(Indonesian Version) One Last Shot – Part 6

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Dua jam sudah berlalu sejak mereka meninggalkan kediaman Tuan Cho, kini Eungi dan Kyuhyun berada di dalam mobil yang dibawa dengan kecepatan tinggi oleh Kyuhyun menuju ke arah timur. Keduanya duduk dalam diam sambil menikmati hempasan angin musim semi yang menyapu wajah mereka, Kyuhyun mengambil inisiatif untuk menurunkan jendela mobilnya sehingga Eungi merasa lebih santai. Lelaki itu benar-benar dibuat kebingungan dengan sikap Eungi barusan di rumahnya, ia tidak mengerti mengapa Eungi keluar dari ruangan itu dalam keadaan menangis dan marah—seharusnya wanita itu menyunggingkan senyum kemenangan karena telah berhasil menyudutkan professor Hwang. Tapi Kyuhyun memilih untuk bungkam terlebih dahulu sembari memberi waktu untuk wanita di sampingnya untuk menenagkan diri.

Eungi meminta Kyuhyun untuk mengajaknya pergi jauh dari rumah ayahnya, ia minta dibawa ke tempat yang tenang dan jauh dari pusat kota. Permintaan dadakan semacam ini tentu membuat lelaki itu serba salah—jika ia memilih tempat yang terlalu jauh, Eungi akan mengira Kyuhyun memanfaatkan kesempatan; tapi tempat yang terlalu dekat juga tidak menjawab kebutuhan Eungi—namun akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk memacu mobil kebanggaannya menuju pantai Sokcho.

Mereka tiba di pantai itu tepat sebelum matahari terbenam, Kyuhyun memakirkan mobilnya di pinggir jalan. Melihat keadaan dosennya yang masih termenung, lelaki itu berinisiatif untuk membukakan pintu untuknya, tapi wanita itu justru langsung keluar dengan meninggalkan sepatunya di dalam mobil sambil membawa sebotol champagne yang tadi sempat dicuri Kyuhyun dari lemari alkohol ayahnya—atas permintaan Eungi. Sejujurnya apa yang akan dilakukan wanita itu di tempat ini dengan sebotol minuman keras yang belum dibuka masih menjadi misteri bagi Kyuhyun, tapi ia memutuskan untuk menjadi bodyguard Eungi saja sampai malam berakhir—dan ia akan membiarkan Eungi melakukan apapun yang ia inginkan.

Eungi melangkah mantap ke arah laut, ia membiarkan kaki tenjangnya merasakan tekstur halus pasir kecoklatan di bawahnya, bau asin segera menyambut indera penciumannya dan meskipun angin musim semi masih terhitung dingin dan kencang saat malam tiba, wanita itu memilih untuk tidak mempedulikannya. Ia terus melangkah ke tempat di mana air dan pasir bertemu, memainkan ujung jemari kakinya sebentar sambil membiarkan deburan ombak menyapu mata kakinya.

Ia melangkah mundur hanya untuk memberi jarak antara dirinya dengan air laut yang akan segera pasang, dan tanpa berpikir lagi Eungi segera menyobek pembungkus alumunium dari botol minuman di tangannya. Eungi mencari spot yang cukup kering di dekatnya sebelum ia memutuskan untuk duduk di atas hamparan pasir. Kyuhyun masih tetap mendampinginya dari dekat, tanpa menginvasi ruang pribadi Eungi, tanpa berusaha menciptakan pembicaraan atau pertanyaan. Dosennya sedang butuh melampiasakan emosinya dan lelaki itu cukup paham langkah-langkah yang harus dilakukannya.

Sikap cool yang ingin diberikan Kyuhyun mulai pudar ketika wanita itu memutar ikatan kawat di sekeliling mulut botol champangenya, menarik kasar gabus kecoklatan dengan tergesa-gesa dan tanpa basa-basi langsung meminum isi minuman berbuih itu langsung dari botolnya. Mungkin kalau Eungi hanya menyisip minumannya Kyuhyun tidak akan terlalu khawatir, tapi wanita itu minum seperti orang yang baru selesai ikut lomba lari.

“Noona, kumohon berhentilah bersikap konyol. Apa kau mau membicarakan tentang apa yang terjadi? Melihatmu menjadi kacau seperti ini justru membuatku frustrasi.” Kyuhyun berjongkok di sampingnya sambil menarik botol di tangan Eungi.

“Aish! Biarkan aku meminum ini.” Ia menyikut Kyuhyun dengan kasar.

Wanita itu kembali menegak champagne banyak-banyak, dalam hati berharap efek memabukkan yang ditimbulkan akan datang secepatnya. Agar ia bisa menyembunyikan rasa perih di dalam hatinya melalui minuman di tangannya.

