(Indonesian Version) One Last Shot – Part 2

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

 

Kyuhyun memijit-mijit pelipisnya dengan gelisah di pojokan kafetaria kampus gedung utama. Amarahnya masih terpusat di puncak kepalanya disertai perasaan gondok karena ia telah dipermalukan oleh seorang wanita di depan banyak orang, lebih buruknya lagi wanita itu—atau mungkin tepatnya gadis itu—terlihat seumuran dengannya dan gadis ini juga merangkap sebagai dosen barunya!

“Aish! Bagaimana sistem penyaringan dosen di kampus ini?! Bagaimana mungkin seseorang semuda itu bisa mengajar! Mau jadi apa rating kampus ini?” Ia mengutuk pada dirinya sendiri.

Kyuhyun meraih sekaleng soda yang sebelumnya dibeli dari vending machine di depan kafetaria, mencongkel pin penutupnya dan segera meminum setengah isi dari kaleng merah itu.

“Siapa nama wanita itu?” Ujarnya dalam hati, rasa penasaran menuntun Kyuhyun untuk mencari tahu lebih dalam. Ia membuka portal internal kampus dan meneliti jadwal kuliahnya yang di dalamnya tercantum nama dosennya.

“Cha Eungi?” Ia mendengus sinis. “Mari kita telusuri latar belakangmu, huh?” Kemudian Kyuhyun mulai melakukan aktifitas yang selama ini sudah menjadi keahlian utamanya—stalking.

Dari pencarian singkatnya, Kyuhyun tahu bahwa Eungi telah menerima berbagai penghargaan dalam area green design. Nampaknya Cha Eungi juga telah berkolaborasi dengan beberapa peneliti dan ilmuan dari berbagai penjuru dunia dan menghasilkan beberapa riset yang keabsahannya diakui secara internasional—hal ini yang menghadiakan gelar profesor di depan namanya. Bahkan ada sebuah majalah nasional yang melakukan interview khusus untuk Eungi yang dikandidatkan sebagai salah satu academia muda paling berbakat di Korea Selatan—Kyuhyun tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar bola matanya ketika membaca artikel ini. Menurut artikel itu, bakat Eungi sudah terlihat sejak ia masih kecil dan performanya di sekolah tidak henti membuat para gurunya kagum.

“Cih, hanya seorang kutu buku yang menghabiskan seluruh waktu hidupnya untuk belajar. Pantas saja dia tidak bisa merawat diri.” Gumam Kyuhyun sambil terus membaca artikel di ponsel pintarnya.

“Siapa yang kutu buku?” Lee Donghae mengganggu aktifitas stalking Kyuhyun, pria berwajah tirus itu segera menarik kursi kosong di depan Kyuhyun diikuti oleh sahabatnya Lee Hyukjae.

“Kalian tidak ada kelas?” Tanya Kyuhyun.

“Apa pentingnya? Kita toh sudah bosan mendengarkan ceramah yang sama dari tahun ke tahun. Yang penting datang untuk mengisi daftar hadir lalu kita bisa keluar dengan dalih izin ke toilet.” Donghae mengambil soda di samping Kyuhyun dan meneguk sisa-sisa cairan yang masih ada.

“Kyu, kau barusan bicara sendiri,” Sahut Hyukjae, “Siapa yang tidak bisa merawat diri?”

Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Hyukjae langsung mengambil ponsel di tangan pria itu dan menaruhnya di tengah meja agar ia dan Donghae dapat melihat apa yang Kyuhyun perhatikan sejak tadi.

3dfe79d56ca11f79d9a9d86cd5700344

 

gambar milik Park Seul

 

Mwoya.. dia manis, bagaimana bisa kau bilang dia tidak bisa merawat diri?” Donghae menunjuk foto Eungi yang ada di artikel majalah. “Tapi siapa gadis ini? Kau kenal?”

“Profesor baruku.”

“APA?!!” kedua temannya berseru kencang dan mereka segera menutup mulut mereka dengan telapak tangan.

“Whoah, aku seharusnya ganti jurusan dari dulu, di jurusan fisika semua dosen terlihat jompo dan tidak menarik. Aku pasti akan jadi seorang mahasiswa penurut dan manis kalau profesorku secantik ini.” Hyukjae mendekatkan layar ponsel Kyuhyun ke wajahnya untuk mengamati foto Eungi.

