(Indonesian Version) One Last Shot – Part 5

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Di awal musim semi selewat masa Ujian Tengah Semester, Eungi dan seluruh dosen lainnya diundang untuk menghadiri Gala Lunch tahunan yang diadakan oleh Tuan Cho—Ayah Cho Kyuhyun—di rumah beliau. Event ini adalah salah satu usaha dari tuan Cho untuk menjadi dekat dengan karywan-karyawannya, serta sebagai tempat bagi dosen-dosen berprestasi untuk memperoleh penghargaan atas kinerja mereka. Tuan Cho beranggapan bahwa cara kekeluargaan seperti ini bisa memicu karyawannya untuk terus melakukan improvisasi dalam pekerjaan mereka sehingga akreditasi universitas mereka tetap terjaga dengan baik. Tentu saja, salah satu dari proyek yang akan diberi penghargaan hari ini adalah green project yang digarap oleh Eungi.

Wanita itu beserta Kyuhyun dan Nara, baru saja menuntaskan seluruh file dan eksplorasi yang harus mereka tuntaskan dua hari yang lalu, dan ketiganya akan pergi ke Kopenhagen minggu depan. Waktu tidur yang layak sudah tidak lagi didapatkan Eungi karena ia berniat mengerahkan seluruh usaha terbaiknya untuk seminar yang akan datang, serta melakukan satu misi rahasianya—yaitu untuk menggali potensi Kyuhyun ke level maksimum. Eungi tidak salah menilai potensi Kyuhyun, lelaki itu jelas sangat jenius, ide-ide yang dimilikinya inovatif dan ia tidak pernah patuh pada standar yang ada, sehingga terkadang pemikirannya terdengar mengada-ngada—padahal jika ditelusuri dan dicari jalan keluarnya, ide Kyuhyun justru menjadi sangat brilian.

Eungi harus merasa lega, karena Kyuhyun sudah tidak menjadi mahasiswa tukang protes bawel yang terus-terusan mengeluh jika diberi tugas. Sejujurnya ia merasa lebih santai dengan keberadaan Kyuhyun di dekatnya setelah anak itu bertransformasi menjadi anak penurut yang langsung mengerjakan perintah dengan cekatan. Keberadaan Kyuhyun di grup mereka telah membantu Eungi dalam banyak hal, dibandingkan dengan posisi Hwang Nara yang cenderung justru lebih menambah kebingungan di grup itu.

Sebelum makan siang dimulai, tuan Cho memberikan pidato singkat tentang pentingnya memberikan yang terbaik bagi negara melalui pendidikan, karena bibit-bibit masa depan negara ini bergantung pada mahasiswa-mahasiswa yang saat ini sibuk menuntut ilmu. Gala itu berlanjut dengan acara makan siang sambil ditemani oleh penampilan langsung sebuah grup orchestra. Bagian ini adalah salah satu acara yang Eungi tidak sukai, karena sesuai dugaannya, acara Gala Lunch ini lebih banyak basa-basi ketimbang kontennya.

Ia selalu benci berada dikelilingi orang-orang yang kurang dikenalnya, berbincang tentang hal-hal yang tidak terlalu penting, melihat orang-orang ini mencoba membuatnya terkesan, mendapatkan puluhan kartu nama yang ia tahu tidak akan dilihatnya lagi, tapi yang paling dibencinya adalah fakta kalau ia harus memasang muka tembok untuk berpura-pura menikmati acara seperti ini. Eungi terjebak di sebuah meja bundar bersama dengan delapan orang lainnya—yang sedang sibuk membicarakan tentang kehidupan pernikahan mereka serta anak-anaknya. Memang undangan ini adalah plus-one event, yang artinya mereka boleh membawa pasangan masing-masing, tapi bagi Eungi tidak bisa mengajak siapa pun ke acara ini, sekarang justru terjebak di tengah empat pasangan suami-isteri.

Eungi duduk manis saat makanan pembuka disajikan, ia masih bisa mentoleransi obrolan di meja itu sampai ia melahap seluruh salad salmonya. Namun setelah piring diangkat, Eungi memutuskan kalau pembicaraan di mejanya sudah mulai diluar batas nyaman yang bisa ia toleransi ketika perdebatan politik dimulai oleh pria-pria yang duduk besamanya di mejaitu. Eungi beralasan ingin pergi ke toilet agar ia bisa segera menyingkir dari perdebatan yang mulai panas.

Wanita itu melangkah dari ruang utama menuju taman kecil yang ada di belakang rumah besar, tidak jauh dari ruang utama. Dengan demikian, Eungi masih bisa memantau kegiatan di dalam ruang makan besar tanpa harus merasa terperangkap dalam event sosial yang tak kunjung selesai.

“Kukira kita tidak akan bertemu hari ini.” Sebuah suara berat mengusik ketenangannya.

Eungi menolehkan kepalanya sambil memaksakan senyum di wajahnya, jelas ia hafal siapa pemilik suara itu. Setelah bekerja dengan lelaki itu selama beberapa minggu dalam pertemuan harian yang intens, keberadaan Kyuhyun sudah menjadi sesuatu yang bisa ia terima di sekitarnya.

“Seharusnya menjadi waktu istirahat yang sempurna bagiku, bukan?” Ia mencoba membalas sinis, tapi justru menggeser duduknya agar Kyuhyun bisa duduk di sampingnya.