Kyuhyun menghela napas panjang, ia berdiri untuk melepas mantel musim seminya, menyelimuti tubuh Eungi dengan mantelnya sambil mempertimbangkan untuk duduk di samping dosennya.

“Beri tahu aku, Kyuhyun-ssi,” Ia menepuk bahu spot kosong di sampingnya agar Kyuhyun duduk di situ, “Apa rencana masa depanmu?”

Lelaki itu menurut dan segera duduk di samping Eungi. “Mengapa kau menanyakan hal itu tiba-tiba?”

“Aku perlu tahu kalau kau punya mimpi untuk dirimu sendiri.”

“Tentu saja aku punya. Aku ingin membuat konsultanku sendiri dan jika aku boleh sedikit ambisius, aku ingin mengembangkan wilayah yang masih kurang berkembang.” Kyuhyun menjawab dengan sigap meskipun ia bingung dengan topik dadakan yang dipilih Eungi.

Eungi tersenyum kecil sambil menyodorkan botol champagne untuk Kyuhyun—yang langsung ditolaknya—kemudian wanita itu menegak cairan berbuih itu lagi.

“Noona, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sekarang kau berusaha keras untuk mabuk, ng? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?” Tanya Kyuhyun.

Eungi menyedot sisa-sisa ingusnya dan tertawa sinis, “Buruk? Tidak, buruk bahkan tidak cukup untuk mendeskripsikannya.” Ia memutar posisi duduknya untuk menghadap Kyuhyun di sisi kanannya, menyilakan kedua kakinya agar ia bisa memandang Kyuyun dengan nyaman. “Apa kau ingat ketika kau bilang padaku kalau kau tidak percaya siapa pun?”

Kyuhyun mengangguk.

“Aku kebalikanmu. Aku selalu percaya pada orang lain, aku punya keyakinan bahwa setiap orang yang kutemui tidak memiliki niat jahat—sampai mereka membuktikan bahwa aku ini terlalu naïf. Biasanya ketika aku menyadari bahwa aku telah dibodohi, aku akan menjadi orang yang tersakiti dan itu menjadi titik kejatuhanku.”

Wanita itu tidak pernah berceloteh panjang tentang dirinya sendiri sebelumnya, jadi Kyuhyun menikmati momen saat Eungi masih cukup sadar untuk membicarakan hal-hal yang masuk akal. Lelaki itu sangat penasaran dengan apapun tentang Eungi, ia ingin mengetahui masa lalunya, kesulitannya, kesedihannya, dan ia ingin menjadi tempat wanita itu bisa bersandar.

“Tapi aku tidak menyangka pikiran naifku justru akan menjadi titik lemahku,” Eungi melanjutkan omongannya. “Pria busuk itu adalah satu-satunya orang yang tidak memandangku sinis di hari pertamaku, dan aku langsung mempercayainya begitu saja sebagai panutanku. Ini menyakitkan bagiku karena orang yang menikamku adalah orang yang tidak pernah kuduga akan melakukan hal itu.”

“Noona, kukira kau berniat membawa kasus ini ke pengadilan. Hey, aku bisa membantumu, aku akan mencarikan..”

Dweso.” Ia megibaskan tangannya di depan wajah pria itu. “Aku sudah memutuskan untuk merelakan masalah ini.”

“Tapi—”

“Dan setelah semester ini berakhir, aku akan resign!” Ia mengangkat kedua bahunya kemudian meneguk kembali minuman di tangannya.

Mungkin berbulan-bulan yang lalu lelaki ini akan kegirangan jika mendengar Eungi mau keluar dari pekerjaannya, tapi setelah ia menghabiskan waktu dengannya, setelah Kyuhyun sadar sekeren apa Eungi sebenarnya dan sehebat apa wanita itu dalam kesehariannya, Kyuhyun benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya pergi ke kampus tanpa sedikit harapan untuk bertemu dengan Eungi. Bahkan hanya menatap sosoknya dari kejauhan sudah merupakan kenikmatan tersendiri bagi lelaki itu, kini ia bisa membayangkan bosannya perkuliahan tanpa Eungi.

“Kalau kau keluar, nasibku bagaimana?” Kyuhyun menatap Eungi tajam. “Kau adalah orang yang membimbingku untuk menjadi lebih baik, kalau kau keluar, lebih baik aku tetap menjadi..”

Eungi menjewer telinga Kyuhyun sambil menariknya kasar, sedangkan yang dijewer sekarang sibuk meringis kesakitan.

“Kau sudah berjanji padaku untuk menjadi orang yang hebat dan juga untuk lulus tahun depan. Apa kau tipe lelaki yang suka membuat janji hanya untuk kau ingkari saja, hah?”

