After a Long, Long While – Part 4

aallw

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Aeri, Ok Taecyeon, Cho Kyuhyun

 

 

Mungkin apa yang Taecyeon lakukan sejak Aeri ditemukan dalam keadaan over dosis di sebuah kamar hotel bisa dibilang berlebihan. Pria itu menolak untuk membiarkan Aeri sendirian, meskipun jarak rumah mereka lumayan jauh dan tidak satu pun dari mereka memiliki kendaraan pribadi, Taecyeon bersikeras untuk menjemputnya setiap pagi, mengantarkannya sampai ke kelas seni, dan saat pulang ia akan menjemput wanita itu kembali sampai ia yakin Aeri sampai di rumah atapnya dengan selamat.

Aeri tidak protes dengan sikap protektif yang dilakukannya. Suara kecil dalam dirinya mengatakan bahwa ia memang membutuhkan keberadaan Taecyeon di sampingnya. Aeri membutuhkan sandarannya, membutuhkan seseorang yang tidak henti bersorak demi kebaikannya, membutuhkan kehadiran pria itu yang tanpa disadari telah menjadi bagian penting dalam hidup barunya.

Terlebih lagi Cho Kyuhyun telah kembali.

Aeri bisa saja menghindari pertemuan orang tua murid bulanan, tapi ia masih tetap harus bertemu dengan Cho Eunjung tiap minggunya—dan hal ini lebih menyiksa bagi Aeri. Karena Aeri dapat melihat Cho Kyuhyun dalam diri Eunjung, wajah mereka sangat mirip dan tingkat kesinisan yang mereka miliki juga sama, hal ini membuat hatinya selalu sesak saat harus berhadapan dengan Eunjung.

Baginya, Eunjung adalah cerminan dari kekurangannya, cerminan akan kegagalan Aeri dan bukti konkrit bahwa Cho Kyuhyun memang lebih bahagia bersama wanita lain yang bisa memberikan apa yang ia dan keluarganya harapkan.

Seakan semua kebetulan ini masih kurang kejam, Cho Kyuhyun lagi-lagi menguji ketabahannya dengan cara lain. Di kelasnya, ia baru saja membereskan kumpulan gambar yang dikumpulkan muridnya. Tema minggu ini adalah ‘keluargaku’—tentu saja murid-muridnya menggambarkan Susana keluarga yang mereka miliki masing-masing. Aeri mengenggam gambar Eunjung di tangannya, gambar anak itu sederhana, sebuah rumah dengan krayon merah menjadi latar belakangnya, dan di depan rumah itu berbaris tiga orang-orangan kurus khas anak-anak lengkap dengan keterangan di gambarnya—appa, Eunjung, oemma, dan pada gambar orang-orangan yang menggunakan rok, Eunjung mengambar sebuah orang-orangan kecil yang dilabeli ‘agi-ya’.

Aeri menelah gumpalan yang ada di kerongkongannya, tanpa disadari matanya kini berair dan ia mulai mengigit bibirnya sendiri untuk mengalihkan nyeri di dadanya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana hidup pria itu berjalan normal, baik-baik saja, bahkan bahagia sedangkan ia meradang sendiri di tempatnya—hanya bisa meratapi pria yang telah mencampakkannya.

Lamunan Aeri pecah ketika ketukan pelan terdengar dari arah pintunya, ia dengan cepat meletakkan gambar Eunjung ke tumpukan gambar lainnya dan menoleh pada sumber suara—tidak lupa menyunggingkan senyum datarnya.

“Kau siap pulang?” Tanya Taecyeon dari sisi pintu.

Aeri mengangguk pelan, “Ya, kurasa pulang pilihan yang lebih baik bagiku sekarang.”

“Apa kau baik-baik saja?” Taecyeon melangkah ke dalam kelas Aeri, pandangannya tetap ditujukan pada kedua mata wanita itu.

Aeri mengangguk.

Pria itu tidak bodoh tentunya, mata Aeri berair dan suaranya terdengar serak. “Kau mau cerita padaku?”

