After a Long, Long While – Part 1

aallw
Pict belongs to Taecyeon, Haneul, and Kyuhyun

Author: SSihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Aeri, Ok Taecyeon, Cho Kyuhyun

 

Aeri menengadahkan kepalanya, mencoba menghirup udara malam kota Seoul sebanyak-banyaknya. Taecyeon masih saja berlari dengan santai beberapa meter di depannya, sedangkan Aeri sendiri harus berjuang keras hanya sekedar untuk berjalan cepat. Ia mengumpat kecil pada dirinya sendiri, mengapa bisa sampai terbersit ide konyol seperti ini, ide untuk melakukan sebuah kegiatan—yang menurut standarnya —cukup ekstrim.

“Aeri-ya! ayolah! Kau tidak akan pernah mencapai target waktumu jika kau berjalan terus.” Taecyeon bercacak pinggang dihadapan wanita yang kini terlihat sepucat mayat.

“Aku.. butuh.. time-out.” Aeri menyilangkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. “Ini.. terlalu ja-uhhh!”

“Ya! Kau yang mengusulkan ide gila ini dan kita sudah berlatih cukup lama. Ayolah, sedikit lagi.” Taecyeon melangkah mendekati Aeri untuk menggenggam pergelangan tangannya.

Tanpa menunggu persetujuan dari Aeri, Taecyeon langsung menarik lengannya dan memaksa wanita itu untuk menyeimbangkan langkahnya.

“Ayolah, kau tidak bisa berhenti sekarang. Kita harus menuntaskan target dua belas kilometer kita, ini idemu Aeri-ya! kau yang mengusulkan marathon ini.”

Aeri terengah bagai ikan yang tergelepak di pinggir kolam dan masih berusaha untuk menyahut kata-kata Taecyeon. “Aku tahu.. tapi ini.. hanya.. latihan!”

“Aku tidak mau mendengar sanggahanmu. Perlombaan sudah di depan mata.”

Aeri pun memejamkan matanya sejenak, mengambil sedikit waktu untuk membulatkan niatnya. Ia tahu Taecyeon benar, jika ia tidak meningkatkan performanya maka akan kecil kemungkinan ia bisa menjadi finisher di Seoul Marathon.

“Aeri-ya, aku janji hanya dua kilometer lagi dan kita bisa beristirahat.” Taecyeon bergumam di sampingnya. “No more baby steps, kau masih tertinggal jauh dari target.”

Aeri mengagguk pasrah dan memaksakan langkahnya untuk menuntaskan sisa dua kilometer dari target mereka. “Mudah bagimu, kau seorang guru olahraga!”

“Justru karena itu, kau terlalu lama berkutat dengan gambar-gambar anak didikmu dan lupa bagaimana cara bergerak.” Teaeyeon memutar bola matanya untuk mengejek Aeri yang sudah terlihat kepayahan. “Hanya karena kau guru seni, bukan berarti kau boleh duduk-dudk santai saja Aeri-ya.”

Taecyeon terus berlari di samping Aeri, sedikit memaksa langkah kecil wanita itu untuk menyeimbangi kecepatannya sendiri. Mungkin cara yang ia ambil untuk melatih stamina dan kecepatan Aeri terlihat sadis dan sedikit memaksa, tapi Taecyeon telah berjanji padanya untuk ikut serta dalam perlombaan yang sangat ingin ia ikuti itu dan Taecyeon pun berjanji akan membawa Aeri ke garis finish lengkap dengan mendali finisher yang ia idamkan.

Karena Taecyeon telah mengenal wanita ini cukup lama, ia bisa menebak motivasi dari tindakannya dan kalau ia menebak dengan benar, keinginan keras Aeri untuk menuntaskan sebuah marathon ada hubungannya dengan usaha keras wanita itu dalam melupakan masa lalunya.

Setengah jam setelahnya, mereka akhirnya dapat beristirahat di pinggir sungai Han. Taecyeon baru saja memaksa Aeri untuk lari sepanjang dua puluh kilometer di malam musim dingin ini dan sejujurnya mereka berdua cukup kagum dengan keteguhan niat mereka.

Aeri membaringkan tubuhnya di atas hamparan aspal yang nyaris beku, membiarkan dinginnya permukaan kehitaman itu untuk menurunkan suhu tubuhnya sementara Taecyeon pergi membeli minuman untuk mereka. Aeri memandang langit gelap di atasnya dengan pandangan hampa, runitas yang selalu ia lakukan jika dia tidak beraktivitas atau tidak berbicara pada siapa pun, pikirannya akan kembali tersedot pada ruang waktu yang selalu menedotnya masuk ke memori masa lalu.