Mata Kyuhyun memandang Eungi dengan takjub dan mulutnya sedikit terbuka saat ia mempelajari penampilan Eungi siang itu. Ia menggunakan gaun peep-shoulder bermotif bunga-bunga yang sesuai dengan tema musim semi, membuat kulit putihnya semakin tampak bersinar, rambut wanita itu diikat ekor kuda membuat lehernya terpapar dengan indah—sukses membuat pikiran Kyuhyun meliar. Tapi yang paling menarik perhatian Kyuhyun adalah sepasang kaki panjangnya yang indah, terutama karena Eungi memadukan seluruh outfitnya dengan sepasang heels bewarna nude yang membuat kakinya semakin terlihat jenjang.

kwkl9n3

gambar milik Park Seul

Lelaki itu harus berusaha untuk menyembunyikan tatapan kagumnya, karena gengsinya masih mendominasi dan ia tidak mau Eungi menyadari bahwa sikapnya berubah menjadi lebih lembut dan sopan ketika ia bersama wanita itu. Kalau dilihat ke belakang pada awal pertemuan mereka, Kyuhyun sangat yakin bahwa Eungi hanyalah seorang kutu buku yang tidak punya kehidupan sosial, hanya beberapa minggu kemudian seluruh asumsinya berubah. Eungi berhasil menumbuhkan rasa hormat pada diri Kyuhyun, dan ia menjadi satu-satu orang yang bisa diadikan panutan oleh anak pembuat onar itu—karena Eungi selalu memberi Kyuhyun kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.

“Apa kau sedang bersembunyi? Acara Gala dilaksanakan di dalam.” Kyuhyun memutari kursi taman kemudian duduk di sisi kiri Eungi.

“Seharusnya aku yang bertanya, Kyuhyun-ssi. Ini acara khusus dosen.”

Kyuhyun menyengir lebar, “Kau sekarang berada di rumah ayahku, noona. Satu lagi, kumohon bisakah kau tidak usah menggunakan embel-embel formal ketika memanggil namaku? Kurasa kita sudah cukup dekat untuk bisa saling menyapa dengan nyaman.”

Eungi melirik pada Kyuhyun, yang di balas Kyuhyun dengan senyum lebar.

“Champange?” Lelaki itu mengangkat gelas tinggi berisi cairan berbuih.

Eungi menggeleng. “Tidak, matahari masih di atas kepala dan ini merupakan jenis event di mana aku harus sadar sepanjang hari.”

“Mengapa? Kau punya kebiasaan buruk ketika mabuk?”

Eungi mendengus, “Aku seorang functioning alcoholic, justru kerja ku lebih efektif ketika aku mengkonsumsi alkohol. Hanya saja, ini masih terlalu siang untuk mulai minum-minum.”

“Aahh.. masih mencoba menjaga image yang baik.”

Eungi mengangkat kedua bahunya cuek, “Jika kau anak pemilik kampus, bukankah seharusnya kau sekarang berkeliling di dalam?”

Lelaki itu memutar kedua bola matanya bosan, “Untuk apa? Semua orang di dalam paling-paling hanya akan mencoba menjilatku agar terlihat baik di depan ayahku. Cih, lebih baik aku duduk di sini bersamamu.”

“Pasti sangat memuakkan bagimu menghadapi itu semua.” Ujar Eungi, menanggapi kata-kata Kyuhyun. “Orang-orang itu ada terus di sekitarmu, tapi kau tidak tahu yang mana dari mereka yang bisa kau percaya.” Ia memanyunkan bibirnya. Eungi sadar kalau kata-kata yang baru ia ucapkan sebenarnya lebih ditujukan pada dirinya ketimbang Kyuhyun—ia pun muak ketika orang-orang berbaik hati padanya hanya untuk kecipratan sedikit dari profit yang didapatkan dari penelitian-penelitiannya.

“Aku memilih untuk tidak percaya siapapun.” Jawab lelaki itu singkat sambil menyesap champangenya.

Eungi menolehkan kepalanya untuk menatap Kyuhyun, “Aaahh.. sekarang aku mulai paham kenapa kau selalu terkesan menjaga jarak..”

“Aish, jangan mencoba menganalisaku, noona. Aku keberatan untuk menjadi objek risetmu yang berikutnya.” Kyuhyun mengernyit kesal pada Eungi.

“Maafkan aku.” Jawabnya dengan cengiran lebar, “force of habbit.”

“Tapi ngomong-ngomong, ini kan event plus-one. Mengapa kau datang sendirian saja, noona? Mana tunanganmu?” Tanya Kyuhyun sok santai.

Sejujurnya, Kyuhyun tidak bisa berhenti memikirkan perihal tunangan Eungi sejak ia mengetahui fakta kalau wanita cantik di sampingnya ini sudah bertunangan. Jika Eungi hanyalah wanita lain, mungkin Kyuhyun akan cuek saja dan lanjut ke target berikutnya—tapi lelaki itu tidak terima kalau wanita semengagumkan ini benar-benar di luar jangkauannya.

Eungi sendiri agak terkejut dengan pertanyaan Kyuhyun. Jelas ia ingat kalau ia sempat menyebut kata ‘tunanganku’ di depan Kyuhyun, yang dengan bodohnya meluncur keluar begitu saja dari mulutnya ketika ia sangat merindukan Siwon. Malam itu adalah salah satu momen di saat ia benar-benar merindukan keberadaan sosok pria itu, dan malam itu Eungi merasa bahwa kerinduannya tidak lagi bisa dibendungnya kerena tindakan Kyuhyun saat itu lagi-lagi mengingatkannya tentang tunangannya.

“Noona?” Kyuhyun menyentakkan Eungi dari lamunannya.

“Di—dia tidak bisa datang.” Jawabnya sambil menatap jemari di pangkuannya.

Kyuhyun boleh jadi seorang yang cuek dan tidak pedulian, tapi lelaki itu jelas menyadari pandangan Eungi yang tiba-tiba meredup. Cha Eungi langsung mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun, Bahasa tubuhnya pun menjadi lebih protektif, seakan ia siap mengalihkan pembicaraan.