“Gambar itu telah direkayasa, aslinya dia tidak semanis itu.” Kyuhyun mengambil kembali ponselnya dari tangan Hyukjae. “Rambutnya berantakan, kulitnya kering, dan apa susahnya memakai lipstick saat mengajar—dia terlihat seperti mayat hidup. Aku berani jamin, gadis manis di foto itu adalah orang yang berbeda dengan yang tadi berdiri di depan kelasku.”

“Gadis? Apa dia benar-benar semuda itu?” Donghae yang baru kembali dari membeli minuman kembali ikut dalam perbincangan ini.

“Ya! Bacalah dengan baik-baik artikel ini, gadis ini hanya lahir empat tahun lebih awal dari kita!” Seru Hyukjae spontan, “Kyu, itu adalah jarak usia yang tepat untuk hot noona!” Tambahnya dengan cengiran nakal.

“Dia berani mengusirku dari dalam kelas hanya karena aku terlambat tiga-puluh menit. Kurasa dia benar-benar belum tahu siapa aku. Akulah yang seharusnya menendangnya keluar, bukan sebaliknya.” Kyuhyun meraih minuman yang dibeli Donghae dan meminumnya dengan emosi. “Kalian harusnya lihat pandangan yang dia berikan padaku tadi, aarggh! Rasanya ingin kucongkel kedua bola matanya itu, dikiranya karena dia dosen, dia bisa berbuat seenaknya.”

“Hey, tenanglah. Ini hanya permulaan semester, dan bukankah kau benar-benar harus lulus mata kuliah ini tahun ini? Coba ubah pola pikirmu.” Sela Donghae.

Kyuhyun memutar bola matanya bosan dan menyeringai sinis pada Donghae, “Jangan beri aku ceramah.”

“Tunggu dulu, kau akan suka dengan ideku.” Sergahnya lengkap dengan senyuman licik, “ketimbang kau khawatir kalau dia akan terus-terusan menyulitkanmu, lebih baik kau memanfaatkan satu semester ini untuk menyiksanya.”

“Aku setuju!” Potong Hyukjae, “Kalau memang gadis ini sudah kelewatan, kau sebaiknya memberi dia pelajaran, dengan cara perlahan tapi mampu merusak seluruh reputasi hebat yang dibangunnya.”

Kyuhyun mengangkat kedua alisnya, “Lanjutkan ide kalian.”

“Dia tidak terlalu tua untuk kau permainkan bukan? Jadi kau bisa memperlakukannya seperti semua gadis-gadis yang kau tiduri.” Donghae mengusap ibu jarinya dipermukaan bibir tipisnya, “Pertimbangkanlah, caramu untuk mengadu pada ayahmu untuk membuatnya dikeluarkan sudah ketinggalan jaman. Kali ini, kau bisa mendepaknya, mempermalukannya, tapi juga mencicipi tubuhnya sekaligus.”

“Maksudmu?”

“Rayulah dosen cantikmu itu, berpura-pura lah menjadi Cho Kyuhyun si anak baik yang mau belajar dengan sungguh-sungguh,buat dia bersimpati padamu, lalu ketika dia lengah dan sudah terhasut rayuanmu, ajak dia tidur.” Lanjut Donghae.

“Tepat!” Hyukjae menepuk bahu Donghae dengan semangat. “Oooh ini akan sangat menarik Kyu, bayangkan serunya melihat dia berdiri di depan kelas mengajarmu di pagi hari, lalu kau menidurinya sampai puas di malam hari.”

Kyuhyun menundukkan kepalanya untuk berpikir, “Itu memang lebih menantang daripada sekedar membuatnya dipecat. Tapi dari yang kulihat sekilas, sepertinya dia bukan tipe wanita yang bisa kurayu dengan mudah. Ini hanya akan membuang-buang waktuku.”

“Biar kuberi kau sedikit motivasi.” Hyukjae menepukkan telapak tangannya ke meja seiring dengan ide bejatnya yang semakin menjadi-jadi. “Bayangkan! Kau buat dia percaya padamu, kau dekati dia, tiduri dia dan ketika semester berakhir, kau hanya perlu mencampakkannya—pasti kau merasa menang besar saat itu.”