Aeri menggeleng, “Di sini bukan tempat untuk mengangis.”

Taecyeon tersenyum kecil, kini tubuh mereka hanya beberapa senti saja jauhnya dan pria itu mengangkat tangannya untuk mengacak rambut kecoklatan Aeri. “Baiklah, aku punya ide. Aku akan memasakkanmu sup iga yang sangat kau sukai itu, sebagai gantinya kau harus cerita padaku.”

“Tentang?”

“Alasan yang membuat wajahmu seperti ini.” Balasnya sambil mengusap wajah Aeri lembut.

Aeri mencoba untuk tersenyum pada Taecyeon, setidaknya ia harus mengharagai usaha konstan yang dilakukan pria ini untuk menghiburnya.

“Ey, jangan senyum padaku jika kau tidak mau.” Ucapnya.

“Ayo pulang, aku menantikan sup iga yang enak malam ini.” Kilah Aeri.

“Baiklah, mari ke tempatku.”

Aeri mengangguk dan segera mengambil tasnya, lebih baik ia segera mengalihkan pikirannya dari Cho Kyuhyun dan mulai fokus pada janjinya pada Taecyeon untuk memperbaiki hidupnya.

Tentang Taecyeon, bagi Aeri saat ini pria itu mungkin terlihat sebagai properti yang sempurna untuk menutupi kesedihannya. Jika Aeri boleh bersikap jahat, jelas ia akan memberikan pria ini lampu hijau untuk menjadi pengganti Kyuhyun. Kalau saja Aeri cukup egois, ia pasti akan memanfaatkan perasaan Taecyeon yang begitu dalam baginya untuk kepentingannya sendiri. Tapi Aeri tidak bisa bersikap demikian, hati kecilnya mengatakan kalau ia pun menyayangi pria yang selalu menjaganya—dan Aeri tidak mau Taecyeon tersakiti di masa depan karena kekurangan yang dimilikinya.

 

Mereka berjalan dalam diam hingga ke aula depan, langkah mereka terhenti oleh sesosok kecil yang sedang termenung di undakan tangga yang menghadap lapangan besar. Jam sekolah sudah berakhir tiga jam lalu, lantas apa yang dilakukan anak ini di sini? Apa belum ada yang menjemputnya? Aeri dan Taecyeon berpandangan sesaat dan mereka segera menghampiri anak itu. Aeri hanya tersenyum pasrah ketika disadarinya anak itu adalah Eunjung. Rupanya Tuhan masih ingin menguji kesabarannya hari ini.

Aeri berjongkok di samping Eunjung untuk menepuk pelan punggungnya, Eunjung langsung mengangkat wajahnya untuk menatap dalam ke mata Aeri—lagi-lagi, perasaan sesak itu muncul ketika Aeri memandang versi kecil dari pria yang dicintainya.

“Eunjung-a, kenapa kau belum pulang?” Tanya Aeri.

Bocah itu mengangkat bahunya, “Nobody’s picking me up yet.”

Taecyeon ikut jongkok di samping Eunjung, sambil memandang anak itu dengan muka keheranan. “Apa ada seseorang yang bisa kami telepon untukmu, nak?”

“I don’t know, I don’t own a phone.”

“Ey, apa sonsengnim bilang tentang menggunakan Bahasa Korea, ng? apa kau masih merasa aneh mengucapkannya?” Goda Aeri sabar.

Eunjung mengangguk. “But I can understand what you’re saying. You can understand me also, we can speak like this.”

Aeri mengelus pelan rambut hitam anak itu, “Kau mau mendengar cerita sonsengnim sembari kita menunggu seseorang menjemputmu?”

Eunjung menatap Aeri dan mengangguk patuh.

“Dulu, aku juga sepertimu Eunjung-a.” Aeri memulai ceritanya.

Aeri dan Taecyeon sekarang memposisikan diri untuk ikut duduk di undakan yang sama dengan Eunjung.

