After a Long, Long While – Part 3

aallw

 

Gambar milik Taecyeon, Haneul dan Kyuhyun

 

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Aeri, Ok Taecyeon, Cho Kyuhyun

Aeri mengerjapkan matanya untuk mencoba mencari sesuatu yang bisa dikenalinya dari ruangan asing tempat ia terbangun. Kepalanya terasa sangat berat dan seluruh tubuhnya bagai kehilangan tenaga. Dengan bersusah payah ia mengangkat tubuhnya, matanya segera menyesuaikan dengan penerangan redup yang diperoleh dari sedikit sinar matahari yang berhasil masuk melalui sela-sela gorden di kamar itu. Walau pikirannya kacau, Aeri berusaha keras untuk fokus dan mengingat apa yang telah terjadi padanya. Jelas ia ingat kelakuan cerobohnya semalam saat ia menegak berbotol-botol soju yang sukses dirinya mabuk berat, ia pun ingat alasan mengapa ia melakukan hal bodoh itu, tapi hal terakhir yang masih tersisa di memorinya hanyalah gambaran semu dirinya yang duduk di sebuah halte bus.

Ia menolehkan kepalanya ke samping, mencoba mencari petunjuk yang mengantarkan pada tempat ini. Rasa panik langsung menyerangnya ketika kemungkinan terburuk melintas di kepalanya—mungkinkah seseorang membawanya ke sini dan mengambil keuntungan dari dirinya yang tak sadarkan diri. Aeri segera bernapas lega saat melihat baju yang ia kenakan semalam masih melekat utuh di dirinya, hanya mantel musim dingin dan sepatunya saja yang tergeletak di lantai. Aeri kemudian mengintip pada sisi kosong di sampingnya, perasaan lega kembali menyambutnya. Tumpukan bantal yang masih rapi menunjukka bahwa tiada seorang pun yang tidur bersamanya semalam. Namun yang paling membingungkan baginya adalah keberadaan beberapa obat penawar mabuk, aspirin, serta sebotol air mineral yang tersedia di meja samping tempat tidurnya—mana mungkin Aeri sendiri yang membeli itu semua.

Hal berikutnya yang ia ingat adalah potongan mimpi indah yang semalam datang menghampirinya. Sebelum ini, hanya sekenerario buruk yang datang ketika pria itu menjadi bintang utama di alam bawah sadarnya, namun kali ini mimpi Aeri terasa begitu indah dan nyata. Di dalam mimpi itu, Kyuhyun ada di sampingnya, menatapnya dengan tatapan lembut yang selalu diberikan untuk gadis kesayangannya, pria itu mendekap Aeri ke dalam pelukan hangat yang lama Aeri rindukan, dan pria itu pun mencumbunya dengan luapan gairah yang telah lama dipendamnya. Di mimpinya, Aeri melihat Kyuhyun-nya kembali padanya, pria itu duduk di sampingnya semalam suntuk untuk menemani Aeri dan mengobati rasa kesepiannya.

Bayangan akan mimpinya begitu nyata, Aeri perlahan mengangkat lengannya, menyapukan jemari lentiknya ke bibirnya. Dalam hatinya ia pun membatin, alangkah indah hidup Aeri jika saja mimpi liar itu menjadi kenyataan.

Ia menepuk-nepuk dadanya dengan kasar sesaat setelah ia memperoleh kesadaran sepenuhnya. Rasa sesak yang semalam ia rasakan kembali datang menyerangnya. Seolah masih ketagihan dengan rasa sakit yang ia rasakan kemarin, momen pertemuannya dengan pria itu kembali terulang di kepalanya. Bagaimana pria itu kini terlihat semakin matang, langkahnya yang mantap dengan karisma yang selalu menyertainya, postur tubuhnya yang khas dan tatapannya yang selalu Aeri rindukan.

Hatinya mencelos seketika ia merutuki nasib malang yang selalu ikut serta dengan jalan hidupnya. Tidak cukupkah ia dicampakkan pria itu? Tidak cukup kah semua siksaan mental yang didapatkan dari keluarga pria itu? Masih kurang kah kesabaran dan kepasrahan dari dirinya? Masih harus kah Aeri berurusan kembali dengan pria itu sekarang? Tuhan tentu saja senang bercanda dengannya, sayangnya Aeri memiliki selera humor yang berbeda.