Kecanggungan antara mereka segera terpecahkan oleh suara pengumuman yang terdengar dari dalam ruang makan utama. Musik orkestra berhenti dimainkan dan MC mulai melakukan pengumuman—menandakan bahwa acara makan siang telah usai dan Eungi seharusnya kembali ke dalam untuk mengikuti rangkaian acara lainnya.

“Aku harus masuk. Kalau menurut jadwal susunan acara, seharusnya namaku akan segera dipanggil.” Ujar Eungi.

“Baiklah, ayo kutemani.” Kyuhyun bangkit dari duduknya sembari mengulurkan tangan untuk membantu Eungi bangkit.

“Kau mau naik ke podium bersamaku?”

Kyuhyun mengangguk mantap, “Bukankah ini acara pengumuman prestasi kampus? Pasti proyek kita juga akan diumumkan bukan?”

Eungi bangkit tanpa menghiraukan uluran tangan Kyuhyun di hapannya. “Baiklah, sepertinya menarik juga menonton ekspresi mantan-mantan dosenmu yang lain kalau sampai mereka melihat kau naik ke podium.”

Kyuhyun terkekeh, “Ey noona, kau tidak perlu ikut-ikutan panas dengan tingkah mereka yang merendahkanku.”

Dengan lirikan matanya, Eungi menyuruh Kyuhyun untuk mengikutinya. “Justru aku sedang sangat tenang sekarang, aku hanya ingin menumbuhkan rasa percaya dirimu.”

“Aku sudah cukup percaya diri, percayalah.” Lelaki itu menyamakan langkahnya di samping Eungi. “Terima kasih noona, mulai detik ini kau resmi menjadi dosen favoritku sepanjang masa.”

Eungi mendengus sinis. “Wah, aku tidak pernah merasa seterhormat ini.”

Langkah-langkah mereka semakin cepat seiring dengan diawalinya pidato pembuka tentang prestasi-prestasi yang telah dicapai kampus mereka. MC meminta seluruh hadirin untuk tenang dan mempersilakan ayah Kyuhyun untuk kembali berpidato untuk memberikan apresiasi.

“Semoga proses ini cepat selesai dan aku bisa segera pulang.” Gumam Eungi pelan.

“Apa kau gugup? Kau yakin tidak mau menyisip sedikit champagne, efeknya lumayan untuk menenangkan dirimu.” Kyuhyun menyodorkan gelasnya pada Eungi.

“Tidak, tapi aku akan minum banyak setelah acara ini selesai.” Ia menyeringai sambil terus melangkah.

“Hadirin sekalian, setelah pidato pembuka dari founder kita, tuan Cho, akan kulanjutkan rangkaian penutup dari acara Gala Lunch ini dengan pengumuman rangkaian prestasi yang berhasil diraih oleh berbagai perangkat kampus kita.” MC memulai kembali kata-katanya. “Seperti yang kita tahu, kelompok paduan suara kampus kita saat ini sedang berkompetisi di Austria dan menurut informanku, mereka saat ini sudah masuk ke dalam babak sepuluh besar. Jadi mari kita berharap kalau mereka akan pulang dengan piala kemenangan.” Sang MC menepukkan tangannya sendiri sebagai tanda agar hadirin lain mengikutinya.

Eungi dan Kyuhyun sudah tiba di depan pintu besar yang akan membawa mereka ke dalam ruang makan utama, hanya saja penjaga pintu menahan mereka dengan dalih bahwa selama pengumuman berlangsung tidak ada yang boleh keluar masuk ruangan itu. Eungi mencoba menjelaskan pada mereka bahwa namanya akan dipanggil ke podium, ia bahkan menunjukkan name-tag yang menunjukkan bahwa ia adalah dosen sekaligus tamu undangan—tapi penjaga tetap bersikeras melarangnya, dan mereka berkata akan membiarkan Eungi masuk jika namanya nanti dipanggil.

Kyuhyun dan Eungi saling berpandangan dengan wajah jengkel, mencoba untuk paham dengan situasi sok sakral yang sekarang tengah berlangsung.

“Pencapaian berikutnya datang dari tim debat, dengan senang hati aku akan mengundang pembimbing mereka, Profesor Kim Ilshik untuk naik ke atas untuk memberi kata sambutan.” Lanjut sang MC.

Pria bersetelan jas keabuan yang kebetulan tadi duduk satu meja dengan Eungi bangkit dari duduknya untuk segera ke podium, diiringi dengan tepukan tangan dari seluruh hadirin.

“Terima kasih,” sambut profesor Kim sambil membungkuk sopan, “Aku merasa sangat bangga atas prestasi anak bimbinganku yang berhasil meraih juara dua dalam debat internasional di London kemarin. Tentu saja aku akan berusaha lebih keras lagi agar tahun depan kami mendapatkan juara pertama.” Ia menunduk hormat sebelum menerima sebuah pin yang disematkan oleh ayah Kyuhyun sebagai tanda penghargaan.

“Baiklah, biar kulanjutkan ke prestasi berikutnya.” MC membalikkan kartu yang ada di genggamannya untuk membaca pengumuman selanjutnya.

Ruang makan siang kembali sunyi sebelum pengumuman dilanjutkan.

“Aku merasa terhormat untuk memberitakan bahwa salah seorang profesor kita juga memiliki prestasi mengagumkan dalam kancah internasional. Beliau berkolaborasi bersama dengan dua mahasiswa dalam misi menyelamatkan planet bumi. Proposal dan karya mereka sudah dikirimkan pagi ini, untuk dipresentasikan minggu depan di Kopenhagen.” Jelas MC.