“Aaa! Noona sakit!”

“Memang seharusnya kau kesakitan! Apa kau masih mau berbuat onar lagi setelah aku pergi?!” Tekan Eungi.

“Arraseo, aku akan menepati janjiku, berhentilah menjewerku.”

Eungi melepas tangannya dari telinga Kyuhyun, kemudian memandang ke arah kakinya yang masih bersila dengan tatapan muram. “Ini sangat penting untukku, Kyuhyun-a.”

“Ne?” Sinar di mata Kyuhyun menjadi lebih cerah ketika ia menyadari Eungi mulai berbicara tidak formal padanya.

“Riset ini sudah kuperlakukan seperti anakku, tapi aku rela melepaskannya untuk sesuatu yang jauh lebih baik.” Eungi menolehkan kepalanya ke arah lautan sembari mencoba untuk mengabaikan perasaan sesak yang tiba-tiba menyerang hatinya. “Riset ini muncul dari serpihan kegagalanku, riset ini sebuah penanda bagiku bahwa aku bisa melanjutkan hidup dan riset ini juga yang menjadi landasanku untuk terus bernapas dalam lima bulan terakhir ini.”

“Kalau begitu mengapa kau tidak mau membawa masalah ini ke pengadilan? Apa kau bersungguh-sungguh akan menyerahkannya begitu saja pada profesor Hwang? Mengapa?”

“Aku punya alasanku sendiri.” Eungi menggelengkan kepalanya. “Tapi aku merasa tenang, karena aku tahu kau akan ikut mempresentasikannya. Setidaknya aku punya satu orang yang bisa kupercaya untuk mengawasi jalannya seminar itu—dan kau harus memastikan bahwa tidak ada yang berubah dari presentasi yang sudah kita siapkan.”

“Noona, mengapa kau mempercayaiku seperti ini?” Hatinya terenyuh karena keyakinan Eungi yang terus diberikan.

Eungi menatap Kyuhyun ke dalam manik matanya, wanita itu merasa bahwa ia harus benar-benar menyampaikan isi hati dan pikirannya pada lelaki di depannya. Kyuhyun yang dipandangi dengan intens seperti itu justru menjadi semakin salah tingkah.

“Aku percaya setiap manusia perlu memiliki cheerleader mereka masing-masing.” Air mata mulai menggenang di pelupuknya, “Dulu, ayahku adalah cheerleaderku dan keberadaannya memudahkanku untuk melewati hari-hariku. Sekarang aku harus berjuang melawan semua pertarunganku seorang diri, dan aku mengerti sesulit apa hal ini.” Ia menengadahkan kepalanya menghadap langit, berusaha untuk menahan air matanya untuk tidak jatuh. “Saat aku mengatakan bahwa aku melihat potensi besar dalam dirimu, aku tidak mengatakan itu hanya untuk membuatmu merasa lebih baik—aku benar-benar melihat potensimu. Aku pun tidak paham mengapa kau berusaha kelewat keras untuk menutupi potensi ini dengan kelakuan burukmu, tapi aku memilih untuk melihat sisi baik dari dirimu, Kyuhyun-a.”

Kyuhyun bisa merasakan debaran jantungnya semakin kencang. Lelaki itu percaya bahwa detik ini adalah saat di mana dirinya benar-benar telah jatuh cinta pada wanita di depannya. Ternyata karma memang berlaku dan karma memutuskan untuk menyerangnya detik ini juga. Sepanjang hidupnya Kyuhyun mempermainkan hati banyak wanita, bertaruh untuk hal-hal yang tidak manusiawi, bahkan ia pernah berniat menghancurkan wanita di hadapannya—wanita yang sekarang justru memilih untuk percaya padanya. Tapi yang paling menyakitinya adalah kenyataan bahwa ia baru saja jatuh cinta pada seseorang yang jauh dari jangkauannya, wanita ini terlalu hebat untuknya—dan juga sudah menjadi tunangan dari orang lain.

“A—apa menurutmu aku pantas mendapatkan perlakuan sebaik ini darimu?” Bisik lelaki itu lirih, “Bagaimana bisa kau memiliki keyakinan seperti ini untukku noona? Apa kau tidak ragu padaku, bahwa aku bisa mengecewakanmu, kalau aku bisa saja berniat jahat padamu? Aku bisa memanfaatkan kebaikanmu dan menggunakannya untuk kepentinganku sendiri, aku bisa saja menggunakan momen ini untuk menyebar rumor miring tentang kita, aku bisa saja..”

“Tapi kau tidak melakukannya.” Jawab Eungi singkat.

Mulut Kyuhyun langsung terkatup rapat atas jawaban Eungi.