Ia menghabiskan enam tahun hidupnya untuk membuang kenangan akan pria itu jauh-jauh! Setiap kesibukan yang dijalaninya semata-mata hanya untuk mengalihkan pikirannya dari Cho Kyuhyun. Perlu proses yang lama—dan kejam—baginya untuk sampai pada tahap ‘menerima’. Aeri telah bersusah payah untuk melanjutkan hidupnya, untuk berhenti menyalahkan dirinya dan menahan dorongan gila untuk mengakhiri hidupnya. Tapi pagi ini, ia terbangun di sebuah tempat asing seorang diri dan dorongan keputusasaan itu datang kembali.

Ada kalanya ia berharap Kyuhyun akan mencarinya, di angan liarnya kadang Aeri membayangkan Kyuhyun akan datang kembali kepadanya, berlutut dan memohon maaf atas kekacauan yang diperbuat pria itu, Aeri memimpikan Kyuhyun akan datang lagi kepadanya untuk memintanya kembali ke dalam hidupnya. Singkat kata, Aeri ingin Kyuhyun juga merasakan apa yang ia rasakan. Ia ingin Kyuhyun juga merasa hancur tanpa Aeri di sampingnya.

Tapi kenyataan menampar Aeri tepat pada seluruh ego dan harapannya. Pria itu telah memiliki keluarga baru sekanag, pria itu terlihat bertanggung jawab dengan keluarga kecilnya dan terlebih lagi, ia terlihat bahagia.

Air mata lagi-lagi gagal dibendungnya. Aeri meraih bantal terdekat di sampingnya dan memeluk benda lembut itu erat-erat. Sudah lama ia tahu Kyuhyun telah berhenti mencintainya, ia pun tahu diri akan segala kekurangannya, Aeri juga paham alasan pria itu melayangkan surat cerai di hadapannya dan Aeri sudah lelah mengulang memori kelam akan malam disaat ia tahu prianya telah memulai hidup baru tak lama setelah mencampakkannya.

Tapi pria itu muncul lagi di hadapannya, dan ini adalah hal terkejam yang bisa Aeri bayangkan.

Dengan pikiran bingung dan perasaan yang masih kacau, Aeri menegak langsung semua obat yang tersedia untuknya, berharap paling tidak nyeri hebat di kepalanya bisa hilang dengan sekejap.

Aeri melirik pada ponselnya hanya untuk melihat tanda waktu yang tertera di layar. Pukul dua siang. Ia mendengus kesal dan kembali membanting tubuhnya ke kasur, matanya tetap terpaku pada benda kecil di tangannya untuk memeriksa beberapa panggilan tak terjawab dan puluhan pesan yang tidak sempat dilihatnya selama ia tidur tak sadarkan diri. Semua pesan dan panggilan yang masuk berasal dari satu nama—Ok Taecyeon.

Ada sedikit perasaan nyaman muncul di hatinya ketika melihat nama itu terpampang di ponselnya. Aeri membaca pesan-pesan yang ditinggalkan pria itu dan senyum kecil muncul di wajahnya saat membaca pesan marah sekaligus khawatir yang ada.

“Kau membolos tanpa kabar! Aku terpaksa harus menggantikan kelasmu karena aku yang tidak punya jadwal saat ini, tahu apa aku tentang menggambar!” Ujar salah satu pesan yang didapat Aeri.

“Aeri-ya, kau baik-baik saja? Mengapa tidak menjawab telponku?” Pesan lain dari Taecyeon dibacanya.

“Aku akan ke rumahmu seselesainya aku mengajar. Hey, lebih baik kau tidak sakit atau melakukan hal bodoh lagi! Aku akan sangat marah padamu jika itu terjadi.” Ancam pesan berikutnya.

Akhirnya dengan tubuh yang masih lemas, Aeri memutuskan untuk membasuh wajahnya dan menghapus air mata yang sejak tadi masih mengalir dari pelupuknya. Lebih baik ia segera keluar dari tempat ini dan kembali ke rumah atapnya yang lebih nyaman dan familiar.

“Wow, apa semalam aku berkeliaran dengan wajah seperti ini?” Gumamnya pada bayangannya di cermin. Wajah pucatnya nampak sayu dan bayangan gelap di bawah matanya tidak membuat dirinya tampak lebih baik.

