(Indonesian Version) One Last Shot -Part 4

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

 

Cara tersirat Eungi untuk menegur tingkah kekanakan Kyuhyun sepertinya telah berakibat baik bagi ketenangan proses mengajarnya di kelas dalam minggu-minggu berikutnya. Bocah itu tidak lagi berani berbuat onar pada Eungi, perilaku lelaki itu juga terkesan menjadi lebih rendah hati saat ia ikut serta dalam mata kuliah Eungi. Sejak malam ketika Eungi menganggapnya seorang bocah, Kyuhyun telah berusaha keras untuk memperbaiki sikap ngeyel yang sudah melekat erat pada imagenya dan perlahan ia pun berubah menjadi mahasiswa yang patuh—setidaknya di kelas Eungi, profesor-profesor di mata kuliah lain masih tetap mengeluhkan sikap bocah yang selalu seenaknya itu.

Sejak kejadian itu, Kyuhyun selalu hadir tepat waktu, ia mengerjakan tugas apapun yang diberi Eungi dan ia pun menahan keinginan untuk mengeluh setiap kali Eungi mencorat-coret gambarnya untuk direvisi. Eungi senang dengan perubahan drastis yang ditunjukkan oleh mahasiswanya itu, memang sudah sepantasnya Kyuhyun bersikap sopan dan mematuhi segala peraturan yang telah dibuat Eungi dalam kelasnya—bukan sebaliknya. Eungi juga diam-diam harus berbangga hati, karena pancingannya untuk Kyuhyun berhasil. Bukan tanpa sengaja wanita itu mengutarakan kata ‘nak’ dengan keras pada Kyuhyun di malam itu. Ia tahu benar sebesar apa ego yang dimiliki anak manja tukang mengeluh yang terus-terusan berlindung di balik punggung ayahnya. Jika Eungi harus menggali seluruh potensi hebat yang dilihatnya dalam diri Kyuhyun, maka tahap pertama yang harus dijalaninya adalah melepaskan ketergantungan Kyuhyun akan nama besar ayahnya, agar ia mau berusaha untuk meraih kesuksesan dengan caranya sendiri.

Dalam kurun waktu delapan minggu setelah perkuliahan dimulai, Kyuhyun  telah mengerahkan semua pikiran, ide dan usahanya untuk sekedar membuktikan pada Eungi bahwa ia bukan lagi seorang anak kecil. Besar keinginan Kyuhyun untuk dipandang sebagai seorang pria dewasa di mata Eungi, dan untuk itu ia harus mengorbankan banyak hal. Anak itu menjauhkan diri dari teman-teman bejatnya, ia berhenti gelayapan ke klub malam, ia berhenti merayu wanita dan kebanyakan waktunya dihabiskan untuk menuntaskan tugas-tugas studio dari Eungi yang menumpuk. Jelas Kyuhyun harus berusaha lebih keras dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya, karena mereka bekerja berkelompok, sedangkan ia dengan angkuhnya ingin menuntaskan segalanya seorang diri—lagi-lagi sebuah pengakuan yang ingin didapatkannya dari Eungi.

Kyuhyun tidak habis pikir bagaimana sebuah kata sederhana yang keluar dari mulut wanita itu bisa menyulut amarahnya seperti ini—egonya serasa diinjak-injak ketika Eungi melemparkan tatapan penuh hinaan ke wajahnya. Ia dan wanita itu hanya terpaut empat tahun saja, dan Cha Eungi berani memberikan tatapan itu sambil menganggapnya seorang anak kecil. Bagi Kyuhyun, misi barunya sekarang bukan lagi mengajak dosen cantik itu untuk tidur bersamanya, tapi untuk membuktikan bahwa dirinya tidaklah serendah yang Eungi kira.

Perhatian pria itu sekarang hanya terpaku pada sosok dosen yang sedang berdiri di depan kelas, memang harus diakui bahwa kecerdasan Eungi memang melebihi rata-rata dosen lainnya yang pernah mengajar Kyuhyun—mungkin hal ini jugalah yang membuat Kyuhyun merasa harus menghormati wanita itu dalam hal kepandaian. Ilmu yang diberikan olehnya sesuai dengan apa yang Kyuhyun minati dan cara penyampaiannya juga jelas karena Eungi menggunakan Bahasa yang tidak berkelit layaknya dosen tua lain.

Sebuah ketukan keras dari arah depan menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya, Cha Eungi sedang mengetukkan penghapus papan tulis untuk menarik perhatian mahasiswanya yang sekarang mulai gaduh seiring dekatnya waktu makan siang.

