(Indonesian Version) One Last Shot – Part 1

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun


*jangan lupa baca dulu prolog cerita ini, happy reading*

Cha Eungi berlari di sepanjang trotoar sambil tak henti mengutuk kebodohannya sendiri karena tertidur di dalam bus yang membawanya ke universitas baru tempat ia akan mengajar, kecerobohannya mengakibatkan wanita itu harus berlari balik dua halte dari tempat yang seharusnya. Ini salahnya sendiri tentu saja, tidak seharusnya ia bergadang mengerjakan proposal proyek green design yang akan disertakannya dalam konfrensi internasional di Kopenhagen. Tapi kegiatan menyibukkan diri dan tidur hanya ketika ia benar-benar lelah telah menjadi pelarian positif baginya sejak kejadian tragis beberapa bulan lalu itu, dan Eungi merasa lebih baik jika ia sibuk sampai kurang tidur ketimbang jika ia mengalihkan waktunya untuk dihabiskan dengan meratap.

Pagi di tengah bulan Januari yang dingin itu menambah sulit langkah Eungi untuk berlari ke arah gedung kampusnya. Ia tentu saja tidak sempat memikirkan akan segugup apa nanti ketika berdiri di depan kelas—ya, kegugupan di hari pertama kuliah tidak hanya melanda mahasiswa, dosen-dosen pun mendapatkan sensasi demam panggung ketika kelas baru akan dimulai setiap semesternya. Mahasiswa hanya perlu menghadapi beberapa dosen baru, sedangkan seorang dosen harus menyiapkan diri untuk bertemu ratusan mahasiswa sekaligus.

Telat di hari pertama jelas bukan opsi yang baik baik Eungi, dia bahkan belum melapor pada fakultasnya, belum memperkenalkan dirinya dan belum menyiapkan dirinya dengan layak untuk memulai kuliah hari ini. Eungi mempercepat langkahnya ketika ia tiba di gedung arsitektur yang terletak di bagian utara kampus. Ia tidak mau membuang waktunya untuk menunggu lift, lebih baik ia segera memilih jalur tangga darurat untuk menuju lantai 4, tempat di mana dekan fakultas sudah menantinya.

“Anyeong.. hase..yoooo… Chaa.. Eungi.. im..nida..” Ujarnya terengah saat mengetuk pelan pintu masuk utama ke fakultas arsitektur.

Wanita yang duduk di balik meja resepsionis memandang heran ke arah Eungi, tapi ia segera bangkit dan menyambut dosen baru yang sudah ditunggunya sejak tadi. “Ah, iye, kau dosen baru yang akan mengajar di departemen ini bukan?”

“Ne.” Eugni membungkuk sopan.

“Perkenalkan namaku Lee Hana, aku sekertaris administratif di sini. Mari kuantar ke ruangan profesor Hwang.” Wanita itu keluar dari balik mejanya dan memberikan gestur dengan tangannya.

Eungi mengikuti langkah wanita itu dan sekilas memperhatikan ruangan tempatnya akan bekerja. Suasana di tempat ini jelas sangat pengap dan gelap—ironis sekali mengingat ini adalah tempat departemen arsitektur yang seharusnya mengatasi masalah itu dengan pencahayaan yang baik. Dalam hati Eungi berharap ia boleh bekerja di tempat lain yang lebih kondusif bagi kelancaran ide-ide kreatifnya.

“Profesor Hwang, perkenalkan ini Profesor Cha, dosen yang kau tunggu sejak tadi.” Lee Hana membuka daun pintu lebih lebar agar Eungi bisa masuk dengan leluasa.

“Ah, baiklah nyonya Lee, terima kasih.” Lelaki paruh baya itu bangkit dari kursi kerjanya dan segera mempersilakan Eungi untuk duduk di kursi tamu di hadapannya.

“Selamat pagi Profesor Hwang.” Eungi membungkuk sembilan-puluh derajat, “Aku sunggu memohon maaf atas keterlambatan ku di hari pertamaku bekerja. Tidak sepatutnya aku mencari alasan untuk kelalaianku sendiri.”