Eungi mengangkat tangannya untuk mengacak rambut depan Kyuhyun, “Kau pikir aku tidak tahu rencana busukmu bersama teman-temanmu?” Ia terkekeh kemudian meminum lagi champangenya. “Kalau aku tidak salah, kau seharusnya meniduriku kemudian mengambil foto telanjangku—untuk disebarkan atau untuk menerorku.” Nada bicaranya tenang, tapi tatapan menusuk yang diberikan pada Kyuhyun jelas cukup untuk membuat lelaki itu bungkam.

Kyuhyun merasa seperti baru disambar petir yang membuatnya membatu. Matanya terbelalak kaget, mulutnya terbuka dan ekspresi bingung sekaligus bersalah mendominasi wajahnya. Bagaimana mungkin Eungi bisa mengetahui hal ini?

“Aish, wajahmu sekarang,” Eungi mencubit sebelah pipi Kyuhyun sambil tertawa, “Biar kutebak, kau pasti sedang panik dalam hati sambil bertanya-tanya bagaimana mungkin aku bisa mengetahui hal ini? Dinding pun bertelinga, Kyuhyun-a. kau harus lebih berhati-hati dalam memilih teman, terutama ketika image-mu sudah ternoda sebelumnya. Maaf kalau aku berbicara terlalu gamblang, tapi kau benar-benar harus belajar menjadi dewasa.”

Satu detik wanita ini mengangkat Kyuhyun dan momen berikutnya justru membanting harga diri lelaki itu keras-keras. Mungkin Kyuhyun akan merasa lebih baik jika Eungi justru menamparnya sekarang, agar wanita itu menyakitinya secara fisik saja dibandingkan jika Eungi harus menikam tepat pada ego terlemahnya. Saat ini lelaki itu kewalahan sendiri dengan berbagai emosi yang menyerang dirinya: marah, malu, takut, penyesalan dan rasa muak pada dirinya sendiri kini menghampirinya bersamaan. Tanpa disadari, genangan air mata mulai mengaburkan pandangan lelaki itu dan tidak butuh waktu lama baginya untuk akhirnya benar-benar menitikkan air mata di depan Eungi.

“Maafkan aku.” Ujarnya sambil terisak. “Aku sungguh tidak pantas mendapatkan perlakuan sebaik ini darimu, aku—”

Eungi menancapkan botol champangenya ke dalam pasir sebelum ia mengangkat lengan untuk menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Kyuhyun.

“Jangan menangis, jika kau sekarang menyesali perbuatanmu.” Ia menghapus air mata di wajah lelaki itu dengan lembut. “Kalau kau ingin menebus rasa bersalahmu, jadilah orang yang baik mulai sekarang Kyu. Buktikan pada semua orang yang memandang rendah dirimu bahwa mereka telah salah dalam menilaimu, ne?”

Kyuhyun menghindari tatapan Eungi, baginya menangis di depan wanita ini saja sudah cukup menghancurkan harga dirinya, ia tidak mau Eungi juga menilik ke dalam hatinya. “Aku tidak pantas diperlakukan sebaik ini olehmu, Cha Eungi.” Ia melepaskan tangan Eungi yang menyentuh wajahnya.

“Aku tidak setuju dengan pernyataanmu.” Ia tersenyum sebelum kembali mengambil botol champagne di sampingnya. “Apa kau tahu, aku pun termasuk anak yang mengalami krisis identitas ketika aku tumbuh?”

Jumlah alkohol yang dikonsumsinya telah mulai mempengaruhi kesadarannya, Eungi mulai merasa tipsy dan mengantuk sehingga ia memilih untuk membaringkan seluruh tubuhnya di atas pasir tanpa mempedulikan rambutnya yang kini menjadi kotor. Kyuhyun tetap siaga pada posisinya, bersiap menghadapai tingkah apapun yang akan dilakukan Eungi jika ia benar-benar mabuk.

“Beritahu aku, noona. Kau tahu sangat banyak tentangku hanya dengan cara menganalisa keseharianku, tapi aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentangmu.” Kyuhyun meraih botol champagne dari tangan Eungi untuk menyembunyikan botol itu di balik punggungnya, berharap wanita itu berhenti menegak minuman lebih banyak lagi.

“Apa yang ingin kau ketahui? Aku sedang bermurah hati hari ini, jadi aku bersedia menjawab beberapa pertanyaan personal.” Ia menolehkan kepalanya untuk memandang Kyuhyun.

“Pertama-tama, aku ingin tahu bagaimana kau bisa tumbuh menjadi seorang wanita yang mengagumkan seperti sekarang?” Kyuhyun tidak lagi berusaha menutupi rasa kagumnya pada Eungi.