“Aku pun lahir dan dibesarkan di luar negara ini.” Aeri mulai bercerita. “Kau dulu lahir di Amerika bukan? Aku kebetulan lahir di Inggris, kau tahu di mana tempat itu?”

“Jeongmalyo?” Sahut anak itu tanpa sadar menggunakan Bahasa Korea.

Aeri tersenyum sambil mengangguk senang, “Lihatlah, kau mulai mau menggunakan Bahasa ini. Kau tahu, Eunjung-ah? Kau lebih beruntung dari sonsengnim sekarang. Dulu aku benar-benar tidak paham sama sekali, jangankan berbicara menggunakan bahas Korea, mengerti satu patah kata pun tidak.”

“Lalu apa yang membuat Aeri sonseng belajar?” Sahut Taecyeon. Ia sudah mengetahi kisah hidup Aeri yang satu ini, tapi ia mencoba membuat Eunjung antusias mendengarkan cerita inspiratif Aeri.

“Aku pergi ke sekolah, aku harus belajar dan aku mau punya teman yang banyak.” Jelas Aeri sambil menggerakkan tangannya dengan semangat, “Jadi aku mulai membiasakan diriku untuk mempelajari Bahasa yang sangat asing untukku.”

“Bisakah… aku punya.. banyak.. teman?” Balas Eunjung terbata-bata dengan Bahasa yang masih asing baginya.

Aeri mengangguk yakin. “Pasti, lagipula pikirkanlah ini: kau akan terlihat sangat keren jika kau bisa berbicara beberapa Bahasa sekaligus bukan?”

Eunjung mengangguk lagi.

Aeri baru saja mau melanjutkan ceritanya, ketika suara rendah mesin mobil terdengar mendekati perkarangan sekolah.

“That’s appa!” Eunjung menunjuk mobil hitam yang mendekat.

Jantung Aeri serasa lepas dari rongganya dan kepanikan yang terpancar di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Terakhir ia bertemu dengan pria itu adalah saat mereka membahas tentang kelakuan bandel anaknya, Aeri berhasil menghindarinya saat pertemuan orang tua murid bulanan dan mengapa—dari semua waktu yang ada—pria itu harus muncul sekarang?

Eunjung berlari menuju mobilnya dan sosok itu keluar dari sisi kemudi setelah ia memakirkan kendaraannya dengan asal. Sosoknya tetap sama menawan di mata Aeri, pria itu melangkah dengan postur tegapnya, tatapan tajamnya dan senyuman yang sudah lama tidak dilihatnya. Di wajahnya tergambar senyuman lebar saat ia menyambut anak lelakinya. Eunjung berlari ke arah Kyuhyun dan pria itu segera berjongkok untuk memeluk buah hatinya. Baru sesaat kemudian Kyuhyun sadar kalau ada dua orang lain yang memperhatikan gerak-gerik mereka dari arah aula.

“Appa, sonsengnim kept me company before you arrived.” Tunjuk Eunjung pada kedua guru yang masih ada di aula.

Mata Kyuhyun bergerak mengikuti arah yang ditunjuk Eunjung, dan rahangnya langsung mengeras begitu melihat sosok wanita itu. Lagi-lagi rasa bersalah menyerbunya tanpa ampun setiap kali matanya bertatapan dengan sepasang mata biru gelap milik Aeri.

“Sonsengnim, this is my appa!” Eunjung yang tidak tahu apa-apa menarik tangan Kyuhyun ke arah gurunya.

Kyuhyun menelan ludahnya, mengambil napas panjang dan memberanikan diri untuk menghapiri Aeri dan temannya.

Aeri dan Taecyeon membungkuk sedikit yang dibalas Kyuhyun dengan bungkukan canggung.

“Maafkan anakku, seharusnya isteri—maksudku ibunya—yang menjemput. Kurasa terjadi miskomunikasi sehingga Eunjung harus menunggu agak lama, aku berusaha datang ke sini secepatnya.” Jelas Kyuhyun, binggung harus memilih kata-kata apa agar ia tak menyinggung perasaan Aeri.