Pria itu melihat jam tangannya sekilas dan tersenyum hangat, “Aniyo, kita masih punya sisa dua puluh menit sebelum kelas pertamamu dimulai, mari kita berbincang sebentar.”

Eungi menarik kursi di dekatnya dan mencoba duduk senyaman mungkin.

“Aku adalah seorang penggemar beratmu, profesor Cha. Penelitianmu tentang panel hijau untuk mengurangi panas dalam gedung tinggi sungguh brilliant! Kurasa itu salah satu alasanku mengusulkan namamu untuk masuk ke dapartemen ini. Sungguh merupakan kehormatan bagi departemen ini karena kau menerima tawaran kami.” Ujar pria itu sambil membetulkan letak kacamata di hidung lebarnya.

Eungi tersenyum sopan, “Ya, riset itu juga hal yang cukup luar biasa bagi hidupku, terima kasih banyak karena anda telah mendukungnya.”

“Riset ini yang memberikan gelar istimewa untukmu bukan?” Pria itu menyilangkan lengannya di atas meja dan menggeser duduknya lebih dekat ke tepi meja untuk memperhatikan Eungi dengan lebih seksama, “Kau sudah memegang gelar profesor dan kau bahkan belum tiga puluh tahun.”

“Aku tiga puluh satu tahun, profesor.” Eungi membenarkan dengan sopan, “Dan merupakan sebuah kehormatan bagiku untuk bisa menjadi bagian dari departemen ini. Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan.”

“Kehormatan itu adalah milik kami, profesor Cha.” Ia meletakan telapak tangannya di atas jantungnya dan tersenyum tulus. “Mari kuantar kau keliling dan kuperkenalkan pada kolega-kolega di departemen ini.” Ajaknya.

Mereka keluar dari ruangan profesor Hwang untuk berjalan menuju ruang kerja besar nan pengap yang telah Eungi lihat sebelumnya.

Pria beruban itu membawa Eungi ke tengah-tengah area ruangan dan menepukkan kedua tangannya untuk menarik perhatian dari dosen-dosen yang ada di ruangan itu. Dosen yang sudah datang dan tersembunyi di dalam cubicle mereka masing-masing kini mulai berdiri dan memandang wanita muda di samping dekan mereka dengan wajah pernuh pertanyaan.

“Rekan-rekan semuanya, hari ini kita mendapat kehormatan untuk menyambut seorang profesor baru di departemen arsitektur kita tercinta. Nama beliau adalah Cha Eungi.” Ia melambaikan tangannya ke arah Eungi.

Eungi membungkuk ke beberapa arah secara bergantian, “Anyeohaseyo. Nama saya Cha Eungi, mohon bimbingannya dan saya akan berusaha melakukan yang terbaik bagi kampus dan departemen arsitektur ini.”

“Kehadiran beliau di sini akan mengangkat reputasi dan rating universitas kita, karena beliaulah yang memegang paten terhadap eco panel terbaru—dan tentu saja, eco panel itu juga yang membuahkan gelar profesor di depan namanya.” Lanjut profesor Hwang. “Mari kita beri sambutan hangat dan tunjukkan suasana kerja yang bersahabat baginya.” Pria itu menepukkan tangannya sebagai tanda agar seluruh dosen yang ada di ruangan itu ikut bertepuk tangan untuk menyambut Eungi.

Eungi membungkuk sopan, “Terima kasih.”

Perlahan ia melayangkan pandangannya ke kolega-kolega barunya, seperti dugaannya, mereka menatap balik dengan pandangan yang sudah tertebak. Eungi selalu harus berhadapan dengan banyak orang dalam rentang karirnya dan setiap kali nama dan gelarnya diumumkan pada orang lain, pasti ada sepasang atau dua pasang mata yang menatapnya penuh dengan kesirikan.