“Ini, minum lah.” Taecyeon duduk di sampingnya dan mengulurkan sebotol air mineral.

Gomapta.” Aeri bangkit dari posisi terlentangnya, duduk bersila di samping Taecyeon kemudian memutar tutup botol untuk segera meneguk air sebanyak-banyaknya. “Kau tahu? Walau pun menurutmu aku masih payah, itu tadi adalah rekor terbaikku.”

Taecyeon menyeringai nakal, “Aku tahu, sejujurnya latihan tadi tidak terlalu buruk untuk orang yang malas berolahraga sepertimu.”

“Jadi aku pantas mendapatkan sedikit penghargaan darimu, coach.” Cengiran lebar muncul di wajah tirusnya.

“Tentu.” Taecyeon mengangkat tangannya kearah kepala Aeri dan mengacak rambut lepeknya. “Sungguh, aku benar-benar bangga padamu.”

“Kau tidak sedang membual sekarang?”

Taecyeon menggeleng mantap. “Aku masih ingat jelas kondisimu tujuh tahun yang lalu saat kita bertemu, Aeri-ya. Kau bergerak bagai zombie, tidak tahu ke mana arah tujuan hidupmu, kau bahkan nekat untuk mencabut nyawamu sendiri.” Ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya, “Sungguh, melihatmu penuh semangat seperti ini membuat hatiku tenang.”

Aeri memaksakan diri untuk tersenyum, lagi-lagi ia teringat akan malam laknat yang selalu menghantuinya. Memang benar, tanpa Taecyeon, ia tidak akan berada di sini. Mungkin jasadnya akan mengendap di dasar sungai dan tidak ada seorang pun mencoba mencarinya. Tapi pria di depannya telah mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menolong wanita yang saat itu sedang kalut, Taecyeon telah membimbing Aeri untuk perlahan keluar dari kegetirannya.

“Jadi, kau masih tetap tidak mau memberitahu ku alasan mendasar dari ide gilamu tentang marathon ini?” Taecyeon mengangkat alisnya.

Aeri menggeleng, “Tidak ada alasan yang konkrit. Aku hanya membutuhkan kegiatan positif yang bisa mengalihkan pikiranku.” Jawabnya datar.

Taecyeon mengangguk, mencoba memahami makna tersembunyi dari kalimat Aeri barusan. Pengalihan pikiran apa lagi yang dibutuhkan wanita ini? Ia sudah menghabiskan hamper seluruh waktunya di sekolah hanya untuk merencanakan proyek-proyek baru untuk anak didiknya, ia pun turut andil dalam bidang kesiswaan, kadang Aeri juga menjadi tenaga volentir di gereja—wanita ini nyaris tidak punya waktu kosong sekedar untuk beristirahat atau menonton film.

“Kukira kau sudah cukup sibuk, Aeri-ya.” Taecyeon mendengus, “Ternyata kau masih punya cukup tenaga untuk latihan marathon seperti ini.”

“Berlari membantuku untuk melupakan, Taec. Seandainya aku tahu ad acara positif semacam ini untuk mengalihkan pikiranku, aku pasti sudah berlalu sejak lama. Ada semacam perasaan kebas pada diriku ketika aku berlari—ketika aku pulang ke rumah dalam keadaan benar-benar lelah. Sepertinya aku ketagihan akan sensasi kebas itu.” Ia menunduk menatap sepatunya seolah-olah itu hal paling menarik saat ini.

“Dan kau masih belum bisa percaya padaku, untuk berbagi pikiranmu, untuk berbagi kepedihanmu? Bahkan setelah sekian lama kita berteman?” Taecyeon bertanya pelan, namun ada guratan kepedihan dalam nada bicaranya.

Aeri mengakat wajahnya untuk menatap kedua mata pria yang sudah dengan setia berada di sampingnya sejak malam laknat itu terjadi. “Bukan karena aku tak percaya padamu, Taec. Aku hanya malu dan merasa tidak pantas untuk mendapatkan teman sebaik dirimu, terlebih tidak pantas lagi untuk mendapatkan perhatian darimu.”

