After a Long, Long While – Part 2

 

aallw
pict belongs to Taecyeon, Haneul, and Kyuhyun

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Aeri, Ok Taecyeon, Cho Kyuhyun

 

Aeri sedang sibuk menata krayon-krayon serta alat gambar yang akan digunakan untuk kelas di siang hari nanti, perhatiannya terpusat penuh pada berbagai pilihan warna yang ada. Ia harus merapikan dan mengelompokkan kembali alat-alat menggambar yang telah diacak-acak oleh kelas kemarin. Konsenterasinya terusik oleh ketukan halus di pintu kelasnya, Aeri menatap pada jam dinding di muka kelas dan menyimpulkan bahwa tamu yang dating di pagi itu pasti lah orang tua muridnya yang bermasalah kemarin.

Ia menyahut pelan dan segera meletakkan krayon di genggamannya untuk membukakan pintu. Senyum statis yang selalu ditampilkan untuk siapa pun disiapkan dengan baik di wajahnya dan dengan sigap ia segera menarik daun pintu untuk mengijinkan tamunya masuk.

Momen ketika matanya beradu dengan mata gelap tajam di hadapannya, adalah momen ketika jantungnya serasa direnggut dari rongga dadanya. Pria di mimpinya itu kini berdiri tegak di hadapannya, menatapnya balik dengan kebingungan yang sama.

Pria itu berdiri di hadapannya dengan ekspresi kosong dan dingin seperti yang selalu ia ingat. Mereka bertatapan sesaat, mencoba mengerjapkan mata masing-masing beberapa kali hanya sekedar untuk memastikan apa yang mereka lihat bukanlah halusinasi semata. Detik ketika ia sadar bahwa Cho Kyuhyun memang benar pria yang berdiri di ddepannya menjadi detik di mana ia merasa butuh topangan lain untuk membantunya berdiri.

Napasnya tertahan, seiring matanya perlahan mengamati pria di depannya dari ujung kepala hingga ujung kakinya, dan hatinya pun mencelos. Sedikit banyak yang berubah dari pria ini, rambutnya tidak lagi acak-acakan seperti yang ia ingat, guratan di wajah tampannya semakin ketara seiring bertambah usianya, tatapan mata elangnya tetap tajam, rahang tegasnya, bahunya yang lebar serta mantel musim dingin yang dikenakannya membuat tubuhnya terlihat lebih tinggi dari yang sesungguhnya. Pria di hadapannya masih saja tetap menawan, masih saja tetap mengagumkan di matanya, dan pria ini masih saja mampu mengacak-acak detak jantungnya.

“A—aku ke sini untuk Eunjung.” Kyuhyun yang pertama sadar dari keterkejutannya.

Aeri masih menatapnya dengan bingung sementara dalam hatinya ia berharap ini hanya bagian lain dari mimpi buruknya. Memorinya akan pria ini sudah cukup buruk dan menyakitkan tanpa perlu ia mengetahui fakta baru—bahwa pria ini adalah ayah dari salah satu muridnya.

“Aeri-ya?” Kyuhyun membuyarkan lamunan Aeri.

Aeri mengerjapkan matanya kembali sebelum mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdebar tk beraturan. “N—ne, anyeonghaseyo. Aku—aku guru seni Cho Eunjung, tuan Cho.”

Wanita ini bisa berkata apa pun yang ia mau, ia bahkan berhak mendamprat Kyuhyun dengan berbagai kata kasar, ia bisa saja membanting daun pintu tepat di wajah pria itu, atau bahkan menamparnya. Tapi Aeri hanya memilih untuk menunduk lesu dan bersikap formal kepada Kyuhyun—dan menurut Kyuhyun opsi yang dipilihnya lebih buruk dan menyakitkan bagi egonya.

“Tuan Cho?” Kyuhyun mendengus. “Jadi kau mau memanggilku dengan sebutan itu?”

“Itu prosedur standar, tuan.” Aeri membungkuk sopan dan bergeser dari posisinya untuk membiarkan Kyuhyun masuk ke kelasnya. Sepertinya Aeri harus memberi penghargaan pada dirinya sendiri karena masih mampu tampil tegar walau pun dalam hatinya dia sedang kalut sekarang.

Kyuhyun sedikit ragu dengan langkahnya, tapi perhatiannya dengan cepat teralihkan pada coretan merah dan besar di sudut belakang kelas. Matanya membulat dan mulutnya menganga lebar seketika ia sadar kalau itu ulah anaknya.