Eungi dan Kyuhyun sekarang justru seperti dua anak kecil yang kegirangan, sembari mereka saling menyikut satu sama lain dengan cengiran konyol di wajah mereka.

“Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk beliau yang telah mewujudkan hal ini, Profesor Hwang Hojin!” Seru sang MC diikuti dengan sorakan dan tepuk tangan dari seluruh ruangan.

Butuh waktu beberapa detik bagi Eungi dan Kyuhyun untuk mencerna bahwa yang dipanggil barusan bukanlah nama Eungi, melaikan nama kepala departemen mereka.

“HAH?” Kyuhyun yang pertama sadar, ia langsung menatap Eungi yang sekarang sedang terngaga. Dari ekspresinya, Kyuhyun sudah bisa mengkonfirmasi bahwa wanita itu sama terkejut dengan dirinya.

Profesor Hwang maju dan mengambil alih podium.

“Terima kasih, merupakan suatu kehormatan bagiku.” Ia membungkuk kecil sebelum melanjutkan pidatonya. “Seperti yang kita ketahui bersama, pemanasan global memang telah  menjadi kekhawatiranku sejak lama dan aku menolak untuk duduk saja tanpa melakukan usaha apapun. Awalnya proyek ini diusulkan oeh seorang profesor baru di departemen arsitektur, tapi ternyata beliau kewalahan dengan rangkaian proses penelitiannya sehingga aku harus mengambil alih seluruhnya. Dengan bantuan dua orang mahasiswa, yaitu putriku Hwang Nara dan putra dari founder kita Cho Kyuhyun, akhirnya kami berhasil menuntaskan proyek ini untuk dipresentasikan di Kopenhagen minggu depan.” Ia menuntuk ke arah layar kecil di belakangnya, untuk menampilkan slide presentasi yang akan dipresentasikan nanti di Kopenhagen.

Eungi tidak mau mendengar sisa pidato yang keluar dari mulut kepala departemennya—dan ia tidak perlu melakukan itu, karena ia hafal isi presentasi yang disajikan. Jelas saja, itu presentasinya, penelitiannya, karya intelektual yang ddigarapnya selama enam bulan terakhir dengan sungguh-sungguh. Ironisnya, bukan wanita itu yang sekarang berdiri di atas podium.

Dalam hidupnya sebagai akademisi, Eungi sudah sering melihat kasus plagiarisme terjadi dalam berbagai bentuk—mulai dari tingkat ringan, sampai kelas kakap seperti yang sedang terjadi sekarang—tapi ia tidak pernah menduga bahwa seseorang dengan gelar sebesar professor Hwang akan melakukan praktik ini. Yang dilakukan pria itu bahkan lebih rendah lagi, ia tidak mencoba mengganti apapun dari presentasi Eungi. Seluruh layout, urutan, font, desain, dan elemen terkecil dari presentasi Eungi sama persis—hanya nama Cha Eungi saja yang diganti menjadi Hwang Hojin. Sanksi yang selalu diberikan pada peneliti dan dosen yang melanggar kode etik ini adalah pencabutan gelar mereka, dan Eungi saat ini sibuk mengingat nama dari pengacaranya untuk menuntut pencabutan gelar Hwang Hojin.

Eungi kemudian mencoba memaksa untuk tetap masuk ke dalam ruang makan besar, sambil Kyuhyun juga ikut membantu mendorong penjaga pintu yang bertubuh besar. Lelaki di sampingnya sudah siap membuat perkara dan mengeluarkan kata-kata maut ‘kau tidak tahu siapa aku’, sebelum Eungi akhirnya menarik paksa tangan Kyuhyun untuk mundur dari tempat itu.

“Noona, berhenti menarikku! Kau harus masuk ke dalam! Naik ke atas podium itu dan segera merebut apa yang menjadi hak-mu!”

Eungi tidak menghiraukan Kyuhyun dan terus menarik tangan lelaki itu, mencari tempat yang cukup sepi untuk bisa melaksanakan interogasi yang ingin dilakukannya.

“APA YANG KAU RENCANAKAN DI BELAKANGKU?!!” Eungi mengerahkan seluruh tenaganya untuk medorong Kyuhyun ke sudut ruangan. Tindakan ini membuat lelaki itu sedikit limbung hingga ia menjatuhkan gelas champagne yang masih digenggamnya.

Keduanya terkejut dengan bunyi nyaring yang dihasilkan dari aduan beling dengan lantai marmer di bawah kaki mereka.

“Noona, apa kau terkena pecahannya?” Kyuhyun membungkuk untuk memeriksa kaki Eungi.

“JAWAB AKU!”

“Noona..”

“JANGAN COBA-COBA MENGELAK!” Eungi mengangkat telunjuknya tepat di depan wajah Kyuhyun, “BERI TAHU AKU APA RENCANA BUSUKMU, CHO KYUHYUN!”

“Apa yang kau bicarakan?” Jawab Kyuhyun bingung. Ia terkejut dengan reaksi Eungi yang sekarang ini sedang berapi-api dan juga keheranan dengan maksud pertanyaannya.

“AKU MEMBICARAKAN TENTANG APA YANG BARU TERJADI! PRIA ITU BILANG BAHWA INI ADALAH PENELITIAN MILIKNYA YANG IA LAKUKAN BERSAMA DENGAN DUA MAHASISWA, BAGAIMANA MUNGKIN FILE PRESENTASI ITU BISA SAMPAI DI TANGANNYA?!” Eungi menunjuk-nunjuk udara kosong di belakangnya.

“Noona, aku sama bingungnya denganmu.”