“Aku akan memberi pengumuman sebentar saja, setelah itu kalian boleh makan siang.” Pintanya.

Seluruh mahasiswa membungkam mulut mereka dan perhatian kelas langsung tertuju pada Eungi.

“Jadi aku baru saja kembali dari seminar di Kopenhagen, berita baiknya adalah mereka menyukai proposalku dan memintaku untuk melanjutkan ide awal untuk diaplikasikan pada sesuatu yang lebih praktikal.” Jelasnya.

Seluruh mahasiswanya menepukkan tangan mereka untuk memberi selamat atas pencapaian lain yang diperoleh dosen mereka. “Kau hebat kyosu-nim!” Anak berbadan gempal yang selalu menyela Eungi menyahut—Eungi telah mengangkat anak itu untuk menjadi ketua kelas.

“Terima kasih, Kangin-ssi.” Balasnya sambil tersenyum.

Seperti yang telah diprediksi olehnya, hanya dibutuhkan waktu beberapa minggu untuk membuat para mahasiswanya bersimpati padanya. Mahasiswa Eungi bahkan sekarang sangat senang karena mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari pakar green design yang sudah mendapat pengakuan di kelas dunia. Mereka juga senang karena Eungi adalah profesor yang mengizinkan mahasiswanya mengulik ide seliar mungkin tanpa batasan—tidak seperti dosen tua pada umumnya, dan Eungi selalu bisa menjawa pertanyaan mereka tanpa perlu memerintahkan mereka untuk mencarinya di Google saja. Para mahasiswinya menganggap Eungi sebagai senior mereka dan memanggilnya oenni dan kebanyakan mahasiswanya duduk manis selama ia mengajar di depan, menikmati keindahan paras dosen muda penuh dengan tatapan kagum.

“Nah, karena lanjutan dari proyek ini adalah penggarapan ide, aku ingin merekrut dua orang dari mahasiswaku untuk turut serta dalam proyek ini.” Tambahnya.

Beberapa anak segera mengangkat tangan mereka.

“Tunggu, biar kujelaskan. Aku tidak bisa asal saja memilih mahasiswa, aku harus memeriksa portofolio kalian terlebih dahulu. Selain itu, kegiatan ini tidak akan mempengaruhi nilai akhir kalian karena ini berupa kegiatan tambahan.”

Beberapa anak mengeluh kecewa.

“Jadi jika ada dari kalian benar-benar memiliki ketertarikan dalam bidang green design dan memiliki ide untuk memanipulasi green panel yang kuciptakan ke dalam alat yang kita temui sehari-hari. Aku akan memilih dua mahasiswa untuk bergabung denganku.”

“Apa keuntungan yang akan kami dapatkan, kyosu-nim?” Seorang mahasiswi mengangkat tangannya.

“Nama kalian akan masuk ke dalam sitasi di proposal itu dan kalian juga akan ikut bersamaku ke Kopenhagen untuk mempresentasikan ide kita. Disitasi dalam sebuah seminar internasional adalah sebuah kehormatan yang belum tentu diperoleh oleh banyak siswa, Nara-ssi. Namamu akan dikenal oleh panel internasional dan siapa yang tahu dampak hebat apa dari sitasi itu di karirmu kedepan. Jadi cobalah untuk terlihat lebih semangat.” Jelas Eungi.

Mahasiswanya mulai saling berdiskusi satu sama lain, membertimbangkan tawaran menggiurkan untuk pergi ke luar negeri bersama dosen mereka sambil mempresentasikan ide baru.

“Jadi, biar kusimpulkan!” Eungi menepukkan kedua tangannya untuk kembali menperoleh perhatian dari mahasiswanya, “Jika ada dari kalian yang tertarik untuk bergabung, silakan berikan proposal dan portofolio kalian, dengan begitu aku bisa memilih dua mahasiswa untuk berkolaborasi bersamaku—tentu saja kalian tahu di mana kalian bisa menemuiku. Apa ada pertanyaan?”

Tidak ada yang menjawab.

“Baiklah, kelas kububarkan. Selamat siang!”

 

*

 

Kyuhyun datang mencari Eungi di cubicle sempitnya keesokan hari, tapi seperti biasa dosennya itu pasti kabur dari tempat yang tidak nyaman ini. Di dalam benaknya, Kyuhyun bisa mendengar kata-kata khas yang selalu Eungi ucapkan ‘apa kau sudah membuat janji denganku?’, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk menemui Eungi di café langganannya.