“Itu ulah Eunjung?” Ia berbalik menatap Aeri dengan mukan tak percaya sementara tangannya menunjuk kea rah dinding yang dimaksud.

Aeri mengangguk pelan. Ia masih menggenggam pintu dengan erat, seolah seluruh bobot tubuhnya ia sandarkan di sana.

Kyuhyun menggosok mukanya frustrasi. Kini ia paham kenapa pihak sekolah sampai memanggilnya, anaknya sudah kelewatan. Eunjung mencoret tembok sekolah dengan spidol merah dan mengumpat kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan anak berusia 6 tahun di dinding.

“Sore ini dinding itu akan dicat ulang.” Aeri memberanikan diri untuk bicara. “Tapi yang ingin kudiskusikan adalah tentang perilaku anak anda, tuan Cho.”

Aeri menggigit bibirnya sendiri sebagai usaha untuk menahan rasa perih yang dirasakan di hatinya. Demi tuhan, kenapa ini sangat menyakitkan. Ia kira Kyuhyun sudah cukup kejam ketika mencampakkannya, tapi mengetahui bahwa Eunjung adalah anak kandungnya, ternyata lebih menyakitkan bagi Aeri.

“Aeri-ya,” Kyuhyun berkata pelan, “Dia kubesarkan di Amerika dan sudah merupakan salahku karena aku tidak mengenalkannya dengan Bahasa Korea sejak awal. Kau pasti paham bukan kesulitan yang ia alami?”

Mata wanita itu membelalak kaget, bagaimana bisa pria di depannya memanggil namanya dengan santai, seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.

Kyuhyun mendekatkan langkahnya ke arah Aeri, menundukkan wajahnya perlahan untuk menatap mata biru teduh wanita itu dalam-dalam. “Kita berdua tahu seberapa sulitnya beradptasi di lingkungan baru, aku tidak mencoba membela Eunjung, karena jelas apa yang dia lakukan memang keterlaluan. Aku hanya memohon kesabaran dan pengertianmu.”

Aeri masih terpatung di tempatnya. Ada bagian dari dirinya yang ingin tetap bersikap professional, namun bagian lain menyuruhnya untuk ikut masuk ke dalam pembicaraan santai yang Kyuhyun coba lakukan.

“Aku paham, tuan Cho.” Akhirnya ia memilih untuk professional. “Tapi tugasku di sini juga menjembatani antar siswa, aku bisa terima umpatan kesal anakmu dan coretan di tembok itu bukan masalah besar bagiku. Masalah utamanya adalah karya seorang siswa lain dirusak dan aku harus bersikap adil.” Jelasnya.

Kyuhyun menatap Aeri dengan pandangan kosong. Boleh saja ia terlihat cool saat ini saat mencoba membela anaknya, tapi ia sadar betul setiap penekanan pada kata tertentu yang Aeri tujukan untuknya. Aeri bukan satu-satu orang yang harus berjuang melawan emosinya saat ini, Kyuhyun pun harus berusaha sekuatnya untuk tetap menjaga ekspresi muka datarnya—walau hatinya berteriak untuk merengkuh wanita di depannya ke sisinya.

“Aku akan menegurnya lebih keras masalah perusakan karya, dan aku pun akan membiasakan Eunjung untuk menggunakan Bahasa Korea di rumah.” Putus Kyuhyun.

Aeri mengangguk pelan, “Baiklah, kurasa tujuan dari pertemuan ini sudah tercapai. Terima kash atas kerja samanya.”

Kyuhyun berdeham pelan, “Kalau begitu aku boleh pamit sekarang?”

Aeri menggigit bibirnya lagi sembari mengumpat dalam hatinya. Bagaimana mungkin ia justru menginginkan Kyuhyun untuk berada di sini sedikit lebih lama?

Kyuhyun membungkukkan badannya sedikit ke arah Aeri dan segera melangkahkan kakinya ke pintu. Gagang pintu baru saja akan disentuhnya, tapi tanpa komando, mulutnya mentuturkan kalimat yang sejak tadi ingin diucapkannya.

“Aeri-ya, apa kau baik-baik saja?” Bisiknya lirih.