Aeri mengangguk pelan, “Baiklah, Eunjung-a. Ayahmu sudah datang, pulanglah dan belajar lebih giat lagi. Apa aku perlu memberitahu ayahmu akan perkembanganmu?” Ia mengalihkan pandangannya pada Eunjung. Jika harus memilih siapa yang lebih mudah untuk dihadapinya, jelas Aeri lebih memilih Eunjung—paling tidak anak ini tidak perlu menatap matanya dengan sejuta emosi yang tidak bisa dijabarkan.

“Perkembangan?” Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada anak lelakinya.

“Ne, tuan Cho. Aku tidak tahu bagaimana Eunjung berbahasa di rumah, tapi barusan saja dia menggunakan Bahasa Korea saat bicara denganku.” Jelas Aeri dengan senyum yang terlalu dipaksakan.

“Benarkah?” Mata pria itu membulat. “Ya, kau seharusnya juga bicara dengan Bahasa Korea pada appa dan oemma.”

“Aeri sonseng said she was like me once, didn’t speak Korean at all.” Sahut Eunjung, “She told me to take it slowly.”

“Ya, tapi Aeri sonseng belajar dengan cepat Eunjung-a, padahal ketika pertama kali appa bertemu dengannya ia sama sekali tidak paham satu kata pun dalam Bahasa Korea.” Jawab Kyuhyun.

Appa, mengenal Aeri sonseng?” Tanya bocah itu polos.

Aeri berdeham keras, mengindikasikan pada Kyuhyun kalau kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa menimbulkan pertanyaan lain yang membutuhkan penjelasan panjang. Tapi dengan cepat ia mengalihkan perhatian anak itu, “Lihatlah, kau menggunakan Bahasa Korea lagi. Aku sungguh bangga padamu Eunjung-a.”

Kyuhyun menatap Aeri dengan tatapan yang sulit dideskripsikan. Ada secercah rasa bersalah, ada kerinduan yang tidak bisa dipungkirinya dan segudang pertanyaan yang masih mengganjal di benaknya—tapi yang paling disadari oleh Kyuhyun adalah rasa penyesalannya. Alangkah manisnya sikap Aeri pada anaknya, dan Kyuhyun akan menjadi seorang pembual besar jika ia memungkiri keinginannya yang paling dalam—ia ingin peran Aeri dalam hidupnya tidak berubah menjadi guru Eunjung, melainkan menjadi ibu dari anak-anaknya dan tetap menjadi isterinya.

“Kurasa sebaiknya kita pulang,” Putus Kyuhyun, “Ayo beri salam pada kedua gurumu Eunjung-a.”

Dengan canggung, keduanya pamit dari hadapan Aeri dan Taecyeon. Mata Taecyeon mengikuti ke mana arah mata Aeri, ia pun menyadari ada sebersit kepedihan dan kesenduan dalam pandangan wanita itu sesaat setelah pria yang tadi muncul undur diri.

Keduanya berjalan dalam diam. Kepala Aeri dipenuhi dengan bayangan pria yang masih lekat di otaknya dan beribu pertanyaan muncul di kepala Taecyeon saat ini. Dari sekian banyak pertanyaan yang muncul, yang paling membuatnya penasaran adalah mengapa raut muka Aeri berubah drastis setelah bertemu dengan ayah dari seorang muridnya, apa memang ia mengenal pria itu sebelumnya? Dan kalau pun memang ia mengenalnya, mengapa hal ini mempengaruhi mood Aeri sampai seperti ini?

“Taec, aku akan membeli minuman di situ.” Tunjuk Aeri pada warung kecil di area Taecyeon tinggal, “Kau pulang saja duluan, aku janji akan menyusulmu kurang dari sepuluh menit.”

“Mari kita belanja bersama, apa yang mau kau beli?”

“Soju, tidak lengkap santapan malam nikmat itu tanpa sebotol soju bukan?” Aeri masih berusaha menyunggingkan senyuman canggung yang dipaksakan di wajahnya. “Well, kau mau minum denganku?” Kurasa aku akan menghabiskan malam ini dengan sebotol soju, kalau kau tidak keberatan mungkin kau bisa..”

