After a Long, Long While – Part 6

 

aallw

Gambar milik Taecyeon, Haneul, dan Kyuhyun

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Aeri, Ok Taecyeon, Cho Kyuhyun

Akhirnya hari perlombaan marathon yang sudah ditunggu tiba. Mungkin dalam hidupnya, Aeri belum pernah memacu dirinya sendiri sampai pada tahap ini. Langkah demi langkah dilewatinya sambil terus melirik  jam di pergelangan tangannya, jika ia tidak meningkatkan performanya, mungkin wanita itu tidak akan pernah bisa mendapatkan mendali yang ia incar. Di sampingnya, Taecyeon juga berlari dengan langkah yang sama—hal yang cukup bodoh untuk dilakukan mengingat pria itu bisa melewati Aeri dengan stamina prima dan langkah lebarnya sejak tadi.

Garis start Seoul Marathon ini dimulai dari salah satu tempat paling populer di Seoul, yaitu tempat patung Admiral Yi Sun Shin. Dari tempat itu, para pelari menelusuri rute di bagian utara dari sungai Han. Jarak 42,195 kilometer sudah menjadi jarak yang sangat menantang bahkan bagi pelari professional sekalipun, dan tentu saja untuk Aeri yang baru sempat berlatih tiga bulan terakhir sebelum perlombaan, jarak ini menjadi sebuah ujian besar.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan wanita ini untuk melanjutkan hidupnya, ia bisa sekolah lagi agar bisa memperluas pengetahuan, ia bisa traveling jika ia mau, ia bisa menunjuk pria manapun yang ia mau untuk dikencaninya. Tapi Aeri memilih untuk menata hidupnya dalam tahapan-tahapan ringan yang terlihat nyata—dalam hal ini mendali finisher Seoul marathon adalah tujuannya.

Taecyeon sering bertanya tentang ide gila yang Aeri utarakan padanya beberapa bulan lalu. Untuk seorang dengan tubuh kecil nan ringkih, ambisi untuk menuntaskan jarak sejauh ini terkesan terlalu gegabah, terlebih mereka memutuskan untuk ikut marathon edisi musim dingin. Tapi pria itu hanya bungkam dan mengangguk setuju ketika Aeri memohonnya untuk menjadi trainer, Taecyeon yakin Aeri memiliki alasannya sendiri dan seperti biasa, ia akan dengan senang hati men-support wanita yang disayanginya dengan sepenuh hati.

Aeri sudah kepayahan, udara dingin sesungguhnya sudah tidak lagi terasa di kulitnya. Tapi napasnya mulai sesak dan paru-parunya serasa terbakar karena tidak diberi jeda untuk beristirahat. Aeri melirik jamnya kembali, sadar kalau dia masih tertinggal sangat jauh dari targetnya, ia terus-terusan berbisik dalam hati bahwa mendali itu akan aman berada dalam genggamannya jika ia sudah melihat wujud sungai Han, tapi sekarang mereka masih berlari di area Seoul Forest—dan hal ini membuat semangatnya sedikit ciut.

“Aeri-ya, kau mau istirahat?” Tawar Taecyeon sambil masih terus berlari di sampingnya.

Aeri tidak menjawab dan hanya menggeleng saja. Bernapas sudah cukup sulit untuknya, ia tidak akan membuang pasokan oksigennya untuk bicara.

Wanita itu terus melangkah, ia tidak peduli sekebas apa tubuhnya nanti, apa nanti ia bisa berjalan pulang, berapa lama waktu recovery yang akan dibutuhkannya, atau bahkan jika ia pingsan seketika melewati garis finish. Yang Aeri tahu, ini adalah niat paling besar yang pernah ia miliki dalam hidupnya, karena ia sudah membuat perjanjian dengan dirinya sendiri: bila ia berhasil menuntaskan lomba ini dan memperoleh mendali, maka hari ini akan menjadi hari di mana ia memutuskan untuk menghapus Cho Kyuhyun sepenuhnya dari hatinya. Jika Aeri bisa menuntaskan jarak sejauh itu, maka ia juga bisa berhenti berharap pada pria yang sudah mencampakkannya—ia tahu proses itu akan sulit, tapi Aeri akan yakin bahwa hal itu bisa dilakukan.

Masih ada satu harta peninggalah Kyuhyun yang disimpannya, harta yang tidak pernah bisa dimusnahkan Aeri begitu saja karena banyak kenangan terikat pada benda itu. Tapi hari ini— jika ia bisa memperoleh mendali yang diidamkan semua peserta—Aeri akan memberanikan diri untuk membuang hartanya yang tersisa, dan ia akan memulai hidup baru tanpa usaha-usaha konyol untuk mengakhiri nyawanya.

