(Indonesian Version) One Last Shot – Part 3

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

Diluar dugaan, Cho Kyuhyun sudah duduk dengan manis di bagian belakang kelas ketika Eungi datang ke kelas keesok paginya. Sepertinya anak itu benar-benar mempertimbangkan tawaran Eungi untuk kuliah dengan sungguh-sungguh. Kyuhyun melambai sambil tersenyum lebar pada dosen muda itu, ketika tatapan mereka beradu dan Eungi hanya membalasnya dengan anggukan singkat disertai dengan pandangan yang Kyuhyun tidak sukai.

“Baiklah, aku akan memulai kuliah hari ini.” Eungi berdeham sebelum melanjutkan, “Senin kemarin kita membicarakan tentang perkenalan pada green design dan setiap grup telah mengerjakan sketsa kasar mengenai ide mereka untuk memperbaiki planet tanpa menaruhkan keindahan visual pada desain. Nah, sekarang adakah diantara kalian yang bisa menjawab dasar fundamental dari sebuah desain yang berkelanjutan? Aku sudah menjelaskannya Senin kemarin.”

Tidak ada mahasiswa yang menjawab, semua hanya berpura-pura menunduk ke dalam catatan masing-masing.

“Aku akan memberika point tambahan jika ada yang menjawab.” Eungi berjalan ke mejanya untuk mengambil daftar presensi.

Tiba-tiba seorang mahasiswa yang duduk di barisan belakang mengangkat tangannya, Eungi mengangguk pada anak itu dan perhatian seluruh kelas kini terarah padanya.

“Ya, Kyuhyun-ssi?” Pancing Eungi, ini kali kedua Kyuhyun mencoba membuktikan keseriusannya di kelas ini.

“Ya Kyosu-nim.” Jawabnya sambil menatap Eungi tajam, “Ekonomi, sosial dan lingkungan.”

Eungi mengangguk setuju, “Bisa kau jelaskan kenapa?”

“Karena yang satu tidak bisa bertahan tanpa yang lainnya. Untuk menjaga bumi, manusia tidak bisa hanya melindungi sumber daya dan melupakan aspek perekonomian yang tercipta dari industri—karena tentu saja manusia membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita juga tidak bisa menciptakan sebuah industri tanpa mempertimbangakan nilai-nilai sosial yang merangkul masyarakat di sekitar industri itu berdiri—tentu mereka yang akan merasakan dampaknya terlebih dahulu—lagipula pertumbuhan ekonomi juga meningkatkan taraf hidup manusia. Terakhir, ketika nilai sosial dipadukan dengan industri yang ramah lingkungan, ibu pertiwi kita akan mulai sembuh dengan sendirinya sehingga kesejahteraan hidup dari tiga poin tadi tercapai.” Jelas Kyuhyun dengan percaya diri.

Mulut Eungi menganga kagum, ia tidak percaya anak yang baru saja mejawab pertanyaannya adalah anak tukang membuat onar yang kemarin mengancamnya. Image Kyuhyun yang buruk di mata Eungi sedikit—sedikit—berubah setelah usaha keduanya untuk membuktikan diri.

“Aku rasa kau mendeskripsikannya dengan sempurnya, Kyuhyun-ssi.” Eungi mengangguk setuju sambil menandai nama Kyuhyun di daftar presensinya. “Terima kasih untuk ilustrasi yang kau jelaskan dengan indah dan jelas barusan, apa yang dikatakan Kyuhyun-ssi adalah tujuan utama dari perkuliahan ini.” Eungi lanjut bicara di depan kelas.

Kyuhyun tersenyum puas, ada sedikit rasa bangga muncul dalam dirinya yang didapat dari pengakuan Eungi. Tentu saja ia tahu jawaban dari pertanyaan itu, ia sudah mengikuti kelas ini dua kali sebelumnya dan prinsip-prisip dasar green design memang sudah dia pahami di luar kepala.

Eungi melanjutkan kelas dengan teori-teori dasar sebelum pada akhirnya memberikan waktu bagi mahasiswanya untuk mengerjakan tugas kelompok mereka. Beberapa anak segera datang ke mejanya, mencoba bernegosiasi tentang masalah di kelompok mereka, berharap mereka masih bisa menukar anggota—karena ternyata teman mereka tipe pemalas. Kim Junsu juga salah satu dari anak-anak yang mampir ke depan untuk memohon keringanan masalah kelompok, dia berharap Eungi mengijinkannya untuk bekerja sendiri ketimbang dipasangkan dengan sunbae-nya yang veteran itu. Eungi mengabulkan permintaan Junsu dengan segera, toh Kyuhyun juga memintanya untuk membiarkan dia kerja sendiri.

Dua jam berlalu dengan cepat dalam kelas studio gambar, Eungi meminta mereka untuk mengumpulkan sketsa dan blueprint yang baru saja mereka kerjakan. Kelompok demi kelompok maju ke mejanya untuk bimbingan sementara Eungi mempelajari konsep dan ide-ide mereka, sekaligus memberi saran-saran realistis untuk beberapa permasalahan yang ditemui. Menurutnya, konsep anak-anak ini masih terlalu standar dan belum ada yang membuatnya kagum, karena mereka hanya menggunakan teknologi yang itu-itu lagi, dalam hati ia bertekad untuk lebih bisa memancing ide gila dari para mahasiswanya.

Bimbingan personal itu rupanya menghabiskan waktu dan jam kuliah sudah berakhir sebelum seluruh kelompok sempat berdiskusi dengan Eungi—dan konsenterasi mahasiswanya juga sudah mulai pecah seiring dengan mendekatnya jam makan siang.

“Baiklah, untuk tugas hari ini silakan kalian kumpulkan di mejaku.” Eungi menepuk bagian kosong dari mejanya di depan, “Aku akan melihatnya dan kalian bisa bimbingan denganku Senin depan. Kelas kububarkan, selamat siang.”