Ia bisa melihat sekosong apa tatapannya saat ini, ekspresinya hampa, matanya penuh dengan emosi kepedihan yang selalu ia pendam seorang diri, hidungnya berair dari sisa-sisa air mata yang tadi mengusiknya dan bibir merahnya menambah kedataran pada keseluruhan tampilannya.

Aeri mengangkat tangannya untuk mengusap kedua pipinya yang masih pucat dan tanpa disadari ia menyapu lembut bibir merahnya lagi dengan jemarinya. Sekelebatan bayangan indah muncul di kepalanya, banyangan yang nampak sangat nyata—namun juga bayangan yang ia tahu nihil tingkat realitasnya.

“Oppa, kau benar-benar hebat.” Bisiknya pada diri sendiri, “Kau membuatku jatuh cinta setengah mati padamu, kau meyakinkan ku untuk menggantungkan seluruh hidupku padamu, dan kau mencampakkanku dengan cara yang menurutmu sopan namun sangat kejam bagiku.”

Aeri kembali terisak ketika gambaran kisah cinta mereka terulang bagai film hitam-putih yang sudah mulai rusak.

“Lebih hebatnya, kau hadir kembali di hidupku. Dengan cara santaimu, dengan tatapan dinginmu, dengan hidupmu yang baru—dan kau masih saja mampu membuyarkan kewarasanku.” Lanjutnya.

Aeri yang semula berniat untuk menghapus air matanya kini hanya tertunduk tak berdaya di depan cermin yang menjadi saksi bisu dari kepahitan hidupnya.

Di tengah renungannya, perlahan Aeri menengadahkan wajahnya untuk menatap dalam-dalam bayangannya sendiri. Entah dorongan apa yang ada pada dirinya, entah seberapa besar rasa sakit dan putus asa yang hinggap di hatinya, Aeri teringat akan sebuah pilihan yang selalu ia miliki, pilihan baginya untuk meringankan sedikit kesakitan yang meradang di dalam hatinya.

Ia meninggalkan kamar mandi untuk segera kembali ke kamarnya, meraih tas kecil yang di dalamnya tersimpan sebuah obat yang paling dibutuhkannya saat ini—obat penenang yang sudah lama tak disentuhnya.

 

*

 

Taecyeon mulai frustrasi dengan wanita yang sejak tadi masih saja tidak menjawab panggilan telponnya. Pagi tadi ia masih bisa maklum kalau Aeri tidak mengangkat telponnya, tapi hingga matahari tenggelam, wanita itu belum menampakkan batang hidungnya, padahal Taecyeon sudah mengetuk pintu rumahnya sejak jam kerjanya berakhir.

“Aish Aeri-ya! Apa susahnya menekan tobol hijau di ponselmu!!” Hardiknya kesal pada poselnya sendiri.

Lagi-lagi telpon hanya tersambung ke operator dan ditujukan ke voice-mail.

Ia selalu mersa resah ketika Aeri mulai berulah seperti ini, ada masa di mana wanita itu benar-benar lenyap dari peredaran dan Taecyeon sudah hafal dengan berita buruk yang menyertai hilangnya Aeri. Entah sudah berapa kali wanita itu berusaha menyakiti dirinya sendiri, sejujurnya Taecyeon pun sudah hilang akal bagaimana cara untuk benar-benar membuat wanita itu ceria kembali.

Dalam enam tahun ia mengenal Aeri, baru akhir-akhir ini lah Aeri bisa tersenyum dengan tulus, ia mulai bisa tertawa dan sikapnya ke Taecyeon pun tidak sekaku dulu. Baru-baru ini juga wanita itu mencetuskan ide gila untuk ikut Seoul marathon—dengan dalih sebagai cara untuk melupakan masa lalunya.

Masa lalunya.

Taecyeon kadang dibuat benar-benar bingung dengan kisah wanita itu. Aeri tidak pernah benar-benar terbuka padanya, hanya penggalan demi penggalan kisah masa lalu wanita itu yang Taecyeon ketahui. Aeri selalu bungkam ketika topik pembicaraan mereka mulai mengarah ke bahasan tentang masa lalunya, wanita itu selalu berkata kalau ia sangat malu dengan kisah yang menyertai dirinya. Taecyeon pun tidak pernah menuntut Aeri untuk menjabarkan asal-usulnya, siapa dirinya, di mana keluarganya—ia telah bersumpah untuk menerima Aeri dengan seluruh kekurangan dan misteri yang menyertai wanita itu.