Ahkhirnya Aeri dan Taecyeon bisa melihat Sungai Han di samping kanan mereka, yang perlu mereka lakukan hanya menyebrangi jembatan Jamsil dan perlombaan gila ini akan segera selesai. Taecyeon melirik jam tangannya dan hatinya mencelos, waktu yang mereka miliki sebelum panitia mengumumkan cut-out-time (red. Batas waktu maksimal untuk menuntaskan marathon, biasanya 7 jam) hanya tinggal 15 menit lagi. Finish line terletak di ujung jembatan ini dan untuk ukuran orang yang sudah kehabisan energi, jarak kurang dari satu kilometer itu menjadi terlihat sangat jauh.

Mereka melangkah ke mulut jembatan dan orang-orang yang menonton mulai bersorak, beberapa meneriakkan kata-kata penyemangat, beberapa membunyikan terompet-terompet pesta, sedangkan wajah Aeri sudah menegang disertai dengan ambisinya yang semakin dekat.

Tiba-tiba Teacyeon mendapat ide cemerlang untuk mengakhiri lomba ini, ia yakin bahwa mereka bisa finish di bawah waktu yang ditentukan karena jarak garis finish sudah tinggal 500 meter.

“KALAU KITA BERHASIL FINISH SEBELUM CUT-OUT-TIME, KAU HARUS MENGAJAKKU KE SEBUAH KENCAN ROMANTIS AERI-YA! BAGAIMANA PUN JUGA AKU PELATIHMU!” Taecyeon berteriak di samping Aeri, sangat kencang hingga Aeri yakin semua orang di kanan-kiri sisi jembatan bisa mendengarnya.

Wanita itu tertawa lepas, bagaimana mungkin pria ini menggunakan momen di saat wajahnya sedang jelek-jeleknya, tubuhnya berkeringat lengkap dengan rambut lepek untuk mengajaknya berkencan.

Aeri masih bingung dengan pria di sampingnya, ia sudah mengetahui fakta kalau ia adalah seorang janda, Aeri juga punya masalah mental, dan semua kerumitan hidupnya tidak membuat dirinya menjadi pilihan yang baik bagi Taecyeon—tapi mengapa pria itu masih bersikeras untuk tetap berjalan bersamanya? Dan Aeri tidak akan pernah melupakan kata-kata pria itu di malam keramat saat mereka bertemu, “Aggassi, kumohon, biar aku membantumu, ng? Apa pun kesulitanmu. Jika kau sedih karena kehilangan seseorang, aku akan mengenalkanmu dengan banyak temanku. Jika kau kehilangan pekerjaan, aku akan membantumu membuat surat lamaran baru, jika kau melakukan ini karena terlibat hutang, aku akan menyisihkan sedikit hartaku untuk membantumu. Jika kau butuh teman, maka aku akan menjadi temanmu.” Pria itu membuktikan kata-katanya dan menjadi semua yang Aeri butuhkan. Setidaknya Aeri bisa melunak pada Taecyeon bukan?

“KOL!” Balas Aeri, “Kita akan pergi kencan jika mendali berhasil kita raih.”

Taecyeon menoleh ke samping untuk menatap wajah Aeri, senyuman konyol muncul di wajah tampan pria itu, “Jinjja?”

Aeri mengangguk, “Aku sudah bisa melihat garis finish dari sini.” Ujarnya sambil terengah.

“Mari kita tuntaskan misi yang sudah kita mulai.” Taecyeon meraih pergelangan tangan Aeri untuk menariknya.

Keduanya sudah tidak bisa merasakan tapakan kakinya, seluruh tubuh mereka sudah nyeri dan napas mereka menderu tak beraturan ketika mereke mengerahkan seluruh sisa-sisa tenaga yang mereka miliki. Pada layar penunjuk waktu yang tertera di garis finish, Taecyeon dan Aeri hanya memiliki sisa waktu  tiga menit untuk masih dianggap menuntaskan perlombaan, dan mereka akhirnya melewati garis finish dengan catatan waktu yang sangat mepet.

Aeri merasa tubuhnya ditarik, seorang ahjussi menyebutkan nomor dadanya dan segera saja sebuah mendali kuningan berkilauan dikalungkan orang yang manariknya tadi. “Selamat Agassi, kau seorang finisher.”