“PEMBOHONG!” Hardik Eungi dengan mata yang mulai berkaca-kaca, “ITU PENELITIANKU! AKU MENGHABISKAN WAKTU BERTAHUN-TAHUN UNTUK ITU DAN 6 BULAN INI AKU MATI-MATIAN UNTUK BISA BERPARTISIPASI DI SEMINAR ITU.”

Kyuhyun mengangkat kedua tangannya ke atas, mengisyaratkan wanita yang sedang kalut di depannya untuk tenang, “Aku tahu noona, aku tahu.”

“TURUNKAN TANGANMU, UNTUK APA KAU—“

“TENANGLAH SEBENTAR!” Akhirnya Kyuhyun bertindak. Ia menggenggam kedua bahu Eungi dengan tangannya dan dengan gesit ia membalik posisi mereka, kini Eungi yang tersudut di tembok dengan tubuh Kyuhyun menghalanginya.

Kata-kata tegas yang keluar dari mulut Kyuhyun ternyata mampu membuat Eungi terdiam.

“Cha Eungi Kyosu-nim.” Kyuhyun melanjutkan dengan nada tenang setelah Eungi berhenti mengomelinya, “Mari kita berhenti untuk saling berteriak, ne? kita bicarakan hal ini dengan tenang.”

Wanita itu masih memelototi mahasiswanya dengan emosi, tapi ia pun mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Aku bersumpah bahwa aku benar-benar tidak tahu bagaimana presentasi kita bisa berakhir di tangannya. Kau lah yang terakhir menyimpan file itu di laptopmu dan aku tidak menggandakan apapun—aku bersumpah noona, aku tidak serendah itu—dan aku tidak punya niat untuk menjatuhkanmu dengan cara murahan seperti ini.” Kyuhyun mulai menjelaskan, “Aku paham sepenting apa seminar ini untukmu, aku melihat sendiri seluruh usahamu dalam menuntaskannya, seberapa sering kau bergadang untuk ini, dan seluruh paper yang kau baca untuk menyempurnakan penelitian ini—dan aku tidak pernah bermimpi untuk mencuri hal ini darimu. Kumohon percayalah, aku benar-benar tidak tahu tentang hal ini.”

“Lalu bagaimana bisa Hwang Hojin memiliki file itu?” Eungi menarik napas dalam, kedua telapak tangannya kini digunakan untuk menutupi wajahnya sendiri, ia tidak ingin Kyuhyun menyaksikan seberapa kacau ekspresinya sekarang. Penelitiannya dicuri orang sudah menjadi masalah besar, tidak perlu ditambah dengan drama ia menunjukkan kelemahannya di depan mahasiswanya.

Kyuhyun memejamkan matanya, mencoba mencari jawaban yang masuk akal dari kasus ini.

“Noona, aku bersumpah..”

“Aku percaya padamu.” Jawab Eungi singkat. “Maafkan tindakanku yang langsung menuduhmu tanpa tahu malu tadi.”

“Ne?”

Eungi mengakat wajahnya untuk menatap Kyuhyun ke manik matanya, “Kalau kau bilang bahwa kau tidak tahu apa-apa tentang ini, maka aku percaya padamu. Aku yakin kau tidak akan melakukan hal sejahat itu padaku.” Jelas Eungi. “Aneh memang, tapi entahlah, aku merasa kalau aku bisa mempercayaimu.”

Tatapan di mata wanita itu lagi-lagi meruntuhkan pertahanan Kyuhyun. Belum pernah dalam hidupnya ia merasa serendah dan semalu ini di hadapan seorang wanita. Bagaimana mungkin seseorang yang dulu berniat ia hancurkan justru menjadi satu-satunya orang yang selalu mendukung dan percaya padanya.

Eungi menyandarkan kepalanya pada tembok dingin di belakangnya, wajahnya menengadah menatap langit-langit tinggi di ruangan yang entah di bagian mana dari rumah itu sambil ia berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. “Apa aku harus bicara pada pria busuk itu?”

“Jika kau ingin jawaban dari kekeliruan ini, kurasa memang kau harus bicara padanya.”

Eungi menghela napas panjang, “Siapkan segelas champagne untukku, kurasa aku benar-benar butuh alkohol sekarang.”

 

*

 

Profesor Hwang sedang sibuk berjabat tangan dengan ebberapa koleganya yang memberikan selamat atas prestasi barunya saat pria itu menyadiri sosok Eungi yang mendekat. Jelas pria itu tahu kelakuan macam apa yang baru ia lakukan, dan ia juga sudah menyiapkan serangkaian rencana untuk mempertahankan apa yang baru saja direbutnya.

“Ah! Profesor Cha, aku tidak melihatmu saat aku berpidato di atas podium tadi, apakah kau sedang keluar ruangan saat itu?” Ia memasang senyum lebar palsu di wajahnya.

Eungi memutuskan untuk ikut bersandiwara bersamanya, “Sayang sekali bukan? Tapi menurut yang kudengar, kau tadi baru saja melakukan pidato mengagumkan berkaitan dengan penelitianku.” Ia menekankan nadanya.

“Ya, tentu saja. Penelitian yang kau serahkan padaku karena kau kewalahan itu.” Balas pria itu sambil berdeham.

“Apakah kita perlu mendiskusikan masalah ini? Karena sepertinya ada kesalahpahaman.” Ia melempar tatapan sinisnya pada professor Hwang.

“Kurasa itu dugaanmu saja, profesor Cha”

“Aku tidak salah paham, profesor Hwang. Kecuali kau ingin berhadapan dengan pengacaraku dengan tuntutan bahwa kau telah melanggar kode etik tenaga pendidik dengan mencuri karya intelektual.” Eungi memberi tanda pada professor Hwang dengan tangannya, agar pria itu mengikuti Eungi untuk keluar dari ruangan.

