(Indonesian Version) One Last Shot – Part 7

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Cha Eungi bergerak-gerak dalam tidurnya, ia mengganti posisi sambil membenamkan wajah lebih dalam lagi ke dalam permukaan lembut yang ada di bawahnya—sambil menikmati aroma maskulin samar yang tersisa di atas permukaan bantalnya. Ia menyukai kehangatan yang sekarang menyelimutinya dan jelas ia juga merasa sangat nyaman berada di atas ranjang yang super lembut ini. Penerangan di ruangan itu redup, sehingga kornea matanya tidak tersakiti ketika ia membuka mata. Ia mengerjap beberapa kali sambil mengumpulkan kesadaran dan seketika saja nyeri hebat di kepalanya langsung menyerang, rasanya seperti ada yang memukulkan palu gada terus-menerus di dekat lehernya dan ia perlu mengedip beberapa kali untuk mempelajari ruangan tempatnya bagun.

Matanya berjalan dari jendela besar di sisi kiri ruangan ke arah langit-langit yang terbuat dari kayu di atasnya, kemudian perhatiannya berpindah pada kamar yang agak berantakan ini, baru akhirnya ia tersentak sadar bahwa ia tidak sedang di dalam kamarnya sendiri. Dengan cepat Eungi mengangkat tubuhnya—yang berefek pada denyutan lebih hebat lagi pada kepalanya—dan wanita itu segera mengerang kesakitan.

Erangan Eungi mencuri perhatian Kyuhyun yang sejak tadi duduk di atas sofa sambil membaca koran pagi, tepat di sebrang tempat tidur di mana wanita itu berbaring. Pria itu telah mengamati wajah lelap Eungi sejak semalam dan ia boleh bernapas lega karena akhirnya wannita itu sudah sadar.

“Apa kau sudah benar-benar bangun, noona?” Ia bangkit dari duduknya untuk melangkahkan kaki mendekati tempat tidur. Dengan santai Kyuhyun duduk di tepi tempat tidur sambil memandang Eungi dengan senyuman geli.

“Berhenti bicara keras-keras, kepalaku pusing.” Eungi menutup kedua telinganya, usianya tidak bisa lagi berbohong karena semakin bertambah tua, toleransi Eungi terhadap efek hang-over semakin payah.

Kyuhyun terkekeh, ia mengangkat sebelah tangannya untuk menyentuh dahi Eungi. Wanita itu hanya bisa diam sambil memandang Kyuhyun dengan bingung.

“Demam-mu sudah turun, syukurlah. Tubuhmu panas sekali semalam, nyaris saja aku bawa kau ke rumah sakit.” Ia tersenyum lembut pada Eungi.

Meskipun saat ini Eungi sedang dalam transisi hang-over, perlahan ia bisa mencerna situasi yang terjadi saat ini. Ia ingat bahwa mereka pergi ke pantai kemarin dan ia juga ingat aksi minum-minum ceroboh yang memang kelewat batas, hanya saja sekarang Eungi kesulitan mengingat serpihan-serpihan kejadian malam kemarin yang masih samar-samar muncul di memorinya.

“Tunggu, aku ada di mana?” Eungi menepis tangan Kyuhyun yang masih di dahinya dengan pelan.

“Tempatku.”

“Ya Tuhan, tolong bilang padaku kalau kau tidak tinggal bersama orang tuamu.” Kemungkinan horror bahwa Eungi terbangun dalam keadaan mabuk di kamar anak bosnya mulai membuatnya panik.

“Aku tinggal sendirian noona, ini apartemen pribadiku.”

Eungi mengangguk. Baru saja ia ingin menghibur diri bahwa ulah mabuknya tidak terlalu berakibat fatal, justru kepanikan berikutnya datang setelah ia menunduk dan melihat apa yang ia kenakan.