“Aku tulus membantumu, Aeri-ya.” Taecyeon berdecak tak sabar. “Dan aku tidak pernah keberatan dengan masa lalumu.”

“Aku tahu,” Aeri mengalihkan pandangannya, “aku sungguh berhutang budi padamu. Tapi masih banyak kekelaman masa laluku yang tidak kau ketahui dan aku pun tidak tahu apa aku akan pernah sanggup mengatakannya padamu—“

“Bagaiman jika aku tidak peduli?” Taecyeon menekankan kata-katanya.

“Aku peduli, Taec.” Aeri tidak menghiraukan kata-kata Taecyeon. “Aku peduli padamu. Kau seorang pria baik dan bermasadepan cerah, banyak guru-guru lain di sekolah kita yang diam-diam menaruh hati padamu, dan terlebih lagi kau masih single. Terlalu banyak potensi hebat di dirimu dan aku tidak mau menjadi orang yang mengacaukan masa depan cerahmu.”

Taecyeon mendengus, sudah lelah ia mendengan alasan yang berulang kali terucap dari bibir mungil wanita di hadapannya. Memang sudah bukan rahasia lagi kalau Taecyeon memiliki perasaan yang mendalam pada Aeri. Pada awalnya ia hanya sekedar membantu Aeri untuk menata ulang hidupnya, namun perlahan dia mulai merakan perasaan ingin melindungi dan pada akhirnya ia pun ingin memiliki Aeri.

“Maafkan aku karena sudah sangat egois.” Aeri berbisik lirih, “Sungguh aku tak mau kau tahu lebih jauh lagi kekelaman masa laluku, aku sudah cukup malu dengan fakta-fakta yang sudah kau ketahui—tidak perlu diperburuk.”

Aku takut kau akan lari secepatnya dariku jika kau tahu semuanya. Tambah Aeri dalam hatinya.

Taecyeon tidak menjawab, ia hanya memandang kosong ke sungai di depannya. Aeri menoleh kearah pria itu, ia paham betul arti tatapan tajam dari matanya, rahangnya yang mengatup kencang dan tangannya yang perlahan mengepal.

“Taec, apa kau marah?”

“Ya, tapi bukan karena itu.” Ia mengagguk. “Aku marah karena kau masih saja menganggap dirimu randah. Demi Tuhan Aeri-ya, siapa pria yang sukses memporak-porandakan hidupmu seperti ini?”

Aeri menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya setiap kali nama pria itu terbersit di benaknya.

“Sudahlah, tidak ada gunanya bukan kita membicarakan ini.” Taecyeon bangkit dari posisinya, kemudian mengulurkan tangannya untuk membatu Aeri bangkit. “Kita bisa sakit jika terlalu lama terkena angin musim dingin tanpa baju hangat. Mari kuantar kau pulang.”

*

Susasana makan malam di rumah itu ceria seperti biasanya. Sang istri dengan semangat menyuapi anak kecil yang masih berkutat dengan mainan robot-robotan di tangannya, sedangkan suaminya terduduk lega mengamati pemandangan harian yang telah mengisi hidupnya enam tahun belakangan ini.

“Yeobo, sepertinya Eunjung membuat ulah lagi di sekolah.” Kim Hana membuka pembicaraan tanpa mengalihkan perhatiannya dari anak lelaki di hadapannya.

Pria itu meraih sumpit di sisi mangkuk dan mulai mengaduk udon yang dibuat oleh istrinya. “Ulah. Kau membuat anak kita terdengar seperti anak yang senang membuat onar.”

Hana dengan sigap menatap tajam ke arah suaminya, bagaimana bisa pria ini masih saja membela anaknya yang sudah diberi surat peringatan sekian kali oleh sekolahnya.

“Eunjung-a, kau mau bercerita pada appa? Ada masalah apa dengan sekolahmu?” Sang ayah melembutkan nada bicaranya.

My friends are making fun of me because I don’t speak their language good enough.” Eunjung memanyunkan bibirnya.

“Ini masalah yang sama, Kyu.” Hana mengkomfirmasi, “Tapi sepertinya kali ini Eunjung sudah benar-benar kelewatan. Dia mencoret-coret tembok sekolah dan mengumpat dengan bahasa inggris pada gurunya. Sungguh aku sudah kehilangan muka di sekolah itu.”