Momen berikutnya meja Eungi segera dikerubuti mahasiswa yang rebutan untuk mengumpulkan tugas mereka secepatnya. Sementara mereka mengumpulkan, Eungi membolak-balik kertas-kertas sketsa yang sudah ditaruh di meja dan perhatiannya terhenti pada sebuah sektsa konsep yang menurutnya menarik. Gambar anak ini sangat jelas, konsepnya tidak umum dan inovasi yang dikenalkan dalam idenya pun out-of-the-box—membuat Eungi mengambil kertas itu untuk melihatnya lebih seksama. Ia membalikan kertas untuk melihat nama dari pembuat sketsa, dan nampaknya ia kembali mendapatkan kejuatan dari Cho Kyuhyun.

“Kalau dia sehebat ini, kenapa dia masih tidak lulus juga?” Gumamnya pelan dengan nada heran.

Kyuhyun baru saja akan meninggalkan kelas ketika Eungi memanggil namanya dan meminta agar ia tinggal di kelas sebentar setelah teman-temannya pulang.

“Kehormatan apa yang kuperoleh darimu, noona? Apa kau sudah merindukanku?” Godanya.

“Jangan panggil aku seperti itu.” Sahut Eungi tegas, “Tidak di lingkungan kampus.”

“Jadi kita bisa berteman selama di luar kampus?” Seringai nakal muncul di wajahnya seiring dengan langkahnya yang semakin dekat dengan Eungi.

“Bukan berteman, hanya bersikap santai. Aku tidak pernah keberatan jika mahasiswaku memanggilku noona atau oenni, justru hal itu membuatku merasa lebih muda.” Ia mengangkat bahunya dengan cuek. “Aku mau mendiskusikan masalah ini.” Eungi mengangkat gambar Kyuhyun.

“Ada apa dengan sketsa itu?” Ia meraih kertas yang disodorkan Eungi dan memandangi gambarnya dengan bingung.

“Apa konsep dan ide yang kau tuliskan di sini benar-benar milikmu?”

Kyuhyun mengangguk.

“Dan ini sungguh-sungguh gambarmu?”

Lelaki itu mengangguk kembali.

Eungi mencoba memberikan tatapan yang mengintimidasi. “Kau yakin?”

Kyuhyun mengebrak meja dengan tangannya yang masih memengang gambar. “Kau meragukan kemampuanku.” Kesabaran Kyuhyun pun teruji, ia paham betul arti tatapan dari wanita di hadapannya—bukan yang pertama kali ia mendapatkan pandangan seperti itu.

Eungi menggeleng, tidak terpengaruh dengan perilaku Kyuhyun.

“Aku boleh curiga, bukan? Maaf jika kau tersinggung olehku. Hanya saja aku heran, mengapa kau menjadi mahasiswa seperti ini,” Ujarnya sambil melambaikan tangannya ke wajah Kyuhyun, “Jika kau memiliki kemampuan sehebat ini.” Lanjutnya lagi sambil menunjuk pada kertas di tangan lelaki itu.

“Kurasa kau sedang meremehkanku, apa perlu aku buktikan sendiri padamu?” Ego Kyuhyun mengambil alih emosinya. Sungguh ia benci dengan tatapan dan cara bicara Eungi padanya saat ini.

Eungi melirik singkat pada jadwal hariannya dan mengangguk setuju, “Aku ada waktu sore ini kalau memang kau mau membuktikan dirimu padaku. Amaze me.”

 

*

 

Sorenya, Eungi dan Kyuhyun bertemu di coffee shop tempat mereka berbincang sebelumnya, hanya saja kali ini mereka memilih meja yang lebih besar agar Kyuhyun dapat menggambar quiz yang Eungi siapkan untuknya, sementara wanita itu menikmati ketenangan yang tercipta untuk membaca abstrak jurnal yang akan dikumpulkannya.

Sesekali, ia akan mengalihkan perhatian dari laptopnya untuk memperhatikan lelaki yang saat ini sedang mencurahkan seluruh fokus dan perhatiannya pada selembar kertas A3—sibuk menggambar detail-detail dari sebuah gambar gedung yang Eungi minta untuk disketsa ulang. Sejujurnya Eungi benar-benar penasaran apa Kyuhyun memang memiliki kemampuan menggambar sehebat gambar di sketsa konsep yang tadi siang.

Pandangan Eungi berpindah dari kertas di depan Kyuhyun, matanya mulai mempelajari tampilan si anak pembuat onar ini. Pandangannya berjalan dari rambut acak-acakan yang ia yakin membutuhkan waktu dan perhatian khusus agar terlihat seperti itu, turun pada kedua mata Kyuhyun yang terlihat tajam, hidungnya yang mancung serta rahang kokohnya yang menyempurnakan fitur tampan dari wajah lekaki itu.

“Hati-hati noona. Kalau kau memandangiku lebih lama lagi, bisa-bisa kau jatuh cinta padaku.” Kyuhyun menyadari pandangan Eungi dan ia menikmati perhatian yang diberikan wanita itu.

Eungi segera mengalihkan pandangannya dan memilih untuk menegak kopi hitamnya banyak-banyak.

Kyuhyun bangkit dari duduknya, gambar yang sedari tadi dikerjakannya dibawa memutari meja mereka agar ia bisa memposisikan diri di belakang kursi Eungi. Ia kemudian membungkukkan tubuhnya untuk mnyender lebih dekat hingga dada tegapnya bergesekan dengan punggung wanita itu.

“Ini hasil perkerjaanku, noona.” Bisiknya sangat dekat dengan telinga Eungi, lengannya yang panjang dan kokoh diletakkan di sisi kanan dosennya.

Jantung Eungi rasanya berhenti bekerja beberapa detik, tapi ia segera mengontrol dirinya untuk tenang—demi tuhan dia sangat benci kedekatan seperti ini dengan orang asing. Eungi menolehkan kepalanya ke samping kanan untuk menantang balik, wajah mereka hanya beberapa senti jaraknya satu sama lain.

Do you mind?” Eungi mengangkat sebelah alisnya sambil menatap sinis, berharap Kyuhyun mengerti kalau jarak mereka terlalu dekat.