“Apa ini?” Eungi menarik sweater hijau tebal yang sekarang membungkus tubuhnya. Dengan segera, ia menyingkap selimut yang menutupinya untuk melihat kondisi tubuh bagian bawahnya dan segera meringis ketika ia sadar bahwa pakaian yang dikenakannya hanyalah sweater itu dan pakaian dalamnya saja.

“Gaunmu basah-kuyup, aku tidak mau kau semakin demam, jadi..”

Eungi memukul pipinya sendiri dengan kasar sebelum akhirnya ia menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan. “Apakah kau..” ia mencoba mencari kata-kata yang tepat, tapi tidak berhasil menemukannya. “Gaunku, apakah kau.. ehm, kau..”

“Aku menggantikannya untukmu? Iya.” Aku Kyuhyun. “Aku tidak bisa membiarkanmu tidur dalam gaun basah itu, kau sudah sangat kedinginan kemarin dan kau demam. Aku tidak bisa mengambil resiko yang mengakibatkan kondisimu menjadi lebih buruk, noona.”

Eungi meremas selimut di genggamannya dan segera menarik benda itu untuk menutup seluruh wajahnya sambil ia menghempaskan tubuh kembali ke bantal, disusul dengan raungan dari balik selimutnya. “Apa kau melihat semuanya?” Ujarnya sambil masih bersembunyi untuk menutupi rasa malunya.

Kyuhyun tersenyum sambil menarik selimut Eungi agar ia bisa menatapnya kemudian menggeleng. “Aku tidak tertarik mengambil keuntungan dari seseorang yang sedang mabuk. Dan kalau-kalau kau sekarang sedang sibuk membayangkan bagaimana caraku mengganti bajumu, aku menutupi tubuhmu dengan selimut selama aku melepas gaunmu—aku bersumpah aku tidak mengintip sama sekali.”

Eungi justru makin merengek karena fakta yang memalukan itu. “Keteranganmu tidak membuatku merasa lebih baik.”

Kyuhyun tersenyum geli melihat tingkah polos dosennya. Jelas pria itu sekarang menikmati reaksi kekanakan yang Eungi lakukan, bagaimana mungkin wanita ini bisa menatapnya dengan wajah innocent yang merona kemerahan. Menyaksikan hal ini saja sudah cukup membuat hatinya berbunga-bunga, apalagi setelah Kyuhyun menyadari bahwa ini adalah kali pertama baginya—kali pertama di mana ia membiarkan seorang gadis menginap tanpa melakukan aktifitas ‘fisik’ apa pun.

Wanita itu tiba-tiba teringat sesuatu, ia segera bangkit dan menyeru pada Kyuhyun. “YA CHO KYUHYUN!! TUNJUKKAN PONSELMU!”

“Ne?”

“BERIKAN PONSELMU PADAKU!” Lengannya kini terulur ke arah Kyuhyun, menuntut untuk mendapatkan apa yang ia minta.

“Kenapa?” Ia segera meraih ponsel dari meja di samping tempat tidurnya untuk diberikan pada Eungi—yang langsung merebut dari tangannya dengan kasar.

Just in case, hanya tindakan pencegahan.” Ia menyalakan display pada ponsel Kyuhyun, “Password?”

“1234.”

Wanita itu langsung memasukkan susunan angka yang diberikan dan tanpa ragu langsung mencari folder foto. Eungi ingat kemarin ia mengatakan bahwa ia percaya pada Kyuhyun, tapi pengalaman mengajarkannya untuk memastikan dua kali bahwa kepercayaannya tidak disalahgunakan. Ia tahu tentang seluruh rencana busuk pria di sampingnya dan sekarang ia berusaha keras untuk mencari gambar-gambar telanjang dirinya sendiri—mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga diri yang masih tersisa di hadapan Kyuhyun.

“Kau mencari apa, noona?” Kyuhyun menggeser duduknya semakin dekat pada Eungi untuk mengintip kegiatannya. “Kenapa kau memelototi folder fotoku? Ya! itu kan personal!”

Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk merebut kembali ponselnya dari Eungi, tapi wanita itu lebih cepat. “Aku mencari foto bugilku di dalam sini.” Ucapnya ketus.