Lelaki itu langsung bisa menemukan sosok Eungi setibanya di café dekat kampus, wanita itu memilih tempat duduk di samping kaca besar lengkap dengan segelas latte dan sepiring kue. Kyuhyun melangkah mendekati mejanya dan senyuman kecil segera muncul di wajahnya ketika ia memperhatikan kondisi dosennya. Eungi sedang tertidur, ia menutup matanya rapat sambil menopang dagu sekenanya. Kali ini tidak ada laptop atau tumpukan jurnal yang biasa dibawa wanita itu, wajahnya terlihat lelah, tapi yang paling membuat senyum di wajah Kyuhyun semakin melebar adalah ekspresi tidurnya—ia memanyunkan bibir penuhnya seperti anak kecil yang sedang merajuk. Pemandangan ini mungkin bukan merupakan moment tercantik Eungi di mata Kyuhyun, tapi hati pria itu merasa senang bisa menyaksikan kepolosan yang terlukis di wajah wanita itu.

c8249a4d6e37d896eeafd50f64611449

gambar milik Park Seul

Kyuhyun mengakat kursi di hadapan Eungi dengan pelan, ia tidak mau membuat suara gaduh yang bisa membangunkan nyenyaknya tidur wanita itu. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana, untuk mempotret pemandangan langka yang ada di depannya. Bagi Kyuhyun, rasanya sudah lama sekali sejak ia bisa berbincang santai dengan Eungi, tanpa sadar ia merindukan kebersamaan mereka yang selalu dipenuhi perdebatan. Ia lah yang telah menjaga jarak mereka, karena Kyuhyun butuh waktu untuk memperbaikin diri. Ada bagian dalam dirinya yang ingin membuktikan kalau ia bisa menjadi pria yang Eungi butuhkan, dan ada bagian lain yang ingin mengkonfirmasi keyakinan Eungi akan potensi dalam dirinya. Dengan dua alasan itulah, sekarang Kyuhyun mengejar dosen muda ini hingga ke café untuk mengantarkan proposal penelitiannya.

Kepala Eungi bergerak dalam tidurnya dan seketika saja, topangan tangannya terlepas sementara kepala lunglai wanita itu sekarang meluncur bebas untuk menabrak meja—dengan keras. Kyuhyun segera mengulurkan tangannya untuk menangkap kepala Eungi yang nyaris saja membentur meja, Eungi pun langsung membuka matanya karena efek kaget yang tiba-tiba dirasakan. Matanya mengerjap pelan, butuh beberapa detik baginya untuk sadar bahwa tangan Kyuhyun sekarang sedang menahan kepalanya. Eungi langsung menegakkan posisi duduknya sebelum ia berkedip untuk menyesuaikan diri dengan silaunya cahaya matahari dari luar jendela.

“Cho Kyuhyun-ssi? apa yang kau lakukan di sini?” Eungi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mencoba keras untuk mengumpulkan sisa-sisa nyawanya yang masih tercecer.

“Ambil waktumu, noona. Kau terlihat sangat kelelahan.” Balasnya sambil terkekeh. Wajah Eungi yang masih setengah sadar terlihat sangat menggemaskan di matanya.

Eungi melipat lengannya di atas meja sebelum ia membenamkan wajah di antara lipatan lengannya, ia membutuhkan waktu lebih lama untuk mengumpulkan nyawa rupanya.

“Apa kau habis bergadang semalam?” Tanya Kyuhyun lembut.

“Ng.”

“Untuk bersenang-senang?” Kyuhyun mencoba berbicara santai padanya.

Jet-lag dan paperwork.”

Kyuhyun mendengus geli, “Apa kau tahu cara untuk bersenang-senang?”

Eungi mengakat wajah dari lipatan tangannya, mencoba memasang ekspresi serius tapi gagal karena matanya masih terlihat sangat mengantuk. “Kehormatan apa yang kuperoleh hingga kau mengunjungiku di sini, Kyuhyun-ssi?” Eungi meraih latte-nya dan meminum langsung setengah dari isi gelasnya.

Kyuhyun mengulurkan sepaket file yang sudah disiapkan untuk Eungi. “Ini proposal dan portofolioku. Aku sadar itu semua masih jauh dari sempurna, tapi aku berharap bisa ikut serta dalam penelitianmu.”

Rahang Eungi langsung terbuka ketika ia mendengar pernyataan Kyuhyun, tentu saja ia sadar perkembangan Kyuhyun yang pesat semenjak ia dengan sengaja menyentilnya dengan sindiran tajam di malam itu, tapi ia tidak pernah menyangka efek dari kata itu akan berdampak sebaik ini. Ia mengambil tumpukan file dari tengah meja dan mulai memerikasanya.