Kyuhyun tersenyum simpul, wanita ini boleh saja terlihat sinis dan dingin, tapi rona kemerahan di wajahnya tidak bisa menipu mata playboy ulung ini. Eungi tersipu dan itu point bagus untuk Kyuhyun.

“Ey, Kyosu-nim, apa yang kau pikirkan?” Kyuhyun menepuk bahu kiri Eungi dengan santai, “Aku ini mahasiswamu, kau tidak berpikir kalau aku akan menciummu, bukan?” Ia terkekeh sambil terus menggoda Eungi.

Tentu saja wanita itu tidak bodoh untuk sadar kalau dirinya sedang dipermainkan, ia pun punya trik-trik khusus dalam menghadapi mahasiswa kurang ajar macam ini.

“Kau bau.” Balasnya pendek. “Jadi tolong jagalah jarak proksemiks kita.” Ia mengambil kertas di tangan Kyuhyun untuk segera menelaah gambarnya.

Sebesar apa pun rasa percaya diri yang dimiliki Kyuhyun, tetap saja ia merasa risih dengan kata-kata Eungi barusan. Ia pun mulai mempertanyakan apa Eungi benar dan mulai mengendus bau tubuhnya sendiri. “Ya! aku tidak bau! Aku menyemprotkan parfum cukup banyak di jaketku.”

“Baumu seperti bau ahjussi.” Balas Eungi lagi tanpa memandang Kyuhyun.

Sekarang giliran wajahnya yang memerah, Eungi lali-lagi berhasil mempermalukannya. Kyuhyun mengendus dirinya sekali lagi sebelum akhirnya melepas jaketnya—yang disemprot parfum banyak-banyak—kemudian ia duduk lagi di kursinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, akhirnya ia menemukan manusia lain yang sama sinis dengan dirinya. Kebanyakan gadis yang ia kencani sangat mudah dirayu sehingaa Kyuhyun tidak pernah merasa tertantang. Cha Eungi sungguh berbeda dari mereka semua, ada banyak point dalam diri Eungi yang membuat tekad Kyuhyun untuk menaklukkannya semakin bulat.

Bagaimanapun juga, jiwa playboy ulung dalam diri Kyuhyun tetap bersikeras bahwa dirinya berhasil menggoda dosen muda itu, sampai detik ini belum ada seorang gadis pun yang bisa lolos dari pesonanya, ia pun yakin Cha Eungi bukan pengecualian. Kyuhyun meyakini dalam dirinya bahwa sikap Eungi yang dingin dan menjaga jarak hanya terjadi karena wanita itu harus menjaga status yang jelas antara dirinya dan mahasiswanya—jelas akan menjadi skandal besar jika seorang dosen berkencan dengan mahasiswa—dan fakta ini justru membuat Kyuhyun semakin bersemangat untuk mendekati wanita yang tidak seharusnya ia jadikan target.

Sudah lama sekali Kyuhyun tidak merasakan luapan rasa gelisah seperti yang dirasakannya kali ini, Cha Eungi tidak bisa disamakan dengan gadis-gadis lain yang sudah ditaklukkannya—dan hal ini membuatnya merasa kalau ia harus bersikap sedikit dewasa.

“Garismu sangat sempurna dan kau dapat mengarsir material dengan skill rendering manualmu.” Mata Eungi bergerak cepat di atas kertas sketsa Kyuhyun. “Pemahamanmu akan ruang dan proporsi juga sangat baik. Whoah Cho Kyuhyun!” Ucapnya dengan ekspresi senang.

Kyuhyun mengerutkan keningnya, dalam hati berpikir keras apa dosennya hanya mencoba untuk memujinya sebelum ia membanting rasa percaya dirinya dengan kejam. Tidak pernah ada orang yang memuji kemampuannya sebelum ini. Tentu saja Kyuhyun tahu ia bisa menggambar dengan baik, dan dalam lubuk hatinya yang terdalam ia benar-benar memiliki ketertarikan untuk menjadi seorang arsitek—hal yang tidak disukainya hanya mengikuti perkuliahan membosankan yang tidak berakhir.

“Sudahlah noona, kau bisa mengatakan opini mu sejujur-jujurnya, gambar itu seperti sampah bukan?” Kyuhyun menjawab lesu sambil menarik es teh pesanannya. Ia memonyongkan mulutnya untuk menyeruput tehnya dengan kekanakan.

Sinar mata Eungi melembut seketika ia melihat seberapa besar rasa insecure yang terpancar dari raut muka Kyuhyun. Dalam hati ia mendengus sinis, jadi seluruh kelakuan kurang ajar itu hanya untuk menutupi egonya yang lembek.

“Apa ada orang yang bilang kalau kau payah?” Eungi mencoba memancing Kyuhyun dengan cara klasik yang dipelajari semua dosen.

Kyuhyun mengangkat kedua bahunya dan tetap menyeruput tehnya seperti anak kecil.

Eungi meraih gelas Kyuhyun dan menyingkirkannya dari wajah lelaki itu, “Cho Kyuhyun-ssi, jawab aku. Apa ada orang yang bilang kalau kau payah?”

Kyuhyun mengambil napas panjang dan menyeringai sinis. Ialah yang seharusnya menggali hal-hal kecil tentang Eungi, bukan sebaliknya. Lagi-lagi Cha Eungi membuktikan kalau dirinya benar-benar jauh di atas standar gadis yang biasa dikencaninya.

“Kyuhyun-ssi?” Tanya Eungi lagi.

“Mereka tidak mengatakan langsung di mukaku.” Kyuhyun menyerah dan akhirnya bicara. “Tapi tatapan meremehkan mereka, cara mereka meneliti karyaku lebih lama, cara mereka mengabaikanku di kelas—aku bukan orang idiot yang tidak menyadari kalau dosen-dosen busuk itu hanya bersikap manis padaku karena aku anak dari ayahku.”

Wanita itu meringis mendengar kata-kata Kyuhyun. Ia pun melakukan hal yang disebutkan anak ini dan sekarang perasaan bersalah merubunginya.