Pria itu memutar bola matanya sambil menyeringai kesal, merasa sedikit kecewa karena meskipun Eungi mengatakan bahwa ia mempercayainya, wanita itu masih saja mencurigai Kyuhyun akan melakukan terror murahan itu. “Kau tidak akan menemukannya, noona. Aku sudah mengurungkan niatku sejak lama.”

Eungi tetap bersikeras mencari satu per satu foto yang ada di dalam folder Kyuhyun. Memang benar kata pria itu, tidak ada foto-foto yang aneh atau asusila, bahkan tidak banyak foto yang bisa ditemukan Eungi di dalamnya selain gambar fasad bangunan atau langit dengan kombinasi warna yang menarik. Tapi di dalam folder Kyuhyun terdapat banyak sekali foto Eungi yang diambilnya secara candid. Kebanyakan dari foto itu diambil di dalam kelas, karena Eungi terlihat berdiri di tengah ruangan dengan papan tulis putih di belakangnya. Ada juga foto dirinya yang sedang menatap serius ke dalam buku tebal di sudut perpustakaan kampus, serta yang paling aneh adalah foto dirinya yang tertidur dengan mulut manyun di coffee shop langganannya.

“Kyuhyun-a, kenapa kau punya banyak fotoku?” Ia mengangkat pandangannya dari ponsel Kyuhyun untuk segera menatap ke dalam mata pria itu.

Wajah Kyuhyun sontak memerah, ia langsung merebut ponselnya dari tangan Eungi dan mengantunginya. “Kau mengusik privasiku noona, tidak seharusnya kau menggali ke dalam ponsel seseorang.”

“Kau mengganti bajuku tanpa izin.” Balas Eungi dengan wajah yang tidak kalah merah dengan Kyuhyun, “Sekarang siapa yang menginvasi privasiku?”

“Aku menganggap kasus semalam itu darurat, jadi lebih baik kita berhenti berargumen tentang hal ini.” Ia menarik napas dalam-dalam dan bangkit dari tepi kasur. “Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita, ayo bangun.”

Eungi mengangguk patuh. Ia menyingkap selimutnya sambil berusaha untuk menapak tapi justru tubuhnya masih limbung akibat pusing di kepalanya. Kyuhyun segera menangkap pinggang Eungi untuk membantu wanita itu berdiri.

“Apa kau perlu kugendong lagi?” Goda Kyuhyun dengan cengiran jahil di wajahnya.

Eungi harus menelan gengsinya bulat-bulat, percuma saja sekarang kalau ia mau mencoba terlihat tegas di depan Kyuhyun, pria ini telah menyaksikan dirinya dalam keadaan yang paling memalukan.

“Jika memang kau mau mambantu, aku lebih membutuhkan aspirin sekarang.” Ujarnya sambil menunduk. Tatapan Kyuhyun yang tajam membuatnya merasa gugup, dan posisi lengan kokoh pria itu yang masih melingkar di seputar pinggangnya juga tidak membuat keadaan lebih baik.

“Akan kusiapkan untukmu.” Kyuhyun mengangguk.

Mata Eungi kini mempelajari pakaian yang sedang dikenakannya. Untung saja Kyuhyun cukup punya akal sehat untuk meminjami Eungi sweater yang cukup panjang untuk menutupi setengah pahanya. Karena tubuhnya masih terasa lesu, Eungi mengizinkan Kyuhyun untuk memapahnya hingga ke meja makan di apartemen studio miliknya. Pria itu menarik kursi dengan sigap dan mempersilakan Eungi untuk duduk sebelum ia mengeluarkan pilihan makanan yang dibelinya pagi tadi.

Dari semua pilihan yang diberikan, Eungi memilih roti panggang selai cokelat dan segelas kopi yang segera diracik Kyuhyun di coffee machine andalannya. Dalam hati wanita itu sebenarnya merasa tersanjung dengan perlakuan special yang diberikan pria di depannya.