Alasan kenapa Kyuhyun menjadi seorang mahasiswa veteran masih menjadi misteri tersendiri bagi Eungi. Dinilai dari proposal dan portofolio anak ini saja, Eungi jelas akan menganggap Kyuhyun sebagai salah satu mahasiswa jenius yang akan lulus cepat dengan skor sempurna. Konsep-konsep yang dimiliki lelaki di hadapannya sangat tidak lazim, namun masuk akal. Pengertiannya akan elemen—elemen desain juga sangat baik, gambar Kyuhyun jelas jauh lebih bagus dari Eungi, dan ia sangat menyukai karya-karya terdahulu Kyuhyun yang selalu menggabungkan konsep rumah tradisional Korea dengan teknologi terbaru.

“Ide apa yang terbersit di benakmu tentang green panel?” Eungi mengangkat pandangannya dari file portofolio Kyuhyun.

Well, aku berpikir untuk mengadaptasi teknologi itu ke dalam sebuah benda yang ada di banyak rumah-rumah Korea—genting keramik. Maksudku begini, kau sangat peduli dengan efisiensi energi dalam pengaturan suhu di rumah-rumah, aku sendiri lebih khawatir tentang harga tinggi yang masih dimiliki sebuah green panel. Sekarang bayangkan kalau kita bisa mengadapasi itu ke dalam satu buah genting keramik dari sekian banyak genting yang ada di rumah tradisional Korea. Aku percaya jika satu rumah memiliki satu buah green panel sebesar genting tradisional, Korea Selatan akan banyak menghemat pengeluaran dari sektor migas.”

Eungi menatapnya tak percaya. Kyuhyun terlihat seperti orang yang sama tapi terdengar sangat berbeda sekarang.

“Noona, mengapa kau memandangku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?”

Ya, kau sangat sopan sekarang dan itu terlihat super aneh untukku. Ujarnya dalam hati.

“Aku menyukai pandanganmu tentang penyebaran green panel di rumah-rumah. Kau benar, kita memang bisa menghemat banyak energi dengan cara seperti itu.” Eungi menganggukan kepalanya.

Kyuhyun mengigit bibirnya dengan cemas, tidak pernah ada yang memuji idenya sebelumnya—atau memuji pencapaiannya dalam hal apapun. Namun profesor di depannya sedang memandangnya dengan tatapan kagum yang tulus dan hal ini adalah hal baru untuk Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun, you’re one of a kind.” Eungi tersenyum manis padanya. “Kau tahu, menilai dari proposal ini saja—dan aku sudah memeriksa proposal milik teman sekelasmu yang lain—aku harus mengakui bahwa  aku akan dengan senang hati berkolaborasi denganmu.”

Kyuhyun merasa harus memeriksa pendengarannya sendiri, “Benarkah?”

Eungi mengangguk mantap, “Ng, tentu saja, mengapa tidak? Untuk ukuran mahasiswa, konsepmu itu sangat luar biasa—dan aku sungguh heran kenapa kau masih menyangkut di kelasku jika kau bisa menghasilkan pemikiran brilian seperti ini. Jangan-jangan kau memang sudah rajin ikut penelitian dosen sebelumnya?”

Khyunyun mendengus mengejek. “Aku tidak pernah memperhatikan apap pun di kelas, untuk apa aku mencari muka dengan dosen-dosenku sebelumnya.”

“Lalu mengapa kau justru mengantarkan proposalmu padaku sekarang?” Eungi mengangkat file di tangannya dengan muka heran.

“Agar aku punya kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat.” Jawabnya jujur.

Eungi mencium gelagat kalau mahasiswanya sedang mempermainkannya sekarang, maka ia pun memperpanjang obrolan aneh mereka. “Mengapa kau mau mengenalku lebih dekat?”

Kyuhyun menatap tajam ke dalam manik mata Eungi sambari mempertimbangkan jawabannya. Karena aku mau membuktikan bahwa aku adalah seorang pria dewasa yang berguna.

“Siapa tau kau bisa membantuku untuk lulus lebih cepat.” Jawab Kyuhyun, memilih untuk berbohong pada Eungi.

Kedua sudut mulut wanita itu tertarik ke atas untuk mengukir senyuman. “Okay, fair enough. Aku tidak bisa menjanjikan kelulusanmu, tapi aku bisa memastikan bahwa kau akan mendapat ilmu dari proyek ini—sekurang-kurangnya namamu akan dikenal di kancah internasional.”

Kyuhyun mengangguk, “Jadi kapan kita akan mulai?”

“Setelah aku mengumumkan anak yang satu lagi.”

Kyuhyun meringis kesal ketika mendengar kata ‘anak’, ia sungguh benci dengan cara dosennya ini memandang mahasiswanya.

