(Indonesian Version) One Last Shot – Part 8

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Dua minggu sudah dihabiskan Kyuhyun untuk menggali informasi tentang Choi Siwon. Ia ingin tahu seperti apa sosok pria yang berhasil meluluhkan hati Eungi, ingin tahu pencapaian besar apa yang dimilikinya hingga ia berani melamar wanita dengan kaliber mengagumkan seperti Eungi, cara pandang pria itu tentang hidup hingga Eungi memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama pria itu. Namun ada satu hal yang membuat pencarian Kyuhyun menjadi lebih sulit, ia tidak tahu wajah Siwon—karena ada banyak sekali orang bernama Choi Siwon di seluruh dunia dan ia harus mengeliminasi banyak kemungkinan agar bisa menemukan pria yang dicarinya.

Setelah pencarian seksama yang memakan banyak waktu, Kyuhyun akhirnya memfokuskan perhatiannya pada Siwon yang merupakan seorang penggemar mobil sport. Ia ingat salah satu hal yang pernah Eungi katakan tentang ketertarikannya akan mobil berasal dari tunangannya. Ada satu buah artikel di majalah otomotif meliput Choi Siwon—yang mengendarai sebuah Audi, dan insting Kyuhyun mengatakan bahwa orang ini bisa menjadi kandidat stalking-nya yang terbaik diantara Siwon-Siwon lain.

Dari temuan awalnya, Kyuhyun juga menemukan beberapa artikel yang menjelaskan sepak terjang Choi Siwon dalam dunia pendidikan. Pria pemilik Audi itu ternyata juga seorang kurator kelas internasional, ia diberitakan sedang menunggu pemberian gelar professor dari salah satu universitas di Perancis, dan pria ini memiliki gelar yang sama banyaknya dengan Eungi, seolah semua biografi singkat itu belum cukup mengagumkan, Siwon juga seorang philanthropist yang memiliki misi utama untuk membantu anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Jelas Kyuhyun bisa membayangkan wanita yang dicintainya mengencani pria sehebat ini, tapi yang paling membuatnya kesal adalah penampilan tunangan Eungi. Awalnya Kyuhyun berharap wujud Siwon akan terlihat seperti pria kebanyakan, dengan paras yang biasa-biasa saja tapi bisa membuat wanita luluh dengan pencapaiannya—tapi tidak! Selain portofolio mengagumkan yang dimiliki pria itu, ia juga sangat tampan. Dengan tubuhnya yang tinggi tegap, Choi Siwon pastilah terlihat sempurna ketika mengenakan piyama tidur, pakaian sehari-hari, bahkan jas pengantin. Setiap fitur di wajahnya bagai dipahat sendiri oleh Tuhan dan Kyuhyun yakin, Eungi pasti sangat menyukai pemandangan di saat pria itu tersenyum—karena seluruh foto pria itu menunjukkan senyuman tulus yang tersampaikan pada sinar matanya.

Kyuhyun menggaruk kepalanya frustrasi, ada satu bagian dari dirinya yang merasa malu. Jika memang ia harus bersaing dengan pria sekeren ini, jelas ia akan menjadi pecundang bodoh. Tapi pria itu masih mencoba berpikir positif, karena ia baru melakukan pencarian yang sifatnya masih ‘permukaan’.

Sepanjang hidupnya, Kyuhyun selalu percaya dua sisi yang ada pada masing-masing manusia, hal ini membuat ia selalu mengantisipasi perbuatan buruk dari semua orang yang mencoba bermanis-manis padanya. Mindset ini juga ia bawa dalam misi stalking-nya. Ia tahu kalau yang terpapar di sisi terang dunia internet memang terdengar sangat baik, tapi ia yakin bahwa ketika ia mulai mendalami sisi buruk dari kecanggihan teknologi saat ini, ia pasti akan menemukan kecacatan pada reputasi Siwon.

Mengapa ia percaya Siwon memiliki agenda lain? Karena Bahasa tubuh Eungi yang selalu terlihat canggung ketika membicarakannya. Meskipun wanita itu berkali-kali berkata bahwa pria itu adalah tunangannya, ia tidak terlihat bahagia. Sorot sendu dari kedua mata wanita itu mengirimkan pesan yang samar bagi Kyuhyun, cara Eungi yang selalu terlihat menutupi kerapuhannya dengan memeluk tubuhnya sendiri setiap kali topik Siwon terangkat, usaha wanita itu untuk langsung mengalihkan topik pembicaraan—entah apa masalah Eungi, tapi Kyuhyun yakin Siwon tidak sepenuhnya hebat seperti yang ditampilkan di artikel-artikel temuannya. Jika ia boleh berasumsi, maka tebakan utamanya adalah Siwon merupakan seorang pria masokis yang suka menyakiti Eungi, tapi ia akan melakukan pencarian lebih dalam tentang ini nanti.