“Maafkan aku.” Ucapnya, “Aku telah membiarkan prasangka menutupi penilaian objektifku.”

Dengan permintaan maaf itu, Eungi tanpa sadar telah mengejurkan Kyuhyun. Lelaki itu terlalu terbiasa diperlakukan dengan cara tidak hormat, diremehkan dan dianggap sebagai idiot yang tidak bisa apa-apa. Sepanjang hidupnya, Eungi adalah orang pertama yang pernah meminta maaf atas kesalahannya karena telah berprasangka dan menghakimi Kyuhyun.

Dalam hati, Kyuhyun benar-benar bersyukur kalau Eungi menjadi profesornya, paling tidak wanita ini mau melihat sisi lain dari seluruh keburukan dalam diri Kyuhyun—dan sikap sederhana yang dilakukan wanita ini menyentuh hati Kyuhyun dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Lelaki itu menatap Eungi dan tersenyum pahit, “Aku sudah terbiasa dengan hal itu.”

“Aku akan melakukan tugasku dengan lebih baik.” Eungi menopang dagu dengan telapak tangannya, “Dan jika kau mau memaafkan sikapku yang telah menghakimimu, aku akan sangat berterima kasih.”

Mulut Kyuhyun ternganga, ini benar-benar pertama kalinya seseorang pernah meminta maaf dengan sungguh-sungguh padanya. Kyuhyun akhirnya mengangguk dan menyunggingkan senyum tulus untuk wanita itu, “Permintaan maaf kuterima asal kau mentraktirku makan malam, menggambar membuatku lapar.”

Eungi terkekeh, “Siakan, pesanlah apapun yang kau mau.”

Tiba-tiba saja sebuah dentuman besar terdengar di ruangan itu diikuti dengan getaran pada lantai dan meja tempat mereka makan. Detik berikutnya, suara ledakan bertubi-tubi muncul tidak jauh dari lokasi coffee shop itu berada. Seiring dengan berlanjutnya ledakan-ledakan kecil yang masih belum berakhir, banyak orang yang bangkit dari duduknya untuk mencari-cari sumber suara dan Kyuhyun adalah satu dari sekian banyak orang yang mengintip dari arah jendela besar.

Warna-warni meriah di langit gelap menunjukkan bahwa dentuman yang disertai ledakan barusan adalah suara kembang api dan petasan yang sedang dimainkan di sebuah restoran tidak jauh dari tempat itu. Kyuhyun tersenyum untuk menikmati kilapan cahaya terang di depannya, dan hanya tersadar beberapa saat kemudian kalau ia harus mengajak Eungi menyaksikan atraksi kembang api ini.

Kyuhyun menolehkan kepalanya untuk mencari wanita itu, ia menjauh dari tepi kaca ketika Eungi tidak terlihat dalam pandangannya. Mata Kyuhyun menangkap sosok yang sedang bersembunyi di kolong meja mereka tadi, dengan senyum lebar lelaki itu melangkah mendekati lokasi Eungi dalam hati sedang tertawa puas karena baru mengetahui fakta kalau dosennya yang dingin itu ternyata takut dengan kembang api.

Cengiran konyol di wajahnya hilang seketika ia menyaksikan kondisi Eungi.

Cha Eungi terduduk di kolong meja dengan kedua lutut yang ditempelkan ke dadanya serta kedua telapak tangannya menutup telinganya keras-keras. Paras cantiknya kini dipenuhi dengan air mata, ia menutup kedua matanya rapat-rapat dan menggigit bibirnya untuk melawan tremor yang menyerang tubuh mungilnya. Sekilas saja dilihat, Eungi tidak terlihat seperti orang yang takut akan kembang api—ia lebih terlihat seperti orang yang sedang trauma.

“Noona? Apa kau baik-baik saja?” Kyuhyun segera berlutut dan menggeser seluruh tubuhnya untuk mesuk ke kolong meja bersama Eungi.

Wanita itu tidak menjawab, bahkan ia tidak terlihat seperti orang yang bisa diajak berbicara saat ini.

“Noona!” Kyuhyun mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Eungi sambil perlahan meletakkan kedua tangannya di atas telapak tangan Eungi yang masih menutupi telinganya.

Wanita itu masih tetap tidak bereaksi bahkan ketika Kyuhyun mencoba melepaskan kedua tangannya dari telinga.

Kyuhyun mencoba peruntungannya lagi. Ia meletakkan telapak kanannya di atas pipi kiri Eungi dan dengan lembut ia menarik tangan Eungi untuk menjauh dari telinganya, kali ini ia berhasil, Cha Eungi akhirnya membuka matanya dengan perlahan.

“Op—oppa.” Ujarnya bergetar diantara tangisan yang masih ketara. Pandangannya terlihat kosong dan tubuhnya masih tetap tremor.

Apa yang dikatakan wanita itu tidak terdengar masuk akal bagi Kyuhyun, tapi ia memilih untuk mengabaikan kata-kata Eungi, karena pemandangan di hadapannya jauh lebih mengganggu daripada gumamannya. Wanita yang beberapa saat lalu terlihat berani telah lenyap digantikan oleh seseorang yang terduduk pasrah dan terlihat sangat rapuh.

“Cha Eungi-ssi, apa kau bisa mendengarku?” Kyuhyun mencoba menggoyangkan bahu Eungi, berharap bisa menyadarkan wanita itu dari masa trans-nya. “NOONA!” Ia menggoyangkan bahu Eungi lagi.

Eungi mengerjap beberapa kali hingga air mata yang mengeruhkan pandangannya pudar. Kini ia bisa melihat dengan jelas bahwa pria yang ada di hadapannya bukanlah Siwon—yang ia kira sebelumnya. Eungi menelan kenyataan pahit itu bulat-bulat dan setelah semua inderanya kembali berfungsi, wanita itu merasa dadanya sangat sesak. Dengan cepat Eungi menepuk-nepuk dadanya dengan kasar dengan harapan rasa sakit dalam hatinya bisa pergi.