Wanita itu punya beberapa pilihan jawaban untuknya: ‘aku tidak baik-baik saja’, ‘beraninya kau bertanya sesantai itu’, ‘aku melakukan beberapa kali usaha bunuh diri karenamu’, ‘melihat wajahmu masih sangat menyakitkan untukku’. Tapi yang keluar dari mulut mungilnya hanya sanggahan yang selalu ia lontarkan setiap pertanyaan macam itu muncul.

“Aku sangat baik, tuan. Terima kasih.”

Kyuhyun berbalik, air mukanya kini sudah berubah. Tidak lagi ia berusaha terlihat dingin, yang ada di wajahnya hanya guratan kepedihan. Hatinya kembali mencelos saat matanya mengunci mata wanita itu, pandangan yang selalu ia rindukan, pandangan yang menghantui mimpi-mimpinya, padangan yang menyulut semua rasa bersalah yang ada pada dirinya.

“Kumohon, jangan perlakukan aku seperti ini. Tak bisa kah kau tetap memanggilku seperti dulu?”

Aeri menghela napas panjang, ia memilih untuk menunduk ketimbang menatap balik ke dalam mata Kyuhyun. “Maaf.”

*

“Imo! Satu botol lagi!!” Aeri meninggikan suaranya.

Ia mengangkat gelas kecil di tangannya utuk meneguk habis isi dalam gelas itu.

“Aggashi, ini sudah botol mu yang ke-lima.” Ujar pemilik warung mengingatkan.

“Tidak apa-apa, aku membutuhkannya.” Ia mengambil botol baru dari tangan penjual, memutar tutupnya dan menegak langsung isinya dari mulut botol.

Sensasi panas yang familiar mulai merasuki tenggorokkannya, ia tahu besok pagi ia akan terbangun dengan kepala yang super berat dan mood yang kacau, tapi apa bedanya? Toh ia sudah cukup berantakan saat ini.

Aeri menggenggam botol hijau di tangannya lebih erat seiiring ingatannya kembali pada kejadian siang tadi.

Pria itu.

Pria itu telah mencampakkannya, pria itu telah mengalahkan bualan cinta yang dulu selalu dinyatakannya demi masa depan yang lebih cerah—dan sangat jelas sekali di mata Aeri kalau Kyuhyun berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.

“Cho Eunjung.” Aeri tertawa sinis, “Seharusnya kau sudah sadar dari awal, Aeri bodoh! Marga anak itu Cho dan wajahnya sangat mirip dengan pria itu saat kecil! Aish bagaimana bisa kau sedungu itu sampai tidak menyadari kenyataan yang ada di depan matamu!” Hardiknya pada diri sendiri sambil memukul kepalanya dengan kasar.

Aeri mengangkat kembali botol hijau itu ke mulutnya dan meneguk banyak-banyak cairan bening yang terasa manis di lidahnya. Ini sama saja dengan kondisinya bertahun-tahun yang lalu, saat di mana ia menghabiskan malam harinya untuk bermabukan dan siang harinya untuk meratap—rutinitas yang menghantarkannya pada tepi jembatan di Sungai Han.

Ada rasa sakit yang kentara di hatinya dan ia akan menjadi seorang pembohong besar jika ia menyangkal kalau pria itu bukan lah sumber masalahnya—pria itu selalu menjadi sumber masalahnya, bahkan bertahun-tahun sebelum ia ditinggalkan dengan sadis olehnya.

“Bukankah seharusnya aku bahagia untuknya?” Tanyanya pada diri sendiri. “Aku tidak pernah bisa memberikan apa yang ia inginkan dan butuhkan, kini wanita lain bisa memberikannya, seharusnya aku bahagia bukan?”

“Aggassi, aku sudah mau tutup. Pulang lah, ini sudah lewat tengah malam.” Tegur pemilik warung.

“Tapi imo, aku masih belum lelah, aku belum mau pulang.” Rengeknya.

“Aish cepatlah, suami dan anakku masih menunggu di rumah.”

Kata-kata sederhana yang keluar dari mulut pemilik warung itu mengena di hati Aeri. Ya, tentu saja pasti pemilik warung ini memiliki keluarga yang menantinya di rumah, pasti ada orang yang mencarinya jika ia pulang terlambat—tidak seperti Aeri yang bebas gelayapan semau hatinya tanpa ada seorang pun peduli akan keberadaannya.