Aeri mengangguk sopan, tapi orang lain sudah datang lagi mendekatinya, kali ini seorang gadis muda yang menyerahkan handuk dan sebotol minuman padanya. Tapi di tengah semua kemeriahan itu hanya satu sosok yang paling menonjol yang dilihat Aeri, Pria yang baru saja menuntaskan lomba ini bersamanya.

Taecyeon mengangkat mendalinya sendiri kemudian dengan segera ia melangkah ke arah Aeri dengan kedua tangan yang terbuka lebar. Aeri meniru gerakan Taecyeon dan segera saja Taecyeon langsung memeluk erat tubuh mungil wanita itu sambil mengakatnya dan memutar tubuh mereka.

Aeri memeluk bahu Taecyeon dengan senyuman lebar dan mata berkaca-kaca, kalau saja pria ini tahu bertapa besar makna mendali yang baru saja mereka dapatkan.

“Kau berhutang satu kencan romantis padaku.” Bisik Taecyeon setelah menurunkan Aeri dari gendongannya.

Aeri mengangguk semangat sambil menunjuk wajahnya sendiri, “Biarkan aku menata wajah dan rambutku, mandi, dan istiharat dulu sebelum kita berkencan, ng?”

Taecyeon melirik dengan tatapan meledek pada Aeri. “Ya, aku setuju. Wujudmu saat ini memang kurang cocok untuk kencan romantis.”

“Biar saja,” Balasnya, “Yang penting sekarang aku berhasil meraih mendali ini, kau tidak akan pernah terbayang seberharga apa momen ini untukku.”

 

*

 

Sepertinya pencapaian dalam menuntaskan marathon memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Aeri dan Taecyeon menerima banyak ucapan selamat dari rekan-rekan kerja mereka, murid-murid mereka  juga ingin diceritakan bagaimana sensasi yang dirasakan saat melakukan perlombaan yang menguji mental dan fisik itu.

Dengan semua apresiasi yang didapat, efek pegal-pegal, memar dan lesu yang dirasakan Aeri menjadi terbayarkan. Tapi yang paling terbayarkan adalah rasa puas dan pikiran positif yang kini menyertai hari-harinya. Ada sebuah keinginan besar dari Aeri untuk berbagi pikirannya dengan Taecyeon, tapi ada beberapa hal yang membuatnya menahan diri. Sebagian dari dirinya ingin memberikan pria itu kesempatan untuk membantunya merajut hidup baru, namun sebagian lainnya ingin berteriak pada Taecyeon untuk berlari sejauh-jauhnya sebelum pria itu benar-benar terpikat pada Aeri.

Aeri memilih pilihan pertama, meskipun terdengar egois dan jahat, ia ingin memberikan dirinya sendiri sebuah kesempatan untuk menyicipi rasanya kembali menjadi seorang wanita yang tidak perlu terus-terusan membatasi diri. Ia ingin sekali saja melupakan masalah hidupnya yang mendarah daging dan mencoba menjadi Aeri yang lebih ceria—seperti yang ia ingat dahulu. Tentu saja hal itu tidak bisa terlaksana sepenuhnya, karena bagaimanapun Aeri tahu tidak akan pernah ada pria yang bisa menerima kekurangannya. Karena sebagaimana pun seseorang mencintainya, cinta itu bisa luntur dalam sekejap mata ketika kekurangan fatalnya terungkap.

Tapi bukan berarti ia tidak boleh mencicipi sedikit romantisme hari ini, hari di mana ia menunaikan janjinya untuk pergi berkencan dengan Taecyeon.

Semua terasa baik-baik saja bagi Aeri sore itu ketika ia sibuk mempersiapkan diri untuk kencannya. Seperti brief dari Taecyeon sebelumnya, pria itu benar-benar menanggapi kencan mereka kali ini dengan serius, maka Aeri memutuskan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Entah kapan terakhir kali ia menata rambut panjangnya dengan jepit rambut kecil bewarna emas, tentu ia juga memulaskan pemerah pipi yang telah lama tidak disentuhnya, senyum lebar muncul di bibirnya saat ia menyapukan lipstick, dan hatinya berdebar kencang ketika ia harus memutuskan gaun mana yang akan dikenakannya. Telah lama Aeri meninggalkan kehidupan dimana ia harus bersolek, ia meninggalkan apartemennya dengan Kyuhyun hanya dengan membawa gaun tidur yang melekat pada tubuhnya malam itu, sehingga gaun resmi yang dimilikinya mungkin hanya segelintir saja—itu pun dibelinya untuk digunakan di acara-acara resmi sekolah. Tatapan wanita itu selalu terpaku pada mendali finisher yang terpajang tidak jauh dari meja riasnya, mungkin mendali itu telah menjadi sebuah jimat yang menumbuhkan keberaniannya. Keberanian baginya untuk kembali hidup dan bermimpi, agar ia bisa memutuskan tindakan-tindakan hidupnya ke depan.