Kolega barunya menatapa Eungi dari ujung rambut hingga ujung kakinya, seolah menyorot wanita kecil di tengah ruangan dengan berbagai penilaian mereka masing-masing. Eungi sudah familiar tentu saja, para wanita biasanya melihat dengan tatapan iri dan merendahkan dan para pria umumnya tersenyum kecil dengan kilat nakal di mata mereka.

Tentu saja mencari seorang teman sangat sulit bagi Eungi, ia dianugerahi dengan postur yang sempurna dan memiliki kecantikan khas gadis Korea yang membuat orang-orang harus menengok dua kali untuk menikmati parasnya. Para wanita membencinya karena ia nampak seperti gadis idaman banyak pria, dan para pria biasanya merasa tertantang untuk menaklukkan hatinya—walaupun di atas semua fakta itu, Eungi juga memiliki otak yang brilian dan membuat beberapa pria takut bersaing dengan intelektualitasnya.

Bagaimana mungkin seorang berusia tiga-puluh-satu tahun sudah memiliki gelar profesor? Umumnya mereka yang berusia paruh baya dengan rambut sudah mulai beruban lah yang memperoleh gelar terhormat di bidang pendidikan itu.

Tapi Eungi adalah salah satu pengecualian.

Prestasinya sudah menonjol sejak ia duduk di bangku sekolah dasar, gurunya dulu menyarankan wali Eungi untuk mengijinkan anak itu melompat satu level karena kecerdasan Eungi sudah melebihi standar anak seusianya. Akselerasi ini kemudian terus terjadi dalam sejarah menuntut ilmu yang Eungi lakukan, ia lulus dari Sekolah Menengah Atas saat berusia enam-belas tahun dan segera saja beberapa beasiswa dari universitas lokal berdatangan. Setelah ia lulus dengan tepat waktu—lengkap dengan predikat cum laude—profesornya menyarankan Eungi untuk memperdalam ketertarikannya tentang desain berkelanjutan dan menuliskan surat rekomendasi beasiswa sehingga Eungi bisa melanjutkan pendidikan masternya di Belanda. Gelar master yang berhasil diperolehnya kemudian mengantarkan Eungi untuk semakin menggali potensi eco panel dan seorang profesor di Denmark bersedia menjadi promotor Eungi hingga Ia meraih gelar PhD. Tak lama setelah gelar besar itu digenggamnya, penelitian Eungi membuahkan hasil dan sukses dipatenkan, sehingga ia akhirnya mendapat perlakuakn khusus dan diberi gelar profesor oleh kampus tempatnya menyelesaikan tahap doktoral.

Tapi dengan banyak rentetan gelar yang menyertai namanya, Eungi masih tetap menganggap dirinya bukanlah orang yang terlahir pintar, ia percaya bahwa hanya ketekunan dan kerajinannya lah yang berhasil mengantarkannya pada titel idaman semua pelaku pendidikan itu. Sejak kecil Eungi menemukan rasa nyaman ketika membaca buku, kebiasaan yang dikenalkan sejak kecil inilah yang membuatnya menjadi orang hebat sekarang.

Kembali ke ruangan pengap di departemen arsitektur, profesor Hwang menyadari suasana kurang bersahabat yang tercipta di tempat itu, jadi ia berusaha mencairkan suasana dengan cara menunjukkan Eungi meja kerjanya yang baru.

“Ngomong-ngomong, itu adalah meja anda Profesor Cha.” Tunjuknya pada sebuah meja di pojok ruangan besar itu, “Tapi tentu saja anda boleh bekerja di mana saja, anggap saja meja itu hanya sebagai tempat mahasiwa anda mengumpulkan tugas-tugas mereka.”

Eungi mengangguk, dalam hati sudah mengutuk pojokan gelap yang terlihat sangat tidak kondusif untuk bekerja.

“Baiklah profesor Hwang, kurasa aku sekarang harus berlari ke kelasku.” Ujar Eungi setelah melihat jam dinding di ruangan yang menunjukkan sisa waktunya untuk ke kelas hanya tinggal lima menit lagi.