“Baiklah imo, aku akan bersimpati keluargamu.” Ia mengambil dompetnya untuk membayar semua botol soju yang sudah dikonsumsinya dan dengan langkah limbung akhirnya memutuskan untuk keluar dari warung tenda itu.

*

Di dalam mobilnya, pria itu hanya mampu diam terpaku dengan pemandangan yang sejak beberapa jam lalu ia perhatikan. Sejak pertemuan yang tak terduga pagi tadi, pikiran Cho Kyuhyun hanya dipenuhi oleh gadisnya. Ia mengharapkan Aeri sudah bisa melanjutkan hidup tanpa Kyuhyun di sisinya, ia berharap kehidupan gadisnya tetap nyaman, dan sungguh ia nyaris percaya dengan peran dingin yang Aeri tampilkan padanya pagi tadi di kelas.

Rasa penasaran lah yang menuntunnya untuk membuntuti kegiatan Aeri. Ia ingin tahu bagaimana kondisinya sekarang, ia ingin lihat di mana gadisnya tinggal, ia sudah menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu tentang Aeri lama sebelum hari ini, namun gadisnya itu tidak bisa ditemukan di mana pun. Siapa yang menyangka Aeri ternyata bersembunyi di tempat di mana mereka pertama kali bertemu.

Dari mobilnya Kyuhyun bisa melihat jelas kelakuan bodoh wanita itu di warung tenda pinggir jalan tak jauh dari tempatnya parkir. Wanita itu telah menegak sejumlah botol soju yang Kyuhyun yakin akan berefek pada kesadarannya nanti. Melihat Aeri yang berjalan gontai, Kyuhyun memutuskan untuk mengikutinya dari jarak dekat. Ia meninggalkan mobilnya dan membuntuti langkah Aeri beberapa meter di belakangnya—hanya sekedar untuk mengawasi dan menjaga gadisnya.

Jalanan kota Seoul  yang berundak bisa menjadi sensasi tersendiri bagi warganya, tambahkan faktor mabuk, maka mencari jalan pulang bisa menjadi tantangan hebat. Langkah percaya diri yang semula dimiliki Aeri kini mulai melambat. Semakin menanjak jalanan yang ada di hapadannya, semakin gontai dan limbung tubuhnya, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk duduk sejenak di halte bus yang terlihat di depannya.

Konsenterasi alkohol di tubuhnya sudah berlebihan, saat ini Aeri berada pada kondisi setengah sadar, sensasi melayang mulai mengahmpiri dirnya dan seketika ia memejamkan matanya, tubuhnya langsung jatuh ke samping dan ia pun tertidur tak sadarkan diri.

“Aeri-ya!” Ketika kepala gadis itu menabrak bangku panjang di halte dengan kerasnya, Kyuhyun langsung berlari dengan langkah panjang ke tempatnya.

Aeri tidak menjawab, kepalanya kini tergeletak begitu saja di kursi tunggu halte.

“Ya! Aeri-ya, kau benar-benar mabuk sekarang?” Kyuhyun berjongkok di depannya untuk menggoyangkan bahu wanita yang sudah tertidur pulas. “Hey, siapa yang bilang kau boleh tidur di tempat seperti ini? Ini musim dingin Aeri-ya, kau bisa sakit kalau begini.”

Wanita itu tidak menjawab.

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam untuk meredam rasa frustrasinya, enam tahun sudah ia tidak berjumpa dengan wanita ini dan di hari pertama mereka bertemu, pemandangan seperti ini lah yang didapatkannya.

“Hey, aku tak tahu kau tinggal di mana Aeri-ya.” Kyuhyun bangkit seraya mengakat tubuh Aeri dari kursi panjang, Kyuhyun kemudian duduk di samping wanita itu sebelum ia menyandarkan kepala lungai Aeri itu ke bahunya.

Aeri bergerak kecil dalam tidurnya, tanpa disadari, ia menenggelamkan wajahnya pada leher Kyuhyun.

Kyuhyun yang masih terpaku kini semakin bingung, “Aeri-ya, aku harus mengantarmu ke mana? Yang aku tahu kau sudah tidak lagi tinggal di apartement kita, bagai mana aku bisa ngantarmu pulang.”

Aeri masih diam dalam tidurnya.