Lamunan Taecyeon terusik aleh bunyi ponselnya, ia segera mengangkat menjawab panggilan dari nomor yang sejak tadi dihubunginya.

“Ya! Kau di mana? Aku di depan rumahmu, biarkan aku masuk agar aku bisa membuatkan makanan jika kau mau.” Cecarnya.

Yeoboseyo? Dengan siapa saya bicara?” Suara serak seorang wanita terdengar dari sana.

“Ne? Aeri-ya?”

“Aku menghubungi nomor terakhir yang menghubungi ponsel ini.” Jelas wanita itu.

“Di mana Aeri?” Taecyeon langsung bangkit dari pijakan tangga tempatnya duduk.

“Aku seorang pembersih kamar di sebuah hotel daerah Sinchon. Wanita pemilik ponsel ini seharusnya sudah check-out jadi aku masuk begitu saja ke dalam kamarnya, lalu aku menemukannya dalam keadaan tak sadarkan diri dengan mulut penuh busa..”

“DI MANA DIA SEKARANG?!” Taecyeon melangkah turun untuk segera keluar dari perkarangan rumah atap Aeri.

“Paramedis sedang dalam perjalanan ke sini, aku merasa aku harus memberitahu seseorang yang ia kenal, tapi hanya nomormu lah yang ada di kontaknya.”

Ahjumma, kumohon beri tahu aku kalau Aeri masih bernapas.” Suara Taecyeon tercekat dan ia segera mengambil langkah besar untuk mencari taxi untuk mengantarkannya pada Aeri. “Katakan pada wanita itu bahwa aku akan segera ke sana, kumohon.”

Taecyeon dapat mendengan suara sirine ambulans dari sisi lain teleponnya, sepertinya petugas hotel ini bertindak cukup cepat untuk menyelamatkan Aeri. Dari ponselnya, Taecyeon bisa mendengar suara ahjumma yang meneleponnya berbincang singkat dengan pihak paramedis untuk segera membawa Aeri ke rumah sakit terdekat.

Ahjumma, ke mana Aeri akan dibawa sekarang?” Taecyeon bertanya seraya melambaikan tangannya untuk memberhentikan taxi yang lewat di hadapannya.

Hongdae University Hospital.” Ujar wanita itu, “Aku akan menitipkan ponsel wanita ini pada seorang paramedis di sini, maaf aku tidak bisa menemani wanita ini.”

“Baiklah, aku akan menemuinya langsung di sana. Terima kasih ahjumma, terima kasih karena kau sudah masuk begitu saja ke kamarnya—aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika anda terlambat menemukannya.” Taecyeon otomatis membungkuk untuk berterima kasih.

Ia segera mematikan ponselnya dan meminta supir taxi untuk membawanya ke tempat Aeri berada. “Kumohon menyetirlah secepatnya ke tempat itu ahjussi.” Pintanya dengan nada panik.

Berbagai asumsi dan bayangan buruk menghantui pikiran kalutnya, apa lagi yang terjadi pada wanita itu sekarang? Kemarin ia masih baik-baik saja. Bahkan akhir-akhir ini Aeri sering berinisiatif mengajak Taecyeon untuk pergi makan atau menonton, perkembangan yang sangat pesat bagi wanita yang telah lama dihinggapi rasa depresi mendalam.

Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menghapus bayangan buruk tentang kondisi Aeri saat ini. Ia bertemu Aeri saat wanita itu melompat bebas ke dalam Sungai Han dari jembatan, ia pernah melihatnya mempersiapkan tali untuk mengakhiri hidupnya, bahkan ia menemukannya dalam keadaan berlumuran darah dari hasil nekat wanita itu yang mengiris nadinya. Semua hal buruk sudah dilihatnya, dan sejujurnya Taecyeon tidak pernah siap untuk mendengar berita semacam ini—siapa yang akan pernah siap mendengar berita kalau orang yang dicintainya terus-terusan mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Setibanya Taecyeon di rumah sakit, ia langsung bergegas ke arah ruang gawat darurat dan seorang suster segera menghantarkannya ke bagian pendaftaran untuk mengisi data-data Aeri. Menurut informasi yang diberikan sang suster, Taecyeon dapat bernapas sedikit lega karena dokter berhasil menyedot isi perut Aeri dan memberikan infus yang berfungsi menetralkan kandungan dalam darahnya.