Donghae menggangguk. “Pati seru sekali kalau sampai bisa meniduri profesormu sendiri. Aku harap ada satu saja profesor di departemen kami yang layak untuk kurayu.”

“Aku menantangmu, Cho Kyuhyun!” Hyukjae bangkit dari duduknya seraya menujukkan telunjuknya ke wajah Kyuhyun. “Aku menantangmu untuk merayu gadis ini, bawa dia ke tempatmu, tiduri dia, dan jangan lupa untuk mengabil beberapa gambar polos dirinya tanpa sehelai benang pun—kau bisa menggunakan gambar itu untuk menerornya di kemudian hari kalau dia tidak meluluskanmu.”

Kyuhyun tertawa sinis, “Kau terlihat lebih bersemangat dariku Lee Hyukjae!”

“Kumohon Kyu, kau harus setuju dengan ide brilian ini! Aku pun penasaran seindah apa tubuh gadis ini dibalik kemeja biru ini.” Donghae menunjuk kembali pada foto Eungi di ponsel Kyuhyun.

Sejujurnya Kyuhyun tergoda dengan ide bejat kedua temannya. Mereka ada benarnya, dengan melakukan rencana itu Kyuhyun bisa mendapatkan sensasi rasa tertantang karena mengejar wanita yang lebih tua yang selalu dinikmatinya, ia pun bisa menjadi lebih dekat dengan Eungi, dan ketika waktunya tepat Kyuhyun bisa meniduri wanita itu untuk kemudian menerornya.

“Aku bertaruh kau tidak berani melakukannya.” Tantang Donghae. “Kau terlalu pengecut untuk menjadi pria seperti itu.” Tambahnya dengan nada mengejek. Donghae sangat mengenal watak Kyuhyun, dalam urusan wanita, ego Kyuhyun diletakkan pada prioritas tertinggi dan pria itu pasti akan melakukan apa saja untuk membuktikan bahwa ia-lah sang alpha diantara kawannya.

“Lalu jika aku berhasil menidurinya?” Tantang Kyuhyun balik—tanpa sadar ia telah jatuh ke perangkap Donghae.

“Kau akan mendapatkan semua hal yang kami katakan sebelumnya, itu reward yang sempurna untukmu bukan?”

Kyuhyun melayangkan pandangannya jauh ke sudut lain di kafetaria. Meskipun reputasinya di mata banyak gadis sudah rusak, Kyuhyun tetap menghindari bertindak gegabah. Selain itu, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya tentang wanita itu—sesuatu yang belum bisa dicerna oleh kepalanya yang masih dipenuhi amarah.

“Aku sungguh tidak bisa membayangkan melakukan semua hal bejat itu dengannya.” Ucap Kyuhyun sambil berjengit.

“Apa dia benar-benar sejelek itu?” Donghae menyimpulkan.

Kyuhyun menggeleng, “Bukan, bukan jelek. Dia terlihat seperti.. gadis yang memiliki segudang masalah.”

Hyukjae mengangkat kedua bahunya. “Bukankah itu membuatnya semakin menantang?”

Kyuhyun mengangguk setuju.

“Jadi, bagaimana dengan taruhan kita?” Tanya Donghae.

Kyuhyun menepukkan tangannya ke atas meja dengan mantap, “Baiklah, kalian tunggu saja foto bugil profesor baruku.”

Donghae dan Hyukjae saling menatap satu sama lain dengan cengiran lebar di wajah mereka, dengan kompak tangan mereka segera terangkat ke atas untuk sebuah tos kemenangan.

 

*

 

Eungi hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk bisa menyimpulkan bahwa dirinya dikucilkan oleh kolega-kolega sedepartemennya. Dua hari pertama ia habiskan untuk mencoba menyesuaikan diri dengan para sunbae, tapi mereka tidak terlalu mengindahkan keberadaan Eungi dan pandangan yang ditujukan padanya juga membuat wanita itu merasa tidak nyaman. Beberapa kolega yang berjiwa gosip tentu saja menanyakannya banyak hal pribadi—di mana ia tinggal, apakah ia sudah punya kekasih, apa ia sudah menikah dan memiliki anak dan lain sebagainya.