“Hana-ya, kita sudah sepakat untuk memberi Eunjung waktu untuk beradaptasi bukan? Dia lahir dan besar di Amerika dan kita pun jarang menggunakan Bahasa Korea di rumah—jujur saja, ini salah kita juga—jadi tolong melunaklah padanya.” Kyuhyun mencoba menenangkan emosi di wajah istrinya yang mulai kentara.

“Pokoknya aku tidak mau menghadap ke sekolah lagi, kali ini giliranmu.” Hana menekankan kata-katanya.

“Arraseo.” Kyuhyun mengangguk. “Eunjung-a! besok appa akan mengantarmu ke sekolah, bagaimana menurutmu?”

I’d like that, I like riding in the same car with you.” Anak itu menjawab lengkap dengan cengiran polos di wajahnya.

Kyuhyun tersenyum kecil, “Ey, apa yang appa bilang padamu? Belajarlah menggunakan Bahasa Korea, eomma dan appa akan membantumu untuk mengejar ketinggalan.”

But I’m not familiar with it.” Enjung melawan, “It’s like an alien language to me, and I speak funny whenever I use the langunge. That’s why my friends made fun of me.”

“Perlahan kau pasti akan bisa Eunjung-a, lihat saja, kau mengerti apa yang appa bicarakan padamu bukan?”

Enjung mengagguk.

Kyuhyun menatap istrinya dengan pandangan penuh pertanyaan dan Hana memutuskan untuk memberikan sedikit silent treatment untuk suaminya. Menurutnya, sudah bukan waktunya lagi mereka memberi kelonggaran pada buah hati mereka. Kyuhyun selalu bersikap lunak pada Eunjung, selalu membelanya dan selalu mencari alasan untuk memaklumi tindak onar yang dibuatnya, sedangkan Hana lah yang terus-terusan menerima panggilang dari sekolah, ia lah yang harus menunduk malu akan kelakuan anaknya sendiri dan ia juga yang harus minta maaf—untuk kesekian kalinya—pada guru-guru yang telah menjadi korban kenakalan anaknya.

Setelah acara makan malam usai, Hana membantu Eunjung dengan pekerjaan rumahnya dan hanya setelah anak itu pergi tidur, suami istri itu akhirnya bisa benar-benar berdiskusi dengan lepas.

“Yeobo, aku masih tidak paham dengan isi kepalamu.” Kim Hana menghempaskan tubuhnya di tempat tidur mereka. “Kau terlalu membela anak itu, kadang dia perlu mendapatkan hukuman—efek jera.”

Kyuhyun mendengus geli melihat kelakuan Hana, “Hana-ya, aku paham betul bagaimana rasanya berada di tempat asing yang bahasanya tidak kau pahami. Dia masih kecil, dia akan beradaptasi dengan cepat. Sudah cukup tekanan dari lingkungan yang dia dapatkan, bukan?”

“Tapi—“

“Tenanglah, aku akan menghadap ke gurunya.” Kyuhyun mengambil posisi di samping Hana lalu menepuk pundak wanita itu pelan. “Jangan sampai masalah ini membuatmu stress dan berakibat buruk bagi dia.” Kyuhyun menaruh tangannya di atas perut Kim Hana yang mulai menonjol di usia kehamilannya yang keempat.

Hana tersenyum dengan perhatian kecil yang diberikan suaminya. Tidak pernah ia bermimpi untuk memiliki pria sesempurna ini sebagai pendampingnya, namun di sinilah ia sekarang. Berada dalam genggaman Cho Kyuhyun, pria yang telah menikahinya tujuh tahun yang lalu, pria yang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik baginya dan menjadi ayah yang luar biasa bagi anak mereka.

“Ngomong-ngomong, kali ini keonaran apa yang dia perbuat?” Kyuhyun menuturkan rasa penasarannya.

“Mencoret dinding dengan spidol permanen, melumurkan cat, menyobek karya seorang temannya dan terakhir mengumpat dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan anak berusia enam tahun ke gurunya.” Ekspresi Hana menegang seketika ia kembali teringat masalah kenakalan putranya.

Sementara itu Kyuhyun hanya terkekeh geli mendengar kelakuan anaknya—baginya ini bukan hal yang asing, dia pernah menghadapi seseorang dengan tempramen yang sama dengan putranya.

“Yeobo! Tidak ada yang lucu dari cerita ini!”

“Tenanglah, aku akan bertemu dengan gurunya besok.” Kyuhyun mengelus rambut Hana dengan lembut, “Di kelas apa dia melakukan itu semua?”