Pria itu menarik napas dalam sebelum akhirnya membuntuti langkah Eungi. Sesuai dugaannya, wanita ini pasti akan murka dan membawa urusan ini ke badan hukum—bukan masalah baginya, karena profesor Hwang juga sudah menyiapkan rencana B.

Sesungguhnya pria itu paham bahwa yang dilakukannya adalah dosa besar dalam bidang profesinya, tapi ada tuntutan akademis yang harus dipenuhinya dan ia tidak memiliki waktu serta kapabilitas yang cukup untuk menuntaskan itu semua. Dalam dua tahun belakangan ini, profesor Hwang tidak sempat menghasilkan jurnal dan penelitian apapun—mengakibatkan panel akademis mengancam akan mencabut gelar profesornya jika ia tidak memperbaiki kenerjanya. Hanya ini jalan satu-satunya yang bisa menyelamatkan reputasi dan gelar yang dimilikinya, cara yang ia pun sadar sama rendahnya.

Eungi menuntun professor Hwang untuk masuk ke ruang perpustakaan yang sebelumnya disarankan oleh Kyuhyun sebagai tempat yang sempurna untuk mengkonfrontasi pria itu. Atasan Eungi menurut saja ketika Eungi memerintahkannya untuk masuk dan menutup pintu di belakangnya.

“Jadi hal apa yang harus kita diskusikan professor?” Tantang Hwang Hojin seketika Eungi berbalik menatapnya.

“Pertama-tama, bagaimana caramu mendapatkan akses ke penelitianku?” Eungi berjalan mondar-mandir di hadapannya.

“Kau bekerja bersama dengan putriku.” Jawabnya sambil mengangkat kedua bahu dengan cuek.

Wanita itu seolah bisa mendengar bunti ‘klik’ keras di dalam kepalanya. Tentu saja ada satu orang lagi yang bekerja bersamanya dan gadis itu bisa memperoleh akses ke dalam laptop Eungi disaat wanita itu sedang lengah.

“Kenapa?” Tanya Eungi dengan nada yang masih tenang meskipun dalam hati ia benar-benar ingin meninju senyuman licik di wajah pria paruh baya itu.

“Aku harus menghasilkan penelitian.” Jawab Profesor Hwang singkat.

“Buatlah sendiri penelitianmu.”

“Aku kebahisan waktu.”

“Mintalah bantuan, bukan justru mencuri penelitian orang lain!” Kesabaran Eungi sudah habis. “Apa kau pernah berpikir sebanyak apa waktu yang kuhabiskan untuk melakukan penelitian ini? Berapa besar usaha dan tenaga yang kukerahkan untuk sampai pada titik ini? Apa kau pikir dipilih menjadi seorang pembicara dalam seminar internasional adalah hal yang mudah?!!”

Profesor Hwang menelan sisa-sisa harga diri yang dimilikinya dan tetap berpura-pura merasa tidak bersalah. “Caraku memandang masalah ini sedikit berbeda, ayolah kau tidak rugi-rugi amat, bukan? Maksudku begini, penelitian ini hanya membahas aplikasi harian dari green panel yang patennya pun sudah kau pegang—namamu masih tetap dikenal bahkan jika aku yang mempresentasikan penelitian ini. Kau hanya rugi sebuah perjalanan ke Kopenhagen saja, professor Cha.”

Eungi memukulkan tangannya ke atas meja di tengah ruangan dengan seluruh tenaga yang dimilikinya. “BUKAN ITU INTINYA! PENELITIAN INI PENTING UNTUKKU KARENA—”

Eungi tidak mampu melanjutkan kata-katanya—ia menolak untuk meruntuhkan pertahan dirinya di depan orang yang baru saja mencuri karyanya. Masalah ini bukan tentang kredibilitas, bukan tentang karya intektual yang dirampas darinya, bukan juga tentang jenjang karir yang semakin menjanjikan untuknya.

Bagi Eungi, penelitian ini adalah sisa-sisa kenangan dengan Siwon yang masih melekat pada dirinya. Siwon lah yang pertama kali mengusulkan Eungi tentang seminar ini, ia yang mengantar Eungi untuk mendaftar dan ia juga yang  membantu pengumpulan data dan penghitungan awal, bahkan pria itu punya ide gila untuk menggunakan green panel Eungi untuk menggerakkan mesin mobil sportnya. Seharusnya proyek ini menjadi karya mereka berdua—meraka lah yang seharusnya tampil di Kopenhagen untuk mempresentasikannya.

Proyek ini adalah persembahan terakhir dari Eungi untuk pria yang sangat dicintainya.

“Aku akan membawa masalah ini ke pengadilan, siapkan dirimu untuk bertemu dengan pengacaraku.” Eungi memutuskan untuk menuntaskan argumen yang jelas tidak akan berakhir.

Baru saja wanita itu akan melangkah keluar dari ruang perpustakaan, professor Hwang justru tertawa sinis sambil mengambil ponsel dari saku jasnya. “Aku sudah menduga kau akan bersikap seperti ini. Tentu saja aku akan kalah telak jika aku harus ikut ke pengadilan, jadi aku sudah menyiapkan permainan yang lebih kotor lagi.”

Pria itu mengangkat ponselnya ke arah wanita itu, menunjukkan sebuah gambar yang terlihat samar di mata Eungi. Ia mendekat untuk meraih ponsel dari professor Hwang, mempelajari gambar yang tertampang di layarnya dan seketika itu juga hatinya mencelos.