Berbeda lagi dengan dosen-dosen pria di departemen itu, satu per satu dari mereka datang dengan gelagat aneh dan senyuman yang terlihat konyol di wajah mereka, mencoba untuk menggoda Eungi dengan candaan yang tidak lucu. Eungi hanya sanggup tersenyum datar dan perlahan mohon diri untuk melakukan pekerjaannya di tempat lain.

Lebih nyaman bagi Eungi untuk bekerja di luar halaman kampus itu, kebetulan kontraknya pun tidak menyatakan bahwa ia harus selalu berada di cubicle pengapnya—terlebih lagi pekerjaannya justru menuntut pada dosen untuk keluar demi melakukan riset. Selama Eungi tidak terlambat dan selalu ingat untuk menempelkan sidik jarinya ke alat absen karyawan setiap pagi dan sore, ia rasa tidak akan ada masalah.

Sebuah coffee shop kecil di dekat kampus menjadi pilihan Eungi sebagai tempat yang sempurna untuk mengerjakan pekerjaannya, ia mengeluarkan tumpukan jurnal yang telah niat dibacanya sejak pagi tadi. Matanya sedang bergerak bebas dari satu kata ke kata lain di jurnal itu ketika pagi damainya dirusak oleh seseorang yang menarik kasar kursi kosong di hadapannya. Eungi menengadahkan kepalanya untuk melihat tamu tidak diundang yang mengusiknya dan matanya membesar ketika ia mengenali lelaki di depannya.

“Kau keberatan?” Cho Kyuhyun duduk dengan santai sambil meletakkan secangkir kopi yang baru dipesannya.

“Aku keberatan. Aku sedang mengerjakan hal lain.” Eungi mengangkat tumpukan jurnal di tangannya.

“Kukira kau ada di kampus.” Jawab Kyuhyun cuek, “Tadi aku mencarimu ke cubicle di kantor fakultas.”

“Apa kau sudah membuat perjanjian untuk bertemu?” Balas Eungi datar, “Kalau belum, kau boleh angkat kaki dari hadapanku sekarang.” Lanjutnya sambil melambaikan tangan ke depan wajah Kyuhyun untuk mengusirnya.

Kyuhyun mendengus meledek, “Bagaimana bisa aku membuat perjanjian kalau kau saja tidak stand-by di tempat mu?” Ia meletakkan kepalan tangannya di bawah dagunya.

Eungi menarik napas dalam sebelum meletakkan tumpukan jurnal di tangannya. “Baiklah, apa yang butuhkan?”

“Aku mau kau membantuku agar bisa lulus dari kelas ini.” Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya seolah menantang Eungi.

Mulut Eungi terbuka, tidak percaya dengan permintaan konyol mahasiswanya yang tidak tahu diri ini.

“Bagaimana? Bisakah kau membantuku?”

Fine. Aku akan membantumu.” Eungi mengangguk, “Kau tahu? Aku bahkan akan memberimu nilai A.”

Kyuhyun langsung tersedak kopi yang sedang diminumnya, ia tidak mengira manipulasinya akan berlangsung semudah ini. Apakah mungkin Cha Eungi sudah mengetahui siapa ayah Kyuhyun? Apakah wanita di depannya sudah ciut duluan dengan status Kyuhyun?

“Jangan terlalu cepat senang, tuan Cho. Sebelum kau lupa diri, biar kuberi tahu dulu aturan mainku.” Eungi mendengus sinis, “Aku selalu memberi kesempatan yang sama pada setiap mahasiswaku, jadi jika kau berjuang sama kerasnya dengan kawan-kawanmu yang lain, maka nilai sempurna sudah di tanganmu. Aku dosen yang objektif, jadi aku akan melupakan sikapmu yang jauh dari kata sopan ini dan tetap fokus pada kinerjamu di kelas. Kau hanya perlu hadir di dua-puluh-delapan pertemuan kita, kerjakan semua tugas yang kuberi, dan merevisi jika kusuruh.”

Kyuhyun memutar bola matanya dengan bosan, “Itu sama saja dengan kuliah.”

“Wow, kau cukup cerdas dalam menyimpulkan kata-kataku.” Balas Eungi sarkastis.

“Tapi aku sudah absen satu kali.” Ucap Kyuhyun mencoba berargumen.