“Ah anda benar! Dan kelasmu ada di gedung sebelah, baiklah aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi.” Profesor Hwang mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Eungi. “Good luck!

Eungi tersenyum tipis dan segera berpamitan dengan sopan pada kolega-koleganya yang masih memandangi sosoknya.

 

*

 

Di parkiran kampus, kuliah hari pertama mungkin menjadi hal terakhir yang dikhwatirkan Cho Kyuhyun. Ia sedang sibuk mengulum bibir tebal seorang gadis yang baru ditemuinya semalam. Lumatan panasnya semakin menjadi seiring dengan desahan tertahan yang terus menerus keluar dari mulut gadis yang dihimpitnya. Kyuhyun menyeringai kecil diantara kecupannya, dengan ujung lidahnya Kyuhyun menyusuri sudut bibir gadis, perlahan membawa lumatan panasnya untuk pindah ke kulit halus di leher jejang gadis yang namanya pun ia tidak ingat. Ah, ini bukan masalah bagi pria itu. Ia tinggal menyapanya dengan kata ‘baby’ dan gadis itu pasti akan tersipu malu karena dianggap sepesial olehnya.

Sunbae, kumohon jangan meninggalkan banyak bekas di sana.” Pinta gadis itu sambil terengah.

Kyuhyun tidak mengindahkan permintaannya, justru ia semakin memperdalam isapannya pada leher bagian belakang gadis yangs ekarang sibuk menarik rambut Kyuhyun. “Kau yakin mau aku berhenti? Aku bahkan belum memulai permainan ini.”

Di tengah kenikmatannya, gadis itu mencoba beralasan pada Kyuhyun, “Aku ada kelas.. pagi.. ini..”

“Itu tidak penting.” Sergah Kyuhyun.

Gadis itu siap membalas kata-kata Kyuhyun, namun mulutnya lagi-lagi dibungkam oleh lumatan panas dari pria di atasnya. Ia sudah tidak lagi peduli akan kelasnya pagi ini, permainan Cho Kyuhyun sangatlah memabukkan baginya dan meskipun ia tahu kalau ia hanya satu dari sekian banyak wanita yang ditiduri Kyuhyun, Lee Gain tidak lagi peduli—ia hanya ingin berada di dalam dekapan pria yang memiliki reputasi buruk dalam hal wanita ini.

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa Cho Kyuhyun adalah playboy ulung di kampus itu. Tentu saja gadis yang sedang dinikmatinya ini hanya selingan untuk mengobati kebosanannya. Mungkin hanya sedikit dari gadis-gadis di kampus itu yang belum termakan pesona Kyuhyun, dan siapa yang tidak tertantang untuk menaklukkan lelaki sepertinya? Cho Kyuhyun terkenal sebagai mahasiswa pembuat onar yang sering membolos, ia juga terkenal sebagai orang yang sering membuat keributan dengan mahasiswa departemen lain dan reputasi yang paling melekat pada dirinya jelas sebagai playboy kelas kakap. Tapi tidak ada seorang pun di kampus itu yang berani melawannya, alsannya cukup signifikan, Kyuhyun adalah anak dari sang pemilik kampus. Dosen-dosen bisa saja memilih tidak meluluskannya dalam subjek-subjek tertentu—tapi mereka yang berani melakukan hal ini tentu saja bisa melambaikan tangan pada karir mengajar mereka di kampus itu.

“Sunbae, kumohon.. aku tidak bisa menutupi bekas ciumanmu di kelas..” Mohon Gadis itu sambil terus mendesah kenikmatan.

“Aku akan terus meninggalkan jejak-jejak kecupanku di atas tubuh indahmu, baby.” Bisik Kyuhyun dengan nada menggoda di telinga gadis itu. Ia menjulurkan lidahnya untuk menelusuri lekukan tulang rawan di telinga gadis itu dan menggunakan kesempatan saat Gain mengerang nikmat untuk melepas setelan one-piece yang dikenakan, sementara ia sendiri masih berpakaian lengkap.