“Apa kau baik-baik saja?” Tanyanya khawatir.

Aeri menggigit bibirnya gugup dan langsung mengangguk.

“Hey, aku bertanya sungguh-sungguh dan tidak sedang berbasa-basi denganmu. Apa kau baik-baik saja?”

“Sejujurnya?” Tanya Aeri dengan suara lirih. “Aku tidak tahu, dadaku rasanya sesak, aku ingin mengungkapkan apa yang ada di pikiranku dan aku ingin teriak sepuasnya. Tapi entahlah, itu semua terdengan kekanakan bukan?”

Taecyeon mempelajari raut muka wanita di sampingnya, mencoba memahami wanita yang masih menjadi misteri besar baginya. “Baiklah, ayo kutemani kau minum. Syaratnya kau tidak boleh minum lebih dari satu botol dan aku tidak akan menggendongmu pulang.”

 

*

 

Aeri berkeliling apartemen Taecyeon, meresapi memori-memori yang dulu pernah ia ukir di tempat ini ketika Taecyeon baru saja menyelamatkannya dari ajal yang ia coba tentukan sendiri. Pria itu kini sedang serius memotong-motong sayuran yang akan dimasukkannya ke dalam sup iga andalannya. Aeri tentu saja tidak pernah bisa menolak setiap kali Taecyeon membujuk dengan masakannya. Pria itu terlalu berbakat dalam bidang masak-memasak dan belum pernah dalam sejarah Aeri mengenalnya, pria itu membuatkan makanan yang tidak enak.

“Kita tinggal menunggu dagingnya matang sekarang.” Ucap Taecyeon sambil melepas celemek yang dikenakannya.

Aeri mengangguk dan segera duduk di atas satu-satunya sofa yang ada di tempat itu. “Sambil menunggu, mari kita minum.”  Usulnya.

Taecyeon mengambil posisi di samping Aeri, memberikan dua buah sloki kecil untuk mereka. Aeri dengan segera menuangkan cairan bening ke kedua gelas itu dan tanpa aba-aba, ia menegak habis porsi minumannya yang pertama.

Meskipun sedikit terganggu dengan sikap Aeri, Taecyeon memilih untuk meneguk langsung satu gelas kecil berisi soju. Dalam hati ia masih mempertimbangkan apa sebaiknya ia bertanya pada Aeri tentang hal yang mengusiknya atau tidak. Kemungkinan terbesarnya adalah, Aeri akan tentap bungkam dan tertutup seperti yang sudah-sudah. Taecyeon mengenalnya cukup lama untuk paham kebiasaan wanita ini dan sering kali diam lebih bijaksana baginya dibanding bertanya.

“Taec, apa yang ingin kau tanyakan?” Tanya Aeri lantang.

“Ne?”

Aeri menuangkan seporsi soju ke gelas Taecyeon yang kosong, “Kau memandangiku dengan tatapan penasaran, tapi kau menutup mulutmu rapat-rapat seolah kau takut akan menyinggungku dengan pertanyaanmu.”

“Ahh, aku—aku tidak mau membuatmu merasa tidak nyaman.”

Aeri meminum cairan bening di gelas kecilnya, “Bagaimana kalau kuberi kau kesempatan untuk mengajukan satu pertanyaan—dan aku berjanji kalau aku akan menjawab apapun yang kau tanyakan dengan jujur—apa kau akan melakukannya?”

“Kau yakin?” Ia meletakkan gelasnya di meja. “Mengapa tiba-tiba kau mau melakukan ini?

Aeri mengangguk mantap, “Karena aku belajar, bahwa bicara lebih baik daripada memotong nadiku sendiri.” Jawabnya pahit. “Jadi pikirkanlah baik-baik apa yang ingin kau tanyakan.”