Wanita itu tersenyum, walaupun emosi itu tidak sampai pada matanya. “Aku mendapatkan banyak masalah dalam masa pertumbuhanku. Tidak seperti anak-anak kebanyakan, aku tidak mengetahui siapa ibu kandungku dan aku dibesarkan oleh ayahku—sampai aku berusia sepuluh tahun.” Ia menarik napas dalam, “Tapi aku tidak mau membicarakan tentang pria paling hebat dalam hidupku itu sekarang, karena pembicaan kita harus menjadi obrolan ringan yang menginspirasimu, bukan justru membuatku sedih.”

Kyuhyun mempelajari wajah Eungi untuk mencoba mencari ironi dari kata-katanya, tapi yang bisa dilihat hanyalah kejujuran yang pasti.

“Aku dulu dikucilkan karena caraku dibesarkan berbeda, kawan-kawanku melihatku sebagai anak aneh yang selalu membawa kimbab yang dibeli dari ahjumma di pinggir jalan ke sekolah—karena aku tidak memiliki seorang ibu yang membuatkan bekal untukku. Selain itu, mereka juga suka mentertawakan ayahku, rasanya saat itu aku benar-benar terpuruk. Suatu hari, ayahku pulang ke rumah membawa sebuah buku dengan banyak ilustrasi di dalamnya dan beliau memintaku untuk membacakan buku itu padanya. Hari itu adalah pertama kalinya aku merasa menemukan sebuah pintu ke dunia lain, aku menemukan pelarian dari membaca. Perlahan kebiasaan itu tumbuh dan sekarang sudah menjadi bagian dari keseharianku.”

Kyuhyun masih memperhatikan omongan Eungi dengan seksama, perlahan ia menyadari bahwa sinar mata wanita itu meredup saat ia membicarakan tentang masa lalunya.

“Aku menjadi pribadiku yang sekarang karena berbagai benturan yang harus kuhadapi sejak dulu. Terkadang makna hidup tidak kau dapatkan dari memori yang indah, tapi justru dari memori pahit yang mengajarkamu untuk terus bangkit.” Ia bangun dari posisinya untuk duduk sambil memeluk lututnya sendiri. “Mungkin kau bingung mengapa aku bisa percaya padamu, meskipun aku sudah tahu niat busukmu—itu karena aku merasa kau butuh seseorang untuk mendukungmu, sebagaimana ayahku dulu mendukungku. Aku mungkin kurang paham tentang kesulitan-kesulitan yang kau alami, tapi aku pasti akan marah pada diriku sendiri jika aku tidak memberikanmu kesempatan untuk membuktikan diri.” Eungi mencongdongkan tubuhnya mendekati Kyuhyun sembari tangannya meraih botol champagne yang Kyuhyun sembunyikan di belakang punggungnya. “Sekarang izinkan aku untuk menghabiskan seluruh isi botol minuman ini dan aku minta maaf sebelumnya jika nanti aku mabuk dan merepotkanmu—aku benar-benar butuh membebaskan pikiranku sekarang Kyuhyun-a.”

Kyuhyun bisa menghirup aroma musk yang segar dari tubuh Eungi yang sekarang nyaris berhimpitan dengannya, tindakan sederhana dari wanita ini saja sudah berhasil membuat jantungnya siap melompat keluar dari rongga dadanya. Ia adalah lelaki yang selalu tahu cara mempermainkan wanita, tidak pernah dalam hidupnya ia merasa gugup atau salah tingkah di depan kaum hawa dan jelas Kyuhyun belum pernah sampai tidak bisa berkata apa-apa hanya karena sapuan lembut kulit seseorang di atas kulitnya—dan Eungi mematahkan seluruh reputasinya. Mungkin salah satu alasan mengapa Kyuhyun benar-benar terpana dengan keberadaan Eungi adalah karena wanita ini tidak bisa diprediksi olehnya, ia berbeda dari mereka-mereka yang biasa mengejarnya, dan Eungi terus membuat jantungnya berdegup kencang setiap saat mereka bersama.

Eungi memiringkan botol hingga nyaris membentuk garis vertikal di atas wajahnya agar ia bisa menegak seluruh isi minuman berbuih itu, dalam hati sesungguhnya ia berharap Kyuhyun membawa lebih dari satu botol sehingga Eungi bisa benar-benar puas bermabukan. Bisa dikatakan malam ini adalah hari pertama Eungi benar-benar lepas kontrol sejak kejadian tragis yang menimpanya November lalu. Setelah usaha kerasnya dirampas oleh atasannya sendiri, Eungi merasa bahwa ia pantas menyalurkan rasa frustasinya lewat alkohol.

Wanita itu mendesah tajam seketika seluruh cairan di dalam botol telah habis diteguknya. Masih kurang, pikirnya. Ia ingin benar-benar melupakan seluruh kegetiran dalam hatinya, ia ingin melupakan kekhawatiran dan memori buruknya. Ia sudah letih karena harus terus-terusan dihantui mimpi buruk itu. Ada bagian dari dirinya yang menuntut untuk melupakan adegan-demi-adegan sadis yang telah merampas kebahagiannya, tapi pada saat yang bersamaan, ia pun tidak ingin Siwon meninggal sia-sia untuknya—wanita itu sadar, jika ia melupakan kenangannya, maka Siwon pun benar-benar akan pergi untuk selamanya. Dalam usahanya untuk menjaga memori mereka, Eungi lupa untuk mengurus dirinya sendiri, ia lupa untuk menjaga perasaannya, dan hasil akhirnya jelas ia lupa cara untuk menjadi bahagia.

Dan ia merasa perlu seseorang untuk mengingatkan arti dari kebahagiaan itu sendiri.

“Kyuhyun-a,” Ujar Eungi yang semakin mabuk, “Apa yang bisa membuatmu bahagia?”

“Aku?”

Eungi mengangguk. “Aku tidak tahu cara bersenang-senang dan aku sudah lupa cara untuk tertawa. Aku sudah mengajarimu cara mendesain sesuatu yang baik, sekarang kau harus mengajarkanku untuk menjadi bahagia. What do you do for fun?”

“Aku bahagia ketika bermain game.” Kyuhyun langsung meringis malu dengan jawabannya sendiri yang terdengar sangat bodoh. “Maksudku, hal-hal yang bisa mengalihkan pikiranku jelas membuatku senang. Apa yang suka kau lakukan? Apa ada sesuatu yangs elalu ingin kau lakukan tapi belum berhasil?”

Eungi mendengus kecil, merasa sedikit terhibur dengan jawaban polos Kyuhyun. Wanita itu kembali mengalihkan pandangan ke arah lautan luas yang terhampar di hadapannya. Ia berpikir keras tentang pertanyaan yang baru saja Kyuhyun ungkapkan, apa hal-hal trivial yang seharusnya ia kerjakan, tapi tidak pernah berani melakukannya selama ia sibuk menggali buku-buku dan menjadi orang yang banyak tahu.

“Menurutmu bagaimana jika sekarang kita berenang di laut?” Tiba-tiba saja ia bangkit dari duduknya. Tubuhnya sedikit limbung, tapi Eungi tidak memperdulikannya, justru sekarang ia mengambil langkah untuk mendekati lautan.

“Noona, kau sudah mabuk?”

“Belum, tapi aku benar-benar ingin mabuk sekarang.” Ia menoleh ke belakang untuk memberi cengiran lebar pada Kyuhyun kemudian ia menarik tangan lelaki itu untuk bangun dan mengikuti langkahnya untuk mendekat ke lautan.

“Ya! noona!! Jangan gegabah, aku baca dari suatu artikel bahwa orang mabuk tidak disarankan untuk berenang, aku pun tidak terlalu pandai berenang.”

“Baiklah! Aku akan berenang sendiri kalau begitu.” Ia melepas genggamannya pada lengan Kyuhyun dan berlari kecil ke arah lautan. Wanita itu terus melangkah bahkan hingga ketinggian air sudah melebihi lututnya, ia pun tidak peduli ketika deburan ombak menyipratkan air laut dan membasahi rambutnya.

Kyuhyun segera menyusul Eungi, kalau menyimpulkan dari cara wanita itu menatapnya, kesenduan di wajahnya, kata-katanya malam ini serta tangisan yang berusaha disembunyikannya, Kyuhyun tahu bahwa Eungi saat ini sebenarnya sedang merasa kacau. Kondisi itu saja sudah buruk, apalagi jika ditambah faktor mabuk yang sekarang sudah mulai menyerangnya.

“Noona, berhenti di situ, ayolah kau tidak perlu berenang malam ini, kemarilah.” Kyuhyun menangkap pergelangan tangan Eungi untuk menahan langkahnya. Lelaki itu kemudian menahan kedua bahu Eungi sambil memaksa wanita itu untuk menatapnya.

Saat itulah Kyuhyun sadar bahwa Eungi saat ini sedang menangis. Wanita itu bukan ingin berenang, ia hanya ingin menyamarkan air matanya dengan rintikan air laut yang kini menyapu wajah cantiknya—wanita itu hanya tidak mau terlihat lemah di hadapan Kyuhyun.

“Noona.” Dengan ragu, Kyuhyun menyentuh dagu Eungi untuk menengadahkan wajahnya. “Kau tahu kan kalau kau bisa berbagi kepedihanmu denganku? Aku mungkin tidak bisa memberimu solusi, tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik. Kumohon, izinkan aku meringankan bebanmu.”

Kyuhyun mencoba meyakinkan Eungi sambil perlahan menuntun langkah keduanya untuk pindah ke posisi laut yang lebih cetek.

Eungi mengigit bibirnya sebagai usaha untuk memendam perasaannya. Seluruh tubuhnya bergetar karena kedinginan dan juga dari perihnya rasa sakit yang ia rasakan di hatinya. “Berdansalah denganku.” Tanpa peringatan, Eungi meletakkan tangannya di atas bahu Kyuhyun.

“Ne?”

“Ini terdengar konyol, tapi kumohon, izinkan aku untuk berdansa denganmu yang terakhir kalinya.” Ujarnya dengan nada memohon.

Kyuhyun mengerutkan keningnya sambil mencoba menterjemahkan kata-kata Eungi, sementara Eungi sudah mengeluarkan ponselnya dari kantung gaunnya yang sudah mulai basah. Wanita itu memeriksa kondisi ponselnya, mengoyangkan beberapa kali sebagai usahanya untuk membuat benda itu tetap berfungsi.

“Ini terdengar sangat bodoh, tapi tadi kau bilang kau mau membantuku. Jadi kumohon, berdansalah denganku.” Ia menyelipkan satu buah earphone ke dalam telinga kanan Kyuhyun dan menyelipkan pasangannya pada telinganya sendiri sebelum ia menekan tombol play pada ponselnya. Musik mellow yang lembut mulai terdengar dan Kyuhyun memutuskan untuk menuruti keinginan Eungi.

Lelaki itu melangkah mendekat, tangan kanannya diletakkan dengan hati-hati pada punggung wanita itu dan tangan kirinya menggenggam tangan Eungi dengan lembut. Kemudian ia menyelipkan jemari mereka sambil mendekap tubuh Eungi tanpa menyiskan jarak di antara mereka. Dari jarak sedekat ini, Kyuhyun bisa merasakan tubuh Eungi yang bergetar dalam pelukannya dan yang ingin dilakukan lelaki itu hanyalah meredakan kekalutan dalam diri Eungi.

Wanita itu tidak mampu memandang Kyuhyun, karena lagi-lagi ia teringat akan Siwon setiap kali mereka bertatapan—karena Kyuhyun menatapnya dengan sinar lembut yang sama, dengan senyum tulus yang sama dan dengan kelembutan yang selalu mengingatkannya akan tunangannya yang telah pergi.

“Tatap mataku, Eungi-ya.” Kyuhyun berbisik di telinga Eungi. Ia memindahkan posisi tangannya dari punggung Eungi menuju dagunya, mengangkat wajah wanita itu agar menatap matanya. “Kau bilang ingin berdansa denganku, mari kita lakukan ini dengan benar.” Ujarnya tenang.

Eungi menggigit bibirnya yang bergetar dan memutuskan untuk melakukan dansa ini dengan sungguh-sungguh, matanya mengunci tatapan lelaki itu—ah, bukan. Mungkin lebih tepat jika Eungi memandang Kyuhyun sebagai seorang pria sekarang—sambil tubuhnya bergerak mengikuti irama yang mengalun samar di telinga mereka.

 

For all we know, we may never meet again

Before you go, make this moment sweet again

We won’t say ‘goodnight’ until the last minute

I’ll hold out my hand and my heart will be in it

For all we know, this may only be a dream

We come and we go like the ripple on a stream

So love me, love me tonight

Tomorrow was meant for some

Tomorrow may never come, for all we know

So love me, love me tonight

Tomorrow was meant for some

Tomorrow may never come, for all we know

(For All We Know – Ruben Studdart version)

 

Wanita itu terus terkenang akan Siwon dalam setiap langkah yang ia ambil bersama dengan pria yang saat ini mendekapnya erat. Siwon dulu selalu berkata bahwa ia akan selamanya berada di sisi Eungi, kalau pun ia harus meninggalkannya maka pria itu akan melakukan salam perpisahan dengan cara paling romantis—dan sadis—yang pernah ada. Pria itu menjanjikan sekuntum mawar terakhir yang disertai dansa dan ciuman perpisahan. Siwon tidak pernah melakukan ketiganya, karena takdir memutuskan untuk mengambil nyawanya hanya dalam hitungan detik.

Bagi Eungi, dansa ini adalah usahanya untuk menerima fakta bahwa Siwon benar-benar telah pergi dari hidupnya—untuk selamanya. Seberapa besar usahanya untuk menjaga memori mereka untuk tetap hidup di hatinya, realita selalu mengalahkannya—dan hari ini Eungi benar-benar sudah di ambang lelahnya ketika satu-satunya persembahan yang tersisa untuk tunangannya dirampas dengan paksa dari tangannya.

Ia tahu bahwa metode yang digunakannya untuk menyampaikan kata perpisahannya pada Siwon saat ini salah. Eungi telah memanfaatkan mahasiswanya yang tidak tahu apa-apa untuk mengambil alih posisi Siwon, memaksa pria yang kini sedang berdansa dengannya untuk ikut serta menanggung kesedihannya. Tapi Eungi sudah cukup tipsy untuk bisa menganggap bahwa pria yang sekarang sedang mendekapnya bukanlah Kyuhyun, melaikan Siwon.

“Eungi-ya, jawablah teka-teki dariku,” Kyuhyun menelusuri wajah Eungi dengan ibu jari kanannya untuk menghapus air mata di pipinya. “Mengapa aku merasa sesak dan kesakitan di sini,” ia menunjuk pada dadanya, “ketika aku melihatmu menangis sedih seperti ini?”

Eungi menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. Perlahan, wanita itu mengangkat telapak kakinya untuk diletakkan di atas kedua telapak kaki Kyuhyun, kedua lengannya dilingkarkan diseputar leher pria itu untuk membantu menahan tubuhnya yang kini berjinjit di atas kaki Kyuhyun.

Mianhae.” Bisiknya lirih sebelum ia menyapukan bibirnya tepat pada bibir Kyuhyun.

Kepala Kyuhyun rasanya siap pecah ketika ia menerima gestur yang tidak terduga dari Eungi. Dalam dekapannya ia bisa merasakan getaran tubuh wanita yang sekarang memeluknya, ciumannya yang ragu-ragu terasa terlalu indah untuk menjadi nyata, cara Eungi menariknya lebih dekat dan tekanan pada tengkuknya saat ciuman mereka semakin dalam—serta hangatnya air mata wanita itu yang kini bisa dirasakan Kyuhyun pada wajahnya sendiri.

Malam itu, Cha Eungi akhirnya berbagi kepedihannya pada Kyuhyun. Meskipun rasa bingung mendominasi pikiran pria itu sekarang, Kyuhyun rela. Ia rela dimanfaatkan oleh wanita ini, ia rela menjadi siapa pun yang Eungi inginkan malam ini, ia rela berperan sebagai orang lain yang Eungi harapkan—asalkan ia bisa melindungi wanita di pelukannya dari kepedihannya sendiri.

Advertisements

113 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 6

  1. Dyana says:

    Aku kaget Eungi tau rencana busuk Kyuhyun krna ulah Eunhae (mau niduri Eungi). Tp ini berarti masalah itu tidak akan menjadi hal buruk di kemudian hari, krn jjr aku smpt mikir ntr kalau Eungi bnrn jatuh cinta sm Kyuhyun dan rencana itu terungkap maka bagaimana nasib mereka nanti, dan ini di luar dugaan, legaaa…

    Tp setelah mlm ini apakah Eungi akan ttp mengajar disana, gak yakin dia masih ingin ketemu si tukang plagiat… Ih inget bapak itu masih kesel aja…

    Liked by 1 person

  2. OngkiAnaknyaHan says:

    padahal eungi tau niat jahat kyuhyun tapi masih percaya aja sama si setan tengil itu
    bener2 eungi itu

    kasihan sebenernya sama 2 orang ini
    yg satu masih kelibet sama masa lalu dan yg satu lagi malah jatuh cinta sama orang yg kelibet masa lalu -,-

    Liked by 1 person

  3. xixrxexnxe says:

    aku kira noona bakal kejebak sm rencananya kyuhyun, ternyata noona tau sendiri kkkk
    part ini ngefeel bgt (Dari prolog smp part ini ngena semua sih)
    suka sikap kyuhyun yg gentleman, semoga noona bisa cepet move on dr siwon

    Liked by 1 person

  4. Lovecho says:

    Keadaan yg menempah eungi menjadi eungi yg sukses sperti skarang..
    Suka deh klo liat sikap kyuhyun yg dewasa kayak gitu.. kyuhyun hrus jdi org yg sukses untuk membalas budi eungi yg rela melepaskan karya yg dia buat dgn sepenuh hati.. karya kenangan yg mengingatkan eungi pada siwon..
    Endingnya menyayat hati.. sedih liat eungi..

    Liked by 1 person

  5. Christellee says:

    Kurasa eungi memang dosen yg handal dalam mengadapi mahasiswa veteran kayak kyu, terbukti dia jg tau niat gila kyu, walau pun sekarang kyu malah dapat karmanya sendiri.
    Aku ikut sedih sama masa lalunya eungi, part ini nyesek banget.. Apalagi bagian akhir.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s