Dua minggu sudah berlalu dari insiden ciuman mereka—yang Eungi lupakan tanpa sengaja—dan Kyuhyun sekarang harus belajar menerima fakta bahwa ‘tidak semua wanita di Seoul ternyata mengaguminya’. Pria itu memutuskan untuk menjadikan ciuman itu sebagai kenangan manis untuk disimpannya seorang diri. Meskipun ia mencintai Eungi, ia tidak mau memperkeruh suasana dengan menjadi orang ketiga dalam hubungan Eungi dan Siwon—well, paling tidak untuk sementara. Kyuhyun akan tetap mengagumi dosennya itu dari jauh asalkan Eungi bahagia. Hanya ketika Choi Siwon menyakiti Eungi, baru Kyuhyun akan turun tangan.

Waktu sudah nyaris tengah malam ketika ia mendengar bunyi perutnya yang memberontak kelaparan, ia terlalu seru dengan aktifitas stalking-nya hingga lupa untuk mencari makan. Dengan hembusan napas panjang, ia memutuskan untuk menyudahi investigasi virtualnya untuk sementara, dan ketika ia berniat mematikan laptop, ponselnya bergetar.

Ia melirik sinis pada ponselnya, siapa yang mencarinya nyaris tengah malam seperti ini? Tapi begitu dilihat nama Eungi yang tertera di layarnya, Kyuhyun segera menjawab.

“Ne noona?” Sapanya hangat.

“Maaf aku menelpon semalam ini.” Jawab Eungi pelan. “Kuharap aku tidak membangunkan atau mengganggumu.”

Kyuhyun tersenyum, “Aku baru saja berencana mencari makan.”

“Jam segini?”

“Ng, terlalu seru dengan pekerjaanku hingga aku lupa waktu.” Balasnya, “terlalu banyak bergaul denganmu membuatku menyerap etos kerja tidak tahu waktu, noona.”

“Cih, paling kau sedang bermain game.” Ledek Eungi.

“Ada apa noona? Apa kau mau menemaniku mencari makan malam?” Tawar Kyuhyun, setengah berharap ajakannya diterima. “Aku bisa menjemputmu dalam waktu kurang dari sepuluh menit.”

“Aku baru saja selesai makan.” Terdengar suara samar yang menunjukkan wanita itu sedang meneguk air dari gelasnya. “Tapi ngomong-ngomong, aku menelponmu tentang presentasi Kopenhagen.”

“Aku sudah mengirimkan laporannya padamu, bukan?”

“Kau mengirimkan video dan foto-foto kegiatan itu, Kyu. Bukan laporannya.” Wanita itu menarik napas dalam, “Tapi harus kuakui kau terlihat keren sekali ketika presentasi di atas podium itu. Aku sangat bangga padamu, karena kau juga berhasil membuat si Hwang sialan itu terlihat seperti orang dungu.”

Kyuhyun terkekeh, “Ey, aku hanya menunjukkan protesku padanya dengan cara yang lebih profesional. Maafkan aku, karena aku hanya bisa membelamu dengan cara seperti itu.”

“Justru aku yang harus berterima kasih, pertama karena kau menjaga keotentikan presentasiku, kedua karena kau tidak banyak tanya tentang alasanku mengundurkan diri, dan terakhir karena..” Eungi berhenti bicara, ia harus berpikir keras untuk mencari kata-kata yang tepat.

“Karena apa noona?”

“Hmm..” Ia berhenti lagi, “Entahlah bagaimana cara mendeskripsikannya, kurasa aku benar-benar berterima kasih dengan cara tersiratmu untuk membelaku, kau  menggunakan cara yang sangat professional yang dewasa tanpa berbuat ulah sama sekali di acara itu.”

Pria yang baru dipuji itu menyengir girang, “Aku akan membalas perbuatannya padamu dengan cara lain, percayalah.”

“Tidak ada yang perlu dibalas, Kyu. Lebih baik kau fokus saja dengan studimu. Kalau kau memang mau membalas dendamku pada pria itu, kau harus menepati janjimu untuk menjadi pria hebat yang lulus tahun depan. Dengan cara itu, aku bisa menyombong padanya serta seluruh dosen-dosen lain yang merendahkanmu dan bilang ‘sudah kubilang, Cho Kyuhyun itu anak hebat!’ kemudian aku bisa hidup dengan tenang.”

Kyuhyun tertawa, “Noona, kau membuatku makin penasaran tentang perdebatanmu dengan kakek busuk itu.”

“Sudahlah, suatu saat aku akan cerita padamu, tapi tidak malam ini. Malam ini, aku membutuhkan laporan seminar itu.”

“Untuk?”

“Meskipun aku menyerahkan salah satu hasil penelitian itu untuk Hwang, bukan berarti seluruh penelitianku jadi gagal total bukan? Yang kau presentasikan itu hanya secuil dari keseluruhan rangkaian ideku—jadi aku tetap butuh laporannya.” Jelas Eungi sabar.