Otak Taecyeon berpikir dengan cepat, apa yang harus ia tanyakan pada Aeri? Terlalu banyak misteri yang melekat pada diri wanita itu: mengapa ia terus-terusan mencoba mengakhiri hidupnya? Apa yang terjadi padanya sampai ia begitu putus asa? Siapa yang menyakitinya? Mengapa Aeri tidak pernah memberi Taecyeon kesempatan untuk mendekat? Mengapa Aeri begitu menderita? Tapi dari semua pertanyaan itu, ada satu hal yang paling mengganggunya, pertanyaan yang muncul di kepala pria itu dengan spontan saat ia melihat perbahan mood Aeri sore ini.

“Pria tadi, apa kau mengenalnya?” Tanya Taecyeon ragu.

Aeri menengadahkan kepalanya untuk menatap pupil gelap pria di depannya, “Apakah itu pertanyaanmu?”

Taecyeon mengangguk.

“Boleh kutahu mengapa dari sekian banyak pertanyaan yang ada di benakmu, kau justru menanyakan tentang ayah Eunjung?” Aeri tetap berusaha untuk menjaga nada bicara agar tetap tenang.

“Karena air mukamu berubah drastis.” Jawab Taecyeon jujur. “Kau memandangi anak itu dengan pandangan berbeda—tidak seperti kau memandang murid lain, dan saat pria itu mendekat, bahasa tubuhmu langsung menjadi protektif dan caramu memandangnya, entahlah, seperti kau merindukannya. Ada banyak pertanyaan di benakku, tapi itulah yang paling menggangguku saat ini.”

Aeri mengangguk kemudian menegak lagi cairan bening yang sedari tadi dinikmatinya. “Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu. Tapi jika masih boleh aku memohon kemurahan hatimu, maukah kau berjanji satu hal padaku?”

“Sebutkanlah.” Jawab Taecyeon sambil mengambil botol di tangan Aeri untuk menjauhkan dari wanita itu.

“Apapun yang kau dengar setelah ini, kumohon jangan benci aku.” Sambungnya lirih, “Setelah kujawab pertanyaamu, kumohon tetaplah menjadi temanku.”

“Ya, permintaanmu konyol—“

“Berjanjilah, kumohon.”

Taecyeon meletakkan kedua tangannya di bahu Aeri, ia mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu, mencari manik mata indahnya. Dengan cepat ia mencoba mempelajari situasi yang terjadi diantara mereka, mengapa Aeri terus-terusan takut kalau Taecyeon akan menjauh dan membencinya?

“Aku berjanji, aku tak akan pergi darimu.”

Aeri menatap dalam ke mata pria itu, dalam hati mempertimbangkan sejauh apa ia harus jujur padanya. Pria di hadapannya adalah satu-satunya teman yang ia miliki. Taecyeon bukan hanya teman bagi Aeri. Tanpa disadarinya, Taecyeon telah menjadi alasannya untuk tetap bernapas dan sungguh ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa keberadaan orang yang tiada hentinya mendukung setiap perkembangan kecil yang terjadi dalam hidupnya yang telah porak-poranda.

“Percayalah, Aeri-ya.” Ia meyakinkannya sekali lagi. “Mustahil bagiku untuk membencimu.”

Aeri menutup kedua matanya dan menarik napas panjang, mempersiapkan dirinya untuk pelan-pelan menyingkap rahasia yang ia simpan dalam-dalam selama ini.

“Pria itu.. ia.. mantan suamiku.” Air matanya tumpah seketika pernyataan itu keluar dari mulutnya.

Taecyeon masih menggenggam kedua bahu Aeri, kata-kata yang baru ia dengar terasa asing dan sejujurnya ia masih setengah mempercayai fungsi telinganya sendiri.

“Kau selalu bertanya siapa yang membuatku seperti ini,” Lanjut Aeri, “Pria itu, ia adalah orang yang kujadikan panutan, ia yang menuntunku sejak awal aku tiba di tempat ini, ia yang selalu melindungiku, dan ia yang selalu kucintai. Pria itu—“

Aeri tidak mampu melanjutkan kata-katanya, tangisnya tumpah bersamaan dengan lepasnya beban berat yang selama ini mengganggu hatinya.