“Noona, apa kau bisa mendengarku? Kau baik-baik saja noona, tadi itu hanya suara petasan dan kembang api. Kau dapat bernapas lega sekarang, kan?” Kyuhyun membingkai wajah Eungi dengan telapak tangannya, melakukan usaha terakhir agar Eungi mau memandangnya. “Lihat aku noona! Hey!”

Eungi menarik napas dalam-dalam kemudian ia menutup kedua matanya. Momen saat kegelapan menyelimuti pandangannya adalah momen di mana seluruh mimpi buruknya terulang kembali di dalam bayanganya. Senyum menawan Siwon beberapa detik sebelum serangan terjadi, tubuh-tubuh tak bernyawa yang tersebar di lantai, tangan berlumuran darah pria itu yang mencoba membelai wajahnya, kata-kata terakhirnya serta teriakan histeris yang Eungi keluarkan saat Siwon menghembuskan napas terakhirnya. Semuanya terlalu menyakitkan bagi Eungi, ia melakukan semua usaha untuk melupakan kejadian tragis itu tapi dentuman keras tadi telah membangkitkan traumanya dan Eungi sekarang ingat lagi dengan kejadian kelam di malam itu.

Tanpa sadar, Eungi menggenggam erat pergelangan tangan Kyuhyun yang masih berada di kedua sisi wajahnya, seolah-olah kedua lengan kokoh itu adalah pasak yang menahannya untuk tetap sadar. Ia membuka mulutnya sambil terus-terusan menarik napas dalam-dalam, lalu ketika seluruh pertahanannya runtuh, tangis wanita itu pecah. Ia tidak lagi peduli akan fakta kalau ia sedang menangis histeris di depan mahasiswanya yang tidak ia kenal, yang ia butuhkan saat itu hanya menumpahkan seluruh kepedihannya.

Dalam hidupnya, Kyuhyun tidak akan pernah melupakan ekspresi pada wajah Eungi disaat wanita itu memutuskan untuk berbagi kepedihannya. Banyak gadis yang mengurai air mata di hadapannya sebelumnya—terutama gadis-gadis yang memohon Kyuhyun untuk tidak mencampakkan mereka—tapi hati Kyuhyun tidak pernah bergetar karena merasakan kepedihan untuk orang lain sebelumnya.

Detik itu juga Kyuhyun sudah lupa akan rencana biadabnya pada Eungi, wanita di hadapannya terlalu lemah dan rapuh untuk menanggung kekejian dari rencananya. Saat itu Kyuhyun hanya ingin menghapus air mata di wajah Eungi, ia ingin mendekap tubuh kecil wanita itu, menenangkan hatinya dan berbagi penderitaan yang harus diembannya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Cho Kyuhyun merasa ingin melindungi seseorang.

 

*

 

Eungi duduk dalam diam di atas sebuah kursi taman, matanya memandang jauh ke depan sementara otaknya bekerja keras untuk melupakan kejadian yang baru saja menyerangnya barusan. Ia mencoba membiarkan dinginnya angin musim dingin untuk turut membekukan memori tragisnya.

Kyuhyun baru saja membawanya jauh dari coffee shop tempat mereka minum sebelumnya, lelaki itu merasa akan lebih baik jika ia membawa Eungi jauh-jauh dari tempat yang membuatnya ketakutan, menuntunnya ke dalam mobil dan mencoba mencari sebuah tempat yang tenang untuk meredakan tangisnya.

Wanita itu pasrah saja mengikuti ke mana Kyuhyun membawanya, pikirannya terlalu kacau untuk berpikir dan ada perasaan nyaman yang ditularkan lelaki itu pada Eungi. Ia bisa bernapas sedikit lega ketika Kyuhyun menghentikan mobilnya di sebuah taman kecil di dekat city hall. Lelaki itu meminta Eungi untuk duduk manis di sebuah bangku taman sementara ia pergi mencari sesuatu, dan anak itu kembali dengan sekantung obat-obatan yang diperolehnya dari apotek terdekat.

Kyuhyun berlutut di hadapan Eungi, berniat untuk mengobati bibirnya yang berdarah. Karena kejadian sebelumnya, Eungi menggigit bibirnya terlalu keras dan mengakibatkan sedikit pendarahan. Kyuhyun menyadari hal ini seketika ia membawa Eungi keluar dari coffee shop, tapi sepertinya wanita itu tidak menyadari bahwa ia terluka.

Kyuhyun membersihkan telapak tangannya dengan guyuran alkohol, kemudian ia mencelupkan kapas ke dalam botol itu.

“Noona, ini akan perih sedikit.” Ujarnya sambil mengoleskan kapas tadi dengan hati-hati pada bibir bawah Eungi.

Eungi mengencangkan rahangnya ketika sensasi panas dan perih mulai terasa di permukaan kulitnya, rasa perih yang dirasakannya jelas lebih menyakitkan dari yang ia perkirakan sebelumnya.

“Aish, berhentilah mengalihkan wajahmu. Aku akan selesai mengobatimu dengan cepat jika kau tidak bergerak terus.” Kyuhyun menggunakan tangan kirinya untuk menahan wajah Eungi yang terus-terusan menghidar dari sekaan kapas di tangan Kyuhyun.

Eungi memelototi Kyuhyun dan langsung mengambil kapas dari tangan lelaki itu. “Biar kukerjakan sendiri saja.” Ia menggali isi tasnya kemudian mengeluarkan bedak kecil yang dibawanya, menggunakan kaca yang ada pada bedak itu untuk mengobati lukanya sendiri. Sedangkan Kyuhyun hanya berlutut di hadapannya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Lelaki itu menyimpulkan bahwa bisa saja dosennya sekarang kedinginan, maka dengan sigap ia langsung melepas mantelnya untuk menyelimuti punggung Eungi. “Aku tahu aroma parfumku mengganggumu, tapi paling tidak sekarang ini bisa menghangatkanmu.” Gumamnya sebelum ia duduk di samping Eungi.