“Seni.” Jawab Hana pendek.

Kyuhyun menggangguk, “Seni. Baiklah, aku akan mempersiapkan diriku untuk menerima cacian dari guru anak kita.”

*

Keesokan paginya, Kyuhyun mengantar Enjung ke sekolah sesuai dengan janjinya. Ia memutuskan untuk memakirkan mobilnya sedikit jauh dari gerbang karena ia tidak mau mengundang lebih banyak perhatian pada anaknya.

Setiap langkah yang ia ambil bersama Enjung perlahan membawanya ke kenangan lama yang ia miliki akan tempat ini. Sekolah yang dulu juga menjadi tempatnya menimba ilmu, sekolah yang selalu membuatnya bersemangat setiap pagi, sekolah yang mempertemukannya dengan gadis kesayangannya.

Tidak banyak yang berubah dari sekolah ini, beberapa tanaman yang dulu masih kecil telah tumbuh rindang. Sepertinya sekolah ini juga sudah merenovasi tampak depannya, yang dulu hanya berupa cat putih polos kini diberi aksen bata dan ditambahkan jam besar tepat di tengah gedung.

Namun dari semua itu, yang paling ia ingat dengan jelas adalah suasananya, suasana yang tidak berubah meskipun beberapa generasi telah berlalu. Anak-anak berkelompok untuk berjalan beriringan menuju gerbang sekolah, mereka yang lebih kecil masih diantar orang tuanya, ada juga yang terlihat seperti sepasang saudara kandung—sang kakak menggenggam tangan adiknya dengan protektif. Teriakan-teriakan dari anak-anak yang bermain menambah suasana pagi di sekolah semakin ramai dan menarik Kyuhyun jauh ke dalam memorinya sendiri.

Setelah melangkah melalui gerbang depan, perhatian Kyuhyun teralihkan oleh keberadaan pohon besar yang masih berada di tempat yang sama seperti yang diingatnya dulu. Senyum kecil terukir di wajah tampannya, langkahnya terhenti seketia kenangan manis melintas di benaknya.

Anak gadis itu menagis memeluk lututnya, nampak kotak makan siangnya telah porak-poranda di sampingnya dan bekal makan siang yang hanya berupa nasi kepal pun tercecer di sampingnya. Entah mendapat keberanian dari mana, Kyuhyun kecil mendekatkan langkahnya ke arah gadis itu dan ikut berjongkok di sampingnya.

“Kenapa kau menangis?” Ia bertanya dengan polos.

“I don’t understand what you’re saying.” Jawab gadis kecil itu. “I know you’re making fun of me like the rest of the kids here. Is it that amusing to you that I look different and talk differently?”

Saat itu juga Kyuhyun kecil langsung paham duduk masalah yang dihadapi sang gadis. Ayah Kyuhyun adalah seorang diplomat, mereka pernah pindah beberapa kali dan mempelajari beberapa Bahasa sekaligus merupakan tuntutan tidak tertulis yang menyertai anak-anak diplomat. Kyuhyun langsung memahami apa yang gadis itu ucapkan.

“I’m sorry, I thought you’re Korean.” Balasnya mantap.

Gadis kecil itu mengakat kepalanya dan menatap Kyuhyun kecil dengan heran, “You know my language?”

Saat itu juga Kyuhyun menyadari kalau gadis itu bukanlah orang Korea sepenuhnya. Matanya bulat sempurna dan menyipit hanya di kedua ujungnya, hidungnya mancung dan bibirnya mungil, tapi yang paling berkesan untuknya adalah warna mata gasis itu—biru gelap yang sangat teduh.

“U-huh, I understand. I used to live abroad before.” Kyuhyun kecil menjawab kebingungan dari lawan bicaranya.

“I see.” Balas gadis itu sambil menyedot keras ingus yang mengganggu di hidungnya.

“My name is Kyuhyun, Cho Kyuhyun.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Gadis itu menatap tangan Kyuhyun sejenak sebelum kemudian menjabatnya. “I used to be called Anttoinette, but it’s so hard to pronounce here, so they just call me Aeri.”

“Hi Aeri, let’s be friends.” Ujar Kyuhyun kecil.