Tunggu, pria?

Eungi merasa aneh dengan cara pandangnya yang berubah tentang Kyuhyun hanya dalam satu malam. Memang banyak serpihan memori yang ia lupakan, momen terakhir yang bisa diingatnya mungkin hanya ketika ia berbaring di atas pasir sambil menggenggam botol champagne dengan ceroboh. Tapi Eungi ingat saat Kyuhyun meminta maaf padanya, raut penyesalan yang tergambar pada wajah pria itu telah mengubah persepsi Eungi atas anak—pria—itu.

“Mengapa melamun, noona? Kau boleh minum aspirin setelah seluruh roti itu kau habiskan.” Kyuhyun mengambil posisi duduk di sebrang Eungi.

Tiba-tiba wanita itu teringat sesuatu yang lebih penting. “Shit! Ini hari Senin Kyuhyun-a!” Eungi memekik panik.

Kyuhyun mengangguk sebelum tertawa geli. “Noona, ini sudah hampir tengah hari, kita berdua sudah ketinggalan kelas sejak tadi.”

“HAH?” Eungi menyisir rambutnya dengan jari, “Kenapa kau tidak membangunkanku lebih awal tadi?!”

“Dan membiarkanmu pergi ke kelas dengan wujud seperti ini?” Ia menyesap kopinya dengan santai sambil menunjuk pada wajah Eungi.

Wanita itu memang belum memeriksa penampilannya di cermin dan ia tidak tahu wujudnya seperti apa sekarang, tapi ia yakin bahwa pagi ini ia tidak berada dalam kondisi tercantiknya.

“Aish, apa yang terjadi kemarin?” Ia mengigit rotinya dengan gusar dan langsung menelannya dengan bantuan kopi.

Kyuhyun mengangkat alisnya. “Kau tidak ingat?”

Eungi meletakkan rotinya, tangannya digunakan untuk menopang dagu sambil berpikir keras, sejak ia membuka matanya pagi ini, Eungi telah berusaha memanggil ingatannya. Tapi semakin keras usahanya untuk mengingat, semakin samar juga memorinya. “Aku ingat kita pergi ke Sokcho.”

Kyuhyun mengangguk untuk mengkonfirmasi.

“Aku juga ingat kalau aku minum banyak seka..”

“Kau menghabiskan satu botol itu sendirian, noona.” Ia terkekeh dengan senyum meledek.

“Ya, itu aku ingat.” Ia mengambil aspirin yang diberi Kyuhyun dan segera menegaknya. “Aku pun ingat kalau aku tidur-tiduran di atas pasir.” Ia mengerutkan keningnya sembari mencoba memeras sisa-sisa memorinya. “Dan semua menjadi gelap di ingatanku setelah itu. Aku hanya ingat memandang langit di atasku. Apa jangan-jangan aku teler? Ya Tuhan, apa aku malah muntah? Kumohon, beri tahu aku kalau aku tidak melakukan hal yang bodoh yang merepotkan.” Ujarnya dengan wajah memelas.

Kyuhyun menegak habis seluruh kopi di gelasnya, perlahan ia sadar bahwa Eungi sepertinya telah lupa tentang apa yang dilakukan padanya. Pastinya wanita itu terlalu mabuk untuk mengingat adegan yang sampai pagi ini masih melekat erat di ingatan Kyuhyun.

“Kau sungguh-sungguh tidak ingat?” Cecar pria itu.

Bagaimana mungkin ia melupakan manisnya momen mereka kemarin? Jantungnya masih berdebar kencang setiap ia teringat akan sentuhan wanita itu pada kulitnya, bibirnya otomatis menyunggingkan senyum setiap ia ingat ciuman manis yang Eungi berikan padanya semalam, dan semalam suntuk ia sukses dibuat menjadi gila hanya karena memandangi wanita yang dicintainya tertidur pulas di ranjangnya.