Mulut Taecyeon tanpa sadar terbuka, ia selalu berpikir kalau kekacauan hidup Aeri pastilah disebabkan oleh seorang pria, namun ia tidak pernah menduga kalau pria itu bahkan pernah menikahinya.

Aeri menggunakan sebelah tangannya untuk membungkam mulutnya sendiri, mencoba meredakan tangisannya sementara tangan satunya digunakan untuk menepuk-nepuk dadanya yang terasa sangat sesak.

“Ma—maafkan aku Taec,” Ucapnya terbata-bata, “Karena ini, aku selalu menjaga jarak padamu.”

“Aeri-ya, kau tidak per—“

“Aku tidak pantas untukmu,” potrong Aeri, “dan kini kau paham mengapa. Maafkan aku.” Tangisnya semakin menjadi setelah ia mengungkapkan isi hatinya.

Wanita itu kini menangis histeris, ada ketakutan yang teramat besar dalam dirinya, ketakutan akan hilangnya pria yang kini hanya memandangnya dengan pandangan kosong.

Taecyeon melepaskan tangannya dari bahu Aeri, perlahan jemarinya menelusuri wajah wanita yang sudah terlanjur dicintainya, mencoba menghapus air mata Aeri yang tidak berhenti jatuh dari pelupuknya. Ia mendekatkan duduknya dengan Aeri dan dengan satu gerakan sigap, tubuh mungil wanita itu didekapnya. Kedua lengan kokohnya kini melingkari tubuh Aeri yang masih bergetar hebat, dengan perlahan dibelainya punggung wanita itu dan dengan yakin ia menurunkan wajahnya, untuk berbisik di telinga wanita itu.

“Kau kira aku akan lari darimu karena kegagalan pernikahanmu?” Bisiknya, “kau meremehkan rasa sayangku padamu Aeri-ya.”

Tangis Aeri terhenti seketika, apa yang baru ia dengar tadi? Benarkah hal ini tidak akan merubah apapun di antara mereka?

“Aku terlalu mencintaimu untuk memperdulikan fakta remeh seperti itu.” Lanjut Taecyeon lagi, “Sekarang menangislah sepuasmu, jika kau marah padanya kau boleh melampiaskan padaku, jika bertemu dengannya terlalu sulit bagimu aku akan mewakilkanmu kapan pun kau minta. Aku tidak akan pergi kemana-mana, jadi kumohon jangan remehkan perasaanku padamu lagi.”

Aeri terisak pelan, kata-kata Taecyeon terdengar begitu menenangkan baginya, dekapan pria ini begitu kokoh namun belaian di punggung Aeri terasa sangat lembut. Taecyeon lagi-lagi menjaganya, lagi-lagi ia tetap berada di sisinya.

“Maafkan aku,” Bisik Aeri.

Masih banyak rahasia kelam yang wanita ini simpan sendiri, yang baru saja diungkapkan pada Taecyeon hanyalah permukaan dari kedalaman masalahnya dan Aeri seharusnya bisa menggunakan momen ini untuk mengatakan semua yang telah dipendamnya.

Tapi ia masih takut.

Pria yang mendekapnya sekarang adalah sisa-sisa harapan untuk memperbaiki jalan hidupnya, Aeri yakin bahwa ia akan menusuk jantungnya sendiri jika ia harus kehilangan seseorang yang disayanginya untuk kedua kali.

Advertisements

23 thoughts on “After a Long, Long While – Part 4

  1. Tina yuliawati says:

    Kasian banget aeri,,kebayang sii gimana rasanya kehilangan orang yg bener bener disayang bgt,,kyuhyun kok jahat ski sama aeri,,sebenernyaa masalah apa yg udh terjadi dalam rumah tangga mereka kok smpe pisahan gitu,,salut deh sama taecyon 😊😊ditunggu kelanjutannyaa

    Like

  2. sukhwi says:

    yup betul aeri jangan sia2in pria yang tulus menyayangimu, ga kan bisa nemuin lagi pria sebaik itu..lupakan kyuhyun biar dia hidup dengan perasaannya yang mungkin juga tidak sebahagia yang kau pikirkan.