Kenangan yang dia miliki saat berusia delapan tahun itu datang tanpa bisa dihindarinya. Itulah hari dimana ia pertama kali bertemu dengan gadis yang dicintainya. Kyuhyun masih ingat jelas setiap detail suasana yang menyertai pertemuan pertama mereka, ia pun masih ingat sebahagia apa ia ketika Aeri mengijinkan Kyuhyun untuk menjadi temannya.

Sejak hari itu juga Kyuhyun selalu ada di sisi Aeri, mengikutinya, menjaganya dan perlahan mencintainya dengan ketulusan yang tidak pernah bisa ia berikan pada orang lain. Dulu dia pernah berjanji untuk menjaga gadis itu baik-baik, untuk tidak menyakitinya, apalagi membuatnya menangis.

Janji yang telah ia langgar.

Kyuhyun telah sukses mengahancurkan hati gadisnya dengan cara terkejam yang bisa dilakukan oleh seorang manusia. Dan kini ia harus menerima semua konsekuensi dari perbuatannya, ia harus rela melepaskan Aeri dan ia harus bertanggung jawab dengan keluarga kecil yang dimilikinya sekarang.

“Appa, why are you starring into that tree?” Eunjung membuyarkan lamunan Kyuhyun.

Kyuhyun tersentak dari lamunannya, “Maaf, kau tahu? Dulu appa juga bersekolah di sini.”

“Really?”

Pria itu menggaguk dan menyegir lebar. “Dulu appa sering bermain di dekat pohon itu, ini sekolah yang sangat menyenangkan Eunjung-a. Kumohon, berjanjilah pada appa untuk mencoba menyukai sekolah ini, ng? Please.”

I will, but—“

“Dan mulai sekarang, kita harus mencoba berbicara dengan Bahasa Korea juga.” Kyuhyun menambahkan.

Eunjung tidak menjawab, anak kecil itu hanya menuntun langkah ayahnya menuju kelas seni sebelum ia pergi ke kelas regulernya. “That’s my class appa.”

“Baiklah, kau bisa jalan ke kelasmu sendiri bukan?”

Eunjung mengangguk. “See you later, appa.”

Kyuhyun mengecup puncak kepala anak lelakinya dan membiarkan Eunjung mencari sendiri kelasnya.

“Okay, waktunya aku menebalkan muka dan menghadapi omelan dari guru seni ini.” Gumam Kyuhyun pelan sambil terus melangkan ke arah kelas di ujung ruangan.

Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kelas. Hanya perlu beberapa detik sebelum ia mendengar jawaban dari dalam dan beberapa saat kemudian pintu terbuka.

Di hadapannya, terlihat sosok yang sudah lama menghampiri mimpi-mimpinya. Sosok yang selalu membawa rasa bersalah yang tak berujung di benaknya, sosok mungil yang dulu selalu memandangnya dengan kekaguman, sosok wanita yang selalu ia rindukan kehadirannya.

Mata biru wanita itu menatap nanar pada pria di hadapannya. Sejenak otaknya berkata kalau ini adalah episode lain dari mimpi-mimpi buruknya, hanya saja mimpi ini terlihat begitu nyata.

Seketika itu juga Kyuhyun merasa jantungnya telah meluncur bebas dari rongga dadanya.

Advertisements

25 thoughts on “After a Long, Long While – Part 1

  1. musketeers2016 says:

    Okay, jadi sebenarnya kyu cinta ma aeri tapi kenapa dia tega nyakitin aeri dan nikah ma orang lain? Ato jangan2 kyu ma istri nya skrng dijodohkan ya? Aeri ternyata adalah guru Seni Dari anaknya Kyuhyun.. pasti nyesek banget dah aeri pas tau yang jadi murid nya itu anaknya kyu…

    Like

  2. sukhwi says:

    wow…kyuhyun sudah menikah dan sepertinya pernikahan dia baik2 saja dan bahagia berperan sebagai suami dan ayah yang baik tapi…kenapa dia tega nyakitin aeri sampe2 dia pun tak bisa berhenti merasa bersalah??