Gain menyerah, sudah tidak ada gunanya ia memohon maupun mengelak, sentuhan Kyuhyun pada tubuhnya begitu nikmat dan Kyuhyun bilang ini bahkan belum inti permainannya? Sungguh ia bisa dibuat kewalahan jika pria ini memutuskan untuk mulai bermain ke menu utama kegiatan mereka.

Kyuhyun perlahan menurunkan kepalanya, sebelah tangannya mulai menyentuh pusat kenikmatan gadis itu sementara mulutnya kini meraup sebelah puncak dadanya dengan rakus, lidahnya dimainkan dengan lihai memutari puncak dada Gain, membuat gadis itu memekik tertahan karena rasa menggelitik nikmat yang dilakukan Kyuhyun di tubuhnya—oh, pria ini jelas sangat paham seluk beluk tubuh wanita dan bagaimana membuat korbannya ketagihan akan sentuhan panasnya. Hanya diperlukan sedikit hentakan dari jemari Kyuhyun di dalam pusat tubuh Gain untuk membuat gadis itu mengerang nikmat saat ia mencapai klimaksnya.

Tubuh Gain terkulai lemas di bawah Kyuhyun, pria itu menatapnya dengan tatapan sinis dan seringai nakal. “Sepertinya kau menikmati permainan pagi kita, baby.”

Gain mengangguk malu.

“Keluarlah, aku kehilangan minat.” Kyuhyun mengangkat tubuhnya dari gadis itu dan segera kembali ke balik kemudi mobilnya, ia merapikan jaket kulit hitamnya yang tadi sempat diremas gadis itu kemudian melemparkan setelan one-piece yang dilepasnya dari Gain. “Aku bosan dengan permainanmu, kau hanya diam saja seperti boneka.”

“Ne?” Rona merah segera memenuhi wajah gadis itu.

“Kubilang keluar! Kau sendiri yang tadi memohonku untuk berhenti.” Usirnya sinis. “Lekaslah, aku tak punya waktu seharian hanya untuk menunggumu memakai baju.”

 

*

 

Hal pertama yang muncul di kepala mahasiswa saat mereka sadar kelasnya akan diajar oleh seorang profesor adalah seorang paruh baya, dengan postur jalan bungkuk, kaca mata tebal menggantung di hidungnya dan rambut yang mulai memutih karena uban. Jadi ketika Cha Eungi melangkah ke dalam kelasnya, semua mahasiswa yang sudah duduk tertib di tempat masing-masing langsung menyimpulkan kalau ia adalah senior mereka yang belum lulus dari kelas ini.

Dari sudut matanya, Eungi memperhatikan bagaimana mahasiswanya saling menyikut satu sama lain saat mereka menyadari Eungi berjalan lurus ke arah meja dosen di depan kelas untuk mempersiapakan slide presentasi yang sudah diketiknya sejak minggu lalu. Ah, ini pun pemandangan yang sudah familiar baginya, tatapan para mahasiswa yang semi merendahkan seolah menantang Eungi untuk menunjukkan kebolehannya di depan kelas, seakan-akan mahasiswa ini merasa tersinggung karena diajarkan oleh seseorang yang usianya tidak terpaut jauh dengan mereka. Ini bukanlah kali pertama Eungi menjalani profesi sebagai dosen, maka ia pun sudah paham seluk-beluk untuk mengatasi masalah kesinisan dari mahasiswanya.

“Selamat pagi semuanya.” Eungi melangkah ke tengah muka kelas, “Aku akan memperkenalkan diri, namaku Cha Eungi dan aku akan menjadi dosen kalian dalam satu semester ke depan.” Ucapnya, Eungi cenderung menggunakan Bahasa yang tidak terlalu formal jika mengajar di depan kelas, dengan tujuan agar ia dan mahasiswanya sama-sama merasa nyaman tanpa ada gap yang kentara.

“Apakah anda tidak berada di kelas yang salah? Kelas foundation ada di gedung sebelah.” Seorang siswa dengan figur gempal menjawab dengan berani.