Pria itu membungkuk sopan untuk berterima kasih pada sang suster dan kemudian mengisi satu per satu data diri Aeri yang harus diisinya. Ia mendengus sinis, ini bukan pertama kalinya ia berada dalam posisi ini, bukan juga pertama kalinya ia mengisi biodata wanita itu di formulir-formulir rumah sakit—tapi satu hal selalu sama, ia tidak pernah bisa mengisi lebih dari kolom nama, alamat, nomor telepon dan golongan darah.

Ia tidak tahu riwayat penyakit wanita itu, apakah Aeri memiliki alergi tertentu, yang ia tahu hanya wanita itu tidak memiliki satu pun keluarga yang bisa dihubunginya dan Taecyeon selalu menerakan nomornya sebagai nomor darurat yang dapat dihubungi jika terjadi sesuatu dengan Aeri. Karena ia tahu wanita itu sebatang kara.

“Permisi, apakah anda wali dari pasien yang tadi diangkut dengan ambulans dari hotel Sinchon?” Sapa seorang berpakaian dokter dengan hati-hati.

Taecyeon mengangkat wajahnya dari formulir biodata Aeri dan segera membenarkan pernyataan dokter tersebut.

“Perkenalkan, namaku dokter Ahn.” Dokter itu membungkuk, Taecyeon membalas dengan sopan.

“Apa dia tertolong?” Tanya Taecyeon.

Dokter Ahn mengangguk, “Untung saja kondisinya tidak terlalu fatal dan dia pun segera ditemukan, pertolongan pertama bisa diberikan secepatnya. Saat ini pasien sudah siuman, namun mengingat alasan mengapa beliau dibawa ke ruang daruratku, aku harus berdiskusi sedikit dengan anda.”

Taecyeon memadang dokter di depannya dengan heran. “Maksud anda?”

Dokter Ahn merogoh saku jas putihnya dan mengeluarkan sebuah botol obat bening kecokelatan yang dilabeli dengan nama Aeri. “Apakah anda tahu bahwa pasien memiliki akses untuk obat-obatan ini?”

Taecyeon mengangguk, “Kawanku memang mengidap depresi dan sesekali dia diberi resep obat penenag oleh psikiaternya.”

“Aku paham kalau begitu.” Dokter Ahn mengulurkan obat itu kepada Taecyeon, “Bagaimana pun juga, temanmu tidak seharusnya menegak pil anti-depresan ini banyak-banyak sekaligus. Alasan beliau dibawa ke sini adalah karena over dosis, tim kami berhasil menyedot seluruh isi perut pasien dan sekarang sudah diberi infus penawar.”

Pandangan Taecyeon terpaku pada botol pil di tangannya, jadi inikah penyebabnya kali ini?

“Anda dapat menemuinya sekarang karena pasien sudah siuman,” Lanjut dokter Ahn, “tapi saranku, cobalah untuk tidak membicarakan topik yang berkorelasi dengan kejadian ini. Aku hanya seorang dokter umum dan tidak memiliki izin psikiatris, tapi aku bisa menyimpulkan bahwa wanita di meja emergensiku tadi sedang ada dalam keadaan terguncang.”

Taecyeon hanya mengangguk pelan, mencoba menahan emosinya yang semakin memuncak.

Setelah memberikan beberapa keterangan tambahan, akhirnya dokter Ahn mengantarkan Taecyeon menuju ruang rawat sementara di mana Aeri berada. Jantung pria itu serasa diremukkan dengan kasar seketika pandangannya beradu dengan tatapan hampa dari wanita itu. Aeri berbaring dalam posisi setengah duduk sambil menyandarkan punggung ke tumpukan bantal di belakangnya.

Dengan cepat Aeri mengalihkan pandangannya dari Taecyeon. Ia terlalu malu untuk menghadapi pria yang lagi-lagi datang di sampingnya saat ia berada dalam kondisi terburuk di hidupnya. Ini bukan kali pertama bagi Taecyeon untuk menjenguk Aeri di dalam ruang darurat, tapi setiap pertemuan yang terjadi di ruangan ini selalu menghasilkan rasa bersalah yang mendalam bagi Aeri.

“Kau—“ Taecyeon mencoba bicara, tapi napasnya tercekat melihat kondisi mengenaskan dari wanita di depannya.

Aeri menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan ekspresi lemahnya dan menyelamatkan sisa-sisa harga diri yang masih melekat padanya.