Ketukan di pintunya menyentakkan Aeri dari lamunannya pada cermin, sepertinya pasangan kencan yang dinantinya sudah datang. Wanita itu menarik napas dalam untuk menangkan dirinya sedikit dan dengan langkah ringan ia membukakan pintu—dan seketika saja matanya terbelalak.

Ok Taecyeon berdiri di balik pintunya dengan penampilan yang sangat tidak biasa di mata Aeri. Pria itu seorang guru olahraga, jadi Aeri sudah terlalu terbiasa melihatnya dengan jaket sport dan celana training—pakaian terapih yang dikenakan pria itu hanya berupa celana kantor dengan kemeja standar.

7c80ff88c4009edf59a7d4137028d592

gambar milik Taecyeon

“Kau bisa menutup mulutmu, Aeri-ya. apa aku terlihat setampan itu?” Goda Taecyeon dengan cengiran lebar di wajahnya.

Aeri menilai penampilan pria itu dengan perlahan, rambutnya ditata dengan rapi, pria itu menggunakan kemeja biru gelap dengan dasi tipis bewarna senada bergaris putih yang dipadukan dengan celana denim, sepatu olahraga yang biasa dikenakannya kini diganti dengan sepasang Doc. Marteen hitam, dan penampilah menawannya ditutup dengan sebuah mantel musim dingin bewarna hitam yang menutupi setengah porsi dari paha pria itu—membuat kesan ia lebih tinggi dari yang sebenarnya.

“Kau—kau terlihat berbeda.” Aeri akhirnya menemukan suaranya.

“Kau bilang bahwa kau sudah lupa cara berkencan, aku akan mengingatkanmu dengan perlahan sekarang.” Balasnya sambil memberikan sebuket bunga mawar merah jambu dan baby’s breath pada Aeri.

Rona kemerahan yang muncul di wajah wanita itu sukses membuat fungsi kerja jantung Taecyeon berhenti beberapa saat. Aeri  mengambil buket bunga yang diberikan dan menghirupnya sekilas.

Wanita itu melangkah masuk ke dalam rumah atapnya, mengambil kaleng bekas keripik kentang untuk mengisinya dengan air, kemudian meletakkan buket bunga yang baru diterimanya di dalam kaleng itu.

“Maaf aku tidak punya vas, tapi aku janji untuk merawat bunga ini baik-baik.” Ujarnya dengan senyuman lebar.

“Jangan terlalu dipikirkan.” Taecyeon menjawab cuek, pandangannya tidak lepas dari wajah Aeri.

“Apa aku terlihat aneh?” Aeri menundukkan kepalanya untuk memeriksa penampilannya.

Pria itu menggeleng sambil tersenyum canggung, “Kau selalu terlihat cantik di mataku, tapi malam ini kau berhasil membuat jantungku berdebar.”

Aeri tertawa, apakah ini bagian lain kencan yang sudah dilupakannya? Bagian saat mereka saling memuji penampilan satu sama lain dengan tatapan penuh kekaguman seperti yang sedang mereka saling lemparkan.

“Apa kau sudah siap?” Taecyeon menunjuk pada pintu, mengisyaratkan untuk segera memulai kencan mereka.

Aeri mengangguk, ia segera mengenakan sepasang heels berwarna senada dengan jepit rambutnya, meraih clutch kecil yang sudah disiapkan dan mengambil mantel musim dingin keabuan dari gantungan kecil di samping pintu keluar. Taecyeon meraih mantel Aeri untuk membantu melingkarkannya di punggung waniata itu sebelum ia membantu Aeri untuk mengenakannya.

“Jadi rencana apa yang ada di kepalamu tentang kencan ini?” Tanya Taecyeon sambil mengulurkan tangannya untuk Aeri berpegangan.

Aeri memasang cengiran bodohnya, “Kau tahu? Aku harus browsing terlebih dahulu tadi pagi sebelum memutuskan kegiatan kita. Kurasa aku akan memberi ide agar kita melakukan kencan ala anak muda jaman sekarang.” Jawabnya sambil mengikuti langkah Taecyeon, dengan sedikit keraguan, Aeri melingkarkan lengannya di lekukan sikut pria itu.