Eungi tersenyum pahit, ia menarik napasnya sebelum melanjutkan, “Apakah ini kelas desain berkelanjutan?”

Seorang mahasiswa yang terlihat paling culun di kelas mengagguk pelan kepada Eungi.

Well, kurasa aku berada di kelas yang tepat.” Ia berjalan menuju mejanya untuk mengambil pointer dan memulai perkenalan di kuliahnya. “Karena kelas ini adalah kelas studio wajib dengan beban kredit 6 SKS, maka kita akan lebih sering bertemu dibandingkan dengan kelas-kelas minor lainnya, jadi kuharap kita dapat bekerja sama dengan baik.”

Mahasiswa di hadapannya mulai membetulkan posisi duduk mereka dan satu per satu mengeluarkan buku catatan untuk menulis apa yang akan Eungi katakan.

“Karena beban tugas yang berat di kelas ini, maka aku akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari empat orang, kelompok ini akan berlaku sepanjang semester karena tugas yang kuberikan akan terus berkorelasi dengan tugas berikutnya.” Lanjutnya.

“Jumlah mahasiswa di kelas ini empat-puluh-dua orang, kyosu-nim.” Si anak gempal mengingatkan Eungi, “Pasti ada yang tidak kebagian kelompok berempat.”

“Jika itu masalahnya, maka dua orang terakhir yang tidak mendapatkan kelompok akan bekerja berdua. Aku tidak bisa menambahkan jumlah mahasiswa di dalam masing-masing kelompok, karena aku pun pernah menjadi mahasiswa sebelumnya—empat kepala sudah terlalu banyak untuk saling adu ego dan ide.” Jelasnya tegas, “Jadi kalian mau membagi kelompok sendiri, atau lebih baik aku yang membagi kalian?”

Kelas itu memutuskan untuk membagi diri mereka kedalam kelompok-kelompok sendiri, agar mereka bisa bekerja dengan orang-orang yang mereka saling kenal dan nyaman. Sepuluh menit kemudian Eungi sudah mengumpulkan daftar nama-nama yang ada di kesembilan grup di kelasnya. Eungi memanggil nama mereka satu per satu untuk lebih mengenal wajah mahasiswanya sekaligus menandai presensi kehadiran.

“Baiklah, di kertas terakhir ini hanya ada satu nama—Kim Junsu?” Ia menoleh untuk mencari mahasiswa mana yang belum mendapat seorang pun untuk berada di dalam kelompoknya. Mahasiswa berpenampilan culun yang tadi mengangkat tangannya, Eungi tersenyum kecil padanya untuk memberi sedikit semangat.

“Biar kuperiksa daftar presensi dulu, Junsu-ssi.” Matanya kemudian mencari nama yang belum ditandainya, “Cho Kyuhyun? Apa ia hadir?” Tanyanya ketika menemukan satu-satu nama yang belum ditandai.

Kelas menjadi riuh karena mahasiswa yang datang mulai menanyakan keberadaan seorang senior yang tidak mereka sangka masih saja tersangkut di kelas studio yang diperuntukkan untuk anak tahun ke-3 ini.

“Jadi Cho Kyuhyun tidak hadir hari ini?” Tegas Eungi.

Perhatian kelas teralihkan dari Eungi ke arah dentuman keras yang muncul dari pintu masuk, seseorang baru saja membuka pintu dengan kasar, diikuti dengan sosok yang lelaki masuk ke dalam kelas dengan langkah percaya diri lengkap dengan pembawaan yang penuh dengan kesan arogan, seolah-olah dia tidak merasa bersalah karena telah mengganggu jalannya perkuliahan. Lelaki ini terlambat tiga puluh menit dan sewajarnya ia tidak perlu menantang dosennya untuk mempersilakannya masuk, tapi lelaki ini tetap melangkah dengan yakin ke arah Eungi di depan kelas.