Melihat tindakan Aeri yang tetap tenang telah membuat emosi yang sejak tadi dibendung Taecyeon naik ke permukaan, ia sudah lupa akan peringatan dokter untuk menghindari topik-topik sensitif dengan Aeri. Taecyeon mengangkat tangannya yang masih menggenggam obat penenang Aeri dan menyodorkannya langsung ke depan wajah wanita itu.

“Apa ini? Kalau aku tak salah ingat, kau bilang padaku bahwa kau sudah berhenti mengkonsumsi obat ini.” Cecarnya.

Aeri hanya tertunduk lesu dan mengumam kata maaf dengan pelan.

“Ya! Kau mau mati, hah?!” Bentak pria itu dengan suara tertahan. “Apa lagi cara yang akan kau lakukan setelah ini?”

“Ma—maafkan aku Taec, aku..”

Taecyeon membanting botol obat yang ada di tangannya ke lantai dengan kasar. Suara hentakan antar botol obat dan lantai linoleum yang beradu menyentakkan Aeri dari kondisi setengah sadarnya—ia tahu seberapa murka pria di hadapannya.

“Aku sungguh tak paham dengan dirimu Aeri-ya! Kau bilang padaku kalau depresimu sudah membaik, kau tertawa bersamaku, kau meyakinkanku bahwa kau sudah benar-benar sehat dan kau pun mulai bertindak positif dengan hidupmu. Mengapa sekarang kau berjalan mundur lagi? Kenapa aku masih saja mendapatkan telepon yang membuat jantungku berhenti berdetak dan kenapa masih saja kudengar informasi kalau kau berusaha mengakhiri hidupmu dengan cara konyol!?” Lanjutnya masih dalam amarah yang ditahan.

“Aku.. aku tidak tahu Taec.” Balas wanita itu lemas, “Yang kutahu, hatiku berteriak kesakitan dan hanya obat itu yang kumiliki untuk mengobati lukaku.”

Taecyeon mendengus sinis, “Kalua begitu sebaiknya aku pun meminum obatmu!” pria itu membawa tangannya untuk menepuk pelan dadanya, “Kau kira hal ini tidak menyakitkan untukku? Aku berusaha mati-matian untuk menjagamu tetap bernapas dan kau pun tak pernah kehabisan akal untuk terus-terusan mencoba mengakhiri hidupmu?”

“Aku tidak berniat mengakhiri hidupku.” Sergah Aeri, “Sungguh, aku hanya meminumnya seperti aku meminum obat penghilang rasa sakit lain.”

“Kau berharap aku percaya pada sergahanmu? Apalagi kali ini? Kau merasa kesepian lagi? Kau merasa kecil? Kau merasa kau tidak berguna? Atau kau malu dengan masa lalumu? Atau—“

“A—aku..”

“KAU ANGGAP AKU INI APA?!!” Taecyeon meninggikan suaranya seketika emosinya membuncah.

Aeri tersentak oleh nada bicara Taecyeon yang tinggi, ini bukan pertama kalinya pria itu kehilangan kendali akan kebodohan yang dilakukannya, tapi setiap amarah yang keluar dari mulut pria itu selalu mengena di hati Aeri—karena ia tahu apa yang Taecyeon katakan seluruhnya benar.

“Aku menyerah Aeri-ya.” Kata-kata itu dihanturkan seiring dengan helaan napas panjang. “Aku menyerah untuk menjagamu tetap bernapas. Sepertinya hanya aku manusia yang berharap jantungmu tetap berdetak, hanya aku yang ingin kau tetap bernapas dan hanya aku yang berjuang untuk menjagamu tetap hidup di duniaku.”

Aeri mengangkat wajahnya, matanya menelusuri guratan-guratan kepedihan yang semakin nyata di wajah tampan pria itu. Sorotan matanya penuh dengan kepedihan dan genangan air mata yang tertahan sudah cukup menyampaikan isi hati pria itu—bahwa ia juga sama tersakitinya dengan Aeri.

“Aku akan mengurus surat-surat tindakan daruratmu.” Putus Taecyeon, “Lakukanlah apa yang kau mau, aku akan belajar untuk tidak peduli.”

Taecyeon berbalik dan dengan berat hati mengambil langkah untuk keluar dari ruangan Aeri, baru dua langkah yang diambilnya ketika suara lirih Aeri terdengar.