Kyuhyun sudah mengenal Aeri cukup lama untuk tahu kebiasaan wanita ini saat mabuk. Memori di benaknya melintas, ke masa dulu saat mereka masih sepasang remaja yang suka diam-diam menyicipi alkohol simpanan ayah Kyuhyun. Ulah Aeri yang mabuk bisa ditebak oleh Kyuhyun: awalnya ia pasti diam, kemudian ia mulai meracau dalam bahasa asing dengan aksen sangat kental—bahasa yang Aeri kenal sejak lahir, dan ketika ia sudah benar-benar mabuk, Aeri akan tertidur pulas—dan hanya akan bangun untuk meninum aspirin.

Kyuhyun melayangkan pandangan ke sekelilingnya, mencoba mencari jelan keluar yang sama-sama nyaman bagi mereka berdua. Nyaman dalam artian Kyuhyun tidak perlu membawa Aeri pulang ke rumahnya dan Aeri pun tidak akan mati beku di pinggir jalan.

“Kuantar kau ke hotel terdekat.” Putusnya.

Kyuhyun menahan tubuh gadisnya sebelum ia berjongkok untuk menopang kedua kaki Aeri di kedua pinggangya. Dalam satu gerakan yang mulus, Kyuhyun berhasil mengakat tubuh mungil wanita itu dan Aeri yang sudah terlelap masih saja tak bergeming.

Langkah pertama mungkin adalah langkah yang terberat bagi Kyuhyun, bukan karena beban yang ada di punggungnya, namun rangkaian kepedihan yang langsung menusuk hatinya.

Entah sudah berapa seringnya ia melakukan hal ini untuk Aeri, biasanya ini hal yang selalu ia lakukan saat mereka berkencan, ia bahkan akan menggendong Aeri seperti ini walaupun gadisnya tidak mabuk. Tangan wanita di belakangnya melingkar erat di leherya, wajahnya disenderkan di pundaknya dan Kyuhyun bisa mendengan deru napas wanita ini begitu dekat dengan dirinya—menambah ironi dari pahitnya kenangan yang ada di benaknya.

Dengan bersusah-payah, Kyuhyun akhirnya menemukan sebuah hotel di daerah sepi ini. Penjaga hotel hanya memandang heran ketika Kyuhyun memesan sebuah kamar, tentu saja ia yakin penjaga hotel itu sekang akan melabeli Kyuhyun sebagai pria mesum yang akan mengambil keuntungan dari wanita yang tak sadarkan diri karena mabuk, tapi Kyuhyun memilih untuk memasang muka tebalnya dan terus menggiring Aeri ke dalam kamarnya. Dengan sigap ia tetap menggendong Aeri masuk ke dalam kamar dan membaringkannya dengan perlahan di tempat tidur.

Kamar itu kecil dan sepertinya pemanas ruangan sudah dihidupkan agak lama, sehingga suasana di dalamnya agak panas dan sumpak. Kyuhyun segera melepas mantel musim dinginnya, tak tahan dengan suhu yang naik terlalu drastis dari udara dingin di luar, Aeri pun tidak berbeda jauh.

Ngg.. it’s hot.” Gumam Aeri dalam logat Inggris yang kental.

Senyuman kecil langsung muncul di wajah Kyuhyun, masih ada yang tidak berubah dari gadisnya dan entah mengapa ia bahagia dengan kebetulan ini.

Aeri bergerak gelisah dalam tidurnya, suhu hangat dari pemanas ruangan membuatnya merasa gerah dan secara otomatis ia pun mencoba melepaskan mantel hangatnya.

“Biar kubantu.” Ujar Kyuhyun sigap.

Kyuhyun menggulingkan posisi Aeri sedikit agar ia bisa membantu menarik mantel dingin dari tubuh mungilnya, kemudia ia segera menutupi tubuh kecil gadisnya dengan selimut.

Seketika itu juga, Aeri perlahan membuka mata dan mengerjap pelan.

“Kau—“

“Aeri-ya, kau mabuk dan aku tak tahu ke mana harus mengantarmu.” Jelas Kyuhyun sambil memposisikan diri untuk duduk di tepi kasur.

Aeri mengangkat telapak tangannya ke arah pipi Kyuhyun, ia mengambil waktunya untukk membelai wajah pria yang terlihat begitu nyata dan familiar di depannya.

“Kau mabuk, Aeri.” Kyuhyun mengulangi penjelasannya.

“Oppa.” Bisiknya lirih. “Kau terlihat seperti oppa ku.”