“Baiklah, biar kususun malam ini. Kau yakin tidak mau menemaniku makan noona?”

“Aku—” Kata-kata Eungi terpotong oleh bunyi bel yang terdengar jelas di telepon. “Sebentar, sepertinya aku kedatangan tamu.”

“Jam segini?” tanya Kyuhyun bingung. “Ya! hati-hatilah.”

“Tunggu, aku cek dulu.” Eungi menjawab ragu.

Kyuhyun mendengar bunyi telepon yang diletakkan di atas meja. Suara berikut yang didengarnya sontak membuat pria itu langsung tersentak dalam kondisi awas dan kebingungan.

“DASAR KAU PELACUR TIDAK TAHU MALU! KAU SEHARUSNYA MATI!! KALAU BUKAN KARENA KAU!!” Seorang wanita berteriak kencang disusul dengan bunyi pecahan gelas.

“Oemoni.” Suara Eungi terdengar jauh, Kyuhyun yakin bahwa sekarang wanita itu sudah lupa kalau ia masih bisa mendengarkan kegiatan Eungi dari ponselnya.

“HAL ITU TIDAK AKAN TERJADI KALAU DIA TIDAK MENGIKUTIMU KE PARIS! DAU KAU, KAU BERANI MENUJUKKAN WAJAHMU DI NEGARA INI SETELAH APA YANG TERJADI! DASAR TIDAK TAHU MALU!!”

Suara pecahan beling berikutnya kembali terdengar, Kyuhyun sadar bahwa memanggil-manggil nama Eungi sekarang adalah pekerjaan yang sia-sia. Pasti wanita itu sedang sibuk menghadapi ulah tamu tengah malamnya yang kini sibuk mencaci-makinya.

Kyuhyun segera mengambil kunci mobil, suara teriakan Eungi yang terdengar jelas di telinganya membuat pria itu mempercepat langkah untuk segera mendatangi rumah wanita itu. Meskipun ia tidak tahu permasalahan apa yang terjadi di sana, Kyuhyun yakin bahwa Eungi sekarang dalam bahaya—orang waras mana yang bertamu nyaris tengah malam untuk membanting-banting gelas dan meneriakkan kata-kata kasar.

Pria itu memacu mobilnya dengan cepat, mengerahkan seluruh skill ugal-ugalannya, memanfaatkan setiap celah jalanan untuk menggapai rumah Eungi secepat yang ia mampu. Kyuhyun tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika wanita itu sampai terluka dalam pengawasannya.

 

*

 

Cha Eungi berlutut pasrah di atas lantai kayu rumahnya, tatapannya mengarah pada kedua tangan yang terkepal di atas paha. Ia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun pada wanita paruh baya yang sekarang ada di hadapannya, Eungi juga tidak mampu menatap mata wanita itu, ia sadar bahwa semua yang terjadi memang kesalahannya—kesalahan yang menyebabkan ibu Siwon sekarang sibuk memporak-porandakan rumahnya. Satu hal yang bisa dilakukan Eungi hanyalah menangis; menangis karena rasa bersalah, menangis karena ia tidak bisa berbuat apa-apa, menangis karena tidak ada penjelasan yang logis untuk diberikan pada wanita yang sedang murka di depannya—memang salahnya-lah Siwon meninggal.

“KAU MASIH BERNAPAS SEKARANG KARENA DIA, DASAR WANITA JALANG!!” Wanita paruh baya itu tetap berteriak pada Eungi sambil membanting beberapa benda yang ada di dekatnya.

“Hukum aku, oemoni. Aku pantas mendapatkannya.”

Nyonya Choi menunduk sedikit untuk mendekati wajah Eungi yang masih tertunduk, dengan seluruh emosinya ia melayangkan tamparan pertama ke wajah Eungi.

“LALU APA EFEKNYA KALAU AKU MENGHUKUMMU?!! APA ITU BISA MENGHIDUPKANNYA KEMBALI?” Wanita itu menumpahkan rasa frustrasinya dengan memukulkan handbag di tangannya berkali-kali ke tubuh kurus Eungi. “KAU-MEMBUNUH-ANAKKU!”

Eungi menerima semua pukulan dari Nyonya Choi tanpa perlawanan dan sejujurnya ia tidak berani untuk mengelak atau membela dirinya sama sekali, dalam pikiranya Eungi percaya bahwa dosanya pada wanita ini akan berkurang jika ia sudah habis disakiti secara fisik, hanya dengan cara ini Eungi berharap mendapat pengampunan dari wanita yang juga mengalami kehilangan yang sama dengan dirinya. Sayangnya, sikap Eungi yang terkesan pasif justru membuat nyonya Choi semakin murka. Wanita itu sudah sangat putus asa, dan Eungi adalah satu-satunya saksi hidup yang melewati detik-detik terakhir kehidupan anaknya—anaknya yang mati konyol saat melindungi kekasihnya. Nyonya Choi tidak membutuhkan penjelasan maupun akal sehat, ia hanya perlu seseorang untuk disalahkan atas tragedi naas itu dan Eungi adalah sasaran empuk yang nyata baginya.