Taeecyeon mendengus geli, “Biar kutebak, N-tower di restoran yang bisa berputar itu?”

Tawa lepas Aeri mengkonfirmasi tebakannya.

“Baiklah, aku tidak keberatan. Selama kau ada dalam genggamanku seperti ini, aku rela kau ajak kemana saja.” Ujarnya sambil menepuk tangan Aeri dalam genggamannya.

“Tapi kalau kau tidak keberatan, aku juga mau mengajakmu ke Hongdae. Di sana ada sebuah tempat pancake yang baru buka dan kubaca dari rekomendasi di internet, katanya tempat itu wajib dicoba.” Sahut Aeri.

Keduanya segera berjalan menuju tempat yang Aeri rencanakan menggunakan transportasi publik seadanya. Taecyeon sempat menawarkan pada Aeri agar mereka menggunakan taxi saja, tapi Aeri menolak dan memilih melakukan kencan mereka dengan apa adanya. Memang dulu wanita itu terbiasa dengan segala fasilitas nyaman yang Kyuhyun sediakan untuknya, mereka tidak perlu berdesakan dengan ratusan orang lainnya dalam kereta bawah tanah, atau mengantri lama untuk menunggu bus tujuannya tiba, atau sekedar melaibaikan tangan di pinggir jalan untuk memberhentikan taxi. Kalau boleh jujur, Aeri lebih menikmati hidupnya yang sekarang berkecukupan dibandingkan dengan saat Kyuhyun membanjirinya dengan berbagai fasilitas—karena sekarang Aeri tidak perlu merasa berhutang pada siapa pun dan ia tidak lagi perlu merasa sungkan.

Malam itu mereka menikmati acara makan malam mereka dengan santai, Taecyeon tidak berusaha untuk menempatkan diri sebagai teman kencan Aeri sama sekali, ia hanya tetap menjadi versi dirinya yang selalu membuat Aeri merasa nyaman. Perbincangan mereka awalnya masih berkisar antar kehidupan mereka di sekolah sera rekan-reakn kerja mereka. Namun seiring makan malam yang terus berlangsung, obrolan akhirnya mengarah pada proses penyembuhan yang sedang Aeri jalani.

Seselesainya mereka dengan acara makan di N-tower, Aeri meminta Taecyeon untuk menemaninya ke tempat di mana mereka pertama kali bertemu. Pria itu tentu memandang Aeri dengan tatapan bingung dan tidak nyaman, tapi ia mencoba menyembunyikan kekhawatirannya dan mengikuti ajakan Aeri.

“Taec, apa aku boleh menjadi egois sekali lagi?” Tanya Aeri ketika mereka tiba di jembatan itu.

“Apa yang harus kulakukan, Aeri-ya?”

Aeri tersenyum datar, “Aku ingin bercerita sedikit padamu, merangkum semua pertanyaan yang diam-diam kau pendam dalam kepalamu itu, karena kau takut aku justru akan kumat kalau kau menanyakannya.”

Taecyeon menggigit bibirnya dengan gelisah, ia tidak pernah menyukai tempat ini, karena memorinya akan selalu terbawa ke malam mengerikan itu.

“Pertama-tama, terima kasih. Kau telah melompat ke dalam sungai ini bersamaku dan mempertaruhkan hidupmu sendiri untukku. Selayaknya aku menunjukkan rasa terima kasihku dengan cara menjaga diriku sebaik mungkin dan tidak melakukan usah-usaha bodoh lanjutan untuk mengakhiri hidupku—tapi kita berdua tahu itu tidak terjadi.” Aeri menunduk menatap gelapnya air sungai yang gelap, yang diselaminya secara tidak sengaja beberapa tahun yang lalu.

Taecyeon melepaskan mantel musim dinginnya untuk menyelimuti punggung Aeri yang terlihat bergetar, membiarkan wanita itu terus bicara selagi ia bisa mengungkapkan segalanya.

“Malam itu aku benar-benar merasa hidupku berakhir. Karena pria itu adalah satu-satunya orang yang kusayangi dan juga menyayangiku. Pria itu berjanji untuk menjagaku dan menemaniku hingga kami tua dan rapuh nanti—jadi ketika surat cerai dilayangkan di hadapan wajahku, aku benar-benar merasa langitku runtuh. Tapi aku bertahan, karena kupikir ia akan sadar akan perbuatanya dan segera menyobek surat sialan itu dan kembali padaku. Sekitar sebulan setelah ia menghilang, aku berusaha mencari tahu akan keberadaannya, saat itulah kudengar ia telah menikah kembali dan hidup bersama pasangan barunya di Amerika—malam itu lah kita akhirnya bertemu Taec.” Suara Aeri mulai sengau oleh air mata yang tertahan.