Semua ini hal baru bagi Kyuhyun, debaran ini, rasa berbunga-bunga yang dirasakannya, perlakuan lembutnya pada wanita, bahkan belum pernah dalam sejarah hidupnya Cho Kyuhyun keluar pagi-pagi buta hanya untuk mencari sarapan yang layak bagi wanita pujaannya. Ironisnya, ini juga kali pertama seorang wanita menggantungkannya seperti ini.

Ia tahu Eungi tidak bermaksud memanfaatkannya, ia tahu seberapa kacau wanita itu semalam, ia paham kebutuhan Eungi untuk menumpahkan amarahnya. Yang tidak dimengerti olehnya adalah mengapa dadanya terasa sangat sesak sekarang. Mengapa tiba-tiba ia ingin menghilang saja dari pandangan wanita di depannya.

Eungi memejamkan matanya, dalam hati ia pun berharap untuk bisa mengingat kejadian semalam. Raut muka Kyuhyun yang terlihat murung sepertinya mengindikasikan ada hal penting yang dilupakannya. Namun sekeras apa pun usaha wanita itu untuk memeras ingatannya, hanya kegelapan yang tetap menyelimuti pandangan terakhirnya.

“Aish, mengapa aku tidak bisa ingat apa-apa.” Eungi memukul-mukul kepalanya sendiri. “Apa aku melakukan hal yang kelewatan?”

“Tenang saja, kau tidak melakukan kebodohan apapun. Kau juga tidak perlu memaksa dirimu untuk mengingat, tidak ada yang penting.” Kyuhyun berusaha untuk tidak menghiraukan rasa nyeri di hatinya. “Hal terbodoh yang kau coba lakukan hanyalah berenang di lautan.”

“Aku melakukan apa?”

“Berenang—well, kau mencoba untuk berenang, tapi aku menarikmu kembali ke pantai.” Jawabnya singkat.

Eungi menggeleng tidak percaya, “Wow, aku pasti benar-benar mabuk semalam. Aku bahkan tidak bisa berenang.”

“Ha! Berarti tindakanku tepat.” Ia bangkit dari duduknya sambil mulai membereskan meja makan.

Eungi bergegas untuk ikut bangkit dan membantu Kyuhyun berberes, tapi dengan tatapan tajamnya pria itu langsung menyuruh Eungi untuk duduk saja di sofa dan menunggu hingga Kyuhyun selesai.

Sepertinya pria itu membutuhkan waktu beberapa saat untuk meredakan kekesalan dan kekecewaannya akan sikap Eungi. Lagi-lagi wanita itu dengan polos bermain dengan perasaannya, ia merasa sangat sepesial di hadapan Eungi kemarin ketika ia memperlakukannya bagai seorang pria yang bisa dijadikan tempatnya bersandar. Pagi ini, Eungi membanting harapannya mentah-mentah dan membuat Kyuhyun merasa seperti berondong simpanan yang bisa dipermainkan sesuka hati saja. Pria itu kesal, karena telah menanggapi perilaku Eungi kemarin dengan serius dan membiarkan dirinya benar-benar jatuh cinta pada seseorang yang sejak awal memang terlalu jauh dari jangkauannya.

Sementara Kyuhyun merapikan dapurnya, Eungi justru berkeliling di apartemen studio milik mahasiswanya itu. Di sudut ruangan, ada sebuah rak tinggi yang diisinya dengan koleksi kaset Play Station. Pada sisi kiri televisi besarnya, terdapat sebuah lemari kaca yang berisi banyak figurin Star Wars, mulai dari Star Destroyer hingga X-wing Fighter, ada pula Darth Vader hingga BB-8 terbaru. Eungi melangkah mendekati lemari kaca itu, dari jarak dekat bisa dilihatnya kalau yang dipajang Kyuhyun di dalam situ bukanlah figurin biasa, melainkan rangkaian model kit yang dirakit dengan telaten.

“Woaah, dia juga punya skill untuk membuat hal-hal seperti ini.” Bisik Eungi pelan pada dirinya sendiri. “Apa ada yang tidak bisa dia kerjakan? Mengapa anak itu bisa seberbakat ini.”