“Dia.. dia kembali.” Ujar Aeri lirih. “Apa yang harus kulakukan? Aku.. bingung.”

Tangisnya langsung pecah seselesainya Aeri mengungkapkan hal yang mengganggu pikiran dan hatinya sejak kemarin. Ia sadar bahwa deritanya bukanlah urusan Taecyeon, ia pun tahu kalau kepedihan yang ia rasakan tidak ada sangkut pautnya dengan hidup pria yang telah berjuang untuk menjaganya. Aeri tidak mau menjadi wanita egois yang terus-menerus membebani Taecyeon dengan kepedihannya, tapi hanya pria itu satu-satunya teman yang ia miliki untuk berbagi.

Langkah pria itu terhenti, ia mengambil napas dalam-dalam dan berbalik untuk menatap wajah Aeri yang sudah bersimbah air mata.

“Lalu? Kalau pria itu kembali, apa kau akan membiarkannya mengacak-acak lagi hidupmu yang sudah susah payah kau tata?” Tantangnya.

“Aku tak tahu, aku benar-benar bingung.” Isak Aeri.

Taecyeon menghela napasnya, detik berikutnya ia melangkah mendekat ke sisi tempat tidur Aeri, ia mendudukkan dirinya di sisi Aeri dan tanpa aba-aba, pria itu langsung mendekap tubuh mungil Aeri di dada bidangnya.

Tangisan Aeri semakin menjadi seiring dengan bertambah eratnya dekapan pria itu disekeliling tubuhnya. Bertapa egois dirinya saat ini, menyandarkan diri pada seorang pria yang setia menjaganya untuk menangisi pria lain yang belum berhasil ia hapuskan dari hatinya.

“Aeri-ya, aku tahu aku bukan dia, dan aku tak akan pernah menjadi dirinya.” Ucap Taecyeon dengan suara tercekat, air mata di pelupuknya mulai mengalir pelan di wajah tampan pria itu. “Tapi aku bersumpah, aku tidak akan membuatmu hancur seperti ini jika kau memberiku kesempatan untuk berada di sisimu.”

“Maafkan aku.” Balas Aeri pendek. “Aku tak pantas..”

Taecyeon mengeratkan dekapannya pada tubuh Aeri, menggunakan satu tangannya untuk membelai rambut panjang wanita itu dan tangan satunya lagi mengelus lebut punggunya yang bergetar karena tangis.

“Maafkah kata-kataku sebelumnya. Aku marah padamu karena aku terlalu frustasi dengan tindakan bodohmu, aku tidak sungguh-sungguh Aeri-ya—aku tidak akan pernah siap kehilanganmu.” Bisiknya lembut disela isakannya.

Aeri memenjamkan matanya, entah dari mana asal keberanian yang hinggap di benaknya, wanita itu memanatapkan niatnya dan berkata, “Aku akan terdengar sangat kejam dan egois sekarang, tapi kumohon jangan tinggalkan aku—hanya kau satu-satunya teman yang kumiliki.”

“I’m not going anywhere.” Balas Taecyeon, “Ambil lah waktu yang kau butuhkan sebanya-banyaknya. Aku selalu berdiri tepat di belakangmu jika kau berubah pikiran.”

Senyum kecil muncul di wajah wanita itu, “Jangan membuat janji yang tak bisa kau tepati.” Ancamnya.

Taecyeon terkekeh kecil, “Jangan mengajukan permintaan yang tak mungkin kutolak.”

Advertisements

31 thoughts on “After a Long, Long While – Part 3

  1. Yulia says:

    Yaampun Aeri, gak nyangka punya riwayat depresi.
    Tekanan hidup yg kejam membuat dia seperti itu
    Dan karena Aeri bertemu Kyuhyun sehingga luka lama yg Aeri kubur dalam-dalam selama ini harus kembali terbuka
    Yaampun Aeri sampe nekat minum pil anti depresinya melebihi dosis
    Uh untung Aeri cepat mendapatkan pertolongan
    Taecyeon bener-bener berhati malaikat, dia sabar banget menghadapi Aeri
    Semoga kedepannya Aeri bisa lebih hidup dan bahagia bersama Taecyeon
    Masih penasaran sama masa lalunya
    Apa yg sebenarnya keluarga Kyuhyun lakukan terhadap Aeri?
    Kyuhyun yg mencampakan Aeri?
    Kayanya part selanjutnya butuh banyak penjelasan
    Oke ini komennya udah terlalu panjang, maafkan daku ya author
    semangat terus ya, ditunggu kelanjutannya