Well, kalau begitu cobalah untuk hadir di dua-puluh-tujuh sisa pertemuan kita dan kerjakan tugas yang kuberikan dengan serius.”

Kyuhyun terkekeh, “Apa gunanya aku bernegosiasi denganmu jika saranmu sama saja dengan aku mengikuti perkuliahan full.”

“Ini kelas studio, tuan Cho. Apa lagi yang kau harapkan?” Eungi mengangkat mugnya dan menyesap kopi hitamnya pelan.

“Sejujurnya aku berharap kau melunak padaku.” Jawab Kyuhyun jujur.

“Karena ayahmu pemilik kampus?” Balasnya tajam. Eungi paham trik untuk menghadapi mahasiswa keras kepala adalah dengan cara terus-menerus membalas ucapan mereka tanpa jeda.

“Aah, kau sudah melakukan riset tentangku rupanya.”

“Aku ahli dalam hal itu.”

“Benarkah? Aku juga sudah melakukan riset pribadiku tentang dirimu, Cha Eungi Kyosu-nim.” Kyuhyun memotong kata-katanya untuk memberi penekanan pada kalimat berikutnya, “atau mungkin lebih pantas jika kau kupangil… noona?”

Eungi cukup terkejut oleh kata-kata Kyuhyun tapi wajahnya tetap datar. “Kalau memang begitu, bukankah seharusnya kau malu?”

Nega wae?”

“Aku hanya lebih tua beberapa tahun darimu, tapi kau duduk di hadapanku untuk memohon agar aku meluluskanmu dari mata kuliah yang diperuntukkan untuk mahasiswa tahun ketiga. Sekarang siapa yang memalukan?”

Kyuhyun mengangguk untuk membuat Eungi merasa menang, “Baiklah, kau lebih hebat dariku, noona. Tapi aku penasaran, apa yang kau peroleh dalam tiga-puluh-satu tahun hidupmu selain gelar bodohmu itu?”

Kyuhyun menatap Eungi tepat ke manik matanya, kali ini ia benar-benar serius dengan pertanyaannya. Karena bagi Kyuhyun prioritas hidupnya dan Eungi jelas berbeda dan Eungi tidak punya hak untuk melabeli Kyuhyun sebagai mahasiswa veteran bodoh hanya karena ia gagal untuk lulus terus-menerus.

“Gelar bodoh?” Eungi mengangkat alis matanya sembari berusaha keras menahan emosinya, ia tidak mau Kyuhyun tahu kalau kata-kata bocah itu menyinggungnya. “Coba kita telaah lagi, kau harus berusaha bertahun-tahun hanya untuk memperoleh satu buah gelar yang kumiliki—dan sepertinya satu pun belum berhasil kau peroleh.”

Kyuhyun bangkit dari duduknya sambil mencondongkan badannya lebih dekat ke arah Eungi, menjajarkan wajah mereka dengan hanya menyisakan jarak yang sangat tipis antara mereka.

Eungi membatu di tempatnya, ia adalah seseorang yang mudah merasa terganggu jika jarak personalnya diinvasi oleh orang lain, terutama pria. Tapi kini wajah mahasiswanya hanya beberapa senti jauhnya dari wajahnya sendiri, dan Eungi akan menjadi pembual besar jika ia tidak terpengaruh karena hal ini.

Omo Kyosu-nim, kenapa kau membeku di tempatmu seperti ini? Apa aku membuatmu gugup?” Kyuhyun menikmati permainannya. Matanya menatap dalam ke dalam mata Eungi dan lagi-lagi pandangan kosong nan datar itu mengganggunya.

Eungi bisa merasakan sapuan napas hangat Kyuhyun di wajahnya dan masih saja wanita itu tidak bisa bergerak dari posisinya.

Kyuhyun mendengus dan menarik kembali tubuhnya menjauh dari Eungi.

“Lihatlah dirimu, membeku saat ada seorang pria mendekat padamu.” Kyuhyun tertawa kecil sambil menunjuk wajah Eungi yang masih terpana, “Noona, aku memang tidak punya satu pun gelar yang kau miliki, tapi aku memiliki satu hal yang paling penting dalam hidup manusia.”

Kewarasan Eungi kembali untuk melanjutkan debat kusirnya dengan Kyuhyun. “Maksudmu uang?”