“Jangan bernafas terlalu dekat dengan kacanya, nanti berembun dan kotor.” Seru Kyuhyun tajam, mengejutkan Eungi yang sedang terpana.

Eungi menunjuk pada koleksi Kyuhyun. “This-Is-Awesome!” Ia menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya untuk menunjukkan apresiasinya.

Kyuhyun memaksakan diri untuk tersenyum. “Terima kasih, hanya hal-hal yang kulakukan untuk mengisi waktu luang.” Ia duduk di atas sofanya sambil menepuk sisi kosong di sampingnya, menyuruh Eungi untuk duduk di sampingnya.

Wanita itu melangkah mendekat kemudian duduk di tempat yang ditunjuk Kyuhyun. Bagi Eungi, perubahan mood Kyuhyun terasa sangat mendadak, sebelumnya pria itu cengengesan dengan senyuman konyol di wajahnya, tapi sekarang raut wajahnya kembali datar. Sepertinya mood pria itu berubah buruk setelah mereka selesai makan. Bisa saja Eungi mencecar dan bertanya tentang alasan yang mengganggu pria itu, tapi ia tidak suka ikut campur dengan urusan orang lain—jadi ia memutuskan untuk tetap diam.

“Apa kau punya rencana hari ini, noona?” Kyuhyun memecah kesunyian di antara mereka.

Pikiran Eungi melayang pada serangkaian jadwal yang harus dilakukannya hari ini: kelas, ia juga harus membereskan presentasinya—yang dirampas dengan sadis, ia harus menelpon komite seminar untuk mengatakan bahwa ia tidak ikut ke Kopenhagen, ia harus membatalkan jadwal penerbangannya, dan banyak sekali hal-hal yang harus dilakukannya. Sayangnya Eungi tidak ingin bergerak lepas dari rasa nyaman yang sedang ia nikmati di tempat ini. Diam-diam Eungi merasa senang karena ia sudah tanpa sengaja membolos mengajar dan meskipun ia sempat merasa hilang muka di depan Kyuhyun, Eungi perlahan mulai merasa nyaman dengan situasinya.

“Sebenarnya banyak sekali yang harus kukerjakan hari ini.” Jawabnya sambil melayangkan pandangan ke sekeliling kamar Kyuhyun—ia menyadari kalau pria itu tidak memajang foto diri sama sekali di mana pun, juga tidak ada foto keluarga atau sesuatu yang personal. “Tapi mungkin akan kuselesaikan besok saja, kalau aku sudah benar-benar waras.”

Kyuhyun mengangguk canggung. Kalau boleh jujur, ia sebenarnya masih gondok dengan wanita yang baru saja meremukkan rasa bahagia di hatinya—untuk kesekian kalinya.

“Kyu..” Ujar Eungi pelan.

“Ng?”

“Kalau kau tidak keberatan..” Eungi berkata ragu, ia terlihat berhati-hati sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Ada apa noona?” Tanya Kyuhyun sabar sambil mendesah lega, karena setidaknya Eungi memang sudah menghapus formalitas diantara mereka.

“Bolehkah aku..” Ia menggigit bibir bawahnya dengan ragu—yang justru membuat debaran jantung Kyuhyun menggila karena ia ingat lagi akan ciuman panas mereka semalam. “Bolehkan aku diam di tempatmu dulu sebentar?”

Kyuhyun memalingkan wajahnya yang merona dari pandangan Eungi. Argh! Bagaimana mungkin seorang Cho Kyuhyun berkelakuan seperti anak remaja sedang kasmaran. “Tentu. Anggap saja rumahmu sendiri, dan kau boleh datang ke sini kapan pun kau mau. Tapi jangan lupa untuk menghubungiku sebelum kau datang—siapa tahu aku sedang punya ‘tamu’.” Kyuhyun rasanya ingin menampar dirinya sendiri setelah menyelesaikan kalimat konyol itu.