Level frustrasi Nyonya Choi sudah mengapai ambangnya, apalagi melihat Eungi yang masih saja tertunduk diam di depannya. Wanita paruh baya itu berharap Eungi akan bersujud meminta maaf padanya, berharap Eungi berkata kalau ia menyesali tragedi yang menimpa putra semata wayangnya, berharap calon menantunya itu setidaknya punya sedikit rasa penyesalan atas kejadiaan naas itu. Tapi Eungi tak bergeming, dan Nyonya Choi ingin melihat wanita muda itu memohon.

Pukulan handbag yang bertubi-tubi nampaknya belum cukup menyakiti Eungi, maka Nyonya Choi mulai mencari benda lain untuk menyakitinya. Mata ibu Siwon menangkap perabotan beling yang masih ada di atas meja makan Eungi, bekas piring, gelas dan botol minuman kaca yang belum sempat dibereskannya tadi. Dengan kemarahan yang semakin menjadi, Nyonya Choi merain piring makan di meja itu kemudian langsung membantingnya tepat di samping tubuh Eungi, berharap hal ini bisa menambah rasa takut dalam diri tunangan anaknya itu. Beberapa pecahan beling menyentuh kulit Eungi, tapi wanita itu tetap saja tidak bergerak dari tempatnya.

Kesal karena usahanya belum berhasil, Nyonya Choi mengambil gelas dan melakukan hal yang sama sekali lagi. Dan lagi-lagi Eungi masih tetap berlutut pasrah.

Kesabaran ibu Siwon sudah habis. Rasa sakit mendalam akan kehilangan anak lelakinya yang sempurna telah membutakan matanya. Ia tidak peduli jika ia harus mengotori tangannya sendiri untuk mendapatkan kata maaf dari Eungi, ia hanya ingin wanita muda di hadapannya menunjukkan sedikit saja rasa penyesalan dari tragedi sadis itu dan akhirnya wanita itu membiarkan setan dalam dirinya mengambil alih—ia tidak lagi peduli jika ia harus menghabisi nyawa Eungi sekarang.

Meskipun Eungi masih tertunduk pasrah, dari sudut matanya ia bisa melihat takdir yang akan segera menjemputnya. Nyonya Choi mengambil botol minuman beling yang ada di meja makan, dengan segenap tenaga yang tersisa, wanita paruh baya itu mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan botol tersebut ke tubuh Eungi.

Eungi menutup matanya rapat, dalam hati ia mengkalkulasikan kekuatan yang akan muncul dari gaya sentrifugal botol yang akan dilayangkan pada dirinya—lebih tepatnya pada kepalanya. Wanita itu menarik napas dalam saat deru angin yang beririsan dengan permukaan botol terdengar samar dan detik berikutnya ia mendengar suara pecahan kaca yang keras dari arah kirinya. Anehnya, ia tidak merasa kesakitan dari benturan itu.

Wanita muda itu membuka mata, mencoba mencari jawaban atas rasa penasarannya dan hatinya mencelos saat ia melihat Kyuhyun yang saat ini sudah berlutut di sampingnya, pria itu tengah melindungi sisi kepala Eungi. Barusan saja, pria itu menangkis serangan botol itu dengan lengan kirinya.

Memukul satu kali belum cukup bagi Nyonya Choi, apalagi setelah ia melihat kehadiaran seorang pria yang tiba-tiba datang untuk melindungi Eungi. Bagaimana mungkin wanita di hadapannya bisa langsung memiliki kekasih baru hanya beberapa bulan pasca kematian anaknya? Anak kesayangannya tewas melindungi wanita tidak tahu terima kasih di yang berlutut di depannya dan sekarang wanita itu justru sudah menemukan pria lain. Kehadiran Kyuhyun di tengah ruang makan Eungi telah memperburuk suasana hati ibu Siwon, dan sekarang ia memutuskan untuk melanjutkan aksinya pada target yang baru muncul.

Wanita paruh baya itu kembali melayangkan botol yang sudah pecah setengahnya kembali ke arah Kyuhyun; sekali, dua kali, dan seterusnya. Pada pukulan kesekian akhirnya nyonya Choi berhasil melukai Kyuhyun, pecahan gelas tajam pada ujung botol sukses menyobek kulit pria itu. Eungi tidak lagi bisa tinggal diam saat dilihatnya darah segar mulai menetes dari lengan bagian atas Kyuhyun.

Dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, Eungi melempar dirinya ke arah Nyonya Choi. Kedua lengannya memeluk tubuh ibu Siwon seerat mungkin sambil ia berusaha untuk melemaskan genggaman Nyonya Choi pada sisa-sisa botol kaca yang masih dipegangnya. Eungi tidak peduli jika ia harus terluka sekarang, asalkan Kyuhyun selamat dari amukan wanita di pelukannya.

“Oemoni, kumohon berhentilah. Kumohon oemoni jangan sakiti dia. Ini salahku! Aku yang harus kau hukum. Pria ini tidak tahu apa-apa, kumohon berhenti menyakitinya.” Tangisan Eungi pecah.

Ia sudah kehilangan satu pria hebat dalam hidupnya, pria itu tewas karena melindunginya. Jelas ia tidak membutuhkan volentir lain untuk membuat beban hidupnya semakin berat.

“KAU MEMBUNUHNYA!!” Nyonya Choi meraung putus asa. “DIA ANAKKU SATU-SATUNYA DAN KAU MEMBUNUHNYA.” Perlahan nada teriakan Nyonya Choi melemah, wanita itu mulai memukuli punggung Eungi dengan tangannya yang tidak memegang botol.

Eungi menerima pukulan demi pukulan dengan pasrah, karena ia tahu semua nyeri di tubuhnya saat ini tidak sebanding dengan panasnya timah yang menembus tubuh Siwon di malam naas itu.

“Oemoni, aku bahkan tidak berani meminta maaf padamu.” Ujar Eungi terbata-bata diantara tangisannya. “Aku tidak pantas melakukan itu, aku tidak berhak mendapatkan pengampunan darimu. Itu semua salahku dan aku pun hidup dengan bayangan mengerikan itu setiap malam.”

Tubuh Nyonya Choi melemas, akhirnya ia mendengar kata-kata yang ingin didengarnya dari Eungi.

“Rasa kehilangan yang kurasakan pastilah tidak sebanding dengan yang kau rasakan, tapi aku ingin kau tahu kalau aku berterima kasih padanya, dan di saat terakhirnya ia memintaku untuk tetap hidup. Maafkan aku, karena saat ini aku hanya berusaha melaksanakan permintaan terakhirnya.” Tangisan Eungi semakin keras.

Kedua wanita itu sekarang sama-sama menangis untuk menghilangkan rasa sakit yang mereka rasakan dalam hati masing-masing. Tentu saja nyonya Choi paham bahwa semua ini bukan salah Eungi, tapi kebutuhannya untuk mencari kambing hitam, keinginannya untuk menyalahkan seseorang dari tragedi menyakitkan ini telah menuntunnya ke rumah Eungi malam ini.

Perlahan Eungi menyentuh tangan ibu Siwon yang masih menggenggam botol kaca, ia melepaskan tautan jemari wanita paruh baya itu dan segera mengamankan senjata dadakan yang sempat digunakannya untuk menyakiti Kyuhyun barusan. Cukup satu pria saja yang harus berlumuran darah untuknya, Eungi tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Kyuhyun karena ulahnya.

 

*

 

Kyuhyun merintih kesakitan saat Eungi mengoleskan kapas berlumur alkohol pada lukanya yang masih basah. Belum ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya sejak Nyonya Choi pulang. Eungi hanya melemparkan sendal pada Kyuhyun untuk melindungi kakinya dari seluruh pacahan beling yang tersebar di lantainya, dan ia segera menarik pria itu untuk masuk ke dalam dapurnya, tempat di mana sekarang Eungi melakukan pertolongan pertama pada luka Kyuhyun yang lumayan besar.

Pria itu sendiri masih bingung dengan serangkaian kejadian yang terjadi di depannya. Ia nyaris saja menelepon polisi tadi seandaianya tamu Eungi tetap bersikeras memukul wanita yang dicintainya. Ia juga masih bingung dengan semua kata-kata yang keluar dari mulut mereka berdua, mereka berkata tentang pembunuhan, tewas, korban, tragedi—dan banyak lagi yang Kyuhyun tidak bisa pahami. Hanya satu hal yang bisa pria itu yakini sekarang, bahwa ekspresi Eungi ini pernah dilihat sebelunya. Raut kepanikan dan keputusasaan wanita itu terpancar jelas, seperti saat Kyuhyun menemukannya di kolong meja café berbulan-bulan lalu.

“Noona?”

“Shh.” Eungi tetap memfokuskan pandangan pada luka Kyuhyun. Ia melilitkan kain kasa beberapa kali di atas lukanya.

“Noona—”

Kata-kata Kyuhyun langsung dibalas dengan tamparan kencang pada wajahnya.

Pria itu meringis sedikit karena sensasi panas yang menyerang pipinya tanpa peringatan, ia memandang Eungi dengan tatapan tidak percaya. Apa yang telah dilakukannya hingga Eungi merasa ia pantas ditampar?