Gambar itu adalah foto dirinya dan Kyuhyun di malam mereka harus keluar dari café karena ledakan kembang api yang membuat Eungi ketakutan. Foto itu diambil dari angle yang sangat pas sehingga menunjukkan posisi Kyuhyun yang sedang berlutut terkesan sedang membelai wajah Eungi.

“Aku tidak pernah mengira bahwa kau adalah tipe dosen yang suka bermain nakal dengan mahasiswa. Apa itu alasanmu memberi anak itu kesempatan untuk bergabung di proyek ini?” Ia menyeringai licik.

Berbagai pikiran berseliweran dalam benak Eungi, dan ia bingung harus memprioritaskan apa terlebih dahulu: menjelaskan situasi yang sebenarnya dari foto itu, menjelaskan mengapa mereka keluar bersama, atau menjelaskan alasan mengapa ia memilih Kyuhyun untuk ikut dalam proyeknya.

“Jika kau bawa masalah ini ke pengadilan, aku akan menyebarkan foto ini.” Ia mengambil ponselnya dari tangan Eungi. “Kau melanggar peratuan kampus, tidak seharusnya kau mengencani mahasiswamu sendiri.”

Eungi menatapnya dengan pandangan siap membunuh. “Lalu apa kau akan memecatku? Aku tidak melakukan kesalahan apapun dan foto ini hanya sebuah kesalah pahaman, aku siap menanggung akibatnya.”

Profesor Hwang terkekeh, “Memecatmu? Tidak mungkin! Untuk apa aku memecat profesor yang sangat berbakat seperti dirimu? Lagipula itu tidak akan memberi pengaruh apapun untukmu, kampus lain akan segera menawarkan posisi untukmu—ya semua departemen arsitektur di Negara ini jelas harus berkompetisi untuk mendapatkanmu sebagai salah satu staff pengajar mereka.”

“Lalu?”

“Apa kau tahu berapa banyak orang yang memendam dendam pada bocah ini?” Ia tertawa puas. “Anak ini membolos, mepermainkan wanita sesuka hati, melecehkan dosen-dosennya, mengancam staff, berbuat onar dan banyak lagi ulahnya yang membuat semua orang meradang dendam. Setiap dosen mencoba untuk menendang anak ini keluar dari kampus—tapi alasan kami belum ada yang cukup kuat sampai pada batas pelanggaran aturan yang fatal. Tapi dengan foto ini, aku bisa menendangnya keluar dengan satu buah tombol share dan aku sudah terlalu bersemangat dengan berbagai tuntutan yang akan kulayangkan padanya.”

Wanita itu sekarang harus menghadapai pertarungan tersulit dalam benaknya.

Ia ingin memberi pelajaran pada Profesor Hwang tentang pencurian karya intelektual dan menyeret pria itu ke pengadilan untuk mencabut gelar profesornya—dan ia tahu kalau tuntutan ini akan dimenangkannya dalam sekejap. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa berbuat gegabah dan membiarkan Kyuhyun menanggung akibat dari egonya.

Eungi memang baru sempat mengenal Kyuhyun hanya dalam kurun tiga bulan terakhir, tapi ia bisa menyimpulkan bahwa seluruh tindakan kasar yang dilakukan anak itu semata-mata hanya untuk menutupi rasa mindernya. Ia mempercayai instingnya untuk percaya pada potensi Kyuhyun dan anak itu membuktikan bahwa keputusannya tidak salah. Eungi baru saja berhasil membangun rasa percaya Kyuhyun padanya, menumbuhkan rasa percaya diri anak itu dan ia belum selesai. Eungi ingin Kyuhyun memandang dirinya seperti Eungi memandangnya—bahwa ia adalah seorang jenius yang terjebak dalam stereotype buruk yang tercipta dari reputasinya.

Jika rumor ini sampai keluar, jika professor Hwang benar menyebarkan foto itu, maka hidup anak itu akan hancur. Orang yang memandang rendah dirinya akan memiliki bumbu lain untuk semakin menjatuhkannya, hal ini hanya akan menuntun Kyuhyun pada kebencian yang tidak berdasar dan ujung-ujungnya justru menghancurkan semua fondasi yang sedang Eungi coba bangun untuknya. Masa depan anak itu sekarang benar-benar ada di genggaman Eungi dan keputusannya yang akan dipilihnya akan berdampak besar.

“Hapus foto itu di hadapanku sekarang dan pastikan kau tidak mengacaukan presentasiku.” Ucap Eungi dengan suara bergetar.

Profesor Hwang paham akan keputusan yang Eungi buat, ia segera menggerakkan jemarinya di atas foto skandal itu dan menghapusnya.

Eungi tidak mengatakan sepatah katapun dan segera melangkahkan kaki untuk keluar dari ruang perpustakaan. Ia menuntun angkah kakinya cepat-cepat dengan satu orang di pikirannya, dan ia harus mencari lelaki itu sekarang.

“Cho Kyuhyun!” Eungi menemukan orang yang dicarinya sedang berdiri di dekat pintu keluar utama.

“Noona, bagaima—”

“Janji padaku kalau kau akan menjadi orang hebat!” Tuntutnya sambil menatap dalam ke pupil gelap Kyuhyun.

“Noona, apa kau sudah bicara padanya? Apa kau baik-baik saja? Kau tampak..”

“BERJANJILAH!” Bentak Eungi tak sabar. “Berjanjilah kalau kau akan mennjadi orang sukses! Berjanji kalau kau akan menjadi mahasiswa baik dan janjilah untuk lulus tahun depan! Berjanjilah padaku!” tekan Eungi.

“Kenapa?”

“BERJANJILAH!” Eungi nyaris teriak seiring dirasakan matanya semakin memanas.