Eungi tersenyum geli, “Apakah ini yang biasa kau lakukan jika kau sedang membolos?”

“Apa yang kulakukan?”

“Memberi makan gadis yang bermalam di tempatmu?” Ia semakin menyengir lebar.

Hati Kyuhyun mencelos saat mendengar pertanyaan Eungi, usaha kerasnya untuk menghapus reputasi buruknya tampak belum berhasil, karena Eungi masih memandangnya sebagai lelaki yang suka memainakan wanita. Tapi pria itu justru menggunakan kesempatan ini untuk menguji Eungi.

“Ng, hanya saja biasanya kegiatanku lebih bersifat fisik, bukan hanya sekedar menonton orang mabuk yang mendengkur.” Kyuhyun memutuskan untuk menyambut pancingan Eungi sambil menatapnya tajam. Ia sendiri tidak paham mengapa sekarang justru sibuk mencoba menyakiti hati Eungi dengan kelakuan klasiknya yang sedikit berharap untuk melihat raut cemburu di wajah wanita itu.

tumblr_muxvutuwvz1skwv1vo1_500

gambar milik Park Seul

Tapi alih-alih terlihat cemburu, Eungi justru tertawa. Kali ini ia tertawa puas dari dalam hatinya dan kebahagiannya sampai pada sorot matanya. “Maafkan aku.” Ujarnya diantara tarikan nafasnya. “Pagi ini pasti sangatlah canggung bagimu karena aku ada di sini. Aku pasti gadis terakhir yang kau harapkan untuk bagun di atas ranjangmu.”

“Apa itu lucu bagimu?”

Eungi menggeleng sambil masih tertawa. “Tidak, tidak ada yang lucu dari hal ini. Hanya saja situasi ini sangat menghiburku.” Ia mencoba menjelaskan, “Aku adalah tipe orang yang sangat tahu cara untuk menjaga diriku sendiri dan aku tidak pernah membiarkan diriku lengah—sama sekali. Ini lucu bagiku karena akhirnya aku merasakan sensasi terbangun di tempat seorang pria, mengenakan sweaternya yang kebesaran dan tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi di malam sebelumnya.”

Kyuhyun mulai memperhatikan kata-kata Eungi, terutama ketika ia menyapanya dengan sebutan ‘pria’—well, Eungi menyebutnya bukan?

“Yang lebih lucu lagi, aku merasa sangat nyaman sekarang.” Ia meletakkan kedua tangan di atas dadanya. “Sudah lama sekali hatiku tidak terasa seringan ini, padahal aku tidak ingat apa-apa. Aku pun tidak paham mengapa aku tertawa lepas seperti sekarang, aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku melakukannya—padahal tidak ada yang lucu dari kejadian ini.”

Kyuhyun semakin bingung dengan penjelasan Eungi, tapi ia tetap menyimak.

“Apa kau yakin aku tidak melakukan hal bodoh apa pun kemarin? Mengapa aku merasa kalau aku melupakan sesuatu yang sangat penting?” Ujarnya masih setengah tertawa.

“Kau tetap mengontrol dirimu semalam, noona. Percayalah, tidak ada yang patut untuk diingat.” Jawab Kyuhyun pasrah.

“Lalu mengapa wajahmu terlihat kesal?” Tanya Eungi bingung. “Apa aku benar-benar semenyebalkan itu ketika mabuk? Maafkan aku, semalam aku benar-benar..”

“Kau butuh membebaskan pikiranmu.” Kyuhyun menuntaskan kalimat Eungi.

Wanita itu mengangguk setuju. “Maaf karena aku melibatkanmu.”

Kyuhyun mengangkat kedua bahunya santai, “Sejujurnya, aku benci melihat itu.”

“Ne?”

“Aku benci melihatmu menangis.” Tegasnya. “Ada satu hal yang lupa  kuberitahu padamu. Semalam aku terus-menerus mencoba menelepon tunanganmu—karena kau terus merengek memanggil namanya dan memaksa aku untuk mengantarkanmu pada pria itu.”