    Like

  3. syalala says:

    yah….. ga ngerti lagi bakal gomana karena keadaan kyuhyun yg udah beristri bahkan anak satu2nya ya istrinua meninggal hahahahah tp yah jahat bgt aku wkwk tp ys gimana ini serba salah semua serba krsian di semua pihak huhu lanjjjuuuuuttt

    Like

  4. Seo HaYeon says:

    satu aja klo gini jd bertanya-tanya.. nnt Aeri sm siapa y? sm Taec aja deh klo gitu boleh ga..? at sma Kyu?? lah bukannya malah bkln nyakitin bxk pihak y? ooomoo molla mollaa…. -_-

    Like

  5. ByunSoo says:

    haha,sedih miris bnget si,knp g cerit aja sm taec,toh kalau udah cinta si taec ga mungkin ninggalin kamu aeri,antara namja y satu dan namja y lain itu beda sikap sifat dan tindaknnya aeri ya.taec sllu ad buat kamu kok,Jgn takut dan jdn khawatir,kamu bisa memagang kata2 ap y dikatan oleh taec kok

    Like

  6. Sugaark says:

    Taecyeon sabar ya,udh 6 thn disamping aeri, bantu aeri,nunggu aeri cerita masa lalunya yg buat dia kaya gitu

    Jangan2 kyuhyun ceraiin aeri karna gk bisa punya anak? Trus didesak keluarganya untuk ceraiin aeri
    Kayanya kyuhyun smpe skrg masih punya perasaan sama aeri
    Untungnya aeri masih mau ngajar eunjung smpe dia ngasih motivasi ke eunjung supaya mau sedikit2 berbicara bahasa korea

    Liked by 1 person

  7. Vianna Cho says:

    Ficnya nyesekk bgtt sumpah aeri di campakkan kyuhyun karena aeri ga bisa ngasih keturunan yah sakit bgt pastinya udah aeri terima aja perasaan tulusnya taec dan bisa move on dari kyuhyun

    Like

  8. utusiiyoonaddict says:

    pda dasarnya kyu sbgai laki“ trlalu lembek ah, kasian nian nasib aeri, mending pindah skolah aja kalo aku d posisi aeri mah, yaudin jgn sia“in pria sebaik okcat yah aeri yaah, pelan“ aja ceritanya

    Liked by 1 person

  9. omiwirjh says:

    Jadi ini semua gara” aeri ga bisa kasih keturunan buat keluarga kyuhyun gitu? Oh Tuhan inilah kenapa aku ga setuju kalau pernikahan akan bahagia karena adaya anak. Ayo Aeri harus terbuka dengan Taec

    Liked by 1 person

  10. Dyana says:

    Bacanya nyesek banget, ya ampun Cho kyuhyun apa karena Aeri tidak bisa memberi keturunan hingga kau terpaksa meninggalkannya?
    Dan Taec, dia namja yang sangat tulus 6tn bersama Aeri dengan sabarnya menjaga wanita yang dia cintai, meski kenyataannya Aeri sekarang adalah seorang janda yakin dia tidak akan berubah, tp jika benar pernikahan Aeri sebelumnya bersama Kyu berakhir karena dia gak bisa kasih keturunan akan sulit bagi Aeri untuk membiarkan Taec menjalin hubungan lebih dengannya… Bukan hanya trauma yg menghantuinya, tp juga rasa bersalah. (Jika alasannya memang itu)

    Liked by 1 person

  11. Yu says:

    Nyesek baca nya thor
    Klo kyu sma aeri sbnrnya msih slg syg apa mgkin ortu kyu yg dlu jdi pnghlng hub.mreka
    Moga aeri bisa ksih ksmptan taec buat dia bhgia
    Ciayoo thor

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s