467460b2a2380427e1c6a75cafd61c1c

Gambar milik Park Seul

 

Lelaki ini menghentikan langkahnya kurang dari semeter dari posisi Eungi, ia mengamati wanita di hadapannya, meneliti tiap detail yang menyertai wanita yang kemungkinan besar adalah dosen barunya untuk kelas ini. Sedangkan wanita itu menatapnya balik dengan tatapan penuh kejengkelan, matanya menuntut penjelasan dari tingkah onar yang baru saja terjadi.

“Bisa kubantu?” Tanya Eungi, bersusah payah menyembunyikan kesinisan dalam nada bicaranya.

“Ng, kau bisa mencontreng namaku di daftar presensi itu.” Lelaki itu menunjuk tepat pada namanya yang tertera di daftar yang dipegang Eungi. Ia tidak mencoba untuk berbicara sopan dan formal sama sekali pada wanita yang di matanya terlihat terlalu muda untuk menjadi profesornya.

“Cho Kyuhyun-ssi?” Eungi menyeringai dan segera menulis nama Kyuhyun pada secarik kertas yang tertulis pembagian kelompok. Dalam hatinya ia merasa bersalah pada Junsu karena harus memasangkannya dengan Kyuhyun untuk tugas-tugasnya sepanjang semester ini. “Sekarang kau sekelompok dengan Kim Junsu—dan akan terus seperti itu sampai semester ini berakhir.”

“Aku tidak peduli, tandai saja namaku di daftar presensi itu.”

“Aku tidak akan melakukan itu, kau sudah melewati batas waktu toleransi yang diijinkan.” Sergahnya.

“Lalu?” Tantang Kyuhyun.

“Jadi.. tidak! Tapi kau kuberi dua pilihan: duduk dan ikuti sisa pertemuan kelas ini atau kita akan bertemu di pertemuan berikutnya.” Jawab Eungi santai.

Kyuhyun menarik sudut bibirnya untuk menunjukkan seringai merendahkan pada Eungi. Ia bukan lagi mahasiswa baru di kelas ini—bahkan ia sudah gagal melewati kelas ini sebanyak dua kali sebelumnya. Dosen sebelumnya bersikeras untuk tidak meluluskan Kyuhyun karena jumlah kehadiranya yang sangat minim dan tidak satu pun tugas dikumpulkan oleh Kyuhyun—tentu saja orang ini berhasil disingkirkan oleh Kyuhyun dari jejeran dosen di semester berikutnya.

“Kau tidak tahu siapa aku?” Tantang Kyuhyun dambil merendahkan tubuhnya hingga wajahnya dan Eungi berada pada posisi sejajar.

“Aku tahu siapa kau, kau adalah mahasiswaku yang gagal mematuhi peraturan. Berita baiknya, ini bukanlah kali pertama aku berhadapan dengan mahasiswa sepertimu,” Eungi balik menatap Kyuhyun dengan tatapan yang tidak kalah sinis. “Jadi pilihlah, duduk atau keluar.”

Ego seorang Cho Kyuhyun terluka dengan cepatnya, dipermalukan seorang wanita yang terlalu muda untuk menjadi dosennya, di depan kelas yang berisi juniornya—jelas memperburuk reputasinya yang memang sudah tercemar. Matanya menelusuri setiap detail di wajah wanita kecil di depannya. Dosen barunya ini jelas jauh lebih muda dari dosen terakhir yang ia singkirkan—bahkan terlalu muda untuk pantas dihormati olehnya. Tapi jika Kyuhyun mencoba menghapus kejengkelannya akan wanita ini, ia bisa melihat fitur-fitur yang membuat wanita ini menjadi cantik di matanya—dengan catatan wanita ini tahu cara untuk merawat dirinya.

Dilihat sekilas, Kyuhyun bisa menyimpulkan Eungi bukanlah seseorang yang menghabiskan banyak waktu untuk ke salon, atau memasang masker wajah, atau berdandan dan memperhatikan cara berpakaian. Hal ini terlihat dari gayanya yang hanya mengikat rambut panjang kecoklatannya dengan asal ke atas dan membalut lehernya dengan scarf tebal dengan berantakan, Kyuhyun yakin Eungi sangat membutuhkan bantuan fashion police dalam berpakaian.