Taecyeon masih tetap bungkam, ia tidak mau mengganggu momen pengakuan Aeri.

“Selama ini aku marah, marah pada diriku sendiri. Karena aku tidak bisa menjadi wanita yang dibutuhkannya, karena aku tetap saja kurang di matanya, karena aku hanya seorang anak yang ditinggalkan ibu kandungku di terminal, karena aku dibesarkan di panti asuhan di Negara yang sangat asing bagiku, karena aku tidak punya keluarga—aku bahkan tidak memiliki marga apa pun di depan namaku. Kemarahan itu yang membuatku gelap mata dan memilih untuk membunuh diriku sendiri, berkali-kali dengan semua cara yang kutahu.”

Air mata wanita itu akhirnya menetes dari pelupuk matanya, Aeri mulai terisak dan dengan sigap Taecyeon segera merangkul bahu kecil Aeri dalam dekapannya.

“Tapi ketika aku kembali bertemu dengannya setelah sekian tahun, lengkap dengan kehadiran keluarga barunya—aku sadar bahwa aku tidak sepenuhnya bersalah. Kalau pria itu bisa menjaga janjinya untuk tidak meninggalkanku dalam kesulitan dan segala sakit yang akan datang, maka pria itu tidak akan pernah mengulurkan surat cerai. Jika memang dia mencintaiku seperti kata-kata manis yang selalu diumbarnya, maka ia bisa membelaku di hadapan ibunya yang kejam. Jika ia masih punya hati nurani, sudah selayaknya ia tidak lagi mencoba muncul di hadapanku hanya untuk membuka luka lamaku yang belum kering.” Aeri menopangkan seluruh bobotnya untuk bersandar pada Taecyeon.

Pria itu hanya mengelus pelan punggung Aeri yang bergetar semakin hebat.

“Karena itulah aku bertaruh pada diriku sendiri, jika aku berhasil melewati finish line dalam waktu yang ditentukan, itu berarti aku dapat menaklukkan apa pun yang kumau asal aku berlatih dan berusaha. Aku bertekad untuk membuang memoriku jauh-jauh, Taec. Aku ingin keberadaannya tidak lagi menghantui mimpi-mimpi burukku—aku ingin hidup dan belajar untuk mencintai diriku sendiri.” Wanita itu perlahan merogoh ke dalam clutch kecilnya, mengambil sebuah kalung keemasan dengan bandul berbentuk cincin. “Benda ini adalah satu-satunya yang tersisa dari kenanganku bersamanya, selama ini aku tidak memiliki keberanian untuk memusnahkan cincin pernikahanku karena aku masih berpikir akan ada waktunya ia kembali ke hadapanku, berlutut dan memohon maaf—tapi tentu saja itu tidak pernah dan tidak akan terjadi.”

Pandangan Taecyeon terarah pada cincin kecil di telapak tangan Aeri, wanita itu semakin bergetar seiring kisah yang disampaikannya semakin intens.

“Maafkan aku karena kau terlibat dalam masalahku yang terkesan konyol dan cetek ini. Tapi sungguh sulit bagiku untuk bisa mengumpulkan tekad agar aku melupakan pria yang telah kucintai sejak kecil.” Aeri mendorong tubuhnya menjauh dari Taecyeon, ia menghapus air matanya sendiri dengan kasar sementara telapak tangan kirinya masih terbuka dengan cincin pernikahan Kyuhyun di atasnya. “Kau telah menjadi saksi dari seluruh kejatuhanku, maka aku ingin kau juga menjadi saksi dari momen saat aku ingin mencoba bangkit dari keterpurukanku—maafkan keegoisanku yang selalu melibatkan dirimu untuk hal-hal sepele seperti ini.”

Taecyeon tersenyum tulus pada Aeri, pandangan pria itu tetap damai dan lembut. “Aku akan terus berada di belakangmu, Aeri-ya. I’m a man of my words. Kau bisa bersandar padaku kapan pun kau mau.”