    Like

  3. Mie says:

    Masih blom rela sama perlakuan kyu ke aeri.. meninggalkan aeri menikah dgn wanita lain.. semoga next berikut nya kyuhyun mendapat karma nya

    Like

  4. syalala says:

    ah! kok kayamya sedih ini ceritanya huwaaaaa aku ga nyangka kalo kyuhyun udah nikah begitu udah punya anak bahkan mau dua!! yah kyuhyun nikahin hana karena udah ngehamilin duluan ya makanya begitu huhu lanjuuuuuttt

    Like

  5. park eun kyo says:

    Annyeong thor nae readers baru mohon izin baca karya2mu yah^^ slm knl:)
    Hmm kesimpulan yg aq baca sebenarx ya kyuhyun ini cinta sm aeri,cinta pertama lg kayax 😨 tapi kenapa kyu tega nyakitin aeri yah?? dan tunggu…what kyu udh nikah tp sm orang lain 😨 knp kyu udh nikah ya?jangan2 kyu sma istri’a itu dijodohkan ya atw dy buat kesalahan alias ngehamilin tuh cwek?omo gak disangka Aeri ternyata adalah guru seni anaknya kyuhyun😨😨

    Like

  6. Seo HaYeon says:

    After a long while.. finally I read this story! and WOW!! ya ampun kakak author, gimana caranya ya supaya bisa nulis sekeren kaya kamu? wuiih! trnyta konflik di part awal aja udh ruwet begini.. hihi okelah gapapa ya kak aku lanjutin bca cerita yg ini? 😉 😛 kkkkkk

    Like

  7. ByunSoo says:

    wah wah wah,jgn2 guru seninya itu Aeri,wah takdir mmng tak bisa diprediksi,knp kyu ninggalin aeri gitu aja ya,kn ga ad kejelasan ky gini siapa ya ga frustasi coba,disaat kita hx bisa berpegang pada satu org dan org itu mencampakkan kita dgn mudahx sakit pasti.

    Like

  8. Lee Herra says:

    Wah,..ketemuuu…kenapa aku juga ikut sakit hati,ada yg ngeganjel.ini belum tau konflik sebenarnya gimana?siap untuk next part,.otak mulai bisa menerima ok tarcyeon,bayangin wkt dia di lets fight ghost.yeah…mari lanjut.

    Liked by 1 person

  9. kailila says:

    Ini nyesek, penasaran sama hubungan mereka berdua hahahaa. Aku pendatang baru kak, ketemu sama blog ini dak kepincut baca hehehee. Aku tetep ngasih semangat buat ide berikutnya meski part selanjutnya udah di post. Himneee!!!

    Liked by 1 person

  10. lestari says:

    Sikap apa yg harus diambil oleh Taecyeon kalau tau kyuhyun lah penyebab masa lalu aeri. Yg sudah memporak – porandakan hatinya aeri. Di part ini kyuhyun bertemu aeri, langkah yg terjadi gmn ya. Dua dua nya pasti kaget itu ketemu satu sama lain. Next

    Liked by 1 person

  11. Kayleigh17 says:

    Sambil nunggu Final Call dilanjut, coba coba baca ‘After Long, Long While’. Ini dipart awal konfliknya belum ketahuan persis seperti apa tapi sukses bikin tegang. Mau baca next nextnya sampe part 9 yang udah dipost. Nah pertanyaannya, kenapa gak di next lagi kak? Uh please kak di next ini cerita sampe end. Aku emang suka karakter Kyuhyun jadi main cast, tapi buat ini pengecualian. Berhubung ini cerita karya kak Ssihobitt menurut aku siapapun main castnya ceritanya tetap amazing.
    Dipikirin lagi ya kak buat nextnya, sayang loh udah sampe chapter 9 kalo gak salah ya 😡

    Liked by 1 person

  12. omiwirjh says:

    Baru sempat baca. Aku pikir kyuhyun memang benar cinta aeri tapi mungkin saja saat itu Kyuhyun masih terlalu muda sampai ngelakuin kesalahan. Mungkin buat Hana hamil sampai akhirnya dia ninggalin. Aku ijin baca ya

    Liked by 1 person

  13. Alea says:

    Cho ninggalin Aeri gitu? Aeri dibuang sia-sia? Terus Aeri mau bunuh diri gara-gara Cho udah ngambil mahkota Aeri? Kenal sejak kecil trus dicampakkan, uh.
    7tahun kemudian ketemu lagi disaat Aeri benar-benar mau menghapus Cho Kyuhyun dari hidupnya.
    Kasian Taec kalau gitu

    Liked by 1 person

  14. Dyana says:

    Wow, aku jd penasaran apa yg sebenarnya Kyuhyun lakukan jika dia mencintai Aeri tp justru menikahi wanita lain…
    Dan setelah waktu yg lama akhirnya mereka kembali bertemu dengan kondisi guru dan seorang wali dari murid…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s