“Ayahku akan mendengar tentang ini.” Desisnya hanya beberapa senti dari wajah Eungi, kemudian ia segera berbalik dan meninggalkan kelas—tidak lupa membanting pintunya dengan kasar.

Eungi mengigit bibirnya dan tak lama kemudian sebuah senyuman nakal muncul di wajahnya—senyuman yang muncul karena ia terhibur dengan aksi konyol mahasiswanya yang barusan, senyum yang sudah lama lenyap dari wajahnya. Ia harus berterima kasih pada Cho Kyuhyun karena telah berhasil menghiburnya dengan kelakukan kekanakan yang menggelikan, dalam hatinya ia tidak percaya kalau ia terjebak dengan seorang mahasiswa dengan persona Draco Malfoy.

Seketika Kyuhyun membanting pintunya, Eungi segera mempelajari nama Kyuhyun, perhatiannya teralih pada nomor induk mahasiswa Kyuhyun dan senyum di wajahnya semakin melebar.

Pagi harinya semakin terhibur ketika ia sadar Kyuhyun adalah mahasiswa angkatan 2006—yang artinya Kyuhyun hanya empat tahun lebih muda darinya—dan anak ini masih berjuang untuk lulus di tahun 2016, sepuluh tahun dihabiskan bocah itu untuk kuliah!

“Aish, aku harus berurusan dengan salah satu tipe veteran semester ini.” Gumamnya pada diri sendiri sebelum ia melanjutkan materi kelasnya yang sempat terganggu.

Advertisements

128 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 1

  1. Afa hyerin says:

    Annyong eonnie salam kenal… Afa hyerin imnida 22yh…

    Baru part awal tp aku jadi penasaran… Bahasa ug eonnie gunakan mudah ku mengerti eonnie.. Terus ceritanya mulai bikin penasaran gimana sih ini kelanjutannya…
    Wahhh kyuhyun oppa tinnggal kelas… Nggak kebayang deh…. Dinext nde eonnie

    Liked by 1 person

  2. laya says:

    Baca 1 part jd ketagihan untuk baca part berikutnya. Aku suka dengan gaya bahasa yang kakak pakai. Tapi maaf sebelumnya, saat aku baca ada kalimat yang menurutku pemilihan katanya kurang pas saat dibaca. Aku bukan orang yang mahir dibidang bahasa, tp sebagai pembaca aku merasa ada yg kurang sreg. Tp aku lupa dibagian yang mananya. Hee
    Sekali lagi maaf, kalau komentarku membuat kakak tersinggung. Aku tidak bermaksud utk itu.
    Aku selalu dilema kalau disuruh mengomentari ff yg sdh aku baca. Aku memang belum merasakan bagaimana susahnya menemukan ide cerita kemudian merangkainya yg berlanjut pada editing dan sebagainya. Tapi aku cukup mengerti bagaimana susahnya. Maka dari itu aku merasa kurang pantas mengomentari karya” para penulis ff, karena disini aku hanya sebagai reader yg tdk berkontribusi apa” pada karya” penulis.

    Liked by 1 person

  3. butterflyannisa says:

    hahaha.. dosen cha, ku mohon anda lebih bisa bisa bersabar menghadapi berandalan kayak kyuhyun…
    baru tahu kalau ada dosen ama mahasiswa nya yg umurnya hanya terpaut 4 tahun. daebakk

    Liked by 1 person

  4. Dyana says:

    Kyuhyun dan seorang Noona? Emmm… Penasaran… Mungkinkah akan terjadi aksi saling membully? Haha… Kyuhyun jelas merasa tidak suka di perlakukan buruk dia terlalu egois karena kedudukan ayahnya, dan dia pasti akan mencari cara untuk mengerjai dosen cantik kita…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s