“Apa kau sudah punya kandidat yang tepat?”

“Hwang Nara sepertinya kandidat yang sangat baik.”

Kyuhyun memutar bola matanya sambil tersenyum sinis, “Kau tahu siapa dia bukan?”

Eungi bersandar pada kursinya sambil membentangkan tangan lebar-lebar untuk menguap. “Siapa dia? Maaf aku tidak pernah mencari tahu latar belakang mahasiswaku, jumlah kalian terlalu banyak.”

“Hwang Nara adalah anak dari kepala departemen kita, jelas saja portofolionya bagus.”

Eungi menggaruk kepalanya dengan frustrasi, “Aish, aku sudah memilih dua anak yang salah. Yang satu anak pemilik kampus dan yang satu lagi anak kepala departemen. Orang akan menuduhku terlibat praktik nepotisme kalau begini caranya.”

 

*

 

Sebuah nota diletakkan di atas coffee table yang di kelilingi tiga orang yang sedang serius menatap layar laptop masing-masing, pelayan café itu sudah tidak sabar untuk menyuruh tiga tamu terakhirnya untuk segera pulang. Ia sudah mencoba memberi pertanda dengan sopan, dengan menyatakan waktu terakhir untuk memesan, bahkan ia pun sudah dengan sengaja mengangkut kursi-kursi di café itu dengan kasar—berharap tamunya sadar kalau mereka akan tutup.

Cha Eungi, Hwang Nara dan Cho Kyuhyun masing-masing sibuk mengetik dan menggabar sesuatu pada layar laptop masing-masing, ketiganya mencoba menggabungkan ide untuk dipresentasikan di Kopenhagen—masih tetap tidak bergeming dengan kelakuan kasar dari pelayan tadi.

Sang pelayan pun murka, ia memutuskan untuk langsung saja menagih uang untuk membayar pesanan mereka dan mengusir tamunya.

Costumer-nim, kami sudah tutup—aku seharusnya sudah pulang sejak lima belas menit yang lalu, jadi kalau kalian tidak keberatan, bayarlah dan segera rapikan barang-barang kalian.” Ujarnya ketus.

Eungi merogoh ke dalam tasnya untuk mencari-cari dompetnya yang tenggelam diantara banyak barang yang ada di dalamnya, Kyuhyun sudah terlebih dahulu mengeluarkan dompetnya untuk membayar pesanan mereka.

“Kyuhyun-ssi, aku lah yang punya kepentingan untuk proyek ini, sudah sepantasnya aku yang membayar.” Eungi akhirnya menemukan dompetnya.

Kyuhyun mengabaikan kata-kata Eungi dan tetap memberikan kartunya ke pelayan yang sudah tidak bisa bermanis-manis pada mereka.

“Kau bisa membayar untuk pertemuan berikutnya, lihatlah wajah pelayan itu, ia seperti siap mencincang kita hidup-hidup kalau kita tidak keluar sekarang.” Kyuhyun segera menyimpan data yang baru dikerjakannya sebelum akhirnya mematikan laptopnya.

“Hwang Nara-ssi, kurasa idemu bagus tapi penggambaranmu masih sedikit bermasalah. Kau masih harus menambah detil-detil tentang bagaimana alat ini bekerja—tapi itu bisa kita bahas pada pertemuan berikutnya.” Niat Eungi untuk merevisi batal ketika pelayan tadi jalan kembali ke arah meja mereka untuk mengembalikan kartu Kyuhyun.

Hwang Nara mengangguk dan dalam hati merasa sangat lega, karena ia sudah lelah dan sangat mengantuk. Alasan gadis itu untuk ikut serta dalam proyek ini tentu saja karena ia tertarik dengan penelitian Eungi—apalagi dengan iming-iming namanya akan dikenal di kancah internasional. Alasan bonus mengapa ia menjadi bersemangat adalah karena mahasiswa lain yang ikut terpilih untuk berkolaborasi, sunbae-nya yang memiliki ketampanan yang diakui seluruh gadis di kampus mereka—dan dompet tebal yang menyertai kemana pun ia pergi.

Eungi sudah mengawasi gelagat Nara yang mencoba untuk menarik perhatian Kyuhyun, perilakunya cenderung terkesan awkward dan Nara tidak malu-malu untuk kadang bersikap aegyo pada Kyuhyun. Gadis itu berbicara dengan pelafalan yang dibuat-buat, ia juga mencoba menyentuh tangan Kyuhyun jika ada kesempatan, dan selalu mencoba berbasa-basi dengan lelaki itu. Sejujurnya, Eungi sangat tidak paham dengan langkah-langkah flirting yang dilakukan Nara, ia tidak mengerti kenapa cara yang terkesan manja itu justru bisa menarik perhatian lelaki—tapi lagi-lagi, Eungi bermasalah dalam hal interaksi sosial, jadi bisa jadi Eungi saja yang justru aneh.