Aeri tersenyum pada kata-kata sederhana yang terdengar sangat tulus di telinganya. Untuk hari ini saja, ia ingin percaya pada pria yang mengungkapkan kata-kata itu. Ia ingin menumbuhkan kembali keyakinan bahwa masih ada seorang sahabat yang mau menerima dirinya dengan segala fakta kelam masa lalunya. “Aku memperoleh mendali itu atas bantuanmu dan aku berniat menggantikan cincin ini dengan kehadiran mendali baruku, apa aku terdengar konyol sekarang?”

Taecyeon mendengus sambil menyengir lebar, “Sedikit konyol, tapi aku bisa memahami analogimu.”

Aeri menggigit bibirnya sambil memaksakan diri untuk tersenyum, “Here’s the moment of truth.”

“Ambil waktu sebanyak yang kau butuhkan, aku akan terus menemanimu.” Taecyeon mengacak rambut Aeri dengan sayang.

Aeri menarik napas dalam-dalam sambil menutup matanya. Memori dalam benaknya kembali berputar pada pria itu, gambara-gambaran semu tentang masa-masa indah mereka terulang kembali: saat Kyuhyun membelanya dari sekumpulan anak bandel di sekolah mereka dulu, saat Kyuhyun pertama kali mengantarnya pulang ke panti asuhan tempat Aeri tinggal, saat Kyuhyun menyatakan rasa sukanya ketika mereka masih di tingkat sekolah menengah, ciuman pertama mereka yang sangat canggung, saat keduanya lulus sekolah menengah atas dan Kyuhyun segera melamarnya, langkah-langkah yang diambilnya menuju altar di hari pernikahan mereka, dan fragmen-fragmen kebahagiaan rumah tangga mereka yang dijalin saat mereka muda.

Wanita itu membuka kembali matanya, menatap realita yang terhidang di hadapannya. Semua keindahan dan kehangatan itu hanya masa lalu yang tidak akan pernah diperolehnya kembali, hanya ada kegelapan dan dingin malam di hadapannya—jadi untuk apa ia beruhasa mempertahankan kenangan yang semu? Aeri mengangguk pelan untuk meyakinkan dirinya sendiri, sambil maju selangkah lebih dekat ke tepi jembatan. Dalam sebuah gerakan yang terlihat seperti slow-motion di matanya, Aeri mengulurkan tangan kirinya ke ambang pengaman jembatan, dibukanya jemari tangan hingga gravitasi akhirnya  menarik cincin pernikahannya ke bawah, ke dasar Sungai Han yang telah menjadi saksi dari kisah pilunya.

Tangis wanita itu tumpah seketika riak kecil di permukaan air menelan satu-satunya harta yang tersisa dari kenangannya akan Cho Kyuhyun. Seluruh tubuhnya bergetar hebat sembari ia berpegangan kencang pada pengaman jembatan.

Taecyeon segera menarik tubuh Aeri untuk menjauh dari tepi jembatan, ia melingkarkan lengan kokohnya disekitar tubuh Aeri dan membiarkan wanita itu untuk menumpahkan seluruh emosinya di dada bidangnya. Ia bisa merasakan seberapa terguncangnya wanita dalam dekapannya, meskipun masih banyak misteri dari diri Aeri yang belum ia ketahui, Taecyeon bersyukur karena Aeri cukup mempercayainya untuk menyaksikan dan mendampinginya dalam salah satu momen penting dalam hidup wanita itu.

“Aeri-ya, ketika kau merasa seperti ini lagi, saat kau tidak bisa menghapus rasa sedihmu, saat kau mulai ingin menyalahkan dirimu sendiri, dan saat kau merasa lemah dan butuh seseorang untuk menjagamu, kau harus selalu ingat bahwa aku selalu siap berdiri di sampingmu, ng?” Bisik pria itu lembut ketika napas Aeri mulai tenang.

Wanita itu menggangguk pelan dalam dalam dekapannya.

“Kau ingat janjiku di malam itu?” Ujar Taecyeon.

Aeri mengangkat wajahnya dari dada Taecyeon untuk menatap langsung ke manik mata gelap milik pria itu. “Bagaimana mungkin aku melupakannya, kau sudah membuktikan kata-katamu ribuan kali padaku.”

Taecyeon tersenyum, ia mengangkat tangannya untuk membelai wajar Aeri, jemarinya menghapus sisa-sisa air mata di wajah cantik wanita itu, kemudian ia menyisipkan rambut Aeri kebalik telinganya, “Kalau kau ingat semua itu, kau juga harus ingat bahwa aku sangat mencintaimu.”

