One Last Shot

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Main Cast: Cha Eungi & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Choi Siwon

PROLOG

Malam itu cerah ketika Cha Eungi dan Choi Siwon berjalan bergandengan tangan di sepanjang Rue de la Charone di Paris. Di tengah kesedehanaan suasana kota Paris di musim gugur, keduanya menyunggingkan senyum bahagia, bagaiman tidak? Siwon baru saja menyatakan keinginannya untuk menikahi wanita idamannya. Hanya tiga jam yang lalu, di tengah hamparan rumput kecoklatan yang mulai mengering di lapangan Champ de Mars, Siwon baru saja melamar Eungi.

Awalnya mereka hanya merencanakan piknik romantis di lapangan panjang yang terhampar di belakang menara Eiffel yang menjadi ikon utama kota Paris. Di atas tikar piknik mereka bersantai, menikmati sebotol wine yang dipadukan dengan kacang-kacangan, buah apricot kering dan keju. Siwon melakukan rencananya yang tersusun rapi dengan hati-hati. Dimulai dengan obrolan umum tentang kehidupan sehari-hari yang mereka lalui, perekonomian dunia yang mulai mengusik pikiranya, hingga pada nilai-nilai yang terkandung pada bagungan-bangunan klasi Paris yang feminine yang ada di sekeliling mereka—ia tahu Eungi sangan menyukai topik yang satu ini. Ketika Eungi lengah dan mulai terbawa pada topik yang direncanakan, Siwon merogoh saku jasnya untuk memberikan sebuah cicin pada wanita mungil di sampingnya. Dengan segenap keberanian dan usaha mati-matian dari Siwon untuk menutupi kegugupannya, ia menyatakan kalimat yang sukses membuat hati Eungi luluh dan berbunga, ia menghaturkan keinginannya untuk selalu berada di sisi Eungi, untuk melindunginya, untuk hidup berbagi kebahagiannya bersamanya hingga ajal menjemput mereka. Tanpa perlu berpikir dan mempertimbangkan jawabannya, Eungi menggangguk setuju dalam hitungan detik.

Cinta mereka telah mulai bersemi sejak awal pertemuan mereka, sekitar satu tahun silam. Siwon adalah seorang kurator di tempat yang sama di mana Cha Eungi menjadi pembicara di sebuah seminar internasional. Pada awalnya Eungi hanya sebatas mengagumi Siwon melalui fisiknya yang gagah, posturnya yang tinggi dan tegap, sikap gentleman yang menyertai pembawaannya—oh ayolah, wanita mana yang tidak tergoda dengan pria tampan dengan sikap yang satun. Setelah mengobrol lebih banyak dengan pria yang mencuri perhatiannya, Eungi mulai merasa ia menemukan seseorang yang memiliki tingkat intelektual yang sepadan dengan dirinya. Tidak mudah baginya menemukan seseorang yang bisa diajak bergunjing tentang berita selebriti terkini namun juga mampu menanggapi dengan serius topik tentang proyek terbaru Nasa. Seseorang yang bisa diajak bercanda ketika ada hal lucu di sekitarnya tapi juga bisa berdiskusi dalam mengenai detail-detail yang ada di dalam sebuah mesin mobil—seseorang yang bisa diajak bergurau pada banyak waktu, tapi mampu bersikap serius ketika dibutuhkan.

Eungi bukan satu-satu yang sangat terkesan dengan lawan bicaranya.

Siwon pun kagum dengan sikap rendah hati yang dimiliki wanita berpengetahuan luas itu, meskipus Eungi sudah menyandang gelar professor di usianya yang masih sangat muda, Eungi bisa memperlakukan orang lain dengan hormat tanpa kesan merendahkan dan Eungi pun mampu menahan diri untuk tidak membicarakan hal yang membuat orang lain merasa terintimidasi akan kecerdasannya.