“Oppa, ini sudah sangat malam. Bisakah kau mengantarku pulang?” Nara berlagak aegyo di hadapan Kyuhyun.

Eungi bersumpah, ia bisa melihat mata Kyuhyun berputar bosan di hadapannya dan wanita itu harus berusaha menahan tawanya melihat kelakuan mahasiswanya.

“Tidak bisa.”

“Kau harus mengantarnya.” Potong Eungi, “Ini sudah larut dan Nara seorang gadis.” Ia mencoba menahan seringai nakalnya pada Kyuhyun.

Nara tersenyum pada Eungi untuk berterima kasih, sementara Kyuhyun merasa ingin mencolok mata Eungi yang kini terkesan sedang meledeknya.

“Tapi Kyosu-nim, kau juga seorang gadis.” Kyuhyun tidak mau kalah, “Aku juga tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian.”

Senyum di wajah Nara memudar.

“Ah! Aku tahu!” Ujar Kyuhyun dengan suara yang dibuat-buat, “Bagaimana jika aku mengantar kalian berdua pulang.”

“Aku bisa pulang sendiri, terima kasih atas tawaranmu.” Eungi menggiring mahasiswanya untuk keluar dari café itu dan langkah kakinya segera diarahkan menuju halte bus terdekat.

Kyuhyun menahan pergelangan tangan Eungi dengan cepat dan memaksanya untuk tetap berdiri di dekarnya. “Ayolah Kyosu-nim. Ini sudah larut dan aku tidak akan bisa tidur tenang kalau salah satu dari kalian terlantar dan harus menggunakan transportasi publik untuk pulang.” Ia menarik Eungi lebih kencang sambil memberi tatapan tajam pada Nara, mengisyaratkan gadis itu untuk mengikuti arah langkah Kyuhyun.

“Nara-ssi, kau tinggal di mana?” Tanyanya.

“Dongdaemun-gu.”

“Noon—maksudku Kyosu-nim, kau tinggal di mana?”

“Mapo-gu. Lihat kan? Tempat tinggal ku jauh, aku bisa naik taxi saja.”

“Nara-ssi, karena rumahmu dekat maka aku akan mengantarmu sebelum mengantar Kyosu-nim, aku tidak mau terlihat seperti supir kalian jadi kau harus duduk di depan.” Kyuhyun membuka pintu mobilnya dan meminta Eungi untuk duduk di samping kursi kemudi, Eungi menyerah dan akhirnya menurut saja dengan paksaan Kyuhyun—toh tidak ada ruginya ia menyaksikan aksi lawak dari dua mahasiswanya ini dalam perjalanan pulang.

Perjalanan pulang dari café ke rumah Nara hanya memakan waktu sepuluh menit, karena hari sudah lewat tengah malam dan jalanan menjadi sangat sepi—tapi itu adalah sepuluh menit terpanjang dalam sejarah Kyuhyun menyetir. Nara tetap berkicau dari sisi belakang mobil dan gadis itu berbicara tentang apapun yang melintas di kepalanya: pakaian, musik, kawannya, restoran yang baru buka di dekat rumahnya—sambil ia mengajak Kyuhyun untuk mencicipi makanan di tempat itu bersama. Kyuhyun mencoba untuk menanggapi dengan sopan, dengan cara memaikan audio di dalam mobilnya namun sepertinya usahanya sia-sia—Hwang Nara tetap berceloteh. Kalau saja Eungi tidak berada di satu mobil yang sama dengan mereka, Kyuhyun pasti sudah minggir dan menurunkan Nara di tepi jalan.

Penderitaan Kyuhyun belum berakhir, bahkan ketika ia telah meberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah, Hwang Nara masih  mencoba peruntungannya dengan meminta Kyuhyun mengantarnya hingga ke depan pintu pagarnya—yang ditolak mentah-mentah oleh lelaki itu. Kyuhyun menggunakan Eungi sebagai alasannya harus segera pergi dari jalanan rumah Nara.

“Barusan tadi itu.. intens!” Eungi membuka mulutnya ketika Kyuhyun kembali menjalankan mobilnya.

“Noona, sepertinya kau sangat menikmati saat kau meledekku habis-habisan tadi.” Ia menolehkan kepalanya ke arah Eungi untuk menatapnya tajam. “Ini sudah larut dan ia seorang gadis.” Kyuhyun memonyongkan bibirnya dan meninggikan nada suara untuk meniru suara Eungi.