Wanita itu menutup bedaknya dan menaruh kempali benda bulat itu ke dalam tasnya. Ia menarik napas panjang, menahan napasnya selama yang ia mampu sebelum akhirnya menghembuskan dengan perlahan. Ia berharap cara ini bisa membantu membuat luka di hatinya lebih kebas. Matanya kembali digenangi air mata ketika pikirannya mulai kembali pada kejadian di Paris beberapa bulan silam.

“Noona..” ujar Kyuhyun ragu.

“Bicaralah padaku.” Sahut Eungi.

“Ne?”

“Bicaralah, tentang apapun yang kau mau, bantu aku untuk mengalihkan pikiranku.” Ia menundukkan kepalanya, “Kumohon, bicaralah.”

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Apapun. Cuaca, makanan, sekolah, hobi, pacar, apapun—kumohon bicaralah.” Tanpa sadar Eungi meninggikan nada bicaranya.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya, “Noona, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat seperti orang yang ketakutan.”

“Aku akan baik-baik saja begitu pikiranku teralihkan.” Balasnya ketus, “Aku punya ide, bicaralah tentang dirimu.”

Kyuhyun merasa seperti ia baru saja diberikan quiz dadakan dan ia harus berpikir keras untuk bisa memunculkan sebuah topik bahasan yang tidak membuatnya terdengar bodoh—jelas ia tidak mau terdengar bodoh di depan wanita ini.

“Aku—aku tidak tahu apa yang ingin kau dengar tentangku. Kurasa kau sudah tahu fakta dasar tentang keluargaku, mereka yang mendirikan kampus. Aku bukanlah seorang mahasiswa yang pandai dan semua dosen-dosenku dangat suka menjatuhkan harga diriku dengan mengatakan hal ini terus-menerus. Tapi ketika mereka tahu bahwa aku adalah anak pemilik kampus, sikap mereka langsung berubah manis dan mereka mulai menjilat.” Kyuhyun mulai bicara, “Aku pasti terdengar sangat bodoh di hadapanmu sekarang ini.”

Eungi menyedot ingusnya yang mulai muncul karena dinginnya udara malam dan menyekanya dengan lengan bajunya tanpa rasa malu atau sungkan pada Kyuhyun. “Kau tidak bodoh, kau hanya malas. Percayalah, aku tidak sedang menghiburmu untuk meningkatkan egomu—kau sebenearnya cerdas, Kyuhyun-ssi.” Wanita itu menepuk pelan bahu Kyuhyun, “Lihatlah aku, banyak orang mengira aku ini pintar padahal aku hanya seorang kutu buku yang tekun membaca. Jangan pernah sekali pun kau biarkan orang-orang itu menaruh cap tertentu untukmu. Karena dari yang kulihat sore ini, kau jauh lebih berbakat dariku dan kau bisa menjadi seseorang yang lebih dariku jika kau mau berusaha.”

“Kau hanya sedang menghiburku.” Sahut Kyuhyun sinis.

Eungi mendengus, “Percayalah, aku adalah orang yang paling benci basa-basi dan aku benci memuji orang lain hanya untuk meraih simpati. Kalau aku sampai memuji kinerjamu, artinya kau memang benar-benar berbakat. Justru aku iri padamu.”

“Iri padaku?”

Eungi mengangguk, “Kau yang bermalas-malasan saat kuliah saja bisa menghasilkan konsep dan gambar seperti yang kau tunjukkan sore ini. Aku harus kuliah sampai tingkat doktoral untuk membuka ide-ideku hingga sampai di level mu.”

Mulut Kyuhyun menganga bingung. Seumur hidupnya, ia selalu dipandang sebelah mata oleh siapa pun dan wanita di sampingnya adalah orang pertama yang menghargai ide dan usahanya.

“Kau masih mengira aku sedang menjilatmu?” Tantang Eungi. “Percaya pada hal yang akan kukatakan ini, jika kau melakukan passionmu dengan sungguh-sungguh kau akan menjadi orang yang hebat Kyuhyun-ssi. Kau tidak akan memerlukan gelar yang banyak sepertiku, kau tidak perlu embel-embel nama ayahmu, dan kau bahkan tidak akan membutuhkan asupan dana darinya—kau akan mampu men-support dirimu sendiri dengan kemampuanmu, asalkan kau percaya pada potensimu.”

Kyuhyun tersenyum kecil, baru kali ini ada orang yang bisa membuatnya tersipu oleh sebuah pujian—pujian yang terdengan tulus dan tidak mengada-ngada.

“Ngomong-ngomong, kita ada di mana sekarang?” Eungi menolehkan kepalanya ke berbagai arah, mencoba mencari sebuah landmark yang ia kenali.

“Dekat City Hall.”

Eungi melirik pada jam tangannya dan menyimpulkan kalau malam sudah terlalu larut untuk menghabiskan waktu bersama dengan mahasiswanya—berdua saja. Bisa-bisa hal ini menjadi masalah jika ada koleganya yang melihat.

“Aku harus pulang.” Eungi bangkit, menarik mantel Kyuhyun dari punggunya untuk dilipat di tangannya. “Terima kasih karena telah membawa ku jauh dari tempat tadi.”

“Aku akan mengantarmu pul—“

“Tidak. Kau tidak akan mengantarku pulang. Aku bisa pulang sendiri. Karenamu aku sudah merasa lebih baik, terima kasih.” Dustanya sambil mengembalikan mantel Kyuhyun pada pemiliknya.

“Tapi noona—“

“Pulanglah, nak. Aku akan baik-baik saja.” Ia berbalik dan segera mempelajari lokasi halte bus terdekat.

Kyuhyun tetap berdiri di tempatnya, lengkap dengan ekspresi bodoh sambil matanya bergantian memandangi mantel di tangannya dan Eungi yang berjalan menjauh darinya.

“Aku bukan anak-anak, jangan pangil aku ‘nak’—aku tidak suka mendengarnya.” Kyuhyun menaikkan nada suaranya karena ia merasa tersinggung dengan kata-kata Eungi.