    Liked by 1 person

    • ssihobitt says:

      hihihi.. sabar ya.. ini bakal rada slow-pace sih ceritanya (gaya cerita aku rata-rata slow-pace semua).. tapi mudah-mudahan dikau tidak bosen baca dan nunggunya~~ masih kaku nih translatenya, jadi perlu banyak editing di sana-sini -__-

      Like

  2. Afellay Kanggun says:

    pengen tau masa lalu kyuhyun sama aeri, gimana aeri dicerai sama kyu, apa penyebabnya bla bla bla… ditunggu next chapter nya yaa kak…

    Like

  3. sukhwi says:

    hadeuh .kalo bunuh diri ga dosa kayanya udah punah manusia ya ..tapi kali ini aeri emang ga sengaja kali ya maksudnya pengen nenangin diri dengan minum obat penenang di luar dosis ..hmm udahlah lupakan kyuhyun..btw ini cast utamanya siapa? taec atau kyu?

    Like

  4. Imama says:

    Sesak sesak hatiku hiks hiks…
    Aeri betapa beban penderitaan yg kau alami sungguh mrnyakitkan. Aeri bukalah hatimu untuk taech , lupakanlah si brengsek kyuhyun tidak pantas dia kau tangisi karena dia sudah mencampakkanmu

    Like

  5. Mie says:

    Ahhh kesal kesal kesal kesal sma kyuhyun.. ternyata dy mantan suami aeri… knapa dy tega tinggalin aeri.. aeri pun lemah gk bsa move on dei kyu.. benar2 buat emosi pembaca ni chingu hehehe

    Like

  6. syalala says:

    ko sedih sih :(( kyuhyun kamu apakan aeri huwaaaa tp ya gabisa boong sih itu kyuhyun ttp masih cinta kan sama.aeri huhu sedihhhhhh kesian taecyeon juga loh ih ampunnnnnnn

    Like

  7. Dorothy_kyu says:

    Sesek rasanya liat Aeri yang sampe kaya gitu
    Trus salut sama Taec yg sabar banget bangett
    Makin penasaran sih ada apa Kyu sama aeri dulunya sampe jadi kaya gini

    Like

  8. park eun kyo says:

    Omo ternyata aeri depresi,betapa tersiksax dy kayax pas ditinggalin kyuhyun,aishh kyu kau benar2 tega😭😭 aq tau pasti berat buat kel cho kalo aeri gak bs punya keturunan tp masa kyu sndri gak pertahanin aeri sih😭 mkin penasaran sm cerita masa lalu aeri am kyu><

    Like

  9. Seo HaYeon says:

    aku juga merasa seketika hidupku berasa diacak-acak -_- omo.. pilunya… Tak tau lh bisa komen apa.. komennya mw blg Kakak Authornya superr JOSS dah! 😀 next next next

    Like

  10. ByunSoo says:

    aku harus komen gimana ini……….Baper kesel sedih campur aduk,wae wae wae??
    apakah sedalam itukh rasa sakitmi aeri,sakit banget si, serasa dir sendiri y ngejalanin khidupannya aeri,hah semangat buat kamu taec,jga aeri jgn sampe trjdi hal terburuk lg dlm hidupny

    Like

  11. arisa57 says:

    .kenapa kyu ninggalin aeri? terkesan masih cinta tuh 😯
    .apa jangan2 aeri gk bisa ngasih anak sedangkan kyu dituntut keluarganya buat punya penerus keluarga cho?? ah tapi bikin gemes 😑
    .njut lanjut baca..semangat terus buat kakak ssihobitt 😄

    Liked by 1 person

  12. lestari says:

    Ya ampun aeri sampe minum obat anti depresan saking depresi nya ke kyuhyun, kondisi jiwa mental psikis nya udh over gara2 kyu. Tp kyu nya anteng2 aja, apa blm keliatan

    Liked by 1 person

  13. Dyana says:

    Tentu saja ini berat untuk Aeri, mantan suami yang masih dia cintai kembali di hadapannya dengan kebahagiaan (setidaknya menurut Aeri) jelas dia frustasi, kasihan Aeri, tp aku ttp penasaran knp mereka bisa cerai?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s