Le Belle Equipe, merupakan sebuah restoran Perancis sederhana yang terletak di Rue de la Charone. Eungi dan Siwon memutuskan untuk mengakhiri malam romantis mereka denga makan malam sederhana sekaligus untuk merayakan pertunangan mereka. Seperti biasa, bagaikan seorang pria santun, Siwon membukakan pintu untuk wanita yang baru resmi menjadi tunangannya dan seorang pelayan segera menyambut mereka dengan antusias. Pasangan ini memilih untuk duduk di dekat jendela di pinggir jalan untuk menikmati suasana authentic dari kota Paris yang mereka kagumi.

Keduanya menikmati waktu santai mereka dengan menu-menu pilihan yang luar biasa di malam itu. Acara tidak formal itu diawali dengan sekeranjang pilihan roti Perancis yang khas, disertai dengan anggur merah yang dipilih Siwon dengan seksama. Ceasar salad pesanan Eungi datang diikuti dengan fillet mignon dan sepiring irisan daging burung dara yang dimasak ala Perancis dengan sempurna. Setelah kenyang dengan menu utama, Eungi dan Siwon berbincang ringan sebelum akhirnya memutuskan untuk memesan hidangan penutup yang dari tadi sudah mengundang perhatian mereka.

Hanya perasaan damai dan bahagia yang dirasakan pasangan itu, keduanya sedang seru menebak-nebak kandungan bahan dari éclair coklat yang mereka pesan ketika ketenangan malam itu pecah oleh suara decitan ban mobil yang terdengar nyaring bagi pengunjung restoran.

Sebuah mobil Seat hitam berhenti dengan dramatis di sebrang restoran kecil itu, sukses menarik perhatian semua pengunjung yang sedang menikmati makan malam mereka. Satu detik kemudian, suasana tenang berubah seketika, dan bagi Eungi semuanya terjadi begitu cepat.

Dua orang pria berbadan besar turun dari mobil Seat hitam, wajah mereka ditutupi dengan masker hitam yang menyembunyikan seluruh kepala mereka dan hanya menyisakan lubang di bagian mata. Pria-pria ini kemudian melangkah mantap ke arah restoran dan dalam sepersekian detik, tangan mereka merogoh ke belakang punggung untuk mengambil senjata yang langsung mereka arahkan ke bagian muka restoran.

Eungi tidak bisa melihat apa yang terjadi selanjutnya karena Siwon dengan sigap langsung melemparkan tubuhnya sendiri ke atas tubuh kecil Eungi, pada saat tubuh mereka jatuh ke lantai yang dingin, suara tembakan bertubi-tubi segera terdengar. Kaca besar yang sebelumnya ada di samping mereka kini sudah pecah berkeping-keping dan pecahannya tersebar di lantai sekitar mereka. Orang-orang panik berlarian dan berteriak, Eungi pun dapat merasakan salah satu pecahan tajam kaca besar tadi telah menusuk telapak tangan dan bahunya. Siwon masih tetap memposisikan dirinya di atas Eungi, melindungi wanitanya dari serangan peluru yang membabi buta dan juga pecahan kaca yang masih berterbangan di sekitar mereka. Yang bisa Eungi lakukan hanya bungkam sambil berdoa dalam hati agar terror masal ini segera berakhir.

Pria-pria bermasker itu terus mengarahkan senjata mereka ke dalam restoran yang sekarang telah porak-poranda, mereka sepertinya berencana untuk menghabiskan seluruh cadangan peluru yang disiapkan dan mereka tidak segan-segan menembak apa pun yang bergerak di hadapan mereka. Terlihat jelas di mata Eungi bagaimana keluarga yang terdiri dari empat orang yang tadi duduk tepat di samping meja mereka sekarang terkapar tak berdaya di lantai, dengan tubuh bersimbah darah. Ia mengalihkan pandangannya untuk menatap tunangannya yang masih melindungi tubuhnya dan tangisan histeris segera keluar dari mulut wanita itu.