Kyuhyun berjalan cepat ke arah Eungi, menarik tangannya pelan dan memaksa wanita itu untuk menatapnya.

Wanita itu berhenti melangkah, ia membalikkan tubuhnya untuk mempelajari setiap detail dari lelaki di hadapannya. Kemudian ia menyeringai kecil, “Well, jelas kau bukan seorang pria,” Dia menarik napas dalam, “belum.”

Dengan santai Eungi menepuk bahu Kyuhyun dua kali sebelum ia melanjutkan langkahnya. Meninggalkan lelaki itu untuk bertarung dengan egonya sendiri.

Cho Kyuhyun boleh punya misi untuk menjatuhkan Eungi, tapi wanita itu juga baru saja menemukan misinya sendiri—untuk menggali seluruh potensi hebat yang dilihatnya dalam diri Kyuhyun.

Advertisements

103 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 3

  1. ona kyu says:

    wah Kyu menunjukkan kemampuannya agar Eungi terkesan. sepertinya Kyu akan terlarut dalam permainannya sendiri bukannya ingin memenuhi misi dari Donghae dan Hyukjae eh malah jatuh cinta benaran nih

    Liked by 1 person

  2. Sugaark says:

    Usil banget kyuhyun manggil dosennya “noona”
    Gak sia2 dua kali ngulang mata kuliah,jadi kyuhyun materi mata kuliah eungi 😂 Mahasiswa veteran 😂
    Eungi masih trauma sama tragedi meninggalnya siwon,dengar ledakan petasan jadi ketakutan sampe ngumpet di bawah kolong 😢

    Liked by 1 person

  3. Dufy says:

    Wow… semakin seru saja ceritanya..
    Mereka berdua masing2 punya tantangan dan tujuan yg berbeda antara Kyuhyun dan si dosen cantik,, menurutku..
    Well.. sebenarnaya awalnya aku dah baca part 1 di blog tetangga ternayata disini dijadiin 2 part sekaligus. Jadi koment aku di part 1 dan 2 ada di blog tetangga (flying maksudku).. krn menurutku baru ada lagi penulis yg keren, detil dan jelas dalam membuat FF makanya aku searching sapa tahu ada web nya sendiri ssihobitt ssi. Ehh ternyata ada.. rasanya senang sekali 😀😀
    Intinya aku reader baru di blognya ssihobitt ssi, salam kenal dan izin ubek2 blognya hehehe ✌✌

    Liked by 1 person

  4. choky_1408 says:

    Semoga hubungan mereka cpt membaik, karena di cafe tadi. Gemes sendiri liat mereka, nggak sabar bgt liat mereka nanti bersatu.
    Dan semoga Kyuhyun bisa nyembuhin traumanya Eungi
    Karakter mereka mirip2 giman gitu
    Fighting buat next post !!!

    Like

  5. Vinaly~ says:

    Sama dengan komentar reader sebelumnya, aku mulai mencari penulis ssihobit karna ff One Last Shot yg di post di blog flying. Aku ngerasa ff nya benaran keren, Dan akhirnya nemu blognya. Yeayy senangnya^^
    Pengen lanjut baca ke part selanjutnya.
    Makasihh uda ngehasilin karya sekeren ini, hihi XD *lebay…
    Salam manis dari new reader mu author-nim…^^

    Liked by 1 person

  6. Aerin says:

    Kyaa! Aku pikir sebenarnya KyuHyun adalah mahasiswa cerdas yang berpotensi. Sepertinya dia adalah pribadi yang punya rasa peduli.. Hanya saja sikap buruknya membuat semua tidak nampak jelas.

    Liked by 1 person

  7. amelse7en says:

    Eciye kyu… Sadar kan kl eungi berharga.. Wkwkkw

    Author-nim.. Bener2 jatuh cinta sama karya authornim.. Bahasanya gk berat dan pas banget.. Bacanya jadi gk bosen.. Aku kayanya bakalan jadi pecinta karya authornim nih.. Semangat authornim.. Wkwkkwkw

    Liked by 1 person

  8. Esa says:

    Mahasiswa veteran tapi punya kecerdasan yg tersembunyi…tadi q pikir pas narik tangan eungi langsung nyium gtu kyk didrakor…eh ternyata bukan…kkkkkkk

    Liked by 1 person

  9. kyuyang says:

    Tukan kyu eungi baik udh batalin acara lu yg mw jatuhij eungi ya ya ya ya
    Dia juga orang yg tulus bantuin lu
    Biarin ga ush hirauin haepa sma hyukpa ga ush di dengerin

    Liked by 1 person

  10. lim zhu qi says:

    awalnya ak pikir itu teror lagi, tp trnyata kembang api…
    huft…
    tapi…
    trauma itu kembali datang, hiks…
    eonnie, bertahanlah…
    bocah itu akan membahagiaknmu…

    #benerkan, cho….

    xixixii

    Liked by 1 person

  11. Barom yu says:

    Gak di sangka si cho yang gak lulus-lulus ternyata berbakat hihi
    Oo jd kyu sering di remehin*ya wajar si cho*

    Omo.. Karena tragedi paris itu? Si eungi jd trauma ya Ampunn untung lagi sm kyu. Kalo sendirian pasti kasian bangett
    Moga kyu rubah rencana deh, setelah dia liat sendiri, eungi kondisi nya kayak apa pas td di coffe

    Moga dengan adanya kyu bisa membuat eungi gak kesepian lagi, ya setidaknya heheh

    Liked by 1 person

  12. starlily16 says:

    Nah kyu akhirnya kyuhyun gak jadi ngejalanin rencana bejatnya kan ? Ayeeeeayyy 🙌 eungi dewasa bgt ya. Kyuhyun kok disini terlihat menggemaskan jika sedang bersama eungi. Dann ternyata kyuhyun memang cerdas. Lg pula kyuhyun ada2 aja deh. Mau jd arsitektur sukses tp gak mau mengikuti perkuliahan. Lah kocakkk itu toh yg menyebabkan dia gak lulus2. Berarti rasa malasmu itu hrs dilawan kyu.