“JANGAN LAGI-LAGI KAU BERANI MELAKUKAN ITU KYUHYUN-A!” Air mata kembali turun dari pelupuknya. “Jangan lakukan itu, jangan pernah mencoba melindungiku dari apa pun, jangan pernah mengorbankan dirimu sendiri untuk menjagaku.” Wanita itu terisak sambil memukul tangan Kyuhyun yang tidak terluka.

Tamparan dan pukulan Eungi kini tidak terasa menyakitkan bagi pria itu, tidak sebanding dengan rasa nyeri di hatinya saat ia menyaksikan Eungi menangis. Kyuhyun mulai paham akan situasi mereka, sepertinya Eungi menamparnya bukan karena ia melakukan kesalahan. Tapi karena Kyuhyun telah membuatnya khawatir.

“Aku tidak bisa tinggal diam melihat kejadian tadi, noona. Wanita itu mengarahkan botol ke kepalamu! Untung saja pintumu tidak tertutup, sehingga aku bisa langsung masuk. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi jika aku terlambat satu detik saja.” Kyuhyun menyapukan ibu jarinya di wajah Eungi untuk menghapus air matanya.

“Kalau memang itu yang harus terjadi, biarkanlah! Jika aku memang harus terluka, jika aku harus mati karena hal itu kau harus membiarkannya!” Nada bicara Eungi meninggi.

“Dan aku harus menontonnya saja? Melihat dirimu kesakitan? Ap akau masih war—”

“Aku pantas mendapatkannya, Kyu!” Potong Eungi. “Bahkan jika wanita itu ingin membunuhku, aku pantas mendapatkannya. Hanya ada satu orang di dunia ini yang berhak mengambil nyawaku—dan ia adalah wanita yang kau temui barusan.” Tubuh Eungi mulai bergetar, ia sedang berusaha keras untuk tetap berdiri tegak di hadapan Kyuhyun. “Jangan pernah mencoba menyelamatkanku lagi, aku tidak sepadan untuk itu.”

Pria itu meletakkan kedua tangannya pada bahu Eungi, mencoba untuk menenangkan kondisi kalut wanita pujaannya.

Sorot mata Kyuhyun melembut, lagi-lagi wanita ini menunjukkan sisi rapuh dirinya. “Noona, kau adalah satu-satunya orang yang percaya padaku, bahkan disaat semua orang merendahkanku. Kau mengangkatku dari kubangan kotor dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri dan bersinar.” Ia menarik Eungi untuk mendekat pada tubuhnya. “Aku tidak tahu cara pandangmu akan dirimu sendiri. Tapi bagiku, kau sepadan dengan seluruh hidupku—you worth my life.”

Jantung Eungi serasa jatuh dari rongganya. Apa yang diungkapkan Kyuhyun terdengar sangat indah di telinganya, tapi hal itu justru membuatnya takut. Ia tidak sanggup jika harus ada pria lain yang tewas mengenaskan karena melindunginya.

“Kyu, kumohon jangan katakan hal itu. Aku tidak bisa..”

“Aku tahu dan aku janji untuk tidak mengganggu gugat hubungannmu dengan Siwon-ssi. Aku hanya ingin kau paham seberapa berharga dirimu dalam hidupku.”

Tangis Eungi semakin menjadi. Sepertinya Kyuhyun sudah salah paham dengan kata-kata Eungi barusan, sepertinya Kyuhyun menangkap bahwa Eungi baru saja menyuruhnya untuk tidak mengganggu hubungannya dengan Siwon—padahal bukan itu maksudnya. Wanita itu sekarang mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk mengungkapkan fakta yang telah disangkalnya dalam lima bulan terakhir.

“Bukan karena itu.. Kyuhyun-a..” Eungi menyedot ingus di hidungnya. “Bukan.. karena..”

Kyuhyun menunggu Eungi menuntaskan kalimatnya dengan sabar. Wanita itu sekarang terlihat seperti sedang berpikir keras untuk mengatakan sesuatu.

“Aku..” lanjut Eungi.

Pemandangan di hadapan Kyuhyun sekarang jelas lebih buruk dari momen-momen lemah Eungi lainnya. Memang wanita ini pernah beberapa kali menangis dihadapannya, tapi belum pernah ia terlihat seperti ini. Kalau Kyuhyun tidak menahan kedua bahu Eungi, mungkin wanita itu seakrang sudah tersungkur di lantai.

“Aku.. aku membunuhnya.” Eungi menggigit bibirnya untuk menyalurkan rasa sakit dalam hatinya.

Kyuhyun mempererat genggamannya pada bahu Eungi, ia jelas bingung dengan pernyataan yang keluar dari mulut wanita itu dan sekarang ia mencoba mengolah maksud tersirat dari kata-katanya.

“Lima bulan lalu.. aku.. membunuhnya..” Eungi mengucapkan setiap kata dengan terbata-bata. “Choi Siwon.. ia..”