Kyuhyun menggeleng, “Social skills. Ayolah, kau di sini untuk bersembunyi. Nampaknya lingkungan kerjamu tidak nyaman untukmu.”

Kata-kata Kyuhyun menusuk tepat pada ego Eungi. Bagaimana mungkin mahasiswanya ini bisa mengetahui kelemahan utama Eungi dengan sangat akurat? Memang benar ia tidak pernah suka berinteraksi dengan banyak orang, mungkin istilah menjadi seorang introvert masih kurang tepat untuk mendeskripsikan pribadi sosial Eungi.

Ia sudah dikucilkan sejak kecil, karena keadaannya yang harus dihadapinya sejak dini—dan ia selalu mencari kenyamanan dari tumpukan buku yang menjaganya dari rasa kesepian. Sahabatnya ketika remaja pindah ke tempat lain dan mereka tidak menjaga kontak dengan baik. Meskipun ia berteman cukup baik dengan kawan-kawan kuliah masternya di Belanda, jarak dan perbedaan waktu juga berefek pada tingkat intensitas komunikasi mereka.

Satu-satunya orang yang Eungi izinkan untuk mengenalnya sangat dekat, untuk masuk ke dalam hidupnya, untuk berbagi lembaran terdalam dari dirinya telah tewas saat melindunginya beberapa bulan yang lalu. Kejadian itu juga membuat Eungi semakin tenggelam ke dalam buku-buku dan penelitiannya—hanya agar ia bisa menyibukkan dirinya, mengalihkan pikirannya, dan mengobati rasa hampa dalam dirinya. Cho Kyuhyun baru saja menyerang Eungi dengan kata-kata yang tepat dan ia sukses membuat Eungi tercengang seketika.

“Aah, noona.. ekspresimu saat ini, biar aku memotretnya dalam memoriku.” Kyuhyun berpura-pura mengambil foto Eungi dengan jari-jarinya yang membentuk persegi panjang, seolah dia sedang memegang kamera.

Mata Eungi membelalak kaget, rasanya seperti ada orang yang melumurkan perasan lemon dan garam pada lukanya yang belum kering. Apa yang Kyuhyun lakukan di hadapannya sekarang sangat mirip dengan apa yang dulu Siwon lakukan jika pria itu berhasil membuat Eungi tersenyum. Bahkan kata-kata yang digunakan pun sama—biar aku memotretnya dalam memoriku—dan Siwon akan membentuk gestur yang sama dengan yang Kyuhyun lakukan. Tujuan dan konteks mereka jelas berbeda tapi saat ini, semua terlihat sama di mata Eungi.

Kyuhyun berhenti “memotret” Eungi ketika dilihat mata wanita itu mulai berair. Apa ia baru saja menggodanya tepat pada titik lemahnya? Mungkin Kyuhyun harus mencatat hal ini baik-baik, siapa tahu ia bisa menggunakan trik ini lagi jika ia mau membuat Eungi menangis lain kali.

Bagaimana pun juga, Eungi bukanlah wanita lemah. Ia berhasil menghadapai pembantaian dan terorisme besar-besaran dalam hidupnya. Ia masih hidup dan meskipun rasa duka masih menyelimuti harinya, Eungi bersumpah untuk tidak terlihat lemah di depan siapa pun—apalagi di depan mahasiswa di hadapannya. Dengan tekad itu, Eungi menutup matanya sambil menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sejenak.

“Baiklah tuan Cho, kau memenangkan argumen kita. Kau benar, aku tidak punya social skills.” Ia menambahkan senyum pahit, “Aku punya keahlian lain yang kau anggap tidak berguna dan siapa tahu kau ternyata benar. Tapi, sampai aku mengantarmu menuju kelulusan dan sampai kau peroleh sendiri gelar yang kau hina itu, kau masih punya kewajiban untuk mengikuti perintahku untuk—paling tidak—memenuhi nilai minimum kelulusan. Jika kau melakukan itu, aku berjanji akan meluluskanmu dengan cara terhormat. Nanti ketika gelar sarjana sudah kau genggam, kau boleh melemparkan kembali kata-katamu tentang gelar bodohku, apa kau setuju?”