Secepat datangnya, pembantaian itu juga berakhir setelah seluruh peluru cadangan pria-pria biadab itu habis. Tiga menit lamanya tragedi itu berlangsung, namun bagi Eungi itu adalah tiga menit terpanjang dalam hidupnya.

Siwon masih bersusah-payah untuk melindungi Eungi, menggunakan tubuh lebarnya untuk menghimpit wanita yang dicintainya, mencoba menjadi tameng dari serbuan peluru buta yang menyerang ke berbagai arah. Tangan kokoh yang semula menahan bobot tubuhnya kini terkulai lemas, ia sudah kehabisan banyak darah dan setelah ia merasa situasi telah sedikit aman, Siwon segera mengulingkan dirinya ke samping Eungi.

“Oppa! kau terluka! Ya tuhan Siwon oppa! kau—“ Seruan Eungi tertahan, ia tidak mempedulikan nyeri di bahunya yang didapat dari tusukan kaca yang sukses menembus kulit mulusnya. Perhatiannya sepenuhnya terlalih pada kondisi Siwon yang kini terbaring lemas di hadapannya, matanya membelalak melihat beberapa genangan darah yang muncul dari tubuh tunangannya.

“Aku akan baik-baik saja.” Kilah Siwon seraya membaringkan tubuhnya di lantai seiring dengan mulai lenyapnya sisa-sisa tenaga yang tadi ia kerahkan untuk melindungi wanita di depannya.

“TOLONG!” Eungi berteriak histeris saat ia benar-benar menyadari sekeritis apa kondisi prianya yang kini mulai kehilangan kesadaran.

“Eungi-ya.” Tangan Siwon perlahan naik untuk menyentuh lembut wajah pucat Eungi, Pria itu menangkupkan sebelah tangan bersimbah darah di pipi wanita yang masih menangis histeris. “Berjanjilah, kau.. harus berhati-hati.. dan.. pulang… dengan se..lamat..”

Eungi belum sempat membalas kata-kata Siwon, tapi tangan pria itu langsung terkulai lemas seketika ia selesai menyampaikan pesan terakhirnya. Choi Siwon baru saja menghembuskan napas terakhirnya di hadapan wanita yang ia cintai, ia baru saja mengerahkan seluruh upayanya untuk melindungi Eungi dan ternyata kebahagiaan mereka malam ini harus berakhir hanya dalam hitungan detik yang memilukan bagi Eungi.

Semua terjadi begitu cepat, Eungi belum sempat berkata apa pun, ia belum sempat bereksi pada kata-kata tunangannya, dan ia pun tidak bodoh untuk menyadari tragedi apa yang baru saja menyerang mereka. Ia memutuskan untuk terus berteriak meminta pertolongan, kendati bukan ia lah satu-satunya yang melakukan hal ini. Beberapa orang yang berhasil berlindung dari serangan peluru tadi juga mulai menghampiri kerabat mereka yang terluka, tidak ada yang bisa menolong Eungi dan Siwon saat ini—dan di tengah keputusasaan yang mendalam, Cha Eungi melakukan prosedur terakhir yang dipelajarinya sejak lama ketika ia tergabung dalam klub renang di sekolahnya.

Dengan sisa-sisa tenang yang dimilikinya, Eungi mencoba memberi tekanan pada luka-luka Siwon sementara ia pun mencoba melakukan CPR. Beberapa kali usaha ini dilakukan namun jantung Siwon tetap saja tidak berdetak, tunangannya hanya terbaring lemas tak bernyawa di hadapannya.

Kenyataan pahit harus didengarnya seketika petugas paramedis darurat berdatangan, salah satu dari mereka menghampiri Siwon, melakukan prosedur pertolongan pertama yang biasa dilakukan dan dengan penuh penyesalan, mereka harus menyatakan waktu kematian Siwon di malam itu. Malam yang seharusnya indah bagi mereka, malam pertunangan yang selayaknya dirayakan dengan kebahagiaan, malam yang berubah menjadi malam keramat bagi Eungi dalam hitungan menit.