Napas Aeri tercekat, bukan kali pertama pria itu mengungkapkannya tapi baru kali ini Aeri benar-benar merasa seolah jantungnya sedang diremas dengan kencang—karena Aeri belum sepenuhnya jujur akan kekurangannya pada Taecyeon dan wanita itu tahu ia akan langsung kehilangan pria ini jika rahasia kelamnya terungkap.

Taecyeon tidak memperdulikan tatapan bingung Aeri. Pria itu memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya untuk menyapukan sebuah ciuman lembut pada kening wanita yang dicintainya.

 

 

Advertisements

21 thoughts on “After a Long, Long While – Part 6

  1. may says:

    Taeyong the best….. Kshn aeri traumany sgt dlm, mg dia bs bk hatiny bt taeyong. N …ko sy pgn ya liat kyu mnderita spt yg aeri rasakan…..(snyum jht)
    Ngeliat aeri yg bgtu mnderita n kyuhyun yg bhagia dgn klg kecilny…..miris. Pgnny sih ad karma bt kyu he… Ampun sm fansny kyu…

    Like

  2. Tina yuliawati says:

    Huhuhu mewek 😭😭 ayo aeri kamu harus bangkitt,buktiin kalo kamu bisa kuat hidup tanpa kyuhyun,, salut sama taec Yang tetep stay terus nyemangatin idupnyaa si aeri,,terus kalo misalnya si taec tau kondisi sesungguhnyaa aeri gimana? Akankah si taec tetep cinta sama aeri?? 😔Ditunggu lanjutannya

    Like

  3. Imama says:

    Aku setuju aerin sudah bertekat untuk menghapus kyuhyun dari hidupnya, tapi aku tidak rela kalau kyuhyun tidak diberi karma karena telah menyakiti airi yg begitu tulus mencintainya.

    Like

  4. syalala says:

    oke. bye kyuhyun… ini tuh mau diliat dari sisi manapun ya lah semua hahahaha gemes karena aeri kaya gitu, taecyeon yg begitu dan kyuhyun yg begitu trs aku harus gimana hahahahaha gemes deh asli ga ngerti lagi apa bener aeri bakal lepasin kyuhyun selempeng itu kalo bahkan banyak kemungkinan mereka ketemu karena ada eunjung hah yaudahlah yuk lanjut lagiiii

    Like

  5. park eun kyo says:

    Setuju sm aeri dy udh bertekad buat lupain kyuhyun dlm hidupx dan i2 berkat taecyeon jg,moga taec bs bahagiain aeri deh,pngenx sih kyu jg ngerasain penderitaanx aeri tp kayax gak ya hihi

    Like

  6. Seo HaYeon says:

    Beratnya… sedih banget… membuang satu2x benda kenang2an yg dimiliki Aeri, bersyukur Taec masih sll berada disisi Aeri.. klau begini kan q jg jd galau… sesaat aku lupa kalau ad Kyu dlm FF ini.. hehehee… 😛

    Like

  7. ByunSoo says:

    ya…..Emang hal itu y hrusx dr dulu sudah kau lakukan aeri ssi,sedih,terharu tapi bangga atas keputusan terberat dlm hidupnya aeri tlah terlontarkan,hah sampai kpn aeri akn trus bungkam atas semua masa lalunya,taec akb sllu ad untukmu kok,dont worry Aeri

    Like

  8. Sugaark says:

    Ahhh taecyeonnn 😭
    Dia yang bantu aeri bangkit dri keterpurukannya di masalalu
    Berawal dari nyelamatin aeri yg mau bunuh diri smpe nyebur ke dinginnya sungai han
    Jadi aeri latihan lari sama taecyeon gara2 dia bertekad kalau dia menang dapat medali dia bakal ngelupain kyuhyun

    Liked by 1 person

  9. kailila says:

    Bener kata orang, yang spesial bakal kalah sama yang selalu adaa. Kencan romantisss hahahahaa. Semoga hubungan mereka berlanjut yaaa

    Like

  10. omiwirjh says:

    Semoga Taec berbeda dari Kyu. Semiga dia bisa nerima semua kekuranga Aeri dan semiga kekuarga Taec lebih berlapang dada menerima Aeri. Itu takdir Tuhan jadi manusia tidak pantas menghukum wanita yang tidak hamil hanya karena itu adalah garis takdir dari Tuhan.

    Liked by 1 person

  11. Alea says:

    Cara Taec ngajak Aeri kencan lucu banget 😀 Ternyata ikut maraton buat motivasi Aeri biar bisa nglupain Cho sepenuhnya. Ayo Taec jangan kecewa dengan masalalu Aeri

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s