Kyuhyun tercekat, tangannya kini menggapai tangan Aeri yang ada di wajahnya dan tanpa sadar, tangan satunya kini membelai lembut rambut kecoklatan gadis itu. “Ini aku Aeri-ya.”

Aeri menggeleng, ia menggunakan lengannya untuk bangkit dari posisi tidurnya dan Kyuhyun membantu agar Aeri bisa duduk dengan nyaman di atas kasunya.

“Mana mungkin kau benar-benar oppa ku. Dia sudah pergi mencampakkanku, dia juga sudah memiliki keluarga kecil yang diidamkannya, aku—“ Napas Aeri tercekat, “Aku sebatang kara.”

Kyuhyun menggigit bagian dalam bibirnya untuk menahan emosi yang kembali meradang.

“Tapi kau sungguh terlihat seperti dia.” Lanjut Aeri. Tangannya kini meraba wajah Kyuhyun dengan seksama. Jari-jari halusnya berjalan dari dahi lebar pria itu, ke arah hidungnya yang mancung, pipi tembamnya yang terlihat lucu di mata Aeri dan kemudian bibirnya.

“Aeri-ya..”

“Aku pasti sangat mabuk sekarang sampai berhaslusinasi senyata ini.” Gumam Aeri. “Kau benar-benar seperti dirinya yang kulihat pagi tadi. Kurasa aku serindu itu akan kehadiranmu oppa.”

Kyuhyun menelan gumpalan yang ia rasakan di tenggorokkannya, mencoba menahan air mata yang kini sudah menggantung di pelupuknya. Ya Tuhan, apa yang telah ia lakukan pada gadisnya.

“Whoah, kau bahkan memiliki ekspresi dingin pria itu.” Lanjut Aeri, “dan aroma kalian pun sama, bagaimana ini bisa terjadi?”

“Aeri-ya, maafkan aku.”

Aeri kemudian mengakat kedua tangannya untuk menangkup kedua pipi Kyuhyun, air matanya perlahan jatuh, bahunya bergetar hebat dan di tengah kekalutannya ia berkata. “Kau benar-benar mirip dengan suamiku–maksdku mantan suamiku, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun sudah tidak lagi bisa menahan air matanya. Bahunya pun ikut bergetar seiring dengan pernyataan menyakitkan yang keluar dari mulut gadisnya.

“Maafkan aku, Aeri.” Kyuhyun menggeser duduknya semakin dekat untuk merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya.

Aeri membenamkan wajahnya pada lekukan antara bahu dan leher pria itu, menghirup aroma tubuh yang sudah lama dirindukannya, merasakan kehangatan yang telah lama direnggut darinya, menikmati sentuhan lembut pria yang dulu selalu menyayanginya.

“Oppa,” Aeri menegadahkan kepadanya untuk menatap Kyuhyun.

“Ne?”

“Kau hanya bayangku bukan? Hanya ilusi?” Mata birunya menatap dalam kedua manik mata Kyuhyun.

“A—aku..”

Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Aeri melingkarkan lengannya di leher pria itu dan dengan perlahan ia mendekatkan wajah mereka, “Aku sangat merindukanmu, oppa.” Kemudian ia menyapukan bibirnya dengan lebut pada bibir Kyuhyun.

Semua logika yang tersisa di kepala Kyuhyun sudah dibuang jauh olehnya. Kyuhyun mengangkat tanganya untuk menyentuh lembut wajah Aeri sementara tangan satunya menopang punggung wanita itu, dan dengan lembut ia membalas ciuman pilu dari wanita yang sangat dicintainya.

Advertisements

32 thoughts on “After a Long, Long While – Part 2

  1. musketeers2016 says:

    Wait, kok aeri manggil kyu “suamiku”? Apa mereka pernah nikah trus kyu ninggalin aeri? Jangan sampai dech mereka ciuman trus kebawa suasana nanti malah kejadian yang tidak2 lagi. Masi penasaran sama kisah masa Lalu kyu dan aeri…

    Like

  2. Yulia says:

    Jadi ceritanya aeri itu mantan isterinya kyuhyun?
    dan kayanya sih cerai gara-gara ga bisa ngasih keturunan
    Dan ya ini masih part 2, jadi perjalannya masih panjang
    Butuh lanjutan dan cerita masa lalu mereka
    Semangat terus ya author
    Dan salam kenal