Kyuhyun memutar otaknya, menimbang baik-baik pro dan kontra dari tawaran Eungi. Tapi itu tidak ada gunanya, toh tujuan ia menghampiri wanita ini bukan untuk meminta nilai, tapi untuk melakukan rencana terselubung lainnya. Yang perlu dilakukannya sekarang hanya menjadi mahasiswa patuh agar ia bisa melunakkan hati dosennya.

“Baiklah.” Ia mengangguk. “Aku akan mencoba menjadi mahasiswa yang baik, tapi aku punya syarat.”

Eungi mengangkat alisnya, “Kita tidak sedang tawar menawar sekarang.”

“Syaratku mudah, noona. Aku tidak mau dipasangkan dengan si culun itu. Aku mampu menyelesaikan tugas-tugasmu seorang diri.”

Eungi tertawa kecil, “Mustahil. Junsu mungkin bisa mengerjakannya sendiri—aku sudah melihat konsepnya dari pertemuan kemarin—tapi kau, aku kurang yakin kau mam—”

“Noona—ya, aku akan memanggilmu begitu mulai sekarang—kau belum melihat kemampuanku dan kau sudah menghakimiku. Tidak sepatutnya kau menurunkan semangat mahasiswamu, bukan?”

Eungi menegak kopi di mugnya banyak-banyak, menghabiskan setengah porsi di dalamnya dalam sekali minum, demi tuhan, ia akan butuh asupan kafein lebih banyak lagi jika ia harus berhadapan dengan mahasiswa seperti Kyuhyun.

“Baiklah. Aku akan beri kau kesempatan untuk membuatku terkesan. Datanglah ke kelasku besok—kau ingat kan? Jadwal kita setiap hari Senin dan Kamis—buktikan padaku bahwa kemampuanmu memang di atas rata-rata.” Putus Eungi, mencoba mengakhiri perdebatan melelahkan dengan anak pemilik kampus di depannya.

“Kuterima tantanganmu.” Sahut Kyuhyun.

Eungi meraih kembali jurnal yang tadi ditaruhnya di meja. Dengan matanya, ia mendelik ke arah pintu keluar, sinyal bagi Kyuhyun untuk segera enyah dari hadapannya.

Kyuhyun memasang senyum kemenangan lebar di wajahnya, “Sampai jumpa besok, noona.”

Advertisements

103 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 2

  1. Gaemotional Cho says:

    Izin baca dari part 2 ya. Aku baca part 1 di flying nc. Ehmm ngomong ngomong kayanya aku sudah pernah mampir ke sini dan baca ff ini dan sudah sampai part ke 3 atau 4. Kalau belum nemu komen dengan id ini aku izin baca ya. Makasih thor

    Liked by 1 person

  2. Sugaark says:

    Astagaa kyuhyun ngikutin ide gila temannya
    Dasar kyuhyun mahasiswa veteran
    Malah godain dosennya ngikut ide gila temannya

    Eungi ingat siwon lagi 😭
    Pasti sedih banget, padahal dihari itu dilamar siwon, dihari itu juga siwon meninggal gara2 ngelindungin dia 😭

    Liked by 1 person

  3. jidatseksehpcy says:

    hai thor 😊 readers baru nih, pernah bca epenya author di fnc jd nyari deh siapatau author pnya blog pribadi eh trnyta punya :v .. kyupil jan nurutin ikan mokpo sama sodaranya .. itu jalan yg salah bang 😂

    Liked by 1 person

  4. choky_1408 says:

    Penasaran sama gimana mereka nanti saling suka akhirya..
    Tp kenapa Kyuhyun harus nerima taruhannya Eunhyuk sama Donghae.
    Kasian Eungi, udah orangnya introvert, sekalinya udah deket sama orang, orangnya malah ninggal karena melindungi dia
    Fighting buat next post !!!

    Liked by 1 person

  5. Aerin says:

    Uwaa!!
    EunGi wanita yang tangguh. Aku harap dia tidak akan terjebak. Dan untuk KyuHyun, aku harap dia terperangkap pada permainannya sendiri.
    Aku sangat suka FF ini karena menggunakan ilustrasi yang pas.