Wanita itu tertawa, “Dia menyukaimu, Kyuhyun-ssi. Aku bisa melihatnya.”

“Aku tahu. Tapi aku tidak suka padanya. Gadis manja, berisik dan rese bukan tipeku.”

Eungi terus tertawa melihat kekesalan yang Kyuhyun lontarkan padanya sekarang. Ketika matanya beralih dari wajah Kyuhyun ke jalanan di depannya, Eungi menyadari sebuah simbol yang sangat dikenalinya di dashboard mobil Kyuhyun.

“Ya Kyuhyun-ssi, apa ini BMW seri M?” Ia menunjuk pada simbol tiga garis diagonal bewarna biru muda, biru dan merah di samping huruf kapital M.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari jalanan beberapa saat untuk menatap Eungi dengan tatapan kagum. “Seri M5 tepatnya, kau tahu mobil?”

“Wow, aku tidak sadar sebelumnya karena kau menyeretku masuk ke dalam sini. Lagi-lagi aku telah salah berperasangka tentangmu.”

“Salah dalam hal?”

“Aku kira kau tipe lelaki pencinta Jaguar. Maksudku dengan semua uang yang bisa kau habiskan untuk membeli mobil-mobil prestisius ini, kau justru memilih seri M. Aku sungguh bangga padamu.” Ia mengangkat kedua ibu jarinya sambil menyengir lebar pada Kyuhyun.

“Aku tidak terlalu suka dengan desain Jaguar sejak mereka mengubah silurt futuristic mereka ke sesuatu yang menurutku sangat membosankan belakangan ini.” Jawab Kyuhyun.

“Benar kan?! Walaupun aku sangat menyukai desain E-type mereka, mobil itu terlihat seperti kapal perang yang bisa ada di film sci-fi.” Eungi menyahut antusias.

Kyuhyun merasa dirinya seperti dirasuki sebuah zat asing yang menularkan sensasi berbunga-buna di hatinya, belum pernah ia sesemangat ini ketika mengobrol dengan seorang wanita—hal yang selalu terjadi setiap kali ia dan Eungi bertemu. Wanita ini terus saja membuatnya kagum, dan Kyuhyun harus mengakui kalau ia memang tertarik pada dosennya. Ini adalah kali pertama bagi Kyuhyun untuk menyukai seseorang karena nilai-nilai yang ada dalam diri mereka dan bukan hanya sekedar penampilan luarnya saja—dan jelas Eungi tidak jelek di mata Kyuhyun. Sepertinya lelaki ini semakin tenggelam jauh ke dalam jebakan yang ia ciptakan sendiri.

“Noona, kau belum pernah terdengar se-sexy ini sebelumnya, kau benar-benar tidak pernah berhenti membuatku kagum.” Kyuhyun tertawa renyah untuk menutupi kegugupannya.

Eungi tertawa lagi, “Seorang gadis berbicara tentang mobil, itu sexy untukmu? Aku akan memberikan tips itu pada Nara agar dia tahu cara berkomunikasi padamu.”

Kyuhyun mendengus kesal, memutuskan untuk pura-pura tidak mendengar godaan Eungi yang barusan.

Shall I take it for a spin?” Kyuhyun melirik pada Eungi, menawarkan tawaran yang tidak mungkin ditolaknya.

“Jangan terlalu mengebut.”

“Apa gunanya aku membeli mobil ini kalau begitu, noona.” Ia tersenyum sebelum menekankan kaki kanannya dalam ke pedal gas untuk mempercepat laju mobilnya.

Jalanan kosong selepas tengah malam adalah lokasi yang sempurna untuk menguji kebolehan mesin mobil Kyuhyun, ia juga menggunakan kesempatan ini untuk pamer pada Eungi akan kepiawaiannya dalam menyetir ugal-ugalan. Eungi duduk manis di kursinya sambil menikmati efek torsi yang diberikan dari raungan mesin mobil Kyuhyun dengan ekspresi wajah datar yang sulit ditebak.

Wanita itu paham seluk beluk mobil karena Siwon. Pria itu adalah pengemar berat muscle car dan ia selalu mencoba untuk mempengaruhi Eungi agar menyukai hobinya. Kadang pria itu akan mengajak Eungi untuk turut mengebut di dalam Audi kebanggaannya dan mereka juga selalu berargumen tentang mesin mobil mana yang paling baik—Eungi selalu memilih Aston Martin dan BMW, sedangkan Siwon tetap bersikiras pada pilihannya, yaitu Audi.