Malam itu, tanggal 13 November 2015. Mereka hanya sepasang kekasih yang menikmati makan malam sederhana untuk merayakan pertunangan mereka. Pasangan yang berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah, yang menjadi korban dari kekejian ego manusia yang mengatasnamakan Tuhan.

Bagaimana pun juga, Eungi harus berusaha menjalani permintaan Siwon yang terakhir. Ia harus menjaga dirinya sendiri mulai sekarang dan ia harus segera pulang ke tempat yang mungkin lebih aman dari kota Paris saat ini—pria itu baru saja mempertaruhkan nyawanya untuk menjaga Eungi, maka ia harus menjaga dirinya agar kematian Siwon tidak sia-sia. Kejadian traumatis ini akan terus meradang di hati dan ingatannya, mempengaruhi dirinya lebih dari apa pun yang pernah ia rasakan dan perlahan menjadikannya wanita yang lebih tegar—paling tidak, seperti itulah idealnya.

***

Cerita ini terinspirasi dari tragedi pembantaian yang terjadi di Paris pada November 2015. Cerita ini hanya fiksi belaka, tapi aku sadar bahwa pasti ada banyak orang-orang innocent yang kehilangan keluarga dan orang-orang terkasih mereka karena tragedi itu. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya bagi keluarga korban yang ditinggalkan dan mohon maaf sebelumnya kalau aku menggunakan even traumatis itu sebagai prolog dari cerita ini.

Cerita ini pernah di-publish di page asianfanficts.com milik penulis sendiri. Seperti karya-karya lainnya, cerita ini originally written in English, dan sekarang masih dalam tahap penerjemahan. Mudah-mudahan cerita ini bisa diterima. Please read, like and give supportive comment for me..

 


 

part 1 I part 2 I part 3 I part 4 I part 5 I part 6 I part 7 I part 8 I part 9 I part 10

part 11 I part 12 I part 13 I part 14 I part 15 I part 16 I part 17 I part 18 I part 19 I part 20

part 21 I part 22 I part 23 I part 24 I part 25 I part 26 I part 27 I part 28 I part 29

part 30 (end)

password:

You can e-mail me for password or simply put in the words of this riddle:

For most people the city itself is a piece of art, yet another found it over-promoted (I’ve been there several times and i have to say i HATE it). However, it’s a beautiful city indeed, pricey but beautiful, but i hate the people! The citizen of it chose not to speak English to strangers unless you tried to open the conversation with “Pardon madame et monsieur, Excuzes-moi, parlez vous Anglais?”

Obvious isn’t it? Well, type in the City and the Country it is in (In English). No Space, Capital in each word and lower case the rest.

(e-mail me if you find this too complicated, lol)

Advertisements

6 thoughts on “One Last Shot

  1. butterflyannisa says:

    Siwon termasuk pria idaman. dia melindungi kekasihnya sampai titik darah penghabisannya. astaga, di dunia nyata apakah ada pria seperti itu? kalau ada sungguh beruntung kekasihnya.

    AAAAAA…. Ini ff manis bgt walaupun tragis. kakak membawakan ff ini dengan kata-kata yang pas. gak berbelit-belit. ff ini patut untuk disukai…
    lanjutin buat karya bagusmu lainnya ya?

    Liked by 1 person

  2. nhjhope says:

    Prolognya bikin tahan nafas hihii :v
    Aku sampe tunda dulu baca Ff yang For what its worth gara2 kepincut sama prolognya :v
    Izin baca Ff One Last Shot unnnn 🙂

    Liked by 1 person

  3. nhjhope says:

    Prolognya bikin tahan nafas hihii :v
    Aku sampe tunda dulu baca Ff yang For what its worth gara2 kepincut sama prolognya :v
    Izin baca Ff One Last Shot unnnn 🙂
    #salahpakeemail

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s