    Liked by 1 person

  13. lestari says:

    Tuh kan gitu2 kyuhyun pinter. Hanya anggapan orang yg suka nyinyir sama dia, jd kyu nya agak gimana gitu. Sayang sekali ilmunya ga digunain dari dulu dan pas yg ngajar eungi akhirnya terungkap bahwa ga bodoh2 amat otaknya sii kyuhyun.

    Liked by 1 person

  14. Shinn says:

    Gimana kyuhyun rasanya dikatain anak anak sama cewek inceranya pastinya skitkan hahaha.Jujur,ini ff beda dari yang lainnya karena biasanya kyuhyun dipasangin sama cewek yang umurnya dibawah dia tapi di sini dia dipasangin sama yang lebih tua dari dia jadinya aku banyak nemuin karakter baru kyuhyun,yang manja dan khas anak kecil.
    Pokoknya saya suka karakter baru cho kyuhyun disini 🙂

    Liked by 1 person

  15. Melsyana says:

    Kayaknya kyu udah mulai menjadi mahasiswa pada umumnya dan Ia selalu merasa tertantang jika berhadapan dg eungi. Tapi, karena tertantang itulah potensi kyu mulai tampak dan eungi merupakan orang pertama yg memuji kemampuannya dg ikhlas.

    Eungi dan kyu sama2 mengetahui kelemahan mereka masing2. Dan kyu mulai menghapus rencananya untung menjadikan eungi miliknya karna melihat kerapuhan dan kesedihan yg dialami eungi.

    Liked by 1 person

  16. sweetrizzu says:

    Di part 2 aku komen pgen Eungi tipe strong dan terjawab. Yess mantap! wkwk
    Ikut prihatin pas tau gmn sikap dosen” ke Kyuhyun, tapi dipikir” lg itu salahnya sdri knp malas mengembangkan bakatnya.. Bakat ada, fasilitas berlimpah, klo pgen main tmen” ya bnyk, klo pgen kencan kedip mata cewek” lgsg nempel.. Semangat lah Kyu, smg tekad Eungi noona bnar” membantumu..^^

    Oya wkt Eungi Kyuhyun ketemuan, aku uda feeling apa Eungi gak trauma ada di cafe” dan ternyata begitulah 😥

    Liked by 1 person

  17. laya says:

    “Pulanglah, nak”. Wkwkwkwk. Aku ketawa kepingkal” baca kalimat itu. Pengalamanku dlm membaca ff itu ada 3 tipe author. Pertama, author yang suka menonjolkan hiburan yang membuat si pembaca ketawa ketiwi. Kedua, author yg hanya fokus pada pendalaman isi cerita yg ingin disampaikannya hingga mengesampingkan akankah ceritanya itu menghibur atau tidak (dlm hal ini kalau pokok bahasan yg diceritakannya benar” bagus maka pembaca stay, tp ada juga pembaca yg berhenti ditengah jalan karena jenuh karena mungkin pokok bahasannya kurang menarik* maaf para author). Dan yg ketiga adalah author yg fokus dg kisah yg ingin dia sampaikan tp juga memikirkan selingan humor yg tidak merusak cerita. Dan kakak termasuk tipe ketiga, walaupun kadar humornya masih 45%*maaf sebelumnya saya mencoba jujur. Tp kakak termasuk author favoritku, karena entah kenapa, cerita yg kakak sajikan itu terlihat real sehingga membuatku mudah utk berimajinasi membayangkan ceritanya

    Liked by 1 person

  18. butterflyannisa says:

    harga diri kyu terlalu tinggi untuk bisa nerima dibilang ‘nak’. sumpah disini aku merasa geli sendiri. eungi kayak orang tua yang menyuruh anaknya gitu.. hehehe..

    Liked by 1 person

  19. Dewiastiti says:

    Hallo author aq uda baca fanfic ne dri part 1 tp bru comment d part ini. Maaf ya thor, krn kadang aq blm tahu mo comment ap kalau bru bc 1 part aj😁
    Menurut aq fanfic ini berisi bgt ad ilmu na, author na ngegali persepsi dri sgala sisi. Mulai dri interaksi personal dlm konteks yg berbeda. Interaksi eungi sbgi dosen n mahasiswa dgn kyuyun, sbgai wanita lgkap dgn kelebihan n kekurangan na. Fanfic ne jg menghibur bgt bkn sdih, ketawa n penasaran. Aduh kaya na brat banget ne bhsa ku, smoga bener ya pilihan kta2 ku hehehehe untk author semangat ya untk trus brkarya😀😀 n thank u sdh mo berbagi karya2 na😍😍

    Liked by 1 person

  20. Dyana says:

    “Well, jelas kau bukan seorang pria,” Dia menarik napas dalam, “belum.”

    Haha… Aku sernyum baca kalimat ini… Kyu, kau harus buktikan pada noona manis itu, kau adalah pria…
    Fighting Kyuhyun-ah… Hehe

    Liked by 1 person

  21. xixrxexnxe says:

    haha gemes sendiri baca moment-nya kyuhyun-eungi
    satu per satu kehidupan eungi terkuak
    suka sama ff ini, gak cuman ngedrama aja tapi juga ada selipan ilmunya buat yg gak ngerti tentang arsitek kayak aku

    Liked by 1 person

  22. Lovecho says:

    Tuh kan, sbenarnya kyuhyun itu pntar hnya saja dia itu malas..
    Ksian eungi jdi trauma karena kejadian yg menpa siwon itu..
    Semoga aja deh kyuhyun gk jdi manfaatin eungi.. ksian eungi udah keadaannya rapuh di tmbah kyuhyun manfaatin, nnti bisa2 eungi tmbah terpuruk..

    Liked by 1 person

  23. Christellee says:

    Wow, keren! Kyu juga pinter ternyata, terus kenapa masih mendekam 10 tahun kyu..
    Jatuh deh, harga dirinya kyu dipanggi ‘nak’, Eungi sekarang juga punya rencana. Makin seru aja, lanjut ah..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s