    Like

  3. sukhwi says:

    sialan…mereka bercerai..dan aku tebak karena aeri ga bisa ngasi anak? ..pantesan pengen bunuh diri.. aduh alamat sad ending ini mah..entahlah ga rela liat kyuhyun bahagia kalo benar mencampakan mantan istrinya..#maklum gini kalo wanita udah egois wkkwkw

    Like

  4. sukhwi says:

    sialan…ternyata mereka bercerai..dan aku tebak karena aeri ga bisa ngasi anak? ..pantesan pengen bunuh diri.. aduh alamat sad ending ini mah..entahlah ga rela liat kyuhyun bahagia kalo benar mencampakan mantan istrinya..#maklum gini kalo wanita udah egois wkkwkw

    Like

  5. tyand says:

    Jdi kyuhyun itu mantan suami aeri y
    Sebnre akasan apa mereka berpisah dari kata yg diucapkan aeri, mungkinkah aeri ga bisa ngasih kyuhyun anak?

    Like

  6. syalala says:

    oke dapet gambaran baru dari part 2 ini. jd aeri kyuhyun udah nikah tapi aeri gabisa ngasih anak?! jd aja kyuhyun pergi eh nikah sama hana dan jd keluarga kecil yg bahagia?! hahahja duh ini kesimpulan dari baca part 2 ini dan aku sedih huhuu lanjuuuuttt

    Like

  7. Dorothy_kyu says:

    Woahhh daebak!!!
    Jadi mereka pernah nikah tohh
    Trus kenapa Kyu ninggalin aeri..
    Apa karna Aeri ga bisa kasih anak kaya yg aeri blng ga bisa kasih apa yg kyu punya sekarang
    Hmmm seru nihh

    Like

  8. Seo HaYeon says:

    hooooooa jd ceritanya begini?? smpt ga enak heti sbnrnya n rd2 jgkel sm Kyu kok sering manggil Aeri gadisnya_ eh malah dibikin nganga pas Aeri bilang suamiku? waduh jd mreka dlu nikah.. hiks pilu bgt nih kayaknya.. haaa ga bisa nebak ending 😦 #WOIIIIBARUPARTDUABROOOO# kkkkkk 😀 Next dijamak Kak… 😛 😉

    Like

  9. ByunSoo says:

    sedih banget si,knp hrus ketemu cob knp g menghilang ditelan bumi utk slamax sja agar rasa sakit ini tak datang dn menggerogoti hatinya aerinya.

    Keep writing authornim,aku suka suka suka banget sma ff in kpn dilanjutinnya nih??

    Like

  10. Sugaark says:

    Ommooo ternyata kyuhyun mantan suaminya aeri 😲
    Kyuhyun ngelakuin kesalahan apa smpe pisah sama aeri trus buat aeri sampe kaya sekarang?
    Dan stlh 6thn gak ktmu, mereka ketemu dikeadaan aeri yg jadi guru anaknya kyuhyun
    Trus anaknya kyuhyun kaya aeri wktu kecil yg tdk lancar berbahasa korea 😲

    Liked by 1 person

  11. utusiiyoonaddict says:

    udah nebak,
    duh kyu kasian kali aeri nya d campakin gegara gak bisa ngash keturunan, pan musti sabar,
    eh tp knpa td aku mkirnya eunjung anaknya kyu ama aeri haha pdhal aeri gak bisa ngash ketrunan (?) , next part haha

    Liked by 1 person

  12. kailila says:

    Astaga mantan suami. Pantesan mereka berdua agak gimanaa gitu, kirain cuma pacaran. Kak penasaran umur Aeri berapa sekarang kalo boleh tau hehehe. Ceritanya bagusss, semangat ya kak^^

    Liked by 1 person

  13. Kayleigh17 says:

    Nah nah kan apa dibilang part 2 juga buat ketagihan. Penasaran alasan dibalik Kyuhyun ninggalin Aeri. Aku mau baca sampe yang udah dipost, dan semoga kak obit tersentuh buat lanjutin ini sampe end. :*:p8-)

    Liked by 1 person

  14. Alea says:

    O.o mantan suami kak? Aku kira teman dekat atau pacar gitu, eh mantan suami? Sungguh gak percaya kalau itu mantan suami kak? Berarti Cho selingkuh dengan Hana trus Aeri ninggalin Cho sehabis malam panas trus ketemu Taec?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s