Musim panas kemarin, keduanya menikmati waktu libur mereka dengan mencari jalanan berliku terbaik di Eropa untuk diarungi dengan Audi milik Siwon. Selama hubungan mereka, liburan musim panas itu adalah sebuah perjalanan yang tidak terlupakan. Eungi menyukai suara raungan yang datang dari knalpot mobil ketika mesin mobil bekerja maksimal, ia juga kagum dengan pemandangan yang berlalu dengan cepat seiring dengan menambahnya laju mobil hingga 200 km/jam, seolah-olah seluruh masalahanya juga ikut luruh jika ia berada dalam mobil yang melaju kencang.

Kyuhyun memelankan laju mobilnya ketika mereka tiba pada area dengan kamera pengawas, lelaki itu menolehkan kepalanya untuk melihat ekspresi Eungi—dan ekspresi wanita itu membuatnya bingung. Wanita itu tersenyum sendu tapi senyumnya tidak menyentuh matanya, ia hanya menatap kosong ke depan seperti orang yang sedang melamun.

“Kukira kau pejuang green living, noona.” Godanya, membuyarkan lamunan Eungi akan siwon. “Aku tidak tahu kalau kau menikmati acara menyetir ugal-ugalan yang jelas membuang-buang bahan bakar.”

Eungi menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan memorinya tentang Siwon, ia memilih untuk fokus pada perbincangan yang terjadi sekarang.

“Aku dulu menikmati hal itu.” Balasnya cepat, “Semua orang punya guilty pleasure bukan? Guilty pleasure-ku ternyata mesin v8 turbo.”

Kyuhyun terkekeh geli dengan pernyataannya.

“Terima kasih.” Ujar Eungi cepat.

“Untuk?”

“Untuk membuktikan padaku kalau BMW seri M memang lebih baik, aku tak sabar melihat ekspresi di wajahnya nanti saat aku memberi tahunya tentang hal ini.” Ia tidak tahu mengapa ia justru mulai bicara tentang Siwon—sekarang, pada Kyuhyun. Suara wanita itu mulai serak sementara ia berusaha untuk tidak terjebak ke dalam momen melankolis yang selalu menyerangnya ketika ia teringat akan Siwon, “Jelas ia tidak akan suka dengan fakta yang kutemukan, tapi aku yakin ia akan menerima kekalahannya seperti seorang pria sejati yang selalu kukenal.”

Genggaman Kyuhyun pada setirnya mengencang, ia tidak pernah menyangka hatinya bisa terasa remuk seperti ini hanya karena Eungi berbicara tentang lelaki lain, dan fakta kalau Eungi memandanganya sebagai seorang pria sejati juga mengganggu pikirannya.

“Siapa yang kau maksud?” Kyuhyun menggali lebih dalam lagi.

Eungi memalingkan kepalanya dari Kyuhyun, memilih untuk memandang jalanan malam kota Seoul yang berlalu di sampingnya.

“Tunanganku.” Setetes air mata jatuh dari pelupuknya.

Kyuhyun tidak tahu hal mana yang lebih menyakitkan baginya: menyaksikan Eungi menangis karena ia mengingat pria yang menjadi tunangannya, atau fakta kalau wanita di sampingnya telah bertunangan. Yang Kyuhyun tahu, ia hanya ingin merobek jantungnya sendiri agar ia tidak perlu merasakan sesak yang kini membakar dadanya.

Advertisements

105 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot -Part 4

  1. Lovecho says:

    Efek dari kata ‘nak’ itu berpengaruh besar sama kyuhyun.. karena kata2 itu dia punya semangat untk membuktikan pada eungi klo dia itu bukan anak2 lagi..
    Eyyy kyuhyun jgn cemburu dulu lah.. itu tunangannya noona udh gak ada kok..
    Jgn gara2 eungi bilang tunangannya ntar kyuhyun jdi kehilangan semngata dan jadi males lgi..

    Liked by 1 person

  2. Christellee says:

    Kayaknya rencana yang berhasil itu punyanya eungi. Sekarang aja kyu udah ilang tu niat gilannya, syukurlah..
    Kyu juga udah mulai suka sama eungi, tapi saat eungi bilang ‘tunanganku’, kuharap di gak nyerah.. Dan itu berarti dia harus tahun masa lalunya eungi. Very interesting, I’m more curious!

    Liked by 1 person

  3. amel chomb says:

    Klop bnget ini dosen sm mahasiswanya, kyuhyun kyak nya sdh mulai sk sm eungi , buktinya engi ngomngin soa tunangan dia marah. Lanjur author membacanya, asik bnget ini ff

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s