Kyuhyun mengangguk, “Aku berjanji. Aku tidak akan mengecewakanmu.” Tatapan Kyuhyun berubah teduh saat ia menyadari genangan air mata di wajah Eungi, entah apa yang baru terjadi di dalam tapi Kyuhyun rela melakukan apaun agar wanita ini berhenti terlihat kalut. “Aku berjanji kalau aku akan melakukan dan mengerahkan semua kemapuanku untuk membuatmu bangga, noona.”

Eungi menggigit bibirnya sambil tetap menahan air mata yang sudah siap jatuh. “bagus, jangan buat aku menyesali jalan yang baru saja kuambil.”

Air mata wanita itu tumpah sesudah ia mengatakan kata-katanya. Eungi baru saja menyerahkan serpihan akhir dari kenangannya tentang Siwon, ia baru saja merelakan persembahan terakhirnya untuk pria itu agar dipresentasikan oleh professor Hwang demi menutup masalah skandal tentang Kyuhyun yang akan keluar.

Ia sendiri tidak paham mengapa ia berjuang sekeras ini untuk kepentingan mahasiswanya. Bagi Eungi, Kyuhyun adalah refleksi dirinya yang dulu disaat tidak ada seorang pun yang percaya padanya, saat ia harus berjuang sendirian untuk melawan masa kecilnya yang keras. Dulu Eungi memiliki sosok ayah yang selalu mendukungnya, tapi Kyuhyun tidak memiliki siapa pun yang mempercayainya—dan Eungi merasa kalau ia bisa menjadi sosok itu bagi hidupnya.

“Noona, mengapa kau menangis?” Kyuhyun segera mengangkat tangannya untuk menghapus air mata di wajah Eungi.

“Bawa aku keluar dari sini, aku ingin keluar dari sini.”

Lelaki itu mengangguk patuh. Ia tidak paham duduk masalah yang baru saja terjadi di dalam ruang perpustakaan ayahnya. Ia hanya bisa menyimpulkan bahwa Eungi baru saja kalah dari perdebatannya dan lelaki itu hanya ingin wanita ini berhenti menangis—dan ia bersyukur karena Eungi mengizinkan Kyuhyun untuk mendampingi di saat-saat lemahnya.

Advertisements

116 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 5

  1. Melsyana says:

    Dikirain masalah yg dihadapi eungi itu antara menghadapi tingkat kyu atau gak kenangan terakhirnya bersama siwon, rupanya eungi mendapatkan masalah baru yaitu hasil jerih payahnya diplagiat oleh orang lain. Mudah2an aja ada jalan keluar buat eungi dan kyu.

    Liked by 1 person

  2. sweetrizzu says:

    Satu kata buat Profesor Hwang ‘MENJIJIKKAN’!!!!!
    Kyuhyun kamu harus sukses yaa, bahkan lebih dari Eungi. Biar pada megap” tuh semua dosen kampret!

    duhh.. maaf y kak emosi coz paling sebel sm org yg plagiat..
    Kalo di sklh ada yg nyontek pr aja aku suka sebel, iya emg sih itu cuma pr tp kan usaha kita cari jawabannya kan bukan capcipcup. Enak bgt nilai mrk yg sibuk gadget samaan sm kita yg sibuk bolak balik buku referensi..
    Nah..jadi curhat wkwkwk

    Liked by 1 person

  3. Babybble says:

    jadi pengen berkata kasar kan… suka gak ngerti deh, bisa2nya gitu org yg jelas berpendidikan malah ngelakuin hal serendah itu. jangankan di plagiat, aku aja yg waktu sekolah di contek aja suka sebel. kan mikir tuh cape, belom belajarnya. segampang itu gitu dia ngecopy kerjaan org.

    Liked by 1 person

  4. Dyana says:

    Muak! Kesel! Pengen ngamuk!
    Part ini bnr2 bikin emosi, plagiarisme adalah musuh yg sangat berbahaya, sakitnya melebihi di hianatin pacar.
    Kasihan Eungi, semoga Kyuhyun bnr2 bisa jadi orang sukses agar pengorbanannya tidak sia-sia…

    Liked by 1 person

  5. xixrxexnxe says:

    ngefeel banget sama emosi yg dirasain noona, penelitian loh itu. kesel sendiri sm prof hwang & anaknya. aku aja tugas kuliah kalo dicopy-paste temen yg tinggal ganti nama di cover marahnya gak karuan apalagi ini penelitian
    semoga pengorbanan noona ngerelain penelitiannya gak sia2

    Liked by 1 person

  6. Lovecho says:

    Kasus plagiat kayak gini bikin sebel.. ini kan kerjaan org yg pngen punya karya tpi gk mau mikir dan menciptakan karyanya sendiri alhasil mencuri karya orang lain adalah jalan satu2nya..
    Dasar hwang hojin br*ngsek.. org kayak gitu psti akan dapet yg namanya karma.. suatu saat juga pasti akan dipermalukan.. tunggu saja kehancuranmu profesor hwang.. untuk apa punya gelar profesor kalau penelitian aja mencuri punya org lain..

    Liked by 1 person

  7. Christellee says:

    Hwang Hojin!, awalnya ni orang baik aja sama eungi ternyata punya niat yang lain, ga cocok jadi profesor kalau cuma bisa plagian karya orang lain. Huh! Eungi bisa2nya ngerelain gitu aja, tapi kalau itu untuk kyu, aku juga dukung deh.

    Liked by 1 person

  8. amel chomb says:

    Dosen kurang asem bkn karyanya kok di ambil , kasian eungi udah sekuat tenaga buat nylesaiin proposal itu buat tanda cintanya buat tunangan hrs kndas gr2 di plagiat , dan nggak mau nuntut buat nglindungin mahasiswanya sndiri salut sm eungi

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s