    Liked by 1 person

  6. imgyu says:

    Ya ampunnnn seriusan aku suka ff ini, ke jalan ceritanya ke tragisannya ke apapun deh aku suka kecuali kebejatannya aku rada ga suka. Ngeliat Eungi itu rasanya euwww sakit pastinya, apalagi pas dia bilang tungannya ditambah netesnya airmata rasanya suasana langsung tambah sendu. Genggaman erat kyuhyun di stir mobilnya apa nandain sebuah perasaan kyuhyun ke eungi? Aku harap iya. Aku harap kyuhyun bisa jadi seseorang yg buat eungi bahagia setelah siwon

    Liked by 1 person

  7. Cho Sarang says:

    Hadeuh… Tuch ide gila yang kurang ajar, sama kayakborang yang kasih ide, gila dan kurang ajar. Akankah eungi masuk dalam jebakannya kyuhyun atau malah sebaliknya. Kyuhyun yang terjebak dengan pesonanya eungi

    Liked by 1 person

  8. Barom yu says:

    Mau nya aku si cho lah yang senjata makan tuan
    Malah dia yang jd nya jatuh cinta atau apa lah itu wkwk betapa senangnya aku..
    Kalau si cha eungi yang di permalukan kasian, penderitaan nya udah banyak -___-

    Tp alangkah lebih baik mereka sm” jatuhcinta seiring berjalan nya waktu*emangiyak*
    Jangan sampe eun di permalukan, maygad bisa” dia benci sm km cho

    Liked by 1 person

  9. Shinn says:

    Ah ya ampun kyuhyun usil amat sih eungi jadi salting kan,kyuhyun nggak pernak mau ngalah dalam beragument pingin menang sendiri.

    Donghae yang polos kenapa bisa semesum ini ya?pasti gara-gara deket sama eunhyuk nih,ikan polos ku otaknya udah kotor!

    Liked by 1 person

  10. kyutheee says:

    Dinego aja shay…..
    Enak banget dosen dinego2… ya ampunn gk kebayang, nungguin revisi aja dosen kita tungguin doan pintu ruangannya, eh malah gk taunya keluar lewat pintu doraemon entah dimana tiba2 aja ngilang dalem ruangan… ckckckckck

    Liked by 1 person

  11. Melsyana says:

    Ternyata donghae dan eunhyuk sama2 gila kayak kyu, gak bisa ngebayangi kalau kyu melakukan hal yg diusulkan donghae untuk eungi. Mudah2an aja kyu gak tega melakukannya dan eungi mengetahui hal bejat yg akan dilakukan kyu.

    Liked by 1 person

  12. sweetrizzu says:

    Gak tau gmna nanti rencana2 jahat Kyuhyun ke depannya, tp aku berharap Eungi bukan tipe cewek polos dan lemah dlm ngadapin godaan mesum si Kyuhyun.. Soalnya aku mikir seru kali yaa klo Eungi balik godain si ‘mahasiswa veteran’ bukan dlm hal studi aja tp soal kencan juga.
    Biar jd karma sm sikapnya selama ini..

    Aaaa penasaran sangat~ lanjut baca dlu yaa kak 😀

    Liked by 1 person

  13. Afa hyerin says:

    Aku suka karakter cho disini… Tp… Pervert nya gak ketulungan… Masa mau ngejebak cha eungi juga…. Wahhhh….. … Part ini menarik dan enak buat dibaca… Dinext nde eonni chan…

    Liked by 1 person

  14. laya says:

    Baca ff inì seperti memutar kaset moment”ku waktu semester 1. Hanya saja tdk seekstrim dalam cerita ini. Tapi emosi tentang gugup dan ketakutannya itu sama persis waktu pertama kali aku bertemu dosen.
    Aku bingung mau berkomentar apa. Yang aku rasakan saat baca ff ini yaitu nyaman dan mampu membangun imajinasiku terhadap ceritanya. Yang artinya kakak berhasil mengemas cerita yang mampu menyalurkan emosinya terhadap pembaca

    Liked by 1 person

  15. Dyana says:

    Wow, ada Hae Oppa… Aku terkejut…
    Kelakuan EunHae emang bikin geleng kepala, ya ampun otak kotor kedua tu anak… Kok aku kesel ya, tp ada ngakaknya juga…

    Ini bnr2 akan menjadi cerita yg seru, ambisi Kyuhyun akan membawanya pada titik tak akan bisa lepas dari tu Noona-noona… Haha… Sok tau…
    Fighting Kyu!!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s