Senyum di wajah Eungi langsung lenyap seketika, digantikan dengan ekspresi terkejut yang tidak bisa disembunyikannya.

“Aku berinisiatif mencari nomornya di ponselmu, kemudian menelpon pria itu berkali-kali. Sebenarnya aku berniat mengantarmu ke tempatnya, demi menghindari salah paham di kemudian hari.” Lanjut Kyuhyun sambil mengencangkan rahangnya, pria itu harus berusaha mengatur napasnya supaya tidak terkesan mengebu-gebu.

“La—lalu?” Tanya Eungi sambil berbisik.

“Aku menelpon Choi Siwon selama kurang lebih satu jam, tapi selalu terhubung ke voicemail. Karena itulah akhirnya kubawa kau ke tempatku. Meskipun aku tahu di mana kau tinggal, aku tidak tahu kode rumahmu dan kau bisa dibilang pingsan semalam. Kuharap hal ini tidak akan menjadi masalah bagimu dan tunanganmu kelak.” Ujarnya. Usaha Kyuhyun untuk terdengar santai justru terdengar sangat sarkastis di telinga Eungi.

Wanita itu menarik napas dalam. Eungi sudah mulai terbiasa dengan absennya Siwon dalam hidupnya, tapi mendengar namanya disebut dengan lantang jelas membangunkan kembali nyeri yang selama ini dipendamnya.

“Apa kau mau menelponnya sekarang? Mungkin ia bisa menjemputmu.” Lanjut Kyuhyun semakin sinis.

Sorot mata Eungi meredup dan senyum di wajahnya lenyap sepenuhnya. “Hhh, tidak perlu. Jelas saja telponmu semua mengarah ke voicemail. Dia—dia tidak bisa menjawab telponnya. Di—dia..” Eungi tergagap. Hatinya terasa sangat sesak sekarang, tapi ia tidak mampu menuntaskan kalimatnya—ia masih belum mampu mengakui dengan lantang bahwa kekasihnya telah tiada.

Jika Eungi berpikir ia bisa mengelabui Kyuhyun maka wanita itu salah besar. Bahasa tubuhnya setiap ia membicarakan tentang Siwon selalu terlihat canggung. Kyuhyun menyadari kalau wanita itu langsung membungkukkan tubuhnya sambil memeluk dirinya sendiri setiap topik itu terangkat, ia nampak seperti orang yang sedang mencoba melindungi sesuatu yang sangat rapuh di dalam dirinya. Sinar di mata Eungi selalu meredup setiap topik tentang tunangannya terbahas dan pancaran kesedihan di wajah wanita itu tidak pernah berhasil disembunyikannya.

Kyuhyun tahu ada yang salah dengan hubungan Eungi dan tunangannya, tapi seperti biasa, ia memilih untuk bungkam dan diam-diam berencana menggunakan kelihaiannya untuk menggali informasi dari internet di belakang Eungi. Kali ini pria itu akan membiarkan Eungi membodohinya, sementara ia akan mulai mencari tahu informasi tentang pria yang selalu membuat wanita yang dicintainya bersedih. Paling tidak sekarang Kyuhyun tahu nama pria itu—Choi Siwon.

 


Author’s note:

Makasih banyak yang udah pada baca dan komen di One Last Shot ini~~ it means a lot, dan sejujurnya bikin aku lebih semangat kejar tayangnya–karena kayanya usaha aku ngga sia-sia. Buat yang berharap Eungi sama Kyuhyun punya banyak momen romantis, sabar yaaaa.. namanya juga orang yang lagi dalam proses healing, ya masa bisa langsung move-on dari si Siwon yang kayanya perfect banget di mata Eungi. Cerita ini masih panjang dan bertahap (30 chapter), jadi dimohon pengertian dan kesabarannya selama menyaksikan (membaca) proses dari dua orang yang gengsinya sama-sama gede ini ;p

Advertisements

107 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s