Kyuhyun harus menahan napasnya, ia tidak tahu apa yang akan dinyatakan Eungi berikutnya.

Dengan satu hembusan napas, Eungi menuntaskan kalimatnya. “Ia sudah meninggal.”

Seiring dengan pernyataannya, Eungi langsung merasa seluruh pertahanannya runtuh. Lima bulan terakhir telah dihabisakan untuk membuat hidupnya tetap bermakna agar kematian Siwon tidak sia-sia. Eungi sudah mencoba berbagai cara untuk menjaga kewarasannya, ia bergadang semalam suntuk untuk menghindari bayangan buruk yang menghantui mimpinya, ia telah menenggelamkan diri dalam perkerjaannya untuk mengalihkan fokus dari rasa kehilangan, ia bahkan mencoba mencari secuil keindahan hidup dari kesehariannya demi menghindari diri dari depresi, tapi sekarang ia sudah terlalu letih untuk berdusta. Eungi tidak pernah menyatakan kematian Siwon pada siapa pun, termasuk dirinya. Karena ia tahu, detik ia menyatakan hal itu, maka kematian Choi Siwon benar-benar menjadi nyata. Wanita itu telah menghabiskan lima bulan hidupnya untuk berpura-pura sedang menjalani hubungan jarak jauh—semata-mata hanya untuk membantu dirinya sendiri melawati kesepian tanpa kehadiran pria itu lagi dalam hidupnya.

Namun malam ini ia telah menyatakannya, malam ini Choi Siwon benar-benar telah tiada—dan fakta menyedihkan ini masih tetap memilukan bagi Eungi, layaknya lima bulan yang lalu.

Seumur hidupnya, Kyuhyun belum pernah merasakan kesakitan yang begitu mengakar pada dirinya. Ironisnya lagi, ia benar-benar tidak paham penyebab dari rasa sakitnya: Apakah karena Eungi yang sekarang terlihat sedang hancur di hadapannya? Apakah air mata wanita ini yang sudah tidak mampu dibendungnya? Atau mungkin pengakuan Eungi yang janggal? Kyuhyun tidak bisa berpikir jernih sekarang, tapi yang jelas ia merasa langit di atas jatuh menghantamnya saat ini juga.

Meskipun ia memiliki banyak pertanyaan, Kyuhyun memilih untuk melakukan satu hal yang patut ia lakukan untuk Eungi sekarang. Wanita itu tidak perlu pertanyaan, ia juga tidak memerlukan basa-basi untuk menyemangati hidupnya, meskipun pernyataannya cukup menggemparkan, Kyuhyun sadar bahwa Eungi tidak perlu merasa dihakimi sekarang. Yang dibutuhkan Eungi adalah seseorang yang bisa memberi rasa aman untuknya.

Kyuhyun memutuskan untuk menjadi pria yang Eungi butuhkan. Ia menarik tubuh Eungi mendekat pada tubuhnya, kedua lengan kokohnya melingkari tubuh Eungi yang masih bergetar dan ia segera mendekap Eungi erat. Wanita itu menangis, menumpahkan seluruh kepedihannya di pundak Kyuhyun. Eungi nyaris meraung sambil terus membenamkan wajahnya ke dalam lekukan leher pria yang dengan sabar tetap mendekapnya.

“Aku di sini, noona. Kau boleh menangis sepuasnya. Aku tidak akan pergi keman-mana.” Bisik Kyuhyun pelan.

Wanita itu perlahan mengangkat kedua lengannya untuk dilingkarkan di pinggang Kyuhyun, Eungi memeluk Kyuhyun erat sambil ia melanjutkan tangisan yang selama ini dipendamnya. Malam ini, dalam keadaan sadar, Cha Eungi mengizinkan Kyuhyun untuk melihat kerapuhan dirinya, untuk mendampinginya. Ia membiarkan pria itu menjadi sandarannya, dan dalam hati ia bersyukur karena pria ini masih tetap berada di sisinya.

 


author’s note:

Yes, it’s shorter than the average post i usually do.. 😦

untuk Kyu-Gi momen tunggu next part, okeh? Janji deh next part nggak sependek ini.. tapi mengingat konteks chapter ini adalah untuk mengungkapkan tentang Siwon, aku ngga bisa sambungin sama chapter berikutnya.

seperti biasa, terima kasih yang sudah kritik dan komen.. kalian bener-bener menghibur aku dan bikin semangat~~ mudah-mudahan tetep sabar nungguin aku terjemahin tulisan ini dari versi aslinya.. :*

Advertisements

129 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 8

  1. Wina says:

    Annyeong… Saya pengunjung baru sih sebenarnya, pernah baca ini fd ini d blog sebelah, eh.. baru tau autor ya punya blog sendiri, cerita nya keren banget.. semangat terus buat nulisnya… fighting ;))

    Liked by 1 person

  2. fitr D says:

    Sedih pengen nangis… Eh udah nangis ternyata. Ceritanya benar benar menyayat hati. Rasanya aku nonton film bukan baca tulisan. Baper deh! Terus berkarya dan menginspirasi banyak orang!

    Liked by 1 person

  3. missluck says:

    Ternyata d sini cerita’a pendek 2 z.
    Pantes j d blog sebelah panjang2. Spy part’a g kebanyakan kali g ky d sini.
    Sekarang Kyuhyun tau kebenaran tentang Siwon yg sudah meninggal.
    Dan dia berhasil membuat diri’a sbg tempat sandaran Eungi.

    Liked by 1 person

  4. faridha says:

    Jangan patah semangat kyu kalo berusaha pasti bisa kalo emang udah usaha gak dapet juga udah pasrah ajj hhhahah
    Ya tuhan kasiannya dosen kece di pukulin mantan mertua…kyu gentle banget

    Liked by 1 person

  5. hyokwang says:

    kirain itu perempuan yg g suka sama kedekatan eungi n kyuhyun, eh ternyata malah ibunya siwon.. wajar lah ibunya siwon ngelampiasin semua ke eungi, anaknya yg sempurna meninggal gara2 ngelindungin eungi..

    Liked by 1 person

  6. starlily16 says:

    Kyuhyun .. Semoga bisa menggantikan posisi siwon dihati eungi. Bukan menggantikan sih siwon sampai kapanpun akan jd kenangan yg indah buat eungi tp menjadi lelaki selanjutnya yg meneruskan posisi siwon. Melindungi eungi, tp ya eungi masih trauma ya atas kejadian di paris. Dia Khawatir kalau kyuhyun akan bernasib sama dengan siwon.

    Liked by 1 person

  7. omiwirjh says:

    Kyuhyun udh tahu sekarang kebenaran tentang siwon. Hanya saja dia belum tahu apa yang menyebabkan siwon meninggal. Aku bayangun keras banget adegan waktu ibu siwon mukulin eungi. Perasaanya gimana coba cali menantu ya yg dulu dia oerlakuin seperti itu.

    Liked by 1 person

  8. irenpoluan2301 says:

    Kasihan eungi, sebenarnya diakan gak salah.. tpi karna kehendak Tuhan siwon meninggal. Emang sih teroris yg nembak siwon itu yg menyebabkan siwon meninggal, tpi bukan kemauan eungikan..
    Hwaaau kok eungi yg disalahkan ama mamanya siwon T.T

    Liked by 1 person

  9. ndy6262 says:

    Hay min ini pertama kali aku ngengunjungi blog admin
    Biasanya aku baca cerita ini di blog sebelah wkwk tapi karna penasaran akhirnya aku nyari blog admin dan ketemu yeayy
    Maaf min aku commentnya langsung di part ini
    Dan aku gaknyangka ternyata disini ceritanya udah end haha
    Sukses terus min

    Liked by 1 person

  10. Melsyana says:

    Walaupun dari luar eungi tampak kuat, tapi sebenarnya Ia adalah perempuan yg sangat rapuh. Untung sebelum ibunya siwon berniat membunuh eungi, kyu datang tepat waktu dan setelah kejadian itu-kyu mengetahui semua masa suram eungi, walau tidak semuanya.

    Liked by 1 person

  11. sweetrizzu says:

    Aku emg baru sekali ini baca OLS dan msh sampe part 8 tapi aku yakin pilih part 8 ini jd yg plg favorit..
    Bacanya di tempat umum dan tiba” nangis pas bagian Eungi sm Eomma Siwon sampe ditegur orang aku knpa.. Cuacanya disini hujan jd asal jawab aja lagi baper padahal hahahaha
    Kakak jago bgt sih~

    Liked by 1 person

  12. Afa hyerin says:

    Uhhhhhh… Aku suka vanget sikap gentle kyu disini… Dan kyu akhirnya tahu siwon udah meninggal… Tp masihlah bakalan cemburu ntar ya? Si kyu…. Eungi ya yang kuat eoh.. Ada kyuhyun disampingmu….

    Liked by 1 person

  13. Dyana says:

    Sedih rasanya melihat keadaan Eungi, namun Nyonya Choi memang tak bisa jg di salahkan, anaknya harus meninggal dalam tragedi itu, ibu mana yg bisa rela. Tp amarahnya bnr2 sudah berlebihan untung sang pahlawan datang tepat waktu…
    Kyuhyun… Aku suka sekali karaktermu disini, jaga selalu noona cantik itu, oke? Haha…

    Liked by 1 person

  14. OngkiAnaknyaHan says:

    mewek dah baca part ini
    gak tau kenapa ikutan sedih aja
    nyesek gitu rasanya

    bahkan ibunya siwon masih belum ngiklasin anak
    malah ngelampiasin rasa dukanya pasa eungi

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s