After a Long, Long While – Part 8

aallw

gambar milik Taecyeon, Haneul & Kyuhyun

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Aeri, Ok Taecyeon, Cho Kyuhyun

Aeri terbangun keesokan harinya dengan perasaan yang kacau-balau. Sebagian besar dari dirinya merasa sangat bahagia, namun ternyata ganjalan yang terus mengikuti langkahnya juga tidak pernah luput dari kekhawatirannya. Wanita itu meraih kimono tidur di lemari dekat tempat tidurnya sebelum ia bergabung dengan Taecyeon yang saat ini sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.

Ia tersenyum melihat kelakuan pria yang sedang memasak sambil bersiul riang, bagai mengalami deja vu, memori Aeri membawanya mundur ke bulan-bulan awal ketika ia masih tinggal menumpang bersama Taecyeon. Dulu pria itu juga selalu menyiapkan makan pagi untuknya, bahkan Aeri tidak perlu berusaha untuk mencari makan siang karena Taecyeon sudah merapikan semuanya—agar ketika pria itu pergi bekerja, Aeri tidak perlu bingung. Ia ingat seberapa linglung dan hilang arah dirinya saat itu, kalau saja pria di hadapannya tidak melakukan semua itu, mungkin Aeri sudah terdampar entah di mana.

Perhatian Aeri beralih dari Taecyeon menuju jendela di dekat ruang duduknya, matanya segera melebar dan senyuman senang muncul. Salju pertama telah turun. Pantas saja semalam udara terasa sangat dingin, jika melihat tumpukan salju di luar perkarangan rumah atapnya yang sudah beberapa sentimeter ini.

“Aku mau membangunkamu tentang salju itu, tapi aku tidak tega melihat wajahmu yang sangat lelap.” Taecyeon bergabung dengan Aeri, tanpa permisi pria itu melingkarkan lengan kokohnya diseputar pinggang Aeri kemudian ia mengecup pelipis wanita itu.

Aeri merasa tubuhnya bagai tersengat listrik, sentuhan pria ini jelas bisa menimbulkan efek-efek yang mengejutkan pada dirinya, dan ciuman sederhana dari Taecyeon juga membawa ingatannya pada panasnya permainan mereka semalam. Kontan wajah wanita itu langsung memerah ketika ia teringat adegan demi adegan yang terjadi.

“Aku pun berinisiatif membuatkan sarapan, cheesecake yang kita beli semalam sama sekali tidak tersentuh dan aku yakin kau pasti lapar sekarang—karena aku sangat lapar.” Pria itu merangkul bahu Aeri dan menuntunnya menuju meja makan.

“Wah, kemarin kita tidak jadi makan pancacke dan sekarang kau justru membuatnya.” Ujar Aeri mencoba mengalihkan pikirannya.

“Aku hanya melihat bahan apa saja yang ada di lemari makananmu.” Balasnya dengan cengiran.

Aeri mengangkat garpu dan pisaunya untuk segera mencicipi masakan Taecyeon. Pria ini jelas sangat berbakat dalam hal masak-memasak, Aeri pernah sekali melontarkan ide baginya untuk buka restoran saja ketimbang menjadi guru—tapi Taecyeon bilang kalau ia sangat menikmati profesinya yang dikelilingi oleh anak-anak kecil energik.

Wanita itu langsung menggangguk sambil tersenyum setelah sepotong pancake ditelannya, “Ya! aku berani bertaruh pancake buatanmu pasti lebih enak daripada yang tersaji di café kemarin.”

Taecyeon menyengir senang, “Habiskanlah, dan ingat kau berjanji untuk mengajakku ke sana pada kencan berikutnya.”

Aeri mengangguk sambil melanjutkan makannya dalam diam.

Pagi ini seharusnya menjadi sebuah pagi yang mendebarkan, pagi yang membuat mereka merasa berbunga-bunga, bahkan mungkin pagi yang  mereka lewati dengan babak permainan panas lainnya. Jika Aeri boleh mengikuti nalurinya, jelas ia akan melakukan semua itu. Aeri ingin kembali berada dalam dekapan Taecyeon, ia ingin berlindung dalam pelukannya, ia ketagihan dengan rasa nyaman yang pria itu selalu tularkan untuknya, dan berpura-pura bahwa ia sudah berhasil membuang Kyuhyun dari memorinya.

Tapi sampai kapan ia bisa bertindak egois pada pria itu?

Terkadang ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak pernah berani berterus terang, ia memiliki ketakutan besar kalau Taecyeon akan meninggalkannya—satu-satu orang yang melindunginya akan meninggalkannya—dan Aeri tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika hal itu terjadi. Namun ia pun tidak sampai hati untuk terus menggiring pria itu ke dalam hidupnya yang suram.

Pria itu mengatakan kalau ia mencintainya. Mencintainya! Aeri paham kalau perasaan yang diberikannya tidak sederhana dan ia pun mengerti konsekuensi yang harus dilaluinya jika ia tetap bungkam tentang dirinya. Bisa jadi ia dan Taecyeon hidup damai dan bahagia pada permulaan hubungan mereka, tapi apa pria itu akan memandangnya dengan sama jika ia tahu semuanya? Aeri selalu teringat akan ekspresi Kyuhyun saat ia melayangkan surat cerai di hadapannya, dan wanita itu yakin ia akan tewas di tempat di hal itu terjadi kembali—hatinya tidak akan sanggup menanggung siksaan itu untuk kedua kalinya.

“Hey kau melamun, apa yang kau pikirkan?” Taecyeon membuyarkan renungan Aeri.

Wanita itu mengangkat pandangannya dari piring untuk menatap Taecyeon ke manik matanya. Wajahnya lagi-lagi terasa panas ketika mereka bertatapan, Aeri menggigit bibirnya untuk menyembunyikan kegugupannya.

Taecyeon tersenyum malu, “Apa kau sedang memutar ulang kejadian semalam di kepalamu?”

Aeri langsung meringis malu kemudian menutup wajahnya dengan tangannya. “Aku—semalam tadi, itu—bagaimana aku mendeskripsikannya? Aku—“

Taecyeon bangkit dari kursinya untuk memutari meja makan, pria itu segera berlutut di samping kursi Aeri, tangannya melingkar pada pinggang wanita itu sambil perlahan memutar tubuh Aeri agar menghadap dirinya.

Aeri yang belum sempat berpakaian dengan benar kini harus sibuk menutupi bagian-bagian privat dari tubuhnya, semalam memang Taecyeon mengekplorasi tubuhnya dengan leluasa, tapi bukan berarti Aeri bisa mengumbarnya begitu saja pagi ini.

“Aku sangat bahagia, Aeri-ya. Bukan hanya karena faktor sex hebat yang kita lakukan semalam, tapi terlebih karena kau sudah mau membuka dirimu padaku. Aku senang kau mulai menceritakan apa yang mengganggu hatimu dan aku sangat senang karena kau mengijinkanku untuk berada di sisimu.” Pria itu mencondongkan tubuhnya untuk menyapukan bibir mereka.

Aeri menutup mata untuk menikmati kecupan lembut yang pria itu berikan untuknya, lagi-lagi perasaan bahagia itu muncul di hatinya, tapi mengapa ia justru ingin menangis sekarang? Rasanya Aeri ingin memberhentikan waktu, ia ingin mendekap pria ini dekat dengannya dan tidak melepaskannya.

Mungkin perasaan yang ia miliki sekarang bukan cinta, mungkin wanita itu sudah tidak akan pernah bisa mencintai seseorang seperti ia mencintai Cho Kyuhyun. Tapi bukan berarti jantungnya tidak berdebar setiap saat Taecyeon melindunginya, bukan berarti ia harus menahan keninginannya untuk tersenyum setiap pria itu mencoba menghiburnya, dan bukan berarti ia tega menjebak pria ini untuk terus menggantungkan harapan padanya.

“Taec,” bisik Aeri di atas bibirnya, “Aku sangat bahagia pagi ini, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku bangun dengan senyum lebar konyol ini di wajahku.”

“Kini kau paham apa yang kurasakan setiap aku berhasil membuatmu tersenyum, bukan” Taecyeon kembali melumat bibir Aeri.

Wanita itu mendorong Taecyeon, ia ingin menatap mata pria itu dalam-dalam. Tangannya digunakan untuk membelai lembut rambut pria di depannya sambil perlahan ia menelusuri lekuk sempurna yang membentuk wajah pria itu. “Terima kasih, kau sudah membuatku merasa seperti anak muda yang sedang kasmaran.”

Taecyeon tertawa, “Dengan senang hati aku akan melalukannya setiap hari untukmu.”

*

Tidak ada yang aneh sore itu ketika Taecyeon pulang dari rumah Aeri, wanita itu tetap menyunggingkan senyum manisnya, kata-katanya pun mengindikasikan kalau ia benar-benar memberi lampu hijau pada pria itu. Namun yang tidak diketahui pria itu adalah tumpukan rasa bersalah yang hinggap selepas ia pulang. Ia telah membiarkan dirinya untuk menjadi egois kemarin dan ia sangat menikmatinya. Sebenarnya Aeri punya dua pilihan, mengakhiri momen indah ini sebelum ia menjebak Taecyeon atau berbelas kasihan pada dirinya sendiri dan mengulur waktunya untuk menikmati kasih sayang yang diberikan pria itu.

Bagai seorang pengecut, Aeri memilih untuk bungkam dan menghindari Taecyeon seminggu berikutnya. Wanita itu memberikan berbagai alasan untuk pergi dan pulang sendiri dan ia pun selalu menghindari ruang guru atau kantin sekolah. Aeri memilih untuk bersembunyi di dalam kelasnya dan makan sendiri hanya demi menghindari bertemu Taecyeon.

Jelas pria itu merasakan gelagat aneh dari Aeri, tapi kepadatan jadwal pertandingan anak didiknya juga membuat waktu Taecyeon untuk menemui Aeri menjadi sangat terbatas. Namun hari ini pria itu memiliki waktu leluasa dan ia bertekad untuk berbicara serius dengan Aeri. Karena sikap wanita itu sangat asing baginya sekarang. Bagaimana mungkin ia membiarkan Taecyeon menyentuhnya tapi kemudian berlari menjauh—ada sedikit perasaan marah di dalam diri pria itu, ia merasa dimanfaatkan dan dibuang bagitu saja oleh Aeri.

Aeri sendiri benar-benar bersikap seperti seorang pencuri yang sedang bersembunyi, kapan pun ia melihat sosok Taecyeon di selasar sekolah, wanita itu akan langsung balik badan atau belok ke sebuah kelas kosong hingga pria yang ia tahu sedang mencarinya itu hilang dari pandangan. Ia paham bahwa cara untuk menuntaskan permainan petak-umpet ini adalah dengan mengutarakan kejujurannya—tapi itu akan menjadi akhir dari segalanya bagi Aeri dan ia belum siap untuk kembali merasakan keruntuhan dunianya.

Pada Jumat sore, wanita itu sedang memasukkan nilai murid-muridnya ketika pintu ruang kelasnya diketuk pelan. Hatinya langsung mencelos, tentu saja, selihai-lihainya ia bersembunyi Taecyeon akan selalu tahu ke mana ia harus mencari Aeri. Dengan ragu Aeri mempersilakan tamunya masuk, alangkah terkejutnya ia ketika yang muncul dari balik pintunya bukanlah Taecyeon.

“Tuan Cho?” Sapanya ragu.

Kyuhyun mengangguk kecil sebelum melangkah masuk ke dalam kelasnya dengan tatapan penuh keraguan.

“Ada yang bisa kubantu?” Tanya Aeri, mencoba terdengar tenang.

“Kepala sekolah mengarahkanku untuk bertemu denganmu, Aeri-ya.” Ujar Kyuhyun.

Aeri menghela napas panjang sebelum ia bangkit dari kursinya. “Perihal?”

“Eunjung.” Jawab Kyuhyun singkat.

Wanita itu kini menyenderkan pinggulnya pada sudut mejanya, kedua tangannya dilipat di depan dadanya sambil ia mengerutkan kening kebingungan. “Apa ada masalah lagi?”

Kyuhyun menggeleng, “Aku datang untuk memantau perkembangan anakku, kepala sekolah kebetulan bilang kalau perkembangan Eunjung paling pesat terjadi di dalam kelasmu. Maaf kalau aku menggaggu waktumu, aku tidak bermaksud untuk mengusikmu.”

Aeri tidak bisa percaya pada tingkat percaya dirinya saat ini. Sebelumnya tangannya akan terasa dingin dan tubuhnya bergetar setiap kali sosok Kyuhyun muncul di hadapannya, Ia tahu jantungnya akan mulai terasa bagai sedang diremas kencang dan amarahnya pada pria ini akan mulai memuncak seiring dengan berlalunya pembicaraan mereka. Tapi kini ia bisa menatap balik Kyuhyun dengan tenang, setidaknya Aeri tidak merasa harus mengoyak hatinya sendiri ketika ia menatap pria yang sangat dicintainya ini.

“Aeri-ya?” Kyuhyun menyapanya lagi.

Aeri menarik napas dalam, “Perkembangan anakmu memang cukup signifikan, kurasa selama ini guru-guru di sini menggunakan pendekatan yang salah. Apa dia sudah mulai berbicara dengan Bahasa Korea di rumah?” Tanya Aeri santai, berusaha untuk tetap fokus pada topik edukasi Eunjung saja.

Kyuhyun mengangguk, “Masih campur aduk, tapi sudah lebih baik. Ketika ia bicara seperti itu aku jadi teringat dirimu waktu kecil dulu.” Sinar mata pria itu kembali meredup.

Aeri memilih untuk berlagak tuli terhadap pernyataan Kyuhyun, bukan waktu bagi mereka untuk bernostalgia sekarang. Ia memutuskan untuk mencari file gambar Eunjung untuk ditunjukkan pada Kyuhyun, ketimbang harus berjalan mundur melewati kenangan indah mereka. Tidak lama, Aeri menemukan gambar yang ia cari, gambar di mana Eunjung menggunakan tulisan hangul dalam gambarnya—gambar orang-orangan kurus yang bertuliskan appa, oemma, Eunjung, dan Agi-ya yang waktu itu pernah dicermatinya.

Wanita itu menyerahkan gambar itu pada Kyuhyun sambil tersenyum pahit, “Selamat.” Ujar Aeri pelan, mengacu pada gambar keluarga bahagia yang dibuat oleh anak Kyuhyun.

Mata pria itu meneliti gambar di tangannya, kemudian ia sadar apa maksud ucapan selamat yang Aeri berikan. Hati Kyuhyun mencelos, pasti Aeri sudah paham fakta bahwa Kyuhyun dan keluarganya akan segera dikaruniai seorang bayi—sesuatu yang menjadi hal sensitif baginya.

“Aeri-ya, aku—”

“Beberapa ejaan anakmu masih tertukar, tapi keinginan belajarnya besar jadi kau tidak perlu khawatir.” Aeri mengalihkan arah pembicaraan Kyuhyun.

Wajah pria itu masih terpaku pada gambar di tangannya. Ia sukses menjadi pria paling brengsek dalam hidup Aeri dan seolah siksaan yang Kyuhyun beri belum cukup, sekarang ia justru terkesan sedang memamerkan bertapa baik dan bahagia hidupnya setelah Aeri pergi.

“Maafkan aku.” Bisik Kyuhyun pelan.

“Ne?”

“Aku tidak pernah bermaksud untuk mengusik hidupmu lagi, Aeri-ya. Aku sadar bertapa besar dosaku padamu dan sungguh jika aku tahu kau mengajar di tempat ini, aku tidak akan memasukkan Eunjung ke sini.” Ujarnya.

“Dan menurutmu itu lebih baik?” Sahut Aeri ketus. Ia sudah cukup bersabar untuk meredam amarahnya pada Kyuhyun, tapi pria ini sepertinya memang benar-benar ingin melihat urat di leher Aeri pecah.

Kyuhyun menatap wanita di depannya dengan tatapan kosong, seakan memang berharap Aeri menumpahkan semua emosi padanya. Sejak vonis dokter yang mereka terima bertahun-tahun lalu, Aeri nyaris tidak pernah bicara pada Kyuhyun kecuali jika ditanya, wanita itu tidak pernah marah dan selalu mencoba menahan emosinya—ia merasa tidak berhak untuk menuntut apapun dari suaminya sejak saat itu.

“Apa menurutmu lebih baik bagiku untuk tidak mengetahui apapun tentang dirimu sekarang?” Suara Aeri mulai serak, tapi wanita itu bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan menumpahkan air mata di depan Kyuhyun. “Kau mencampakkanku, oppa. Aku tahu suatu hari waktu itu akan tiba, tapi apa kau kira akan lebih baik bagiku jika aku tidak pernah mendengar kabar apapun tentangmu?”

“A—aku—”

“Bisakah kau bayangkan sebingung apa aku saat itu? Kau meninggalkanku tanpa sepatah kata pun, aku harus mencerna sendiri alasan kau pergi meninggalkanku—dan percayalah aku tidak bodoh, aku tahu persis alasan kau meninggalkanku—tapi apa itu artinya aku harus berhenti mencintaimu? Apa kau berharap dengan kau menghilang dari duniaku, aku pun akan melupakan perasaanku padamu?” Suara Aeri semakin bergetar, tapi wanita itu masih berhasil menahan air matanya.

Mata Kyuhyun membulat, tidak siap dengan konfrontasi yang diberikan Aeri.

“Kumohon, jika memang masih ada sedikit hati nurani yang tersisa di dirimu, berhentilah merasa kalau kau tahu yang terbaik untukku.” Aeri bisa merasakan tubuhnya juga ikut bergetar.

“Aku tidak bermaksud untuk mendikte apa yang terbaik untukmu, Aeri-ya. Aku hanya—”

“Merasa bersalah?” Potongnya. “Atau kau iba padaku?”

“A—Aeri-ya, perasaan itu mungkin ada, tapi bukan itu alasanku untuk masih tetap berusaha menjagamu.”

Wanita itu menarik napas dalam, pria di hadapannya benar-benar lihai dalam urusan memutar balikkan kata-katanya, membuat Aeri merasa penting dan berharga di dalam hidupnya, membuatnya ingin percaya bahwa seluruh yang terjadi di antara mereka benar-benar hanya kekeliruan semata.

“Oppa,” Bisiknya, matanya terpejam selagi ia mencoba menyembunyian tatapan sendunya. “jika kau hanya ingin menjagaku, maka aku hanya ingin kau bahagia.”

“Ne?”

“Aku tidak bisa memberikanmu kebahagiaan yang kau inginkan, tapi wanita itu mampu—bahkan sekarang ia akan segera memberimu keturunan kedua. Aku memilih jalan ini oppa, cepat atau lambat aku akan mundur teratur dari hidupmu, dan kebetulan saja kau melakukannya lebih cepat dari yang kurencanakan. Kau pikir aku punya muka di hadapanmu? Dengan segala kecacatanku, dengan seluruh latar belakangku. Kau pikir aku senang mengkonfrontasi ibumu terus-menerus hanya untuk berada di sisimu? Tapi aku rela melakukan semua itu, karena aku mencintaimu.”

Jantung Kyuhyun berdebar kencang dalam dadanya, Aeri baru saja mengatakan hal yang sangat ingin ia dengar, hanya saja ia terlambat enam tahun untuk mengatakannya.

“Melihat Eunjung di hadapanku itu bagai tamparan bertubi-tubi yang selalu menyerangku, tapi aku tidak keberatan oppa. Karena anak itu adalah cerminan kebahagiaanmu, anak itu mengingatkanku untuk tahu diri, agar aku tidak bermimpi bahwa ada secercah harapan untuk cerita kita di kemudian hari.” Suara Aeri semakin pelan seiring napasnya yang menjadi semakin sesak.

“Aku tidak pernah bermaksud Aeri-ya. Aku melakukan kesalahan malam itu, aku mengorbankan seluruh hidup kita hanya untuk emosi yang menyerang sesaat. Apa kau pikir aku bisa hidup tenang dengan itu semua?”

“Kau mampu melakukan itu, oppa.” Putus Aeri tegas. “Di malam kau menyerahkan surat cerai itu untukku, di malam kau memutuskan untuk melanjutkan hidup bersama wanita itu, apa perlu kuingatkan lagi untuk yang kesekian kali bahwa wanita itu sekarang sedang mengandung anakmu?”

Rahang Kyuhyun mengeras, ia tahu apapun yang ia lakukan dan katakan akan terlihat salah.

Aeri tersenyum miris, “Beritahu aku satu hal, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya mendengar tangisan anakmu yang baru lahir saat itu? Atau saat kau memandang wajahnya yang di dalamnya terkandung garis-garis wajahmu? Apa yang kau rasakan saat kau menggendongnya untuk pertama kali? Kumohon, beri tahu aku apa rasanya. Karena aku tidak akan pernah tahu, oppa.”

Pria itu sangat mengenal Aeri dengan baik, ia tahu semua akting tegar yang Aeri lakukan sekarang semata-mata hanya untuk mempertahankan harga dirinya. Wanita ini terlihat begitu rapuh, ia terlihat bingung dan naluri pria itu menyuruhnya untuk menenangkan gadis kesayanganya.

Kyuhyun melangkah mendekati Aeri, ia siap saja untuk dihajar oleh wanita di depannya—toh ia memang pantas menerima segala bentuk amarah yang seharusnya dilontarkan Aeri padanya sejak lama. Pria itu tetap melangkah mantap ketika ia melihat Aeri tidak bergeming di tempatnya. Menuruti kata hatinya, Kyuhyun segera melingkarkan lengannya untuk memeluk tubuh ringkih Aeri.

Wanita itu membeku di tempatnya, sama sekali tidak siap dengan reaksi ini. Aroma tubuh Kyuhyun menyihir Aeri bagai racun yang pelan-pelan melumpuhkan kesadarannya. Jika boleh, ia ingin melingkarkan tangannya di sekitar pinggang pria ini, berlindung dalam kehangatan pria yang dirindukannya. Aeri ingin menumpahkan semua kesedihannya, ia ingin bercerita tentang kebingungnya, ia ingin bersandar pada pria yang dicintainya.

“Kau kira semua ini mudah bagiku?” Bisik Kyuhyun di telinganya, “Melihatmu berjuang sendirian menata hidupmu, memenuhi segala tanggung jawab yang menyertaiku dengan konsekuensi aku harus meninggalkan wanita yang kucintai. Kau pikir hidupku tenang sekarang? Bayangan wajahmu selalu menghantuiku dan sungguh Aeri-ya, kalau aku bisa memutar waktu kembali..”

Aeri tersentak dari transnya, ia segera mendorong Kyuhyun dari tubuhnya, “kalau aku bisa memutar waktu kembali, aku akan menjauh darimu dari awal kita bertemu, oppa. Aku akan memilih untuk tidak mencoba mengacaukan hidupmu sejak awal. Jadi kumohon, hentikanlah kata-katamu yang tidak ada maknanya sekarang.”

Kyuhyun tercengang dengan sikap dingin Aeri, “Aeri-ya, apa kau menyesal bertemu denganku?“

Wanita itu menggeleng mantap, “Kau anugerah Tuhan untukku oppa, aku bersyukur karena Dia telah mengirimmu untuk menuntun sebagian besar masa hidupku. Aku justru iba padamu karena kau bertemu denganku.”

“Hey, aku pun—”

“Tadi kau bilang bahwa kau berharap untuk tidak mengusikku bukan? Jadi kumohon, pergilah.” Aeri melangkah mundur dari Kyuhyun. “Ingatlah, sekalipun kau bisa memutar waktu, kau tidak akan bisa mengubah takdirku. Jadi tidak perlu berandai-andai untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya.”

Pria itu langsung terdiam mendengar kata-kata Aeri.

“Kumohon, hariku sudah cukup buruk. Tinggalkan aku sendiri.” Aeri melirik ke arah pintu kelasnya dengan tajam, menyuruh Kyuhyun untuk segera angkat kaki dari tempatnya sekarang juga. Pria itu jelas tidak perlu diperintah dua kali, ia mengucapkan kata maaf sekali lagi sebelum akhirnya pergi dari kelas wanita itu.

Aeri langsung tertunduk lemas ketika Kyuhyun meninggalkan kelasnya, bahkan setelah sekian lama perpisahan mereka, kehadiran pria itu masih saja terus mebuat hatinya terasa nyeri. Ia tidak perlu diingatkan awal keretakan rumah tangga mereka, ia tidak perlu permintaan maaf Kyuhyun, ia tidak perlu mesin waktu untuk membawanya kembali ke masa-masa indah hidupnya, yang ia butuhkan hanya seseorang yang mau menerima dirinya dengan segala kekuranganya.

Tapi mana mungkin ada lelaki yang mau menerimanya.

Wanita itu mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, baru saja Aeri hendak membereskan barang-barangnya ketika pintu kelasnya dibuka dengan kasar.

Ok Taecyeon masuk hanya selang beberapa menit setelah Kyuhyun angkat kaki dari kelas, tatapan matanya tajam, rahangnya mengeras dan kedua tangannya yang terkepal di samping tubuhnya cukup menjelaskan suasana hatinya saat ini. Kalau cara Aeri yang menghindarinya belum cukup membuatnya kesal, kedatangan Kyuhyun ke dalam kelas wanita itu—sambil memeluknya—sudah menjadi alasan yang cukup baginya untuk menuntut penjelasan dari wanita yang kini terlihat ketakutan.

“Jadi kau masih membiarkannya mengusikmu?” Hardik Taecyeon tanpa basa-basi.

Mata Aeri membulat kaget, ia tidak siap menghadapai konfrontasi berikutnya di hari yang sama. “Taec, aku..”

“Kau menghindariku.” Simpul Taecyeon. “Entah apa kesalahanku padamu, tapi kau menghindariku—dan aku berhak mendapatkan penjelasan tentang hal ini!”

Warna di wajah Aeri perlahan memudar seiring dengan ketakutannya yang tiba-tiba datang. Cepat atau lambat pertengkaran ini akan terjadi, tapi harus sekarangkah ia benar-benar mengucapkan selamat tinggal pada pria di depannya?

“Aku menunggu penjelasanmu, Aeri-ya.” Rahannya mengeras seiring langkahnya yang semakin mendekat. “Jabarkan kesalahanku padamu hingga kau menghindariku, dan tolong jelaskan sekalian mengapa pria itu masih berani menyentuhmu!”

“Taec, aku—“

Taecyeon menyudutkan posisi Aeri dengan tubuhnya, ia tidak mau memberi kesempatan pada wanita itu untuk berkelit dan lari dari perbincangan mereka sekarang. Tatapan lembut yang biasa terpancar dari mata pria itu telah musnah ketika amarah mengabil alih emosinya.

Jelas saja ia emosi. Aeri telah memainakan perasaannya seperti yoyo, malam minggu kemarin wanita itu membuka diri dan hatinya untuk Tecyeon, seminggu berikutnya ia menghindari Taecyeon dengan segala upaya yang bisa dilakukannya, dan sore ini Taecyeon tidak sengaja menyaksikan perbincangan Aeri dengan mantan suaminya—yang di matanya terlihat seperti dua orang yang sedang rujuk.

“Beri tahu aku, apa kau menghindariku ada alasannya dengan kembalinya dia ke hidupmu?” Taecyeon mencoba menahan nada bicaranya untuk tidak teriak pada Aeri.

Aeri menggelengkan kepalanya, “Aku bersumpah itu tidak mungkin terjadi Taec, aku—” Aeri menggigit bibirnya keras, mencoba mengontrol kepanikan yang menyerangnya.

“Kau sungguh pandai membuatku frustasi seperti ini, Aeri-ya.” Ujar Taecyeon sinis, “APA SULITNYA MENGATAKAN YANG SEJUJURNYA PADAKU?!”

Aeri menunduk.

“AERI-YA!”

“Aku tidak siap dengan semua ini, Taec. Bisakah kita membahasnya lain kali?” Ucapnya cepat.

Taecyeon berdecak tidak sabar, “Kapan? Setelah kau berhasil menghindariku sebulan penuh?”

Napas Aeri tercekat, ia mengerti bahwa Taecyeon sedang berusaha keras untuk tidak menumpahkan amarahnya sekarang—usaha yang terlihat gagal di mata Aeri. Ia pun tahu kalau dia tidak bisa lagi menghindar untuk memberi waktu tambahan bagi dirinya untuk mempersiapkan diri.

“Aku belum siap membicarakannya.” Ujar Aeri nyaris berbisik.

Pria itu mengerutkan keningnya bingung, “Maksudmu? Kau tidak siap jika aku semakin dekat padamu? Kau tidak siap dengan keseriusanku?”

“Aku tidak siap kalau aku harus kehilanganmu.”

Taecyeon mendengus sinis, “Alasanmu tidak bisa kuterima. Ya! jika memang kau masih mencintai pria itu dan kau masih berharap padanya, kau bisa jujur padaku. Aku tidak membutuhkan kata-kata manismu untuk membuatku merasa lebih baik Aeri-ya.”

“Aku sungguh-sungguh.” Suara Aeri mulai bergetar, sebagian dirinya ketakutan setengah mati dengan sikap Taecyeon sekarang.

Taecyeon menarik napas dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, “Baiklah, kita anggap saja kata-katamu itu benar, jelaskan padaku, mengapa kau harus takut kehilanganku? Aku tidak pernah pergi dari sisimu selama ini bukan? Apa aku pernah meninggalkanmu? Apa kau kira aku mampu mencampakkamu seperti pria bodoh itu?”

Napas Aeri mulai naik turun tidak teratur, inilah saatnya—saat di mana ia harus menapak pada kenyataan.

“Pria itu tidak bodoh, Taec.” Sahut Aeri pelan, “Ia hanya memprioritaskan kebagiaannya dengan cara meninggalkanku—sesuatu yang seharusnya kau lakukan sekarang.”

Taecyeon masih menatap Aeri dalam diam, dalam hati ia sudah benar-benar siap meninju tembok di belakang punggung Aeri. Bagaimana mungkin wanita ini masih saja membela mantan suaminya yang berengsek itu?!

“Taec,” Aeri menarik napas dalam sambil menutup matanya, “Boleh aku bertanya padamu? Apa yang kau harapkan dariku?”

“Ne?”

“Kau sudah tahu seberapa buruk—”

“Aish Aeri-ya, berapa kali kita sudah membahas hal ini? Aku tidak peduli! Masa lalumu, statusmu, keluargamu, aku tidak peduli akan semua itu! Aku mencintaimu dan bohong saja kalau aku tidak berharap untuk merajut masa depan bersamamu.” Jelas Taecyeon.

Jantung Aeri serasa ditikam belati yang sangat tajam saat ia mendengar kata ‘masa depan’ keluar dari mulut pria itu. “Kalau begitu, boleh kutahu masa depan seperti apa yang kau bayangkan bersamaku?” Tanya Aeri dengan suara yang semakin sengau.

Pria itu merendahkan suaranya, tidak ingin membuat Aeri ketakutan lebih jauh lagi. “Aku ingin berada di sampingmu, menjagamu, tumbuh tua bersamamu. Aku ingin kita bersama dan hidup bahagia seterusnya.”

Aeri mengigit bibirnya semakin kencang, air mata sudah menumpuk di pelupuknya tapi ia harus tetap menuntaskan pembicaraan ini. “Seterusnya?”

Taecyeon mengangguk mantap. “Aku tidak mau terlalu tergesa-gesa sekarang, karena aku tahu kau sedang dalam masa penyembuhan sakit hatimu. Tapi tanpa bermaksud lancang, aku—aku ingin menjadi pendamping hidupmu sampai kita menjadi jompo nanti.”

Buliran air mata akhirnya mengalir dari pelupuknya, “Tidak cukupkah kau berada di sampingku kemudian kita bisa saling menyayangi dan menjaga seperti sekarang? Aku berjanji tidak akan jauh-jauh dari sisimu, tapi kumohon, carilah wanita lain untuk menjadi pendamping hidupmu.”

Taecyeon tersenyum lembut, ibu jari kanannya sekarang menghapus air mata yang mengalir di pipi Aeri, “Itu terdengar konyol bukan? Aku ingin membangun keluarga kecil bersamamu, bagaimana mungkin aku mencari wanita lain jika wanita impianku ada di depan mataku?”

Tiba-tiba saja Aeri merasa separuh napasnya hilang, wanita itu sekarang mulai terengah kehabisan oksigen. “Ba—bagaimana jika hal itu memang tidak akan pernah terjadi?”

Taecyeon menunduk kecewa, “Kau tidak akan penah memberiku kesempatan itu?”

Aeri menggeleng, “Bukan, bukan karena itu.” Ia menarik napas dalam, “Tapi karena aku tidak akan pernah bisa memberi keluarga kecil yang kau harapkan. Aku—aku tidak bisa, tidak akan pernah bisa memberimu anak.” Ujarnya dengan suara yang nyaris hilang tertelan tangis. “Aku.. mandul.”

Wanita itu segera membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan, pertahanan dirinya runtuh dan ia tak lagi mampu berdiri tegak di hadapan Taeyeon yang sekarang menatapnya dengan terkejut. Aeri menyenderkan tubuhnya pada tembok dingin di belakangnya dan perlahan ia merosot hingga terduduk ke lantai.

Mulut Taecyeon terbuka, ia ingin mengatakan sesuatu tapi entah apa yang bisa ia katakan untuk membuat situasi lebih baik sementara wanita yang dicintainya sekarang sedang menangis sejadi-jadinya. Pria itu segera berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Aeri, hatinya bagai dikoyak ketika ia melihat sosok yang dikaguminya sekarang hancur dalam kepedihannya sendiri.

“Ma—maafkan.. aku.. Taec,” Ujar Aeri diantara isakannya, “Aku.. menyimpan ini.. terlalu lama.. darimu..” Aeri mengangkat tangannya untuk memohon maaf pada pria yang masih terguncang di hadapannya. “Aku telah.. egois.. sungguh aku.. tidak berniat.. membohongimu.. tapi.. argh!” Aeri menepuk-nepuk dadanya sendiri untuk menghilangkan sesak yang menyerangnya. “Maafkan aku..”

Tangisan Aeri sudah berubah menjadi raungan, derasnya air mata yang turun sudah tidak lagi mampu dibendungnya. Sepanjang hidupnya, mungkin saat inilah Aeri benar-benar merasa ‘ditelanjangi’. Tatapan Taecyeon padanya, raut wajah pria itu, kata-kata yang tidak sempat keluar dari mulutnya, dan sinar kekecewaan yang tidak berhasil disembunyikannya dari sorot matanya—Seperti yang sudah Aeri duga, detik ia mengungkapkan kejujuran adalah detik ia akan kehilangan topangan hidupnya.

Dan Aeri tidak pernah menyangka bahwa gambaran hidupnya tanpa keberadaan Taecyeon ternyata akan semenyakitkan ini.

Pandangan pria itu kini mulai kabur oleh air matanya sendiri, inikah alasan mengapa Aeri bercerai? Inikah alasan dibalik puluhan usaha wanita ini untuk mengakhiri hidupnya? Inikah yang membuatnya selalu mendorong Taecyeon untuk menjauh darinya? Beban berat ini dibawanya terus sendirian dan tiba-tiba Taecyeon paham alasan mengapa Aeri selalu menghindar dan menyembunyikan fakta ini darinya.


Author’s note:

yak! berhubung setelah melihat tanggapan, antusiasme, jumlah feed, jumlah komen dan tanggapan.. kayanya peminat ff ini lebih sedikit, jadi aku akan kejar tayang One Last Shot lebih sering sekarang.. 🙂 After a Long, Long While tetep aku lanjutin, tapi frekuensinya mungkin seminggu sekali or less..

Advertisements

33 thoughts on “After a Long, Long While – Part 8

  1. elfrye says:

    Sedih bgt ya aeri,emng nasib perempuan yg tdk bs memberikn keturunan akn selalu di cmpkkn dan di remehkn,tp emng salah aeri,itu kn bkn kemauanny,dia pasti akn selalu trauma utk menjlin hub lg karena tkt di buang dan di campkkn lg,mudh2an taecyeon mau mnrima kekurngn aeri.chingu aq kmrn udh minta pw tp blm di ksh, sedih

    Like

  2. may says:

    Aeri….sedih bgt liat d posi2 aeri. Hanya lwt tlisan aja sy udh bs mrasakn kpedihan,tangisny aeri, author emg jago mnyusun kt2 yg bs bikin pmbacany trbw suasana

    Liked by 1 person

  3. Yulia says:

    Okeee ini agak aneh soalnya loncat part
    Tapi tetep seru
    Semua rahasia aeri sudah di jelaskan kepada taec
    Semoga taec bisa nerima aeri apa adanya
    Nyesek ya jadi aeri
    Semoga perjuangan taec selama ini berbuah hasil

    Oke ini adalah komen pertama setelah hiatus

    Like

  4. Tina yuliawati says:

    Nyesek bacanyaa,,bisaa bayangkan gimanaa rasanyaa jadi aeri,,kyuhyun nyaa jga sama sama kasian,terus gimanaa nanti reaksinyaa si taec??? Wadawwww penasarannn

    Like

  5. Naya says:

    Kasihan Aeri, padahal bukan salah dia 😦
    Kyu nya kurang menunjukkan rasa bersalah, bahagia sendiri ga mikirin Aeri 😦

    Penasaran, si Taec gimana reaksinya abis tau rahasia Aeri ya? Semoga Aeri cepet sembuh dr depresi

    Like

  6. Imama says:

    Akankah taec meninggalkan aerin setelah mengetahui bahwa aerin mandul.
    Aku sunggguh sungguh kesal sama kyuhyun katanya sama sulitnya seperti aerin tapi malah akan mempunyai anak lagi. Dasar brengsek.

    Like

  7. Mie says:

    Kenapa nasib aeri menyedihkan.. sementara kyuhyun bsa hidup bahagia.. ini gak adil tpi dikehidupan nyata ini byk sekali terjadi.. byk wanita yg mengalami kejadian seperti aeri.. tpi aku pgn di cerita ini aeri bahagia.. kasihan bgt soal nya..
    Jgn lamaa sambungan nya.. wlu pembaca nya sedikit tpi ada pembaca setia yg selalu menunggu..

    Like

  8. syalala says:

    akbirnyaaaa… terkuak sudah……. itu kyuhhun tuh kaha yg ga konsisten anatar masih cinta atau enggak tp dia ke istrimua juga baik jd kayanya ya apa yah grmes sendiri hahaha btwwww kak imi bener gakan dilanjutin ffnya??? huhu padahal kepalang tanggung udah 8 part loh hahah dan aku udha baca lagi jd ah penasaran bgt huahahaha

    Like

    • ssihobitt says:

      bakal dilanjut koo.. hahaha, tapi pelan-pelan banget kalo yang ini, mengingat yang baca dikit.. 😥
      pasti dilanjut, karena ini ff pertama aku seumur-umur nulis, so it means a lot to me hihihihi (makanya yang English versionnya nggak ada, karena yang English version format dan urutannya kacau balau bikin malu hahahaha)

      Like

  9. rayyrm says:

    kak, kpn dilanjut ceritanya ini?
    jadi penasaran apa taec mau sama aeri yang sudah menjelaskan kalau dia gak bisa kasih keturunan

    Like

    • ssihobitt says:

      Kalau mood aku yg di rusak salah satu reader (hiks, reader kejam) tentang cast di ff ini udah ‘sembuh’… sabar ya… Aku masih memulihkan kesel sama ni orang. Kl tau tips ngeblok 1 reader yg spesifik aku terima sekali sarannya 😭😭😭😭😭 *jadi curhat, maaf

      Like

  10. ByunSoo says:

    taec skrang bagaimn keputusanmu atas fakta y baru saja kau ketahui,aku mewek walaupun udah tau ap y bakaln dikatakn oleh Aeri,cuma rasax itu sakit taec sakit menanggung beban itu sendiri tanpa ad org y bisa dijadikan teman berbagi suka duka atau cerita,sesak taek,sesak,nafas ini bagaikn tercekat dikerongkongan hingga kaki ini bagaikn tak mmpu untuk mengejar kekurangan ku (Aeri) Aeri itu bingung taec mau maju tapi nasibnya mungkin akn sllu begini,dia takun utk merasakan cinta y begitu manis itu taec,tolong tetap jga Aeri Kami Teac,lindungi dia dr keterpurukan.

    Semangat buat Ff in ya Authornim Love You

    Like

  11. Seo HaYeon says:

    Aku juga mau nangis teriak histeris rasanya… Ya Allah….. kenapa harus semenyakitkan ini ya kak? topik ff ini bnr2 ga nutup kemungkinan ngegambarin prempuan2 yg bernasib sm dg Aeri kan? Berat bgt prjuangannya… Huhu author kami hebat dlm mmilih tema cerita yg bisa dibuat refleksi n bwt readers brpkir kpda hal2 sosial trtntu sprti ini! AWESOME bgt!! Aku bnr22222 penasaran kish stlhx! ini g tw kpn di lnjutin tp pasti ada lnjutannya kn kak y? hehe dtunggu post cerita slnjutnya. Love U uri Author.. 😀 😛

    Like

  12. kyucincho says:

    Nah lho kebongkar juga rahasia terbesarnya. semoga taec ttep mau nerima aeri stelah tau kebenarannya. D tunggu yaa eon lanjutannya😉

    Like

  13. Sugaark says:

    Aerii 😭
    Padahal udah mulai move on
    Tapi gara2 dia ungkapin kekurangannya ke taecyeon dia mulai down lagi
    Berharap taecyeon nerima aeri
    Biar aeri bisa bahagia
    Gak sanggup liat penderitaan aerii

    Aku tunggu part selanjutnya ya authornim
    Semangaattt

    Liked by 1 person

  14. SHE says:

    Eonniiii seorang penulis keren memang punya resiko untuk mendapat ekspektasi tinggi dr pembaca :” mereka sangat ingin khayalan mereka ttg idolanya lbh nyata, dgn kisah yg bisa bawa mereka ke dalamnya. Makanya mereka suka nuntut dan caranya ga banget emang heuheu. Tp bgmn nasib para pembacamu yg lain iniii? Heuheuheu. Karena dia hanyalah satu di antara puluhan kami yg menunggu :” semangat eoonniii :*

    Liked by 1 person

  15. elzi15 says:

    Ahhhhhhh….. Sukak sama ff yang ini,, ceritanya berat banget… Sedih liat mereka berdua…. Kak,, boleh minta mereka bersama nggak,, ahhhh…. Nunggu ff ini lanjut…. Ayo kak… Aku nunggu karyamu yang ini… Semangat….

    Liked by 2 people

  16. kaililaa says:

    Kyuhyun itu sumpah nyebelin, udah tau Aeri sayang banget sama dia (dulu atau msh, mungkin) terus aja nyari kesempatan buat ketemu. Penasaran sama reaksi Taecyeon setelah tau kebenaran Aeri. Semoga dia tetap jadi wonderwall. Kakakkk, dtunggu kelanjtannya semangat^^

    Liked by 1 person

  17. omiwirjh says:

    Benar benar. Aku jujur aku selalu benci dengan orang” yg mandang pernikahan hanya demi keturunan. Bukan karena aku sendiri ga ingin punya keturunan. Tapi takdir Tuhan siapa yang tahu dan dapat meraba raba. Aku benvi dengan orng” yg menvibir wanita dengan kekurangan tersebut. Semoga Taec masih mau di samping Aeri. Ini FF buat perang batin.

    Liked by 1 person

    • ssihobitt says:

      I agree with you! Nggak paham kenapa kebanyakan (terutama budaya asia) memahami titian hidup seorang perempuan sebagai: lahir-sekolah-kerja bentar sambil nyari jodoh-nikah-be a baby machine. Aku bukan feminis, tapi aku benci dengan stigma itu. Plus aku benci sama orang2 yang berbasa-basi “belom isi? Lo kan udah lama merit” HELLOOOW! Mind your own bussiness! Emang bikin anak tinggal bikin doang, kl udah brojol nggak perlu biaya dll? –> yg biasanya dibantah dengan “rejeki kan udah diatur” 🙄🙄🙄

      *jadi curhat hahahaha

      Like

  18. Dyana says:

    Sakit banget rasanya, Aeri harus mengalami semua hal ini.
    Ff ini sukses membuat aku nangis berkali-kali…
    Tidak ada yg paling aku inginkan dari semuanya, tidak untuknya kembali pada Kyuhyun atau di terima Taecyeon, yang kuharapkan hanya dia bahagia dengan atau tanpa kedua namja itu…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s