungkin adalah waktu-waktu ketika aku menjadi seorang pemberontak, karena yang aku inginkan hanyalah hidup bersama ayahku, kau mengerti kan? Aku tidak peduli akan kekurangannya, aku mencintai ayahku dan ia mencintaiku—hanya itu yang penting.” Eungi menengadahkan wajahnya untuk menatap langit-langit, sembari menahan jatuh air matanya.

“Noo—noona, apa kau baik-baik saja?” Pria itu mulai khawatir melihat air mata Eungi yang semakin menggenang.

“Beliau meninggal tidak lama setelah kami berpisah, ayahku jatuh sakit dan tidak ada yang merawatnya saat itu, jadi..” Kata-katanya terhenti bersamaan dengan air matanya yang mulai mengalir. “Aku menerima berita itu saat kelas menggambar—aku masih ingat setiap detail di hari itu, Kyu—dan entahlah aku benar-benar marah karena aku tidak mampu berbuat apa-apa untuknya.”

Isakan wanita itu semakin kencang, sepertinya Eungi benar-benar merasa perlu melampiaskan seluruh kesedihannya yang sudah menumpuk beberapa waktu ini. Obrolan ringan yang seharusnya menghibur justru mengarah pada kenangan menyedihkan yang dimilikinya. Sesungguhnya ia tidak mau terus-terusan menangis di hadapan Kyuhyun, tapi pria ini tidak terlihat keberatan dengan tetesan air matanya yang tak kunjung berhenti sejak semalam—pria ini membuatnya merasa aman untuk berbagi kepahitan hidupnya.

Kyuhyun meletakkan foto di tangannya ke atas credenza dan ia segera mendekat pada Eungi. Dengan gerakan mulus, pria itu meraih pundak Eungi dengan tangan kanannya, lengan kirinya dilingkarkan diseputar bahu wanita itu dan Kyuhyun segera mengeratkan pelukannya pada Eungi. Sepertinya ia lagi-lagi harus mengakui kekagumannya pada wanita ini. Ia paham pastilah hidup Eungi tidak berjalan mulus hingga ia bisa menjadi sosok hebat seperti dirinya sekarang, tapi Kyuhyun pun tidak pernah menduga bahwa Eungi harus melewati semua itu sebatang kara dari usia yang sangat kecil.

“Maafkan aku, noona, karena aku telah membangkitkan memori yang menyakitkan bagimu.” Kyuhyun berbisik lembut. Pria itu sekarang harus menahan rasa harunya sendiri, karena ia sedang berusaha menjadi sosok yang kuat bagi Eungi.

“Kyu, mengapa aku merasa sangat sedih sekarang? Aku sudah berusaha mengalihkan seluruh perasaan lemah yang mengakar di diriku, tapi kenapa aku menjadi orang yang sangat cengeng di depanmu?” Bisiknya dalam pelukan Kyuhyun.

Pria itu mengelus punggung Eungi lembut, “Aku tidak keberatan noona, kau bisa bersandar padaku kapan pun kau mau, ingat itu.”

Lagi-lagi wanita itu membiarkan pertahannya runtuh di dalam pelukan Kyuhyun, sepertinya keberadaan pria ini telah membuat beban berat yang diembannya terasa lebih ringan, dan harus diakui, Eungi ketagihan dengan rasa nyaman yang ditularkan pria ini. Eungi mempererat pelukannya di sekitar pinggang Kyuhyun, wajahnya kini mencari tempat nyaman di bahu lebar pria itu, ia menghirup aroma maskulin yang selama ini diam-diam dinikmatinya.

“Maaf kau harus melihatku seperti ini.” Isaknya dari bahu Kyuhyun.

Pria itu menarik napas dalam. Seandainya Eungi tahu bahwa pria ini siap menjadi tamengnya kapan pun juga, andai Eungi tahu bahwa ia akan selalu ada untuknya. Ia sudah tidak lagi peduli akan batasn di antara mereka, persetan dengan satusnya sebagai mahasiswanya, ia hanya ingin melindungi dan mencintai Eungi dengan cara terbaik yang diketahuinya—ia akan menjadi pria yang dibutuhkan oleh Eungi, cinta pertamanya.

Tangisan Eungi berubah menjadi isakan kecil, ia masih bersandar sepenuhnya pada Kyuhyun. Wanita itu pun tidak lagi peduli dengan batasan etika. Ia pun tidak protes keberatan ketika pria yang mendekapnya ini menanamkan kecupan lembut pada pelipisnya.

 

*

 

Karena Eungi memutuskan cuti dan Kyuhyun pun ikutan membolos, sekarang keduanya justru menghabiskan pagi hari mereka bersama. Setelah meltdown Eungi barusan, Kyuhyun memutuskan untuk mengambil alih tugas membuat sarapan dengan menyiapkan setangkap roti panggang—yang sukses dipanggangnya sampai gosong hingga harus dibuangnya. Keduanya memang tidak berhasil mengisi perut kosong mereka, tapi paling tidak Kyuhyun sukses membuat Eungi tertawa karena kebodohannya di dapur.

Eungi akhirnya turun tangan untuk membuatkan dua gelas kopi untuk mereka dan Kyuhyun menurut saja ketika Eungi menunjuk sofa tempat tidurnya semalam sebagai tempat mereka untuk berbincang. Bagi Kyuhyun, kesempatan untuk bersantai di rumah dosennya akan menjadi sebuah kesempatan langka dan ia akan menikmati setiap detik yang bisa dihabiskan bersama wanita pujaannya.

“Noona, lebih baik kau bicara padaku daripada memandangi gelas kopimu seperti itu.” Ujar Kyuhyun memecah kesunyian janggal di antara mereka.

Eungi mengangkat wajahnya, “Maafkan aku.”

“Untuk?”

“Kehebohan yang kuciptakan semalam.” Balas Eungi ragu, “Meskipun aku benci sekali melihat tindakan heroik bodohmu itu, aku tetap berterima kasih.”

“Aku baik-baik saja. Buktinya aku tidak demam sama sekali pagi ini, artinya lukaku tidak infeksi dan kau merawatku dengan baik.” Hibur Kyuhyun sambil memaksakan senyuman di wajahnya.

“Aku mau kau berjanji sesuatu padaku.” Pintanya pelan.

“Yaitu?”

“Jangan membahayakan dirimu seperti itu lagi, aku tidak akan mampu menanggung rasa bersalah yang datang jika sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Jelasnya sendu.

Kyuhyun melihat kekhawatiran di ekspresi wanita itu kembali, “Noona, kalau kau ada di posisiku, apa kau akan membiarkan hal itu terjadi?”

Eungi menggeleng, “Tapi aku juga pasti mencari cara lain untuk menolongmu.”

“Sudahlah, hal itu sudah terjadi dan hanya luka ini yang kudapat. Jangan khawatir noona. Kau juga tidak perlu merasa bersalah seperti itu.” Hibur Kyuhyun sambil menepuk bahu Eungi pelan.

“Masih terasa nyerikah?” Eungi menyentuh kain kasa yang menutup luka di lengan pria itu.

Kyuhyun menggeleng, “Hanya sedikit. Hey, aku ini laki-laki, masa aku kalah dengan luka seperti itu.”

Eungi mencoba memaksakan diri untuk tersenyum. “Kyu, apa kau tidak penasaran dengan pernyataan janggalku semalam?” Eungi bertanya ragu.

Kyuhyun justru mendengus, “Pernyataan yang mana?”

“Tentang dia.” Wanita itu sekarang memandangi kuku jarinya alih-alih memandang Kyuhyun.

Pria itu menarik napas panjang sambil memanfaatkan momen itu untuk memikirkan jawaban yang tepat untuk Eungi. “Noona, pastilah aku penasaran. Tapi seperti yang kubilang, aku benci melihatmu menangis, jadi meskipun pernyataanmu lumayan janggal, aku memilih untuk percaya padamu. Tidak mungkin wanita sekeren dirimu mampu melakukannya.”

“Melakukan apa? Maksudmu aku tidak mampu membunuhnya?” Balas Eungi sarkastis.

Ia mengangguk lemah. “Apa kau mau membicarakan tentang hal itu? Aku masih siap meminjamkan bahuku untukmu kapan pun kau mau.”

“Kau baik sekali Kyuhyun-a.” Balasnya segan, “Tapi bagaimana jika ternyata aku memang melakukan itu? Jika aku memang membunuhnya.”

“Tidak akan merubah perasaanku padamu.” Balasnya cepat dan segera menyesal karena kata-kata itu terlepas begitu saja dari mulutnya.

Eungi tersenyum manis dan akhirnya memberanikan diri untuk menatap Kyuhyun. “Aku tersanjung Kyunyun-a. Tapi..”

“Aku tidak sedang mencoba merayumu, noona. Aku hanya berharap kau mengizinkanku untuk ada di sisimu, itu saja.” Pria itu mencoba menjelaskan.

“Mengapa kau terdengar sangat—”

“Tentu saja aku tidak berani untuk melanggar batas itu denganmu, bukan karena statusmu sebagai dosenku, tapi karena aku memang tidak pantas bersanding denganmu. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan pria yang menjadi tunanganmu—well, bahkan aku tidak punya satu gelar pun untuk pantas berdiri di sampingmu—dan pria itu, dia sama hebatnya sepertimu. Dengan ggelar PhD-nya, apalagi dia juga seorang kurator international. Aku yakin, dia tidak pernah membuatmu bos..”

“Apa katamu?” potong Eungi.

Kyuhyun sadar bahwa ia telah berkata terlalu banyak, dan sepertinya ia juga tanpa sengaja telah mengucapkan sesuatu yang akan segera berbalik menyerangnya. “Ne?”

“Bagaimana kau tahu kalau dia seorang kurator? Aku kan tidak pernah bilang padamu.” Tanya Eungi dengan tatapan heran.

Kyuhyun bisa merasakan wajahnya memanas dengan cepat, kalau begini ceritanya, Eungi pasti segera sadar kalau Kyuhyun sudah mencari tahu tentang pria itu sebelum ini.

“Kyuhyun-a, apa kau mencari tahu tentangnya?” Wanita itu menggeser duduknya lebih dekat pada Kyuhyun untuk memperhatikan ekspresi wajah pria itu, membuat Kyuhyun semakin salah tingkah. “Bagaimana mungkin kau menemukan fakta-fakta ini jika aku tidak pernah cerita sebelumnya.”

Well, curiosity kills the cat, right?” Jawabnya ragu. “Kebetulan aku pun ahli dalam memanfaatkan teknologi internet.”

“Tapi kenapa?”

“Karena aku ingin tahu, pria seperti apa yang pantas bersanding denganmu.” Tatapannya kini difokuskan pada kakinya sendiri demi menghindari pandangan Eungi. “Bertapa bodohnya aku, karena pernah berpikir bahwa aku pantas untuk mendampingimu.”

Eungi terkekeh, kemudia ia mengacak rambut Kyuhyun lembut sembelum ia mencubit pipi pria yang sudah memerah itu. “Ya Tuhan, kau sekarang lucu sekali Kyuhyun-aaaa..”

“Ternyata ia pria yang sama menakjubkannya sepertimu, kalau kulihat dari foto di kulkasmu, sepertinya kau benar-benar bahagia ketika bersamanya. Maafkan aku yang telah lancang ketika berpikir aku bisa menyainginya. Setelah kubaca seluruh pencapaiannya, aku merasa bahwa aku ini hanya setitik debu dalam galaksimu.”

Semakin banyak Kyuhyun bicara, semakin marah juga ia pada dirinya sendiri. Mengapa ia harus sampai mengutarakan seluruh insecurity-nya pada Eungi sekarang? Menjatuhkan harga dirinya saja, apalagi setelah ia mengaku kalah bahkan sebelum perang dimulai.

Eungi melepaskan tangannya dari wajah Kyuhyun dan ia meletakkannya di atas dadanya sendiri. “Kyuhyun-a, maafkan aku dan kumohon koreksilah aku jika aku salah. Mungkinkah kau punya perasaan padaku?” Tanyanya sopan. Eungi tidak bisa mengabaikan tatapan sayu pria itu, apalagi ketika ia mulai membandingkan dirinya dengan Siwon.

Pria itu menolehkan wajahnya untuk menatap Eungi ke manik matanya. “Wah, kau benar-benar tidak sensitif noona. Kau benar-benar ingin tahu?”

“Apa aku akan menyesali pertanyaanku?”

“Tergantung.” Ia tersenyum sambil mengakat kedua bahunya dengan acuh sebelum Kyuhyun mendekatkan posisi duduknya ke Eungi. “Biar kutanya dulu padamu, berapa banyak mahasiswa yang pernah menyatakan perasaan mereka padamu?”

Eungi mengigit bibirnya dengan gugup, dengan wajah Kyuhyun yang semakin dekat dengan wajahnya tentu saja membuat pipinya memanas. “Aku mendapat beberapa pengakuan sebelumnya.”

“Benarkah? Aish, dasar mahasiswa tidak tahu malu.” Kyuhyun terkekeh, “Apa yang mereka katakan?”

“Hmm, mereka memberiku bunga, kadang aku mendapat bingkisan kecil, ada juga yang membuat coklat pada saat white day.” Eungi mencoba mengingat tindakan menggemaskan dari mahasiswa-mahasiswa sebelumnya. “Oh, ada juga yang menuliskan perasaan mereka pada lembar jawaban ujian.”

“Jadi memperoleh perhatian lebih dari mahasiswamu menjadi hal yang umum untukmu?” Cecar Kyuhyun penasaran.

Kali ini Eungi yang tertawa, “Dibilang umum juga tidak, hanya saja ada beberapa dari mereka yang memang bilang padaku bahwa mereka mengagumiku. Tapi kurasa itu hal wajar bukan? Kalau kau mengagumi dosenmu sendiri, aku pun pernah mengalaminya.”

Pria itu mendengus kesal, karena ternyata bukan ia satu-satunya mahasiswa yang memiliki perasaan istimewa pada Eungi. “Lalu apa yang kau lakukan? Maksudku dengan mahasiswamu itu, pasti mereka harus berpikir ribuan kali sebelum menyatakan kekaguman mereka padamu bukan?”

Eungi mengangguk, “Tapi kebanyakan dari mereka hanya menyatakan kekaguman mereka saja—kalau aku boleh mengutip kata-kata mereka, aku dijadikan alasan mereka untuk semangat datang ke kelas.” Eungi tersipu, ia tertawa geli dengan pernyataannya sendiri yang dianggapnya konyol.

“Ey noona, wajahmu bisa memerah hanya karena membicarakan tentang fans-fansmu.” Ledek Kyuhyun.

Eungi menutup wajahnya malu, “Aku bukan gadis yang tumbuh dikerubungi banyak lelaki, Kyu. Kau lihat sendiri fotoku tadi, apa aku terlihat seperti gadis populer cantik nan sexy yang selalu diincar ribuan pria. Jadi ya, aku harus jujur padamu bahwa terkadang aku menikmati perhatian kecil yang diberi mahasiswaku.”

“Kau menganggap mereka seperti anak-anak ingusan yang memandangmu dengan mata berbinar-binar?” Balas Kyuhyun sinis.

Eungi menggeleng, “Aku tidak pernah meremehkan mahasiswaku, kau pasti tidak mengerti rasanya mendapat perhatian seperti itu, Kyu. Kau terlahir untuk menjadi pria Casanova yang populer, justru kau yang selalu dikejar-kejar.”

“Kau sok tahu.” Kyuhyun memutar matanya bosan. “Itu mungkin diriku yang dulu, noona. Apa kau pernah melihat aku menghabiskan waktu dengan wanita lain selain dirimu akhir-akhir ini?”

Mata Eungi membulat kaget, obrolan ringan ini sepertinya bisa jadi menjurus ke topik yang lebih personal.

“Aku penasaran, apa yang kau lakukan pada siswa-siswamu itu.” Lanjut Kyuhyun, “Apa kau menolak mereka mentah-mentah?”

Eungi mendengus geli sambil menggeleng. “Aku tidak perlu menolak mereka karena mereka tidak menuntut apa pun dariku—seperti yang kukatakan, mereka hanya sebatas mengagumiku. Biasanya aku akan tersenyum sopan dan menikmati perhatian mereka tanpa perlu berkata apa-apa, karena mereka semua sudah menyadari bahwa ada kode etik yang mengikat.”

“Kalau begitu biar kutanya, apa menurutmu aku juga sebatas mengagumimu?” Tantang Kyuhyun, jantungnya semakin berdebar menanti jawaban dari Eungi.

Wanita itu mengangguk, “Aku yakin bahwa aku ini jauh sekali dari tipemu, tapi kebetulan aku adalah orang yang menginspirasimu menjadi lebih baik, benarkah dugaanku?”

Kyuhyun mendengus sinis, “Kau bukan tipeku. Cih, pernyataan macam apa itu. Kau jauh di atas tipeku noona. Kau—kau mungkin wanita pertama yang bisa membuatku melakukan hal-hal nekat hanya untuk membuktikan diri padamu.”

Eungi menggigit bibirnya canggung, “Kyuhyun-a, jangan bilang sekarang kau sedang—” Eungi tidak berani melanjutkan pertanyaannya, ia tidak siap menghadapi rasa malu dari sergahan Kyuhyun jika ia salah menduga bahwa mahasiswanya ini sedang menyatakan perasaannya sendiri.

Debaran di jantung Kyuhyun semakin menggila ketika pria itu menahan diri dari melakukan hal nekat yang saat ini menjadi nalurinya. “Lalu, apakah ada di antara mereka yang pernah menyatakan perasaannya dengan cara yang sama sepertiku?”

Eungi menyengir lebar. “Maksudmu secara implisit?”

“Bukan, tapi seperti ini.” Kyuhyun meletakkan satu tangannya pada tengkuk Eungi, sementara tangan satunya menarik wanita itu lebih dekat. Dengan gerakan lembut, Kyuhyun memiringkan wajahnya sebelum ia menyapu permukaan bibir Eungi dengan bibirnya dengan hati-hati.

Eungi tidak pernah menyangka Kyuhyun akan melangkah sejauh ini untuk berada di sisinya, tapi ia juga tidak melakuan apa pun untuk menghentikannya, karena tanpa sadar, ia pun menantikan hal ini.

Ciuman pria itu penuh dengan gairah namun sangat hati-hati, cumbuannya lebut namun menuntut dan cara pria itu merangkul Eungi semakit dekat telah membuat Eungi lupa akan batasan yang harus dijaga diantara mereka. Eungi menutup matanya dan membiarkan Kyuhyun memperdalam ciuman mereka. Dalam hatinya wanita itu merasa aneh, karena ia merasa ciuman ini sangat natural dan familiar, seolah ini bukanlah ciuman pertama mereka.

Cha Eungi juga akan menjadi pembual besar jika ia menyangkal debaran jantungnya yang semakin menggila seiring bertambah panasnya lumatan Kyuhyun pada bibirnya.

Persetan dengan semua akal sehat yang ada, wanita itu kini hanya ingin mengikuti naluri dan hatinya yang tidak keberatan dengan perlakuan Kyuhyun padanya. Perlahan Eungi meletakkan telapak tangannya pada pipi Kyuhyun, ia memiringkan kepalanya sendiri untuk mempermudah akses mereka dan tanpa ragu, ia membuka bibirnya—mengizinkan Kyuhyun untuk menjelajah rongga mulutnya lebih dalam lagi.

Advertisements

121 thoughts on “(Indonesia Version) One Last Shot – Part 9

  1. OngkiAnaknyaHan says:

    aish manis banged sih kyuhyun ini
    bikin gemes deh >,<

    cieeee yg nyatain cinta , kira2 ditrima gak ya sama eungi ? secara eungi kan masih belum move on dari siwon

    Liked by 1 person

  2. melisayoonhaeharuoneday says:

    Semakin dalam mengenal kehidupan eungie , hanya kepahitan yang makin banyak ditemui. Salut dengan sosok wanita ini,,dia bisa bertumbuh jd wanita yg kuat karna gesekan2 kejam masa lalunya. Gak bs dibayangkan gimana sakitnya dibully karna orang tua yg cacat… TT

    Liked by 1 person

  3. melisayoonhaeharuoneday says:

    Semakin dalam mengenal kehidupan eungie , hanya kepahitan yang makin banyak ditemui. Salut dengan sosok wanita ini,,dia bisa bertumbuh jd wanita yg kuat karna gesekan2 kejam masa lalunya. Gak bs dibayangkan gimana sakitnya dibully karna orang tua yg cacat… TT
    Dan kyu…kamu tau saat yg tepat utk mengungkapkan perasaanmu. Haha

    Liked by 1 person

  4. Lovecho says:

    Trnyata hidup eungi itu sulit.. keadaan yg menuntut dia mnjadi setegar ini skrg..
    Klo aku malah pling gk tega klo liat org2 yg berkebutuhan khusus.. apalagi klo smpe dibully kayak gitu.. kesel aja bawaannya klo msih ada org yg suka bully..
    Aw aw aw.. kenapa malah aku yg snyum2 sndiri hahaha.. momen terakhir mereka itu kenapa malah bikin aku tersipu ya bacanya.. so sweet bngettt.. aku jdi meleleh…

    Liked by 1 person

  5. Christellee says:

    Aduh eonni keren banget sih..
    Aku ga nyangka kalau masa kecil eungi kayak gitu, ibu kandungnya pergi setelah melahirkan dia terus ayah menderita developmental disability. Aku salut banget sama eungi.
    Moment kyu-gi disini bikin melting.. Santai tapi asik.

    Liked by 1 person

  6. Tyascemond says:

    Ternyata kisah eungi banyak yang mengharukan 😭😭😭

    Aku smpe nangis” bacanya…
    Pas eungi dipisahin dr papanya trus ga lama kemudian papanya meninggal 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

    Dalem parah..
    Penjabaran ceritanya warbiasa ka👍

    Adega terakhir ya ampun 😍😍😍😍😍
    Berasa aku yg deg degan 🙈